Malam hujan di RS Elisabeth Semarang, dua bayi tertukar karena gelang pink. Clarissa hidup mewah di Graha Candi Golf, Aurel menderita di Gunungpati. 18 tahun kemudian, tes DNA membongkar rahasia. Siapa yang akan hancur saat kebenaran terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Riak Kecil di Atas Permukaan
Suasana di kediaman megah keluarga Hartono di kawasan Candi, Semarang Atas, terasa jauh lebih dingin dan kaku dari biasanya. Cahaya berpendar dari lampu gantung kristal yang membiaskan warna keemasan di atas lantai marmer impor tak lagi mampu menghangatkan interaksi di dalam rumah tersebut. Gemericik air dari pancuran taman dalam rumah yang biasa terdengar menenangkan kini justru menambah kesan sunyi dan mencekat.
Bu Maya Larasati duduk mengaduk cangkir teh hangatnya di meja makan panjang berukir kayu jati. Pikirannya melayang jauh, tertambat sepenuhnya pada kenyataan pahit yang ditemuinya di RS Elisabeth kemarin: berkas rekam medis dan catatan harian perawat pada malam pemadaman listrik total sembilan belas tahun lalu sengaja dikunci rapat atas instruksi khusus dari perwakilan hukum suaminya sendiri. Setiap denting halus sendok porselen yang menyentuh cangkir tehnya seolah menegaskan kecurigaan yang kian mengakar tajam di dalam dadanya.
Dari arah tangga melingkar berkarpet merah tebal, Clarissa melangkah turun dengan gaya manjanya yang biasa. Ia mengenakan gaun santai bermerek ternama, jemari lentiknya sibuk mengusap layar ponsel pintar keluaran terbaru tanpa mengacuhkan para pelayan yang membungkuk sopan di sepanjang lorong.
"Mama, kok belum siap-siap?" tegur Clarissa sambil menarik kursi di samping Bu Maya tanpa meminta izin terlebih dahulu. "Katanya sore ini Mama mau temani aku ke butik untuk cari tas baru? Minggu depan kan ada acara jamuan keluarga di hotel."
Bu Maya menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengaduk teh. Ia mengalihkan pandangan perlahan, menatap wajah Clarissa lekat-lekat dari dekat. Garis matanya yang tajam, alisnya yang menukik angkuh saat menyuruh pelayan, serta bentuk dagunya... semuanya mendadak terasa begitu asing bagi Bu Maya. Selama sembilan belas tahun, Bu Maya selalu memaklumi tabiat itu sebagai wujud keperlanja-lanjaan anak tunggal kaya raya. Namun kini, setelah dinding kebenaran mulai retak, tatapan mata Bu Maya berubah sepenuhnya.
"Mama sedang kurang sehat, Clarissa. Kamu pergi saja sendiri bersama sopir," jawab Bu Maya dengan suara datar, dingin, dan tanpa kehangatan yang biasanya selalu memanjakan.
Clarissa tersentak pelan. Dahi cantiknya berkerut heran, menghentikan usapan jemarinya pada layar ponsel. "Lho, Mama kenapa, sih? Dari kemarin malam kelihatan aneh banget. Diam terus, terus kalau ngeliatin aku kayak ngeliat orang asing. Aku ada salah apa, Ma?"
Bu Maya tidak langsung menjawab. Jemari tangannya meremas kain serbet di pangkuannya dengan ketegangan yang amat sangat, menahan gelombang emosi yang membakar dadanya hingga ke tenggorokan. Kamu memang orang asing, Nak... atau mungkin, akulah ibu bodoh yang telah salah membesarkan darah daging orang lain selama belasan tahun, batin Bu Maya menjerit dalam kepedihan tanpa suara.
"Tidak ada apa-apa. Mama cuma butuh waktu untuk istirahat di kamar," bisik Bu Maya parau, lalu membalikkan badan dan bergegas melangkah menuju tangga lantai dua tanpa memedulikan panggillan kesal dari Clarissa.
"Ih, Mama aneh banget!" gerutu Clarissa seraya menghentakkan kakinya ke lantai marmer, melampiaskan kekesalannya pada pelayan yang sedang merapikan meja makan setelah itu ia berangkat diantar sopir pribadi mereka sesampainya di sekolah Clarissa langsung masuk ke dalam kelas karena sudah hampir terlambat.
Dan siang itu, di SMA Loyola, suasana koridor lantai dua menjelang jam istirahat pertama diwarnai oleh kasak-kusuk yang mulai menyebar secara halus di antara kelompok murid-murid kaya.
Clarissa tidak tinggal diam setelah teguran terbuka Cristan Dewangga di koridor kemarin. Sebagai putri pengusaha terpandang, ia paham betul bahwa menyerang Aurel secara langsung dengan makian kasar hanya akan membuat Cristan semakin bersimpati pada gadis itu. Maka, Clarissa memilih jalur perundungan psikologis yang jauh lebih licik dan beracun: mengisolasi Aurel secara sosial (social exclusion).
Di area kantin sekolah yang ramai oleh keriuhan murid, dua teman dekat Clarissa sengaja duduk di meja besar di tengah ruangan. Mereka berbicara dengan nada suara yang cukup keras agar terdengar oleh murid-murid di meja sekitarnya.
"Kamu tahu tidak?" sindir salah satu teman Clarissa seraya menyeruput minumannya dengan lirikan mata yang tajam. "Katanya anak penerima beasiswa dari Gunungpati itu sering kelihatan berkeliaran di area kelas VIP setelah jam sekolah selesai. Entah apa yang dicarinya."
"Masa, sih?" timpal temannya satu lagi dengan raut wajah bergidik yang dibuat-buat. "Duh, hati-hati saja deh. Barang-barang mahal atau perhiasan di dalam tas kita bisa mendadak hilang kalau ada orang luar yang tidak jelas latar belakang keluarganya sering mondar-mandir di kelas."
Beberapa murid dari kelas lain yang duduk di dekat sana mulai saling lempar pandang dan berbisik-bisik. Dalam waktu singkat, rumor prasangka buruk itu perlahan-lahan menyebar. Tatapan curiga, lirikan sinis, serta sikap menghindar mulai ditunjukkan oleh teman-teman seangkatannya setiap kali Aurel berjalan melewati koridor atau masuk ke dalam ruang kelas.
Aurel menyadari perubahan atmosfer yang membeku di sekelilingnya. Pintu-pintu kelompok belajar yang mendadak tertutup rapat baginya serta bisikan-biskan di belakang punggungnya bukanlah hal yang tidak ia rasakan. Namun, sebagaimana keteguhan batin yang selalu ditanamkan oleh ibunya, Sari, di gubuk sederhana mereka, Aurel memilih untuk tidak ambil pusing. Ia tetap melangkah dengan kepala tegak, menjaga tutur kata dan kesantunannya tanpa menyimpan rasa dendam sedikit pun.
Ketika bel istirahat berbunyi dan ruang perpustakaan mulai lengang, Aurel duduk di salah satu sudut meja kayu panjang untuk merapikan berkas-berkas tugas piket perpustakaan. Suasana di dalam ruang perpustakaan yang dingin dan beraroma kertas tua terasa sangat menenangkan baginya.
Suara derap langkah kaki yang tegap namun lembut di atas lantai kayu membuat Aurel mendongak. Cristan Dewangga berjalan mendekat dari balik deretan rak buku tebal, membawa map tipis berwarna biru di tangannya.
"Aurel," sapa Cristan lembut, memecah heningnya ruangan.
Aurel menghentikan jemarinya, lalu tersenyum tipis nan sopan. "Iya, Cristan? Ada yang bisa dibantu?"
"Pak Guru meminta kita mewakili sekolah untuk Olimpiade Sains tingkat kota bulan depan," Cristan menarik kursi dan duduk di hadapan Aurel, lalu menyodorkan lembar formulir pendaftaran dari dalam mapnya. "Aku sudah mendaftarkan namamu sebagai pasanganku untuk tim karya ilmiah. Aku tahu kemampuanmu di bidang analisis data sangat luar biasa."
Aurel menatap lembar formulir itu dengan mata berbinar kaget. Kesempatan ikut serta dalam olimpiade sains adalah impian besarnya untuk membuka jalan beasiswa perguruan tinggi di masa depan. Namun di sisi lain, naluri halus Aurel langsung menangkap konsekuensi lain: keputusan Cristan memilihnya sebagai pasangan tim pasti akan membuat kemarahan dan cemburu Clarissa makin meledak.
"Cristan... apakah tidak sebaiknya kamu berpasangan dengan murid lain yang lebih pantas?" tanya Aurel ragu, menatap Cristan dengan pandangan serba salah. "Kamu tahu sendiri suasana di koridor sedang seperti apa. Aku tidak ingin keberadaanku justru menyulitkan posisi atau nama baikmu di sekolah ini."
Cristan menatap mata teduh Aurel dengan pandangan yang sangat mantap, tajam, dan tanpa ada keraguan sedikit pun.
"Aku memilih pasangan tim berdasarkan kemampuan, integritas, dan kejujuran, Aurel. Bukan berdasarkan status sosial, kekayaan, atau tekanan dari siapa pun di sekolah ini," tegas Cristan dengan suara rendah yang menenangkan dada. "Jangan pernah biarkan bisikan atau prasangka orang lain menghentikan langkahmu untuk maju."
Di luar jendela kaca perpustakaan yang besar, berdiri di balik rimbun pilar taman, Clarissa menyaksikan interaksi dekat antara Cristan dan Aurel dengan telapak tangan mengepal erat hingga kuku-kukunya memutih. Wajahnya memerah padam, dan kilatan dendam di matanya menyala makin membara menjadi benih awal bagi intrik licik yang jauh lebih besar pada bab-bab mendatang.
kalau bisa double up