Jangan lewatkan juga "DITAKDIRKAN MENCINTAIMU" dan "NGUMBARA CINTA"
Mengandung adegan dewasa 21+ jadi bijaklah dalam membaca.
Seorang dokter cantik bernama Ziya Almahiyra yang harus membayar hutang ayahnya dengan menjadi pembantu dirumah Aditya Dewa Bagaskoro tanpa gaji sedikitpun selama satu tahun.
Lalu bagaimana dengan cita citanya yang ingin mendirikan klinik sendiri,untuk menolong sesama, meringankan rasa sakit yang diderita pasien?
Ayahnya yang bangkrut karna hutang menggunung.Membuat sang ayah mengidap sakit jantung.Sang kakak bernama Nabila Sahara yang selalu pergi ke klub bersama teman temannya seperti tidak mau tau akan keadaan yang menimpa keluarga, adalah persoalan rumit bagaikan benang kusut yang tak mampu Ziya uraikan.
Aditya Dewa Bagaskoro menikahi Ziya. Kebahagiaan pun menghampiri keduanya. Namun apa jadinya jika ternyata ibunya tidak menyetujui pernikahan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafi', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dulur rodhok
Ziya dan Rafa kini berada di makam sang ayah. Membaca surat yasin lalu tahlil yang di pimpin oleh Rafa. Pagi ini mereka berziarah ke tiga makam. Yaitu makam ayah Ardi dan ibu Mila(ibu Ziya) ketiga ibu Raya(ibu kandung Rafa) makam ibu Rafa cukup jauh karna, dia meninggal sebelum keluarga Ardi pindah ke rumah yang ditempati sekarang.
Ceritanya gini.
Saat Mila hendak cek kandungan, dijalan dia bertemu dengan Raya dalam kondisi tak baik, beberapa orang jahat mengejarnya. Akhirnya Ardi pun menolong dan membawanya kerumah sakit.
Sampai dirumah sakit, Raya dan bayinya selamat, tapi tak selang berapa lama Raya mengalami pendarahan hebat akibat gagal ginjal yang dideritanya, dan dia juga kelelahan karna banyak berlari.
Sebelum itu, dia berwasiat agar Rafa diasuh oleh Mila, sampai keluarga datang mencarinya. Raya juga meninggalkan kalung liontin foto dia dan suaminya. Mila sangat senang saat itu, apalagi dia tidak memiliki anak laki-laki.
Dan satu hari berikutnya Ziya lahir kedunia. Orang jahat yang mengejar Raya masih saja berkeliaran, akhirnya Ardi memboyong keluarga pindah. Dan meminta dokter rumah sakit untuk mengatakan bahwa Raya dan anknya meninggal serta Ziya dan Rafa adalah saudara kembar. Dokter pun setuju demi keselamatan Rafa.
Akhirnya Rafa dan Ziya disusui oleh Mila, jadi mereka adalah saudara rodhok/ dulur rodhok(saudara satu pesusuan). *Saudara rodhok, hukumnya sama dengan saudara kandung yaitu tidak membatalkan wudhu*
Sampai Rafa umur dua belas tahun datang keluarga Surabaya yang mencari, setelah tes DNA dengan berat hati Ardi menyerahkan Rafa.
"Kemana lagi kita dek!" Setelah pulang dari kuburan.
"Ke pasar mas, kita beli sayur dan ikan."
"Oke berangkat, pegangan yang kuat."
Sampai pasar Ziya memilih beberapa ikan.
"Bikin mangut mayung dong!" Rafa menampakkan wajah memelas.
"Kangen ya sama masakan aku." Rafa hanya mengangguk.
"Mas Rafa bagaimana keadaan mama, papa dan nenek?"
"Mereka semua sehat, nanti mereka sampai sini. Karna nenek kemarin sakit jadi kita tidak bisa pergi bareng. Dan papa ada urusan diluar Negeri."
"Bu, ikan mayung nya ini tolong dibungkus, berapa semua."
"Ini mbak, semua total lima puluh lima ribu."
"Terima kasih bu!" mengambil belanjaan lalu pindah lagi.
"Tidak apa apa mas, lagian ayah juga dadakan meninggal nya." Ziya muram kembali menjawab obrolan Rafa yang tertunda.
"Sudah jangan sedih, kau ikut aku saja ya nanti ke Surabaya, kau kerja disana di rumah sakit keluarga kami. Lagian kak Nabila sudah menikah, mama pasti senang ada temen dirumah."
"Hemmh tawaran yang menarik!"
"Jangan kelamaan mikirnya, kan enak juga ada kamu, tiap hari bisa makan mangut."
"Owh, ternyata itu alasannya!"
"Hehe" Rafa hanya nyengir.
"Kalau dipikir pikir kehidupan kita lucu ya mas."
"Lucu bagaimana."
"Ya, kita tidak seayah juga tidak satu ibu, tapi hubungan kita lebih dari itu."
"Iya, masyarakat juga taunya kita kembar hehe."
"Padahal kamu kan anak pungut ya haha"
"Tapi aku yang paling disayang, kasihan banget kamu hai anak tiri, sering telat uang jajannya."
