Clara hanyalah seorang gadis penderita anemia kronis yang terjebak utang almarhumah ibunya. Demi melunasi utang tersebut, ia terpaksa menjadi asisten pribadi sekaligus "penawar tidur" bagi Arsen Baskara—Tuan Muda yang dingin, kejam, dan menderita insomnia parah.
Di bawah satu atap, Arsen bertindak sangat posesif dan mendominasi Clara. Namun anehnya, setiap kali Arsen berhasrat melangkah lebih jauh, benteng penolakan ghaib di dadanya selalu bergejolak. Rasa penasaran berlanjut ketika orang-orang di sekitar mereka menyadari kemiripan garis wajah dan kebiasaan refleks yang ganjil di antara keduanya.
Saat Baskara—sang penguasa kejam klan Baskara—pulang untuk memburu dokumen masa lalu, terungkaplah rahasia terlarang yang paling mendalam: Clara bukan sekadar pelayan, melainkan adik kandung Arsen yang dulu melarikan diri bersama ibunya demi menghindari paksaan aborsi akibat fitnah perselingkuhan.
Di antara jeratan posesif sang Tuan Muda, ancaman pembunuhan dari ayah mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: NIAT BAIK YANG BERBAHAYA
Kehidupan Clara di dalam kamar utama mansion Baskara berubah menjadi rutinitas yang sepi dan terkunci rapat. Dua pengawal bertubuh tegap berdiri membisu di luar pintu ek, sementara Arsen memastikan seluruh akses komunikasi gadis itu terputus dari dunia luar. Namun, celah di benteng kokoh Arsen selalu ada melalui jalur yang paling tidak disangka: Bi Inah.
Pagi itu, saat Arsen tengah menghadiri rapat darurat keluarga bersama Baskara di kantor pusat, Bi Inah masuk membawa nampan berisi sarapan dan tumpukan pakaian bersih.
Saat menyusun pakaian di dalam lemari, pelayan tua itu melirik cemas ke arah pintu, lalu dengan gerakan cepat menyelipkan sebuah kantong kertas tebal dan lipatan surat di bawah bantal Clara.
"Nona Clara..." bisik Bi Inah dengan suara bergetar. "Ada titipan dari Den Dion. Beliau mencegat saya di pasar tadi pagi saat saya membeli bahan makanan."
Clara membelalak kaget. Ia buru-buru mengambil kantong kertas itu. Di dalamnya terdapat dua strip obat penambah darah dosis tinggi, beberapa botol vitamin, serta tumpukan catatan pelajaran SMA Garuda Bangsa yang ditulis tangan dengan sangat rapi.
Di atas tumpukan berkas itu, terdapat selembar kertas bertuliskan pesan rahasia dari Dion:
> "Clara, aku tahu Arsen mengurungmu setelah kejadian di perpustakaan. Jangan takut, aku tidak akan tinggal diam melihatmu diperlakukan seperti tahanan.
> Obat penambah darah ini khusus dari dokter keluargaku untuk anemiamu. Selain itu, aku sedang berkonsultasi dengan pengacara keluarga kami untuk memeriksa legalitas perjanjian utang 50 juta ibumu dengan Arsen. Jika ada celah intimidasi, aku bisa membawa kasus ini ke jalur hukum dan menebus utang itu secara resmi tanpa Arsen bisa menolaknya.
Satu minggu lagi ada acara penggalangan dana alumni Garuda Bangsa yang dihadiri keluarga besar kita. Aku akan mencari cara untuk menemuimu di sana dan membawamu keluar. Bertahanlah."
Dada Clara berdesir hebat saat membaca setiap baris kata dalam surat tersebut. Ada rasa haru mendalam atas kepedulian dan niat baik Dion yang begitu tulus. Namun di saat yang sama, rasa horor yang sangat dingin merayap cepat membelakangi tengkuknya.
Dion tidak paham siapa Arsen sebenarnya, batin Clara penuh kepanikan. Jika Arsen tahu Dion mencoba menggunakan jalur hukum dan merencanakan pelarian ini, Arsen bukan cuma akan menghancurkannya—dia bisa membunuh Dion.
"Nona, tolong sembunyikan surat itu," cicit Bi Inah takut-takut. "Tuan Muda Arsen makin sensitif beberapa hari ini. Semua pelayan diperiksa ketat."
"Bi Inah... terima kasih, tapi jangan pernah menerima apa pun lagi dari Dion," bisik Clara gemetar, menyembunyikan catatan pelajaran dan obat tersebut di celah paling dalam di bawah kasur. "Ini terlalu berbahaya untuk Dion... dan untuk kita semua."
Clara menggenggam obat dari Dion di telapak tangannya. Niat baik Dion adalah secercah harapan untuk kebebasannya, namun di dalam sangkar gila milik Arsen Baskara, setiap uluran tangan dari luar tak ubahnya sebuah sumbu pendek yang siap memicu ledakan besar.
Clara buru-buru menyapu sisa-sisa kertas bekas surat Dion ke balik selimut, dadanya berdegup kencang bak ditabuh drum perang. Bi Inah dengan jemari bergetar segera mengambil nampan kosongnya dan melangkah terburu-buru keluar dari kamar.
Klek.
Baru saja pintu ganda itu tertutup rapat, suara langkah sepatu kulit yang berat dan teratur terdengar mendekat dari ujung koridor. Langkah yang teramat dihafal oleh Clara.
Pintu kamar mendadak terbuka kembali.
Arsen berdiri di ambang pintu. Jas hitamnya tergantung melingkar di lengannya, sementara dasinya sudah sedikit dikendurkan. Wajah Tuan Muda itu tampak lelah usai menghadapi tekanan rapat bersama ayahnya, namun manik mata hitamnya tetap memancarkan dominasi yang dingin dan tajam.
"Bi Inah baru saja keluar?" tanya Arsen datar, melangkah masuk seraya menyapu pandangannya ke seluruh penjuru ruangan yang sunyi.
"I-iya... Bi Inah cuma mengantarkan makanan," jawab Clara gugup, refleks meremas pinggiran sprei tempat ia menyembunyikan titipan dari Dion.
Arsen berjalan mendekati ranjang. Pandangannya yang sangat jeli mendadak terhenti pada sebuah titik di karpet bulu dekat kaki meja tempat tidur.
Arsen membungkuk pelan, menjepit sebuah benda kecil yang tercecer di sana dengan dua jarinya.
Sebuah segel aluminium tipis bekas bungkus obat penambah darah—yang tanpa sengaja terjatuh dari kantong kertas Dion saat Bi Inah terburu-buru tadi.
Arsen menatap plastik bekas obat itu dalam hening yang panjang. Suasana di dalam kamar seketika berubah mencekam hingga tak ada lagi udara yang tersisa untuk dihirup. Pria itu perlahan mendongak, mengunci pandangannya langsung pada mata cokelat Clara yang membelalak pucat.
"Obat medis keluarga Baskara tidak pernah menggunakan kemasan dengan merek ini, Clara..." bisik Arsen, suaranya sangat tenang, namun justru ketenangan itulah yang mengancam akan meratakan seluruh isi ruangan.