Sebagai putri kesayangan dari keluarga bangsawan Montclair, Lady Aurelia selalu mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Namun, watak keras kepalanya membawa petaka saat ia jatuh cinta pada sang Raja. Demi mewujudkan keinginannya, keluarga Montclair terpaksa merelakan putri tercinta mereka masuk ke istana—bukan sebagai ratu, melainkan hanya sebagai seorang selir.
Kehidupan istana ternyata tak seindah impian Aurelia. Dinginnya sikap Raja dan kekejaman kompetisi antar-selir menghentikan langkahnya secara tragis. Ia tewas terbunuh di tangan selir lain, sementara Raja yang dijunjungnya bahkan tidak sudi melirik jasadnya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua.
Aurelia terbangun kembali di hari keduanya sebagai selir. Terbangun dari kematian membawa rasa sakit yang membakar sekaligus dendam yang membara. Keras kepala yang dahulu membinasakannya, kini berganti menjadi ambisi yang mematikan. Aurelia bertekad: ia tidak akan mati sia-sia untuk kedua kalinya.
Satu per satu, para selir yang mengh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Klarina_za29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teh Beracun Pertama
Taman dalam Istana Utama dipenuhi keanggunan yang penuh dengan kepalsuan. Bunga-bunga mawar mekanis dan melati putih bermekaran indah di sekitar gazebo batu pualam, diiringi alunan harpa yang dimainkan lembut oleh musik kerajaan. Di sana, para wanita berpakaian mewah dengan gaun renda sutra duduk melingkar di meja bundar—para selir yang siap menerkam siapa saja yang lengah.
Di ujung meja utama, duduk Lady Genevieve, Selir Keagungan dari faksi barat, memegang cangkir porselen dengan keanggunan seorang ratu tanpa mahkota. Di samping kanannya, Selir Evelyn wanita berwajah lembut dengan senyum manis yang menipu, tampak sibuk berbincang dengan selir-selir lainnya.
Suara langkah kaki yang teratur dan tegas seketika memotong alunan harpa.
"Lady Aurelia Montclair memasuki Taman Dalam," seru pengawal pintu taman dengan nada lantang.
Seluruh pandangan mata di gazebo itu seketika tertuju ke arah lorong utama. Ekspektasi mereka terutama Evelyn adalah melihat seorang putri muda yang sembab karena menangis, atau wanita murahan yang mengenakan gaun mencolok berlebihan demi menutupi keputusasaannya karena diabaikan oleh Raja Julian di malam pertama.
Namun, yang melangkah masuk justru membuat mereka menahan napas.
Aurelia berjalan dengan dagu terangkat tinggi dan punggung tegap bagai seorang Ratu. Ia mengenakan gaun sutra berwarna hijau zamrud yang amat elegan, dilapisi renda putih bersih yang menutup dada hingga lehernya. Rambut cokelat kemerahannya disanggul rapi ke atas, dihiasi mahkota mutiara murni dari keluarga Montclair.
Tidak ada riasan berlebihan, tidak ada kesan murahan. Tatapan matanya yang tajam dan dingin memancarkan dominasi yang membuat para Lady senior tanpa sadar menggeser duduk mereka.
"Salam untuk Lady Genevieve, dan para selir kerajaan," ujar Aurelia dengan nada suara yang halus namun begitu berwibawa. Ia membungkuk anggun sebuah tata krama istana yang begitu sempurna tanpa cela sedikit pun.
Genevieve menyempitkan matanya. Binar kepolosan yang ia lihat di hari pertama kedatangan gadis Montclair ini telah lenyap. "Berdirilah, Lady Aurelia. Sungguh suatu kehormatan melihat putri kesayangan Duke Montclair sudi bergabung bersama kami di hari keduanya."
"Kehormatan adalah milik hamba, Lady Genevieve," jawab Aurelia tenang sembari menduduki kursi kosong yang disediakan untuknya.
