Selama tiga tahun menjadi istri Arga Pratama, Rania selalu merasa tertekan karena dianggap gagal memberikan keturunan.
Arga mencintainya, tapi tak sanggup menahan tekanan ibunya yang mengancam akan mengakhiri hidup jika Arga tidak mau menikah lagi dan bercerai dengan Rania.
Akhirnya, Rania meninggalkan rumah tangganya dengan hati yang hancur.
Di sisi lain, Alvino Pratama, saudara sepupu Arga yang jauh lebih kaya dan berkuasa, ternyata sudah lama menyimpan perasaan pada Rania.
Rania pun menerima lamaran dari Alvino karena orang tua Alvino mengatakan Alvino juga tidak bisa memiliki keturunan. Rania berharap setidaknya ia bisa mendapatkan ketenangan karena tak lagi dikejar masalah anak.
Namun baru tiga bulan menikah, Rania dinyatakan hamil. Rania bahagia, tapi juga cemas. Bagaimana kalau kehamilannya dicurigai? Karena itu Rania menyembunyikan kehamilannya. Namun, tanpa sengaja Alvino mengetahui kehamilan Rania.
Lalu, apakah Alvino bisa menerima kehamilan Rania?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
.
Arga berdiri mematung di ambang pintu ruang VIP restoran mewah itu. Tatapannya tertuju pada sosok wanita yang duduk tenang di salah satu meja pengunjung. Rania, wanita yang beberapa Minggu lalu terpaksa ia ceraikan. Dan di hadapan wanita itu, seorang pria yang sangat dikenal olehnya. Alvino, sepupunya sendiri, sosok yang selalu dihormati dan dijunjung tinggi oleh seluruh keluarga besar mereka.
Arga merasa dadanya bagai diremas kuat. Sudah berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, yang terbayang di kepalanya hanyalah wajah Rania yang sembab dan basah. Namun malam ini ia melihatnya tertawa ringan. Dan yang lebih menyakitkan... Senyum itu bukan untuknya. Lebih tepatnya bukan dia yang membuat Rania tersenyum, tapi pria lain.
Arga menyentuh dadanya, ada rasa panas yang tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuh. Rasa asing yang perlahan tumbuh, menggelitik hatinya membuatnya merasa tidak nyaman. CEMBURU.
Arga membenci dirinya sendiri. Bukankah dialah yang memutuskan mengakhiri semuanya? dia juga yang mengucapkan kata talak. Dia juga yang tidak bisa melindungi wanita itu untuk selalu berada di sampingnya. Lalu dengan hak apa ia merasa cemburu sekarang?
“Pak Arga?”
Suara Hafiz memecah lamunannya. Membuatnya menoleh seketika.
“Maaf, klien sudah menunggu di dalam.”
Arga mengerjap seolah baru terbangun dari mimpi buruk. “Ya… aku mengerti,” ucapnya berdehem untuk menetralkan dadanya dari rasa sesak.
Sebelum melangkah masuk, Arga kembali melirik ke arah meja itu. Dan bertepatan dengan itu, Rania juga menoleh ke arahnya tanpa sengaja.
Deg!
Senyum di wajah Rania langsung lenyap seketika. Tubuh Arga terasa membeku di tempat. Mata mereka bertemu, saling menatap beberapa detik yang terasa seperti berjam-jam. Kenangan tiga tahun pernikahan itu tiba-tiba meledak begitu saja di kepala mereka.
Namun, Rania lebih dulu memutuskan tatapan mereka. Wanita itu segera menundukkan kepala, seolah sedang menghindari pandangan itu.
Gerakan sederhana itu membuat hati Arga semakin sakit. Ia tahu jelas maknanya. Kini dirinya sudah menjadi orang asing bagi wanita itu.
“Rania?”
Suara lembut Alvino menyadarkan Rania. “Ada apa? Kamu tidak apa-apa? Kenapa wajahmu seperti baru saja melihat hantu?”
Rania mengangkat wajah dengan susah payah, lalu memaksakan senyum tipis. “Saya baik-baik saja, Pak.”
Alvino mengangguk pelan, tapi matanya mengikuti arah pandangan Rania tadi. Dan ia melihat sosok Arga yang masih berdiri tak jauh dari tempat duduk mereka. Tatapan kedua pria itu bertemu sekilas. Alvino sedikit mengernyit, sementara Arga memberi anggukan kecil sebagai tanda sopan santun sebelum akhirnya masuk ke ruangannya.
Sosok itu sudah menghilang. Namun rasa sesak di dada Rania tak kunjung hilang. Malam yang tadinya terasa tenang kini terasa berat.
Alvino melihat perubahan itu dengan jelas. “Maafkan aku,” ucapnya tiba-tiba.
Rania menatapnya bingung. “Kenapa Bapak minta maaf?”
“Seharusnya aku memilih tempat makan yang lebih privat. Agar kau tidak bertemu orang yang tidak diharapkan,” jawabnya jujur.
“Ini bukan salah Bapak,” bantah Rania lembut. “Ini hanya kebetulan.”
“Tapi kau terlihat tidak nyaman sekarang,” kata Alvino pelan.
Rania menghela napas pendek. “Saya hanya sedikit terkejut. Tapi sudah tidak apa-apa.”
Alvino mengangguk, tapi dalam hatinya ia paham, luka di hati wanita itu ternyata belum benar-benar kering. Dan entah kenapa, melihat wajah Rania yang terlihat sendu membuat dadanya ikut terasa perih.
Di dalam ruang VIP, Arga sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Kata-kata kliennya terasa seperti angin lalu, tak satu pun masuk ke telinganya. Pikirannya masih melayang ke meja makan tadi. Senyum Rania, tawa kecilnya, dan tatapan kosongnya saat melihat dirinya.
“Pak Arga?” panggil klien itu lagi. “Apakah penjelasan soal proposal ini sudah cukup jelas?”
Arga tersadar, lalu segera mengangguk cepat. “Ya… sudah bagus. Silakan lanjutkan saja.”
Padahal ia bahkan tidak mendengar apa yang baru saja dibicarakan. Sepanjang makan malam itu, bayangan Rania tertawa bersama Alvino terus menghantuinya. Dalam hatinya bertanya-tanya, kenapa Rania bisa bersama dengan Alvino?
Tiba-tiba saja pria itu merasa takut. Bagaimana jika suatu hari nanti Rania benar-benar melupakannya dan jatuh cinta pada pria lain? Rasanya dirinya tak sanggup membayangkan wanita yang sangat dicintainya menjadi milik pria lain. Semakin ia memikirkannya, semakin pula ia merasa dadanya sesak.
*
Malam semakin larut saat Rania tiba di rumah kontrakannya. Wanita itu langsung masuk ke dalam kamar dan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang seraya memejamkan mata rapat, menenangkan detak jantungnya yang masih berdebar kencang. Pertemuan tak terduga dengan Arga tadi membuatnya kembali terguncang. Luka yang dengan susah payah ia tutup rapat, kini kembali terasa perih.
Belum sempat ia menenangkan diri, ponsel di tangannya bergetar pelan. Sebuah pesan masuk.
Dari: Soraya Mahendra
“Kamu sudah sampai rumah, Nak?”
Rania mengerutkan keningnya. Apa Bu Soraya tahu dirinya pergi makan malam dengan Pak Alvino? Rania memukul kepalanya sendiri pelan. Pak Alvino adalah putra dari Bu Soraya, tentu saja wajar jika Bu Soraya tahu. Yang membuatnya bertanya-tanya adalah Bu Soraya sama sekali tidak marah, tetapi malah menanyakan keadaannya. Rania kembali merasa hatinya menghangat, lalu segera menggerakkan jari-jarinya untuk membalas:
“Sudah sampai, Bu.”
Tak lama kemudian balasan datang kembali
“Istirahatlah, jangan tidur terlalu malam ya.”
Senyum di wajah Rania terasa semakin lembut. Sejak perceraiannya, Bu Soraya selalu ada, memperhatikannya bahkan lebih hangat daripada orang tuanya sendiri. Ia merasa sangat beruntung masih mendapatkan perhatian seperti itu.
Rania mengetik lagi: “Siap, Bu. Terima kasih banyak atas perhatiannya.”
Di rumah keluarga Mahendra, Soraya tersenyum lebar melihat balasan itu.
Alvino yang baru saja hendak naik ke kamarnya yang ada di lantai atas, mengerutkan keningnya melihat hal itu. “Ngapain ibu senyum-senyum sendiri malam-malam begini?" tanyanya.
“Kepo!" Balas Bu Soraya.
Alvino berdecak sebal yang membuat Bu Soraya malah tertawa terbahak-bahak.
“Bagaimana kalau besok Ibu bikin acara makan siang dengan Rania di ruangan ibu?”
Alvino menghela napas panjang sambil menggeleng. “Bu… kalau seperti ini, maksud Ibu terlalu terlihat jelas.”
“Memangnya kenapa?” tanya Soraya tak peduli. “Kamu ini laki-laki atau patung? Kalau kamu lelet keburu disambar orang!”
Laki-laki albino hanya bisa menghilang nafas melihat ibunya yang justru lebih antusias daripada dirinya. Tapi tiba-tiba pria itu duduk mendekat di sofa yang berdampingan dengan ibunya.
“Bu…” panggil Alvino pelan dengan dua tangannya yang menggenggam tangan ibunya.
Bu Soraya menoleh dengan mata menyipit.
“Bagaimana kalau ibu melamar Rania begitu masa iddahnya selesai?" pinta Alvino dengan kedua menatap wajah ibunya dengan mata berkedip-kedip layaknya anak kecil minta permen.
Bu Soraya terbelalak dengan permintaan anaknya.
"Ibu juga inginnya seperti itu,” ucapnya dengan wajah yang tiba-tiba berubah tak bersemangat.
"Ya sudah, tunggu apa lagi? Pokoknya Ibu harus melamar Rania begitu masa iddahnya selesai!”
"Dasar bujang lapuk tidak sabaran!” umpatnya sambil menggeplak kepala anaknya dengan telapak tangan. Alvino mencibir sambil memegangi kepalanya. Padahal ibunya sendiri juga ingin.
"Menurutmu, kalau tiba-tiba ibu melamarnya apa dia akan menerima?” Tanya Bu Soraya menghilang nafas lemah. “Dia baru saja tersakiti, dan dia sedang dalam kondisi tidak percaya diri. Pasti dia masih takut untuk kembali memulai lembaran baru.”
"Nah… itu tugas ibu untuk berpikir!” Alvino kabur setelah memberikan ciuman di pipi ibunya.
“Dasar bujang gemblung!" Bu Soraya melempar anaknya dengan bantal sofa yang sayangnya tidak mengenai sasaran.
"Vino percayakan semuanya pada ibu! Ha ha ha..."
mak semangat truus menulis ny ,, sehat2 trus mamak ku ,, 🫰🫰🫰🫰
nonis tidak ada pakai ijab kabul ya.kita adanya pemberkatan di gereja.
tidak harus ada orang tua yang jadi wali jabat tangan dengan mempelai pria...
pemberkatan di lakukan oleh pendeta atau pastor,diantara dua pengantin.
mohon di perhatikan lagi kk Thor
setau saya nikah di gereja itu namanya pemberkatan nikah oleh Pendeta.
tolong lebih diperluas referensinya. karena ketika kita membaca maka yang diharapkan ada bertambahnya pengetahuan bukan makin keliru.