Sisi lain dari Pesantren.
Cinta itu ada di Pesantren, cinta yang tak melulu soal manusia.
Terinspirasi dari kisah seorang santri, saya coba angkat ke dalam novel ini.
Semoga banyak hikmah yang bisa dipetik.
17+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifa Rivianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal rasa
Siang hari yang menyengat teriknya mentari dirasa Nimas begitu sejuk.Semilir angin menerpa-nerpa kerudungnya, menambah syahdu suasana.
Nimas dan Ustadz Zamzam tengah berada di belakang rumah, tepatnya di pinggir kolam ikan.
Setelah tadi sempat melepas rindu, mereka memutuskan untuk menyegarkan fikiran dengan memancing ikan.
Nimas menemani saja duduk di bawah pohon jambu yang daunnya begitu lebat. Memperhatikan sang suami yang sedang memancing.
Sesekali suaminya menoleh sekedar memberikan senyuman.
Ya, senyuman.
Beberapa minggu menjadi istrinya, Nimas merasa nyaman bersama Ustadz Zamzam.
Terlebih Ustadz yang baik dan menghargainya membuatnya bertekad untuk menjadi istri terbaik pula.
Jangan tanya, semua kewajiban Nimas kerjakan dengan ikhlas sebagai seorang istri bahkan melayani kebutuhan biologis pun sudah dilaksanakannya semenjak malam pertama mereka.
Ikhlas Nimas memberikan jiwa dan raganya pada Ustadz Zamzam semata Lillah.
"Embernya sayang, tolong!"
Nimas terbangun dari lamunan karena mendengar sang Ustadz berbicara.
"Ah iya ember.. Nih aku datang bawa ember," batinnya mencoba menormalkan suasana hati bekas lamunan tadi.
Nimas berjalan mendekati suaminya sambil membawa ember yang ada di dekatnya.
"Ini Stadz, wah dapat gede yaa ikannya," seru Nimas.
Nimas pun duduk dekat suaminya, sementara Ustadz Zamzam kembali melempar kailnya ke tengah kolam.
"Ustadz kalo pulang selalu mancingkah?" Pertanyaan yang meluncur polos dari bibir Nimas membuat sang Ustadz tersenyum manis. Aih perlu ga sih dijabarkan semanis apa senyumannya itu.
"Nim, jangan panggil Ustadz!!"
Eh ko, bukannya jawab pertanyaan Nimas. Sang Ustadz justru merubah topik pembicaraan.
Nimas mengernyit heran, "terus apa dong?"
"Hemmm aku udah mikirin sii waktu berpisah kemarin, aku kan suamimu lebih tua pula umurnya. Gimana kalo Nimas manggil aku kakak aja."
Hah kakak? Boleh juga tuh Nim.
"Terus aku manggil istriku yang cantik ini 'adek' gimana?"
Nimas tersipu, entah mengapa panggilan sederhana itu membuatnya bahagia.
Kemudian Nimas mengangguk.
"Ok dek Nimas, istri kakak yang cantik. Sini liat mata kakak."
Mungkin sang Ustadz kasihan melihat istrinya terus menunduk, eh apa lehernya gak kaku yak.
Nimas mengangkat wajahnya menatap sang suami.
Disambut senyuman lembut yang pasti membuat meleleh hati Nimas sampai cair deh tuh.
"Aku bahagia jadi suami kamu," kata sang Ustadz setelah pandangan mereka bertemu.
Ini bisa dikata gombal ga yaa, yang jelas Nimas tak terpengaruh dia hanya mengangguk tanpa tersenyum entah apa yang ada dalam fikirannya saat ini.
"Zamzam!!"
Teriakan di seberang kolam membuat Ustadz dan Nimas menoleh bersamaan.
"Eh Pandu.."
Seseorang yang dipanggil Ustadz Zamzam Pandu itu berjalan mendekat ke arah Nimas dan Ustadz.
"Assalamualaikum Zam."
"Waalaikumusalam, gimana nih kabarnya?"
Mereka pun berpelukan sejenak melupakan seseorang yang terbengong diantara mereka.
"Oh iya Pan, ini istriku Nimas."
Sang Ustadz ngenalin juga akhirnya.
"Dek, ini Pandu teman kecilku."
Nimas tersenyum kaku.
"Nimas? bukankah Sofia?" tanya Pandu.
Demi apa, Nimas benar-benar sakit untuk kedua kalinya ada orang yang menganggap dirinya Sofia.
Sang Ustadz menatapnya gugup, kemudian pandangannya kembali ke Pandu.
"Iya Nimas, Sofia itu masih sodaraku Pan"
"Ah maaf ya, soalnya kan waktu kamu ngasih undangan namanya Sofia."
Lagi.. Lagi, rasanya Nimas sudah tidak kuat dia memilih pergi ke dalam rumah dengan rasa sesak di dada.
Sementara sang Ustadz melanjutkan perbincangan dengan Pandu di teras rumah. Mungkin semacam melepas rindu pada sahabatnya.
Nimas terluka hati kali ini sedang menangis dalam diam di kamar, sesekali terdengar suara tawa di luar sana, membuat Nimas semakin ingin menangis.
Oh wahai Ustadz, lihatlah istrimu ini.
#sabar ya Nimas (author)