Rafa ingat waktu Ziya kuliah yang hanya makan satu kali sehari. Rafa tiba tiba waktu itu datang ke kos kosan nya Ziya karna sering mimpi liat Ziya menangis. Padahal waktu telpon Ziya selalu berkata dia dalam kondisi baik baik saja. Mungkin karena sering bareng, ikatan keduanya pun sangat kuat.
Rafa saat itu memaksa Ziya untuk menceritakan keadaan nya, bahwa ayahnya tidak mengirim uang selama 3bulan, sehingga Ziya harus menghemat. Akhirnya Rafa yang kasihan pada saudaranya pun membagi uang jajannya dengan Ziya hingga selesai kuliah. Bahkan Rafa juga mulai bekerja untuk bisa memenuhi kehidupan Ziya.
"Ya, kamu disayang karna sudah pulang kerumah orang tua kandung mu."
"Hehe, maaf ya aku ninggalin kamu, pasti kamu kesulitan ya selama ini."
"Heleh melow, aku tuh gadis terkuat di zaman now." Ziya menyombongkan diri.
"Dek, Aditya kayaknya suka sama kamu ya."
"Tau darimana?"
"Waktu pagi itu di balkon, aku lihat semuanya."
"Ngintip ya."
"Enggak! kamu keasikan pacaran seh, jadinya lupa kalau aku liat ya kan." menggoda Ziya.
"Mana ada yang pacaran, aku tuh cuma kebetulan aja ketemu di balkon, kan kebiasaan kalau pagi aku sama ayah duduk duduk disana."
"Tapi bener lho, dari tatapannya keliatan banget dia suka sama kamu."
"Jangan sotoy."
"Ih dibilangin juga nggak percaya. Sudah semua kan ayo pulang aku laper nih." Merasa cacing diperutnya sudah berdemo.
"Yawes let's go home." Ziya meluncur duluan ke arah motor mereka.
"Woii.. malah ninggalin." mengejar Ziya.
"Aku yang depan, mana kuncinya, ini belanjaan kamu pegang semua." Ziya mengambil kunci di tangan Rafa, lalu meletakkan kresek juga disana. Tangan Rafa pun penuh dengan belanjaan.
"Ini berat banget dek, mana bau lagi."
"Udah diem, dulur rodhok." Ziya melotot tapi bibirnya tersenyum puas.
"Ziyaa...!"
"Apa sayang!" menjawab sambil tetap melajukan motornya.
"Yang menetes ini apa?" Nampak ada air keruh yang keluar dari plastik, mungkin plastiknya tertusuk duri ikan. Dan menetes di celana Rafa.
"Air ikan."
"Hahhh, tega kamu dek. Pasti bau ini."
"Gapapa, nggak akan mengurangi ketampanan mu, santuy aja."
"Lah, ngapain lagi kita berhenti disini." Kini Ziya menghentikan motornya di depan warung makan.
"Syuut, diem! tunggu disini ya anak manis." Menepuk pipi Rafa pelan lalu berjalan ke dalam warung.
"Mbak Ziya apa kabar? lama nggak mampir kesini." Sapa pemilik warung.
"Kabar baik bu Parji, lauknya apa aja nih."
"Tinggal soto, opor ayam, asem asem, sama otak otak mbak."
"Bungkus semua bu."
"Wahh, mau ada tamu ya mbak?"
"Iya, saudara dari Surabaya kemari."
Menurut perkiraan Ziya satu jam lagi mereka akan sampai, jadi dia pilih beli matang aja sebagian, agar tidak terlalu repot.
"Hai mbak Ziya, makin cantik aja." Datang Joko anak bu Parji.
"Hai juga Joko, kamu bisa aja."
Bu Parji tersenyum sambil sibuk membungkus lauk.
"Sotonya aku pisahin aja ya mbak, kuah sama isinya, biar nanti bisa diangetin."
"Owh iya bu. Tapi kelihatannya banyak banget ya bu, bisa minta tolong sama mas Joko untuk nganterin nggak?. Soalnya saya juga bawa belanjaan tadi."
"Owh, iya mbak bisa bisa, biar nanti saya anterin." Joko antusias.
"Berapa semuanya Bu?"
"Bentar ya aku hitung dulu mbak?"
"Silahkan!"
"Total semuanya seratus sembilan puluh tiga ribu mbak."
"Ini uangnya bu." Menyodorkan uang duaratus ribu. Dan Ziya menerima kembaliannya.
"Dan ini uang bensin buat Joko." Menyerahkan uang dua puluh ribu.
"Wah...marai tuman iki mbak, terima kasih ya." Joko nampak girang menerimanya.
"Iya, sama sama, bu, saya permisi dulu ya, Ayo Joko."
"Oke mbak, saya ambil motor dibelakang."
Ziya keluar dari warung langsung disambut Rafa dengan wajah memerah karna sinar matahari.
"Lama amat seh."
"Pipi kamu kok merona kenapa lur." Tidak menggubris pertanyaan Rafa malah meledek.
"Lihat cewek cantik keluar dari warung makannya merona bentar lagi pinksan." Bersungut.
Ziya menanggapinya dengan senyuman lalu mengendarai motornya untuk pulang kerumah.
ending yang membanggongkan