Evelyn segera melempar senyum paling manis yang ia miliki, meski matanya menyorotkan keheranan. Mengapa teh herbal yang dikirimkannya tadi pagi tidak membuat wajah gadis ini pucat dan merintih sakit perut?
"Aurelia sayang," sapa Evelyn dengan nada akrab yang dibuat-buat, "wajahmu tampak begitu segar. Apakah teh herbal yang kukirimkan tadi pagi sudah kau minum? Aku sangat mengkhawatirkan kesehatanmu setelah perjalanan jauh dari wilayah selatan."
Aurelia memalingkan wajahnya menatap Evelyn. Tatapannya begitu intens hingga membuat senyum ramah di wajah Evelyn membeku sejenak.
"Teh itu?" Aurelia terkekeh pelan sebuah kekehan yang terngiang manis di telinga para wanita di sana. "Tentu saja, Lady Evelyn. Perhatianmu sungguh menyentuh hatiku. Teh herbal penyegar yang kau kirimkan sungguh berkhasiat tinggi."
Aurelia memberi isyarat tangan ke belakang. Marta, yang berdiri di belakang kursi Aurelia dengan tubuh gemetar, melangkah maju membawa nampan perak yang menampung teko porselen dan dua buah cangkir.
"Karena aku sangat menghargai kebaikanmu," lanjut Aurelia dengan suara melantun indah, "aku menyuruh pelayanku untuk menyeduh daun teh pemberianmu secara khusus. Aku ingin menikmati cangkir teh istimewa ini bersamamu siang ini, Lady Evelyn."
Wajah Evelyn seketika berubah agak pucat. "A-apa? Kau menyeduhnya sekarang?"
"Tentu saja," Aurelia meraih teko perak itu dan mengucurkan cairan teh berwarna kecokelatan ke dalam dua cangkir di depannya. Aroma herba yang cukup tajam menyeruak ke udara. "Bukankah sangat tidak sopan jika aku menikmati hadiah berharga dari seorang kakak seperjuangan sendirian? Mari, Lady Evelyn. Tolong minumlah cangkir pertama ini bersama saya sebagai bentuk ikatan persahabatan kita."
Aurelia mendorong satu cangkir porselen lurus ke hadapan Evelyn.
Suasana di gazebo itu mendadak hening. Selir Genevieve memiringkan kepalanya, memperhatikan interaksi di depannya dengan ketertarikan politik yang dalam. Selir-selir lain mulai berbisik-bisik.
Tangan Evelyn yang hendak meraih cangkir itu gemetar pelan. Ia tahu persis apa isi teko itu. Daun teh yang dikirimkannya tadi pagi mengandung racun Nightshade dosis rendah yang dicampur dengan minyak bunga Aconite—racun yang menyebabkan mual hebat, ruam di wajah, dan kram perut yang mengerikan. Jika ia meminumnya, reputasinya di depan publik akan hancur dalam hitungan jam.
"Mengapa kau diam saja, Lady Evelyn?" tanya Aurelia dengan kening berkerut halus, memasang wajah polos yang dibuat-buat. "Apakah kau enggan minum bersamaku? Atau... ada yang salah dengan teh yang KAU kirimkan sendiri ke kamarku?"
Pertanyaan itu meluncur bak belati yang menusuk tepat di dada Evelyn. Para Lady di sekitar mereka mulai menatap Evelyn dengan pandangan curiga.
"B-bukan begitu, Aurelia!" tukas Evelyn cepat, berusaha keras menguasai kepanikannya. "Hanya saja... lambungku sedang kurang baik siang ini. Dokter kerajaan melarangku meminum teh herbal yang terlalu pekat."
"Oh, benarkah?" Aurelia tersenyum tipis—sebuah senyuman dingin yang mengerikan. "Sungguh disayangkan. Padahal aku sangat berharap kita bisa saling berbagi rasa."
Aurelia perlahan mengambil cangkirnya sendiri. Ia mengangkat cangkir itu ke udara, membiarkan uap hangatnya menerpa wajahnya. Di kehidupan lalunya, ia meminum teh ini tanpa curiga dan menderita selama berhari-hari di dalam kamar sunyi.
Mata Evelyn membelalak kaget ketika melihat Aurelia perlahan mendekatkan cangkir itu ke bibirnya. Apakah gadis gila ini benar-benar akan meminum racun itu?!
Namun, tepat sebelum bibir Aurelia menyentuh permukaan teh, jemarinya yang sengaja dimiringkan sedikit membuat cangkir porselen mahal itu tergelincir dari genggamannya.
PRANG!
Bunyi pecahan porselen yang keras mengejutkan seluruh isi gazebo. Teh kecokelatan itu tumpah merembes ke gaun sutra milik Evelyn dan menggenangi sepatu kulitnya, sementara sisanya membasahi tanaman bunga melati kecil di samping meja.
"Astaga!" seru Aurelia sembari berdiri pura-pura terkejut. "Maafkan aku, Lady Evelyn! Tanganku mendadak sangat licin! Marta, cepat bersihkan gaun Lady Evelyn!"
"B-baik, Nona Muda!" Marta bergegas maju membawakan kain lap.
Evelyn berdiri dengan wajah merah padam akibat terkejut dan marah. Namun, sebelum ia sempat meluapkan kemarahannya, sebuah pemandangan mengerikan terjadi tepat di bawah meja mereka.
Bunga-bunga melati putih yang terkena tumpahan teh kental itu perlahan-lahan layu, warnanya berubah menjadi kehitaman dalam hitungan detik, menguapkan bau busuk kimiawi yang menyengat.
Seluruh selir di gazebo itu menghembuskan napas panik. Beberapa dari mereka menutup mulut karena terkejut.
"Bunga itu... layu seketika?" bisik salah satu selir dengan wajah pucat.
"Aroma apa ini? Ini bukan aroma teh penyegar biasa!" tambah selir lainnya.
Aurelia berdiri mematung, menatap tanaman yang menghitam itu dengan raut wajah terluka dan penuh keterkejutan yang dirancang secara sempurna. Ia menoleh perlahan menatap Evelyn yang kini berdiri gemetaran dengan wajah sepucat mayat.
"Lady Evelyn..." bisik Aurelia dengan suara bergetar yang cukup keras untuk didengar seluruh orang di sana. "Teh herbal penyegar apa yang kau kirimkan ke Pavilion Timur pagi ini? Mengapa... mengapa racun keras seperti ini bisa ada di dalam hadiah penyambutanmu untukku?"
"T-tidak! Ini fitnah! Aku tidak pernah—" Evelyn berteriak panik, matanya liar melirik ke arah Selir Genevieve untuk meminta bantuan, tetapi Genevieve hanya memalingkan wajah dengan dingin, menolak terseret dalam ketololan Evelyn.
"Kau mencoba meracuniku di hari keduaku berada di istana ini?" tanya Aurelia, kini dengan nada suara yang perlahan berubah dingin, tajam, dan penuh ancaman dari seorang putri keturunan Montclair. "Apakah ini cara faksi kalian menyambut putri dari Duke Montclair?"
Evelyn terduduk kembali di kursinya, seluruh tubuhnya gemetar hebat. Jebakan yang disiapkannya untuk menghancurkan Aurelia telah dibalikkan sepenuhnya. Di depan puluhan saksi mata bangsawan, Selir Evelyn terbukti mencoba mencelakai selir baru keluarga Montclair dengan racun mematikan.
Aurelia menatap Evelyn dari atas dengan senyuman kemenangan yang terselubung rapat di balik raut wajahnya yang terluka.
Ini baru langkah pertama, Evelyn, batin Aurelia dingin. Di kehidupan lalu kau membunuhku tanpa suara. Di kehidupan ini, aku akan memastikan seluruh istana menyaksikan kejatuhanmu.
~ To Be Continue