Season kedua ini akan berfokus pada persiapan Yang Zhen dalam menghadapi ancaman invasi skala penuh dari Sekte Pedang Langit ibu kota yang berniat merebut energi Jiwa Iblis Darah Kuno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Hanya bagian wajahnya saja yang terlihat polos tanpa hidung dan telinga, hanya memiliki dua celah mata yang masih kosong.
"Sempurna," puji Yang Zhen menatap mahakaryanya yang melayang di udara.
"Baja spiritual ini telah dimampatkan ribuan kali di ruang hampa. Bahkan pedang pusaka tingkat Bumi tidak akan bisa menggores kulitnya."
Leluhur Ye menatap tubuh logam tanpa wajah itu dengan perasaan ngeri yang luar biasa.
"K-kau ingin aku masuk ke dalam cangkang kaleng kosong itu?!" tolak Leluhur Ye meronta di dalam bola gravitasinya.
"Aku menolak! Lebih baik biarkan jiwaku menyatu dengan alam semesta!"
Yang Zhen mendengus kasar dan menatap bola jiwa itu dengan tatapan membunuh.
"Kau tidak memiliki hak untuk menolak, Pelayan Tua," ancam Yang Zhen dengan suara sedingin dasar samudra.
Syuut.
Yang Zhen langsung melemparkan bola gravitasi itu tepat ke arah dada kiri golem baja tersebut.
"Aaaargh! Tidak!" teriak Leluhur Ye saat jiwanya menabrak dada logam itu.
Bum.
Cahaya putih terang langsung meledak menutupi seluruh tubuh golem baja tersebut.
Yang Zhen segera merapalkan segel gravitasi ringan untuk mengunci jiwa itu agar tidak terpental keluar.
"Menyatulah dengan cangkang barumu, Ye Chen," perintah Yang Zhen memaksakan kehendaknya.
Cahaya putih itu perlahan terserap masuk ke dalam ukiran formasi di dada sang golem.
Hening.
Pelataran belakang istana itu mendadak menjadi sangat sunyi, hanya terdengar suara angin malam yang berhembus pelan.
Tubuh golem baja itu jatuh ke atas tanah batu dengan suara dentuman yang sangat berat.
Bruk.
Wang Hao melangkah maju dengan hati-hati dan menusuk pipi logam golem itu menggunakan jarinya.
Tuk tuk.
"Apakah kakek hantu itu mati sebelum sempat hidup kembali, Bos?" tanya Wang Hao memiringkan kepalanya.
Namun, tepat setelah pertanyaan itu diucapkan, dua celah mata di wajah logam itu tiba-tiba menyala terang.
Sring.
Cahaya biru spiritual memancar dari mata sang golem, menandakan bahwa jiwa di dalamnya telah sepenuhnya terintegrasi.
Golem baja itu perlahan mengangkat tangannya dan menatap jari-jari logamnya sendiri.
Kriet kriet.
Suara gesekan logam yang halus terdengar saat ia mencoba mengepalkan tangannya.
"Ini... sungguh perasaan yang sangat aneh," ucap golem itu dengan suara yang terdengar lebih berat dan bergema akibat pita suara buatan dari resonansi angin.
"Aku bisa merasakan berat bumi, tapi aku tidak merasakan sakit atau pun lelah."
Yang Zhen melipat tangannya di dada dan tersenyum puas.
"Tentu saja kau tidak merasa lelah, Pelayan Ye," ucap Yang Zhen memanggil nama barunya.
"Kau sekarang adalah abadi. Selama inti baja di dadamu tidak hancur, kau akan hidup selamanya untuk melayaniku."
Leluhur Ye perlahan bangkit berdiri dengan gerakan yang masih sedikit kaku.
Tap.
Ia berjalan mendekati tong air kayu di sudut pelataran untuk melihat pantulan wajah barunya.
Pria tua yang dulunya bangga dengan janggut panjang dan wajah wibawanya itu kini terdiam membeku menatap pantulan cermin air.
"Di mana janggut setiaku?!" jerit Leluhur Ye meraba dagu logamnya yang rata dan dingin.
"Wajahku rata seperti bokong bayi babi! Ini adalah penghinaan terbesar sepanjang sejarah kultivator!"
Tingkah frustrasi dari golem logam itu langsung memicu gelak tawa dari Wang Hao dan Mulan.
Hahaha.
"Kau terlihat jauh lebih tampan sekarang, Kakek Kaleng!" ledek Wang Hao menepuk punggung golem itu dengan keras.
Klang.
Suara benturan nyaring bergema, namun golem itu bahkan tidak bergeser satu inci pun dari tempatnya.
Wang Hao justru mengibaskan tangannya yang terasa kebas akibat benturan tersebut.
"Sialan, tubuh kaleng ini keras sekali," keluh Wang Hao menatap telapak tangannya sendiri.
"Bahkan mode Baja Hitamku mungkin akan kesulitan membuat penyok di tubuhnya."
Leluhur Ye menoleh ke arah Wang Hao dan menyipitkan mata birunya.
Ia baru menyadari bahwa pemuda botak ini memiliki mutasi kulit perunggu yang memancarkan aura pertahanan ekstrem.
"Bocah, jika aku menggunakan kekuatan asliku, aku bisa melempar tubuhmu melewati tembok istana ini," ancam Leluhur Ye dengan suara logamnya.
"Hoh? Kau menantangku bertarung, Kakek Kaleng?!" balas Wang Hao langsung memasang kuda-kuda bertarung.
"Cukup bermain-mainnya," potong Yang Zhen dengan suara lantang yang menghentikan perdebatan mereka seketika.
Pemuda itu berjalan mendekati Leluhur Ye dan menatap langsung ke celah mata birunya.
"Sebagai pelayan kepala di istana ini, tugas pertamamu adalah mengatur ulang seluruh formasi pertahanan yang sudah kuno ini," perintah Yang Zhen.
"Gunakan sisa energimu untuk memasang jebakan pasif di setiap sudut istana."
Leluhur Ye menundukkan kepala logamnya dengan sangat patuh, ia tidak lagi memiliki keinginan untuk memberontak.
"Sesuai perintahmu, Tuan Yang Zhen," jawab Leluhur Ye dengan nada pasrah.
"Saya akan menjadikan istana ini sebagai benteng yang tidak bisa ditembus oleh siapa pun selain kalian berempat."
Su Lin berjalan mendekati Yang Zhen dan melihat ke arah langit timur yang mulai menunjukkan rona merah kemerahan.
"Malam yang sangat panjang dan produktif telah berakhir," ucap Su Lin menyandarkan kepalanya ke bahu Yang Zhen.
"Kita mendapatkan pedang pusaka, pasukan bayangan, dan pelayan penjaga pintu tingkat tinggi."
Yang Zhen membalas sandaran istrinya dengan senyum yang sangat menenangkan.
"Ini baru permulaan, Istriku," balas Yang Zhen menatap matahari terbit di ufuk timur.
"Hari ini, kita akan mulai mengubah kota ini menjadi mesin pencetak tentara super untuk menyambut tamu kita dari ibu kota."
Rombongan pemuda jenius dan monster-monster kecilnya kini telah bersiap melangkah ke tahap selanjutnya.
Dengan tambahan pelayan golem kuno di sisi mereka, dominasi mutlak di wilayah utara hanyalah masalah waktu yang sangat singkat.