“Paman, kenapa ini besar sekali?” tanya Lucia bingung.
“Kau menyukainya?”
“Memangnya itu apa?”
“Jadi kau tidak tahu ini apa? Kau yang membangkitkannya dan kau tidak tahu cara menidurkannya?!”
Lucia polos hanya menggeleng lugu, membuat sang mafia paling ditakuti di seluruh Italia itu menepuk jidatnya kuat-kuat.
****
Disiksa kemiskinan di desa terpencil Calabria dan dijual oleh pamannya sendiri ke sebuah klub malam, Lucia pasrah menunggu takdir kