Di mata dunia, Theodore hanyalah "menantu benalu" yang bisanya mencuci piring, mengepel lantai, dan menelan setiap hinaan dari keluarga istrinya tanpa perlawanan. Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik celemek kusamnya, ia adalah Dewa Perang yang ditakuti, Raja Mafia terkuat, dan miliarder pemilik perusahaan raksasa yang sengaja memalsukan kematiannya. Ia menahan semua caci maki hanya demi Yevone, satu-satunya wanita yang setia membelanya di tengah keluarga yang kejam. Namun, ketika keserakahan keluarga mertuanya dan Keluarga Z melewati batas hingga mengancam keselamatan Yevone, Theodore memutuskan sudah waktunya melepas penyamarannya. Dengan sebuah cincin naga hitam usang di jarinya, Theodore bersiap menunjukkan kepada mereka bahwa kemiskinan yang absolut adalah hukuman yang jauh lebih mengerikan daripada kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RDBMB 22
Dua petugas sekuriti berbadan tegap maju dengan cepat, melangkah memotong jalur Theodore. Tangan mereka yang kekar terulur, bersiap mencengkeram kedua bahu Theodore untuk menyeretnya keluar dari ballroom.
"Tunggu sebentar," Theodore berucap tenang sambil mengangkat tangan kanannya.
Gerakannya terlihat santai, namun ada aura tekanan yang membuat kedua petugas sekuriti itu mendadak menghentikan langkah mereka secara refleks. Sebelum ada yang sempat menyadari apa yang terjadi, Theodore sudah melangkah melewati sela-sela kedua sekuriti itu dengan keanggunan yang tak kasat mata, berjalan lurus menuju meja utama persembahan hadiah.
Dengan gerakan perlahan, Theodore meletakkan kotak kayu sederhana berbalut tali rami itu tepat di samping patung giok Tiongkok milik Zico dan kotak jam tangan Rolex milik Kevin.
Kontrasnya sangat menyolok. Di antara kilauan emas, kristal, dan permata, kotak kayu polos yang warnanya sudah agak kusam itu terlihat persis seperti seonggok sampah yang tersasar di atas meja perjamuan raja.
"Selamat ulang tahun yang ke-75, Kek," Theodore menatap Kakek Surya dengan raut wajah tanpa gejolak emosi. "Ini Akar Salju Murni dari lereng Pegunungan Hitam. Obat herbal ini sengaja aku siapkan untuk membersihkan racun di paru-paru Kakek dan memperpanjang usia Kakek."
Suasana ballroom mendadak hening sejenak sebelum akhirnya meledak dalam gelak tawa yang jauh lebih keras dari sebelumnya.
"Akar Salju Murni? Hahaha!" Kevin menunjuk-nunjuk kotak kayu itu sambil tertawa sampai matanya berair. "Nama obatnya keren banget, tapi tampilannya mirip kayu bakar sisa kompor dapur!"
Martha maju dengan langkah lebar, meraih kotak kayu itu dengan kasar lalu membukanya di hadapan seluruh tamu. Di dalam kotak bersalut kain merah kusam itu, tergeletak sepotong akar tanaman kering berwarna cokelat kehitaman yang bentuknya bengkok tak beraturan.
"Astaga! Kamu bener-bener udah gila ya, Theodore?!" jerit Martha histeris sambil memamerkan isi kotak itu ke kerumunan tamu. "Kamu bawa rumput liar kering yang kamu cabut di pinggir selokan, terus kamu bilangnya obat herbal langka?! Kamu mau meracuni Ayah mertuaku, hah?!"
"Bener-bener keterlaluan!" Zico melipat kedua tangannya di dada, menggeleng-gelengkan kepala dengan tawa mengejek. "Kakek Surya ini tokoh terpandang di kota kita. Beliau kalau sakit berobatnya ke dokter spesialis luar negeri atau minum obat medis puluhan juta. Mana sudi beliau makan sampah kering bekas selokanmu itu!"
"Bawa rumput basi di samping patung giok delapan ratus jutaku... benar-benar penghinaan tiada tara!" tambah Zico dengan nada memprovokasi.
Yevone merasa dadanya sesak. Hinaan bertubi-tubi yang dilontarkan keluarga dan para tamu membuat matanya semakin memanas. Ia menggenggam erat jemari Theodore, mencoba memberikan kekuatan walau hatinya sendiri sudah hancur berkeping-keping.
"Theo... udah, cukup," bisik Yevone dengan suara serak menahan tangis. "Jangan dihiraukan lagi. Ayo kita pergi dari sini sekarang."
Kakek Surya berdiri dari kursi kebesarannya. Wajah pria tua itu merah padam, urat-urat di lehernya menonjol tegang akibat amarah yang sudah mencapai puncaknya. Ia merasa harga dirinya dilempar ke selokan di hadapan seluruh kolega bisnis terpandang yang hadir malam itu.
"Tiga tahun..." Kakek Surya bersuara, suaranya bergetar hebat menahan murka. "Tiga tahun keluarga ini memberi kamu tempat berteduh dan makan gratis! Tapi ini balasanmu?! Kamu sengaja datang ke pesta emas perayaan ulang tahunku cuma buat bikin aku jadi bahan tertawaan satu kota?!"
"Kakek, obat herbal itu sangat langka. Nilainya jauh lebih berharga daripada seluruh barang mewah di meja ini," Theodore menjawab datar, matanya menatap lurus tanpa ada rasa takut sedikit pun.
"Tutup mulut kotormu itu, benalu!" raung Kakek Surya meluapkan amarahnya.
Pria tua itu merebut kotak kayu sederhana itu dari tangan Martha. Tanpa ragu sedikit pun, Kakek Surya mengayunkan tangannya dengan kuat, melempar kotak kayu berserta isinya itu ke dalam tong sampah stainless steel yang berada di sudut panggung utama.
Klek! Brak!
Kotak kayu itu menghantam dasar tempat sampah dengan suara keras, terbuka berantakan di antara tumpukan tisu bekas, sisa makanan, dan puntung rokok.
"Itu tempat yang paling cocok buat kado sampahmu!" maki Kakek Surya sambil menunjuk tong sampah itu dengan tongkat naganya. "Mulai detik ini, jangan pernah berani menampakkan mukamu lagi di rumah keluarga Mahendra! Sekuriti, seret dia keluar!"
Para tamu bertepuk tangan dan bersorak puas melihat perlakuan kasar Kakek Surya pada Theodore. Bagi mereka, si benalu miskin itu memang pantas mendapatkan kehinaan seperti itu karena tidak tahu diri.
"Ayo pergi, Theo!" Yevone menarik tangan Theodore dengan tergesa-gesa, tak sanggup lagi berada di ruangan yang penuh dengan kebencian itu. Air matanya akhirnya menetes membasahi pipinya.
Theodore tidak melawan saat Yevone menariknya mundur. Namun, sebelum ia membalikkan badan untuk keluar dari ballroom, Theodore menyempatkan diri melirik ke arah tong sampah stainless steel di sudut panggung, lalu menatap Kakek Surya dengan seulas senyum tipis yang sangat misterius.
"Ingat hari ini, Kek," bisik Theodore pelan, suaranya terngiang halus namun menusuk. "Sebentar lagi, Kakek sendiri yang akan merangkak di lantai dan berlutut memohon untuk mengambil kembali akar itu dari sana."
Kakek Surya hanya meludah ke lantai dengan penuh rasa jijik, sama sekali tidak menyadari bahwa kebodohannya malam ini telah membuang satu-satunya obat penyelemat nyawanya ke dalam tumpukan sampah.