Amora terjebak dalam lilitan utang dan tak punya banyak pilihan ketika Damian, seorang dokter bedah tampan, kaya, dan dingin, menawarkan pernikahan kontrak dengan bayaran yang mampu menyelesaikan semua masalahnya.
Syaratnya sederhana: menikah, tinggal serumah, dan jangan pernah jatuh cinta.
Bagi Damian, Amora hanya istri sementara. Bagi Amora, Damian hanyalah jalan keluar dari kesulitan hidupnya.
Namun tinggal bersama perlahan membuat hubungan mereka berubah. Terlebih ketika masa lalu Damian, penolakan sang ibu, dan perasaan yang semakin sulit disembunyikan mulai menguji kesepakatan mereka.
Bagaimana jika pernikahan yang awalnya hanya sebuah kontrak justru berubah menjadi cinta yang nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dydy_ailee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab-3 Bencana Part 2
Amora berdiri di balik meja kasir kafe dengan ekspresi penuh duka.
"Aku baru gajian kemarin, tapi kenapa saldo rekeningku udah kayak tanah tandus?" keluhnya sambil menatap layar ponsel.
Anggi, yang sibuk merapikan cangkir-cangkir di rak, mendengus tanpa simpati.
"Karena kamu boros, Mor. Tiap lihat diskon, tangan kamu refleks checkout."
"Itu bukan boros, itu investasi kebahagiaan," kilah Amora sambil memasukkan ponselnya ke saku.
Belum sempat Anggi membalas, manajer kafe tiba-tiba muncul dengan ekspresi serius.
"Amora, kamu yang antar pesanan ke acara rumah sakit pagi ini, ya. Cepat siap-siap!"
Amora langsung membeku.
"Hah? Aku lagi?"
"Iya, lagi. Kamu kan spesialis delivery," ucap manajer.
Spesialis delivery?
Lebih tepatnya spesialis bikin onar.
Tapi demi gaji dan agar saldo rekeningnya tidak semakin mirip gurun Sahara, Amora pun menurut. Dengan cekatan, ia menyiapkan pesanan—kopi, teh, beberapa kue, dan makanan ringan lainnya—lalu memasukkannya ke dalam tas delivery.
Rumah sakit sedang ramai pagi itu. Amora dengan gesit melewati lorong-lorong sambil membawa tas deliverynya. Sambil tangannya membawa kopi panas yang ia minum sendiri, untuk menahan kantuk yang melanda. Jalannya cepat, tapi pikirannya jauh.
"Gila, rumah sakit gede gini pasti gajinya gede juga. Coba aja aku dokter…"
Tapi karena terlalu sibuk melamun, ia tidak menyadari bahwa seseorang keluar dari ruangan tepat di hadapannya.
BRUK!
Tumpahan kopi panas. Napas tertahan. Semua orang di sekitar langsung menoleh.
Dan di hadapan Amora, berdiri seorang pria tinggi dengan jas dokter berwarna biru gelap. Lengan bajunya basah terkena kopi, rahangnya mengeras, dan matanya menatap Amora dengan tajam.
Oh tidak. Bencana kopi, part dua.
Damian.
Pria yang kemarin nyaris ia tumbangkan di lorong.
Pria yang wajahnya terlalu tampan untuk manusia biasa.
Pria yang sekarang menatapnya seperti ingin mengirimnya ke planet lain.
Amora buru-buru mundur, panik.
"S-saya tidak sengaja, sumpah! T-tadi saya buru-buru, t-terus—"
Damian menghela napas, wajahnya tetap dingin tanpa emosi.
"Kamu lagi?"
Amora mengerjap. "Eh?"
"Sepertinya setiap kali aku bertemu denganmu, selalu ada insiden."
Amora ingin protes, tapi… ya, ia tidak bisa menyangkal fakta itu. Ia buru-buru merogoh celemeknya dan mengeluarkan tisu.
"S-saya bersihin ya, Dok?"
"Jangan," sahut Damian tegas. "Aku bisa urus sendiri."
Amora langsung mengatupkan mulutnya. "Oke, pesannya jelas: Menjauh sebelum kau bikin kekacauan lebih besar, Amora," gumamnya dalam hati.
Tapi sebelum ia bisa kabur, salah satu perawat yang lewat berbisik ke rekannya, "Kasihan banget, padahal dokter Damian mau ke operasi. Mana kena kopi panas lagi."
Amora membeku.
APA? OPERASI?! DAMIAN! NAMANYA DAMIAN!
Muka Amora langsung pucat.
Astaga, ia bukan cuma menumpahkan kopi ke seorang dokter. Dia menumpahkan kopi ke dokter bedah yang mau masuk ruang operasi! Apa jadinya kalau tangannya yang terkena kopi panas bergetar pas lagi mengoperasi pasien?!
Amora langsung menunduk dalam-dalam. "Saya benar-benar minta maaf, Dok! Saya tidak bermaksud bikin—"
"Aku tahu."
Hah? Amora mengangkat wajah, menatap Damian yang sudah mulai berjalan pergi.
Tunggu.
Itu aja?
Tidak ada bentakan? Tidak ada tatapan mematikan? Tidak ada denda ratusan ribu karena seragamnya ternoda kopi mahal?
Amora menggaruk kepalanya.
"Dia… baik juga, ya."
Amora pun segera melanjutkan tugasnya. Mengantarkan minuman, snack dan kue. Ia hanya bisa berharap, apa yang ada di dalam tas deliverynya aman. Bisa-bisa pihak rumah sakit trauma pesan di kafe tempat ia bekerja. Tapi jauh di lubuk hatinya, ada satu pikiran yang mengganggu. Kenapa rasanya pertemuannya dengan dokter dingin itu belum selesai?
