Aura Clarissa adalah seorang penulis yang hidup dalam ketenangan. Namun, tanpa sadar dia juga menyukai kemewahan dan dunia malam yang gelap. Bahkan lebih parahnya menjadi wanita simpanan Daffa Gorge yang sudah beristri.
Konflik makin memanas ketika Darrel Gorge, adik kandung Daffa, hadir menuntut pertanggungjawaban atas malam yang tak pernah Aura ingat.
Di tengah intrik perselingkuhan, ancaman sang istri sah, dan daya tarik Darrel yang kian sulit ditolak, sanggupkah Aura bertahan saat kebenaran tentang dirinya membakar seluruh kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Gelora Dibalik Bayang-Bayang
Clara berusaha melepaskan cengkeraman tangan Darrel perlahan, lalu bangkit dari duduknya.
"Aku ke toilet sebentar," bisiknya tepat di samping telinga Darrel. Pria itu hanya mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangannya.
Di ujung meja, Kakek Robert dan Lyora masih asyik berbincang hangat. Suasana di sana terasa kian menyesakkan bagi Clara. Perempuan itu melangkah cepat sembari sedikit mengangkat gaun malamnya. Rasa kesal menggumpal hebat di dalam dadanya malam itu.
Alih-alih menuju toilet, langkah Clara terhenti saat matanya menangkap pintu kaca menuju area balkon. Ia berbelok ke sana, memutar kunci pintu kaca itu perlahan. Seketika hembusan angin malam membelai lembut wajahnya.
Perempuan itu terkekeh sinis. "Sialan... Bagaimana kalau Aura yang harus menghadapi situasi seperti ini? Apa dia akan langsung menangis detik itu juga?" gumamnya sendiri di tengah hempasan angin malam yang bertiup cukup kencang.
Tak lama kemudian, sepasang lengan kekar mendadak melingkar erat di perutnya dari belakang. Sebuah pelukan hangat menyapa tubuhnya secara tiba-tiba. Clara mengulas senyum, menebak bahwa itu adalah Darrel.
"Darrel, tumben kamu—"
Ucapan Clara terhenti seketika. Lengan tegap itu bergerak cepat memutar tubuhnya, memaksa Clara menghadap ke arah sang pemilik tangan. Hampir tak ada jarak tersisa di antara mereka. Begitu matanya menatap lekat raut wajah di hadapannya...
"Daffa...?" gumam Clara, alisnya mengernyit dalam.
Ia mencoba memberi jarak, namun Daffa justru makin merengkuh pinggangnya erat, merapatkan tubuh Clara ke badannya.
"Jangan jauh-jauh dariku. Kamu membuatku cemburu, Clara," bisik Daffa tepat di leher Clara, membuat perempuan itu refleks memejamkan mata.
"Daffa, lepaskan dulu tanganmu!" gumam Clara seraya terus berupaya menepis cengkeraman Daffa di pinggangnya.
"Tidak. Aku merindukanmu, Sayang..."
Clara menghela napas kasar. Ia ingin berteriak meluapkan amarahnya, namun ia sadar sepenuhnya sedang berada di dalam mansion megah keluarga Gorge—tempat yang dipenuhi kamera pengawas yang bisa merusak citranya kapan saja.
"CCTV, Daffa..." bisik Clara memperingatkan.
"Tidak ada. CCTV di area ini sudah dimatikan. Kamu tidak akan bisa lepas dariku malam ini."
Clara hanya bisa pasrah. Pelukan erat Daffa terlalu kuat untuk dilepaskan secara paksa. Namun tak berselang lama, derap langkah kaki terdengar mendekati area balkon. Daffa bereaksi cepat, ia melepas pelukannya dan bersembunyi di sudut remang balkon.
"Siapa di sana?" sebuah suara tegas mengudara.
Clara buru-buru melangkah ke dalam ruangan. "Saya... cuma sedang mencari angin segar," ujarnya pada petugas keamanan yang tengah berpatroli itu, sebelum akhirnya meninggalkan area balkon dengan langkah tergesa.
Makan malam itu berakhir sama sekali tidak sesuai dengan apa yang dibayangkan Clara. Darrel yang duduk di sampingnya terus membisu sepanjang perjalanan, tak mengeluarakan sepatah kata pun hingga mobil mereka akhirnya berbelok memasuki pelataran apartemen Clara.
"Terima kasih sudah mengantar," ujar Clara dingin seraya bersiap keluar dari mobil.
Namun dengan gerakan cepat, Darrel menyambar pergelangan tangan Clara.
"Maaf soal yang tadi... Dia—"
Clara terkekeh pelan memotong ucapan pria itu. "Aku cuma ingin dianggap, Darrel. Bukan butuh penjelasan."
Darrel menunduk dalam. Ia perlahan melepaskan genggaman tangannya, membiarkan gadis itu melangkah pergi meninggalkannya sendirian.
Namun tak berselang lama, Clara justru kembali berlari menghampiri Darrel. Perempuan itu meraih kedua pipi Darrel, miringkan wajahnya, lalu mendaratkan kecupan hangat di bibir pria itu dan melumatnya dalam-dalam.
Darrel tak lagi membeku seperti sebelumnya. Ia membalas ciuman itu dengan gelora yang sama—sebuah pautan bibir yang saling membalas dan makin intens.
Dengan napas yang kian memburu, Darrel bergerak cepat membawa mereka menuju unit apartemen Clara. Ia menarik tangan perempuan itu dan menggendong tubuh Clara memasuki ruang apartemen.
Ciuman panas mereka tak terputus sedikit pun hingga tubuh Clara terhempas lembut di atas ranjang. Jemari nakal Clara bergerak lincah menanggalkan satu per satu kancing kemeja Darrel.
Tepat saat kancing terakhir terlepas, Darrel mendadak menghentikan pautan bibir mereka. Dengan napas yang masih tersengal, pria itu menahan kedua pergelangan tangan Clara.
"Jangan dilanjutkan..." ujar Darrel dengan suara parau yang bercampur deru napas memburu.
Clara menyeringai licik. Dengan gerakan tangkas, ia membalikkan posisi tubuh mereka—kini berdiri di atas dan menghimpit tubuh tegap Darrel.
Sisi gadis liar yang dimaksud Darrel... sepenuhnya adalah milik Clara.