NovelToon NovelToon
Musuh Bebuyutan Kok Pacaran?

Musuh Bebuyutan Kok Pacaran?

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Komedi
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Dafa Mahendra itu kapten basket paling keren se-antero sekolah, tapi otaknya suka agak lemot kalau urusan cinta. Niatnya mau nembak Kinar Kirana (kapten basket putri) pakai cara super romantis di koridor yang gelap, Dafa malah salah sasaran! Akibat salah narik tangan karena panik, dia justru menyatakan cinta ke Lilis Nurmala—kapten cheerleader sekaligus musuh bebuyutannya yang super galak dan hobi adu mulut dengannya.

Sialnya, momen salah tembak itu viral! Demi menjaga gengsi dan menghindari hukuman dari guru karena bikin keributan, mereka terpaksa pura-pura pacaran. Di sisi lain, Kinar yang aslinya naksir Dafa mulai panik dan mencoba merebut Dafa kembali. Belum lagi Azril, kapten futsal yang protektif banget sama Lilis, siap menghajar Dafa kapan saja. Tapi, siapa sangka? Dari yang tadinya hobi bertengkar, saling mengejek, dan pasang jebakan jail tiap hari di kelas, Dafa dan Lilis justru pelan-pelan malah saling bikin baper beneran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persiapan Nembak 01.

Daffa Mahendra menatap pantulan dirinya di cermin buram ruang loker cowok SMA Wahidin Jakarta. Cowok berusia tujuh belas tahun itu baru saja menyelesaikan sesi latihan fisik dua jam.

Kaus kutang hitamnya basah oleh keringat, mempertegas garis otot bahu dan lengan yang terbentuk matang karena rutinitas sebagai kapten tim basket utama.

Wajahnya tipikal cowok yang sering jadi pusat perhatian di koridor, rahang tegas dengan potongan rambut undercut yang agak berantakan, serta sepasang mata tajam yang biasa memancarkan aura dominan di lapangan.

Namun sore ini, ketenangan yang biasa ia miliki menguap entah ke mana.

Daffa mengembuskan napas berat. Tangannya yang terbalut wristband hitam bergerak membuka loker, mengambil kemeja seragam putih yang sengaja ia gantung di sana.

"Gila, Kapten kita bisa gemeteran juga," celetuk Rian dari arah pintu loker, disusul tawa renyah dari bagasi belakang. Niko dan Bams muncul di belakangnya, masing-masing sudah memegang ponsel dengan kamera yang siap siaga.

"Berisik, Yan," gerutu Daffa. Ia mengancingkan kemejanya asal, menyisakan dua kancing teratas terbuka.

Aroma parfum wood and citrus miliknya langsung memenuhi ruangan begitu ia menyemprotkannya ke leher.

"Semua instrumen sudah siap di posisi, Bos," lapor Niko sambil menaik-turunkan alisnya. "Balkon lantai dua sudah steril. Begitu Kinar Kirana lewat koridor bawah menuju parkiran, Bams bakal ngasih kode. Rian bertugas muter lagu via speaker bluetooth yang udah kita umpetin di balik loker koridor. Dan gue? Gue bakal mengabadikan momen bersejarah ini dalam kualitas 4K."

Daffa hanya tersenyum tipis, walau jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.

Kinar Kirana. Kapten tim basket putri Wahidin. Gadis dengan kuncir kuda yang sama keras kepalanya dengan Daffa di lapangan, tapi selalu berhasil membuat Daffa kehilangan kata-kata saat mereka hanya berdua.

Selama satu tahun ini, interaksi mereka hanya seputar perebutan jadwal lapangan atau evaluasi gabungan antartim.

Namun, Daffa tahu perasaannya sudah melompat jauh melampaui batas garis lapangan.

Hari ini, di hari ulang tahun Kinar, Daffa memutuskan untuk menyudahinya. Dia ingin status yang jelas.

"Ingat ya, Daf," Bams menepuk bahu Daffa, mengubah nadanya menjadi agak serius. "Kinar itu tipe cewek yang sehat. Dia enggak bakal suka kalau lo bawa sepasukan marching band atau nembak di tengah lapangan pas jam istirahat ditonton seangkatan. Makanya skema koridor sepi ini udah paling pas. Romantis, tapi privat."

"Iya, gue tahu. Thanks, makanya gue setuju sama ide kalian," sahut Daffa jujur. Ia meraih jaket varsity kebanggaan tim basket Wahidin berkombinasi warna hitam-hitam dengan bordiran angka tujuh di lengan, lalu menyampirkannya di bahu kiri. Di kantong jaket itu, ada sebuah gelang perak simpel yang sudah ia siapkan sejak minggu lalu.

"Oke, target terpantau baru keluar dari ruang bilas putri!" seru Bams yang mengintip dari celah jendela ruang loker yang menghadap ke area infografis sekolah. "Dia jalan sendirian. Pake jaket maroon oversize-nya yang biasa."

"Posisiiiii!" Rian langsung setengah berlari keluar menuju titik persembunyiannya dekat speaker. Niko mengambil sudut terbaik di balik pilar dekat tangga lantai dua, mengarahkan lensa kamera ponselnya ke koridor bawah yang mulai temaram karena matahari senja Jakarta mulai tenggelam.

Daffa menarik napas dalam-dalam, mengisi dadanya dengan sisa-sisa keberanian. Ia melangkah keluar dari ruang loker. Suasana koridor utama lantai satu malam itu sangat mendukung—sepi, remang-remang, hanya menyisakan beberapa lampu esensial yang menyala karena sebagian besar siswa sudah pulang pasca-ekstrakurikuler.

Dari kejauhan, Daffa mendengar suara gesekan sepatu yang khas. Seseorang sedang berjalan pelan menyusuri koridor.

Daffa berdiri di dekat belokan menuju lobi utama. Dari sudut matanya, ia melihat sekelebat bayangan di ujung koridor yang remang-remang. Postur tubuh itu, tinggi ramping, dan siluet kepala dengan rambut yang diikat ke atas. Yang membuat Daffa semakin yakin adalah jaket yang melekat di tubuh siluet tersebut—potongan luar yang sangat familier di matanya.

Jantung Daffa berdegup kencang, memukul rongga dadanya dengan keras. Niko dari lantai atas sudah memberikan kode jempol, menandakan kamera sudah merekam. Rian sudah siap menekan tombol play di ponselnya untuk memutar instrumen akustik lembut.

Siluet itu berjalan semakin dekat, kepalanya agak menunduk seperti sedang mencari sesuatu di dalam tasnya.

Daffa tidak ingin momen ini menjadi tontonan murahan jika tiba-tiba ada penjaga sekolah yang lewat. Dia ingin atmosfer yang benar-benar intens dan terfokus hanya pada mereka berdua. Begitu siluet itu berjarak sekitar sepuluh meter darinya, tepat di bawah kendali sakelar utama koridor yang berada di jangkauan tangannya, Daffa mengambil tindakan.

Cklek.

Daffa mematikan lampu koridor utama, menyisakan pencahayaan seminimal mungkin dari bias lampu taman di luar jendela.

Koridor langsung meremang dramatis, menyisakan siluet tubuh di depannya yang terhenti seketika karena kegelapan yang tiba-tiba.

Daffa melangkah maju dengan percaya diri, senyum tipis terukir di wajahnya. "Hai, Nar. Sesuai janji, gue mau ngomong sesuatu," ucap Daffa dengan suara berat yang terdengar sangat tenang, menutupi gemuruh di dadanya. Ia menarik gadis yang di yakini seorang Kinar Kirana tersebut.

......................

...****************...

Tbc,

1
Gege Mas
yaaah pikir plotnya lilis hilang ingatkan..trus jadi berpuluh puluh episode buat kembali ingat dafa..🤣
Gege Mas
apik Dan epic
Gege Mas
perasaan di bab berapa sudah di perjelas..disini di putar balik lage.. othor memainkam durasi ini..🤣🤭
Rofiwan: satu bab doang /Sob/🤣
total 1 replies
falea sezi
makanya jangan bego dava.. ayo lis putusin hubungan pura2 kalian
falea sezi
makanya jd cowok jangan serakah suka lilis malah nemenin mantan gebetan🤣🤣 plin plan elu🤣
falea sezi
abis ne bodoh amat m dava donk lis jual. mahal putusin hubungan pura2🤣 berjuang apanya pret si dava
mars-venus
ceritanya gak bosenin asliii
mars-venus
jujur ini gimana caranya berenti baca novel.. berasa males kerja pen baca sampe akhir😫
falea sezi
lanjut
falea sezi
jual mahal lis ngapain ngejar cowok duluan🤣 ogah amat mending di cintai Dripada mencintai
falea sezi
biarin aja lis dava ma Kinar 🤣 nanti jg dia nyesel tp uda telatt🤣
falea sezi
lanjut q kirm hadiah
Gege Mas
luncurkan 10k kata Thor...gasskeun
Nita Nita
wekwekwekwek 😄
Queen Aisyah
woy, sampe keselek siomay saya baca ginian/Sob//Curse/
Nita Nita
😄😄😄😄😄🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!