Damian berjalan cepat menuju ruang ganti dokter. Begitu sampai, dia melepas jas yang ternoda kopi dengan ekspresi datar.
Kopi tumpah? Sudah biasa.
Kena insiden dengan gadis ceroboh itu? Sepertinya bakal jadi rutinitas baru.
Tanpa membuang waktu, Damian mengganti bajunya dengan yang baru, lalu segera menuju ruang operasi. Dia menutup insiden tadi dalam pikirannya dan fokus pada tugasnya sebagai dokter bedah.
Sementara itu, di sisi lain rumah sakit… Amora kembali ke kafe dengan wajah lesu.
Anggi, yang sedang menuang kopi untuk pelanggan, langsung meliriknya. "Muka lo kenapa kayak habis lihat hantu?"
Amora membanting nampan ke meja dan merosot ke kursi. "Anggi, gue resmi jadi musuh utama dokter ganteng itu!"
Anggi langsung tertarik. "Hah? Siapa? Dokter siapa?"
Amora menatap temannya dengan intens. "Dokter yang kemarin gue tabrak! Namanya Damian. Yang gue tumpahin kopi tadi!"
Anggi terdiam sejenak sebelum matanya membesar. "Tunggu… lo nabrak dia lagi?!"
Amora mengangguk lesu. "Dan kali ini lebih parah, Gi. Dia lagi mau operasi, terus gue tumpahin kopi ke seragamnya!"
Anggi menganga. "Ya ampun, Mor! Terus dia ngomong apa?"
"Nggak marah. Cuma ngeliatin gue kayak… gue ini makhluk aneh dari planet lain."
Anggi mendesah panjang. "Syukurlah dia nggak ngamuk. Coba kalau dokter lain, bisa-bisa lo dituntut ganti rugi."
Amora mengangguk setuju. "Makanya gue masih shock. Kok dia bisa setenang itu?"
Anggi menyeringai. "Mungkin dia lagi latihan sabar menghadapi orang kayak lo."
Amora melotot. "Maksud lo apa?!"
Sebelum Anggi sempat menjawab, manajer kafe muncul lagi dengan ekspresi tegas. "Amora, ada tugas lagi buat kamu."
Amora langsung menegang.
Jangan bilang harus ke rumah sakit lagi…
"Pesanan makan siang belum selesai. Itu pesanan terakhir untuk acara seminar di rumah sakit siang ini. Kamu yang antar, ya! Kalau yang tadi untuk coffe break," ujar sang manajer.
Amora langsung membeku. "Ya Tuhan… kenapa harus aku lagi?!" gumam Amora dalam hati.
Beberapa jam berlalu, setelah memastikan makanan dan minuman tertata rapi dalam kotak pengantaran, Amora kembali ke rumah sakit. Kali ini ia lebih waspada. Jalannya pelan, matanya awas, dan ia terus berdoa dalam hati.
"Ya Tuhan, jangan sampai aku nabrak orang lagi. Jangan sampai aku bikin kekacauan lagi. Dan terutama… JANGAN SAMPAI AKU KETEMU DOKTER ITU LAGI!"
Amora masuk ke aula seminar, di mana beberapa staf rumah sakit sudah menunggu. Dengan hati-hati, dia meletakkan kotak makanan di meja prasmanan, memastikan semua dalam kondisi baik.
"Fiuuuh… aman! Kali ini nggak ada insiden!" Amora tersenyum lega. Tapi baru saja dia berbalik untuk pergi…
BRUK!
Ia menabrak seseorang. Lagi. Dan tentu saja, siapa lagi kalau bukan…
Damian.
Amora menahan napas. Damian menatapnya dengan mata tajam, ekspresi datarnya tidak berubah. Amora ingin menangis.
"Ya Allah, aku minta dijauhkan dari dia, bukan malah DITEMUKAN LAGI!"
Ia buru-buru mundur, mengangkat kedua tangan. "Sumpah, saya tidak nabrak sengaja, Dok! Tadi saya tidak lihat—"
"Sepertinya kamu sering tidak melihat ke depan," potong Damian santai.
Amora terdiam, merasa tersindir.
Damian menatapnya sekilas, lalu menghela napas. "Kali ini tidak ada kopi yang tumpah, jadi aku anggap tidak terjadi apa-apa."
Amora berkedip.
"Hah? Beneran?"
Damian tidak menjawab. Ia hanya menatap Amora selama beberapa detik, lalu berbalik dan pergi.
Amora tetap berdiri di tempatnya, otaknya masih memproses kejadian barusan. Damian segera berlalu menuju mejanya. Karena saat itu, ia lah yang akan menjadi pengisi di acara seminar tersebut.
Amora pun segera kembali ke kafe. Begitu sampai di kafe, ia menghela nafas lega sambil memeluk Anggi. "Anggi, gue selamat!"
"Maksudnya?"
"Pesanan gue aman sampai tujuan. Meskipun gue nabrak dia lagi."
"WHAT! Nabrak lagi?" Anggi terkejut.
"Iya. Pas gue mau balik dari Aula, gue berbalik dan nabrak dia lagi. Eh namanya, dokter Damian. Dan lo tau, dia nggak marah."
Anggi menyeringai. "Oh, jadi namanya dokter Damian. Bagus, ada kemajuan lah. Dari keseringan nabrak, eh jadi cinta deh. Buktinya Pak dokter nggak marah," goda Anggi dengan tawanya.
Amora merinding. "Tolong jangan bikin teori aneh…"
Tapi jauh di dalam hatinya, ia merasa Damian adalah teka-teki yang menarik. Dan entah kenapa… ia tidak keberatan untuk memecahkannya.