NovelToon NovelToon
DI,BELAI SAHABAT SUAMIKU

DI,BELAI SAHABAT SUAMIKU

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Pernikahan Sora dan Rian terancam hampa akibat dinginnya sikap sang suami. Di tengah kesepian yang menghimpit, hadir Aris, sahabat masa kecil Rian yang perhatian dan selalu ada. Sentuhan lembut dan kehangatan Aris perlahan mengikis benteng pertahanan Sora. Sebuah kisah tentang godaan terlarang, dilema kesetiaan, dan gairah yang membakar di balik pintu tertutup

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GORESA

"Maaf mengganggu... apakah ini galeri milik Mbak Sora?"

Suara pria itu terdengar bariton lembut, mengalun tenang di tengah keheningan galeri seni yang dipenuhi aroma cat minyak dan kayu.

Sora terpaku sejenak, meremas pelan gagang kuas di tangannya. Mata beningnya menatap sosok pria yang berdiri di ambang pintu galeri. Pria itu bertubuh tinggi tegap, mengenakan kemeja putih kasual yang digulung rapi hingga siku, serta celana kain gelap. Wajahnya memiliki garis rahang yang tegas namun dibingkai oleh tatapan mata yang hangat dan jujur—sangat berbeda dari tatapan dingin Rian atau tatapan obsesif Aris.

Sora menelan saliva pelan, berusaha menguasai dirinya dari kejutan kecil itu.

"Iya, benar... Saya Sora. Ada yang bisa saya bantu, Mas?" tanya Sora ramah, melangkah mendekat sambil melepaskan celemek lukisnya.

Pria itu tersenyum tipis—sebuah senyuman yang tampak tulus tanpa ada kepura-puraan di baliknya. Ia mengulurkan seikat bunga matahari segar yang diikat pita kain cokelat rapi ke arah Sora.

"Saya Danu," ucap pria itu memperkenalkan diri. "Bunga ini dari pemilik gedung area kompleks seni ini. Beliau mengucapkan selamat datang dan selamat atas pembukaan galeri seni milik Mbak Sora."

Sora bernapas lega, sebuah senyuman manis terpancar di wajah cantiknya saat menerima seikat bunga hangat itu. "Ah, begitu... Terima kasih banyak, Mas Danu. Tolong sampaikan rasa terima kasih saya juga pada pemilik gedung."

"Sama-sama, Mbak Sora," sahut Danu. Matanya kemudian teralih menatap kanvas besar di belakang Sora yang baru terisi separuh oleh goresan cat warna biru dan jingga. "Lukisan yang indah. Ada rasa kebebasan yang kuat di dalam goresannya."

Sora menoleh menatap lukisannya sendiri, lalu kembali menatap Danu dengan rona merah tipis di pipinya. "Terima kasih. Ini... lukisan pertama yang saya buat setelah sekian lama berhenti melukis."

"Lukisan buatan orang yang baru lepas dari beban berat biasanya memang punya nyawa yang beda," gumam Danu pelan namun sarat makna, membuat dada Sora berdesir halus.

Hari-hari berikutnya berjalan jauh lebih tenang untuk Sora. Kehidupan barunya sebagai pemilik galeri seni kecil mulai menunjukkan titik terang. Ia menyewa sebuah rumah mungil yang asri di kawasan Jakarta Selatan, jauh dari ingar-bingar dan bayang-bayang masa lalunya bersama Rian maupun Aris.

Danu, yang ternyata adalah seorang arsitek lanskap sekaligus pengelola kompleks galeri tersebut, makin sering berkunjung. Pria itu tidak pernah bersikap dominan atau memaksakan kehendak. Ia hadir sebagai sosok pendengar yang baik, membawa secangkir kopi hangat di sore hari, dan mendampingi Sora melukis tanpa sedikit pun berusaha mengusik privasi atau trauma masa lalu Sora.

Perhatian Danu yang tulus dan tidak menuntut perlahan mengetuk pintu hati Sora yang sempat membeku rapat. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Sora merasakan kehangatan yang wajar dan aman dari seorang pria.

Namun, di balik ketenangan hidup Sora yang baru terajut, badai masa lalu rupanya belum sepenuhnya padam.

Sore itu, pukul lima.

Sora baru saja selesai mengunci pintu kaca galerinya. Suasana di koridor kompleks galeri mulai sepi. Danu sudah pamit lebih awal karena ada janji bertemu dengan klien proyeknya.

Ketika Sora melangkah menuju area parkir belakang untuk mengambil mobil kecilnya, sebuah mobil sedan hitam ber kaca gelap mendadak meluncur pelan dan berhenti tepat memotong jalur jalannya.

Sora tersentak, refleks melangkah mundur dua tapak dengan dada yang mulai berdebar kencang.

Pintu sedan hitam itu terbuka. Sosok pria dengan pakaian kusam, rambut berantakan, dan wajah yang tampak sangat tirus serta liar keluar dari dalam mobil.

Itu adalah Rian.

Sora membelalakkan matanya, jantungnya mendadak berdegup kencang oleh ketakutan dan kepanikan yang kembali membumbung tinggi.

"Rian?!" cicit Sora dengan suara bergetar.

Rian melangkah mendekati Sora dengan tatapan mata yang sayu dan tidak stabil. Penampilannya yang dulu selalu rapi dan klimis kini hancur total setelah perusahaan dan asetnya disita akibat skandal kebangkrutan yang dirancang Aris serta proses perceraian mereka.

"Sora... akhirnya aku ketemu kamu..." ucap Rian dengan suara serak, tangannya terulur hendak menggapai lengan Sora.

Sora refleks melangkah mundur makin jauh, menyandarkan punggungnya pada dinding bangunan. "Jangan mendekat, Rian! Mau apa lagi kamu ke sini?!"

"Aku butuh kamu, Ra!" bentak Rian tiba-tiba dengan suara yang putus asa. "Aris memenjarakanku secara finansial! Pengacaranya menguras habis sisa asetku! Cuma kamu yang punya akses pemulihan aset keluarga ayahmu... Tolong bantu aku, Ra! Cabut gugatanmu!"

"Kamu gila, Rian!" tegas Sora dengan mata memerah menahan amarah. "Kamu yang menghancurkan hidupku selama tiga tahun, dan sekarang kamu datang minta bantuan padaku?! Pergi dari sini sebelum aku panggil sekuriti!"

Rian tertawa histeris—sebuah tawa liar dari pria yang sudah kehilangan akal sehatnya. Ia maju satu langkah lagi, memojokkan Sora.

"Kamu pikir kamu bisa hidup bahagia sama pria arsitek itu, hah?" bisik Rian tajam, matanya berkilat penuh dendam. "Kamu pikir Aris di dalam penjara bakal membiarkan kamu bebas gitu aja?"

Sora menahan napasnya, firasat buruk mendadak menyeruak memenuhi dadanya.

"Maksudmu apa, Rian?" tanya Sora dengan napas memburu.

Rian menyunggingkan senyuman dingin yang mengerikan, lalu merogoh saku jaketnya dan memperlihatkan sebuah surat bersampul hitam ke hadapan wajah Sora.

"Aris kirim surat ini dari dalam lembaga pemasyarakatan pagi tadi khusus buat kamu, Sora..."

Rian mendekatkan wajahnya, membisikkan baris kalimat dalam surat itu tepat di samping telinga Sora yang membeku kaku.

"Dia bilang... kalau kamu nggak datang menjenguknya minggu ini, orang-orang suruhannya akan memastikan galeri senimu dan pria bernama Danu itu terbakar habis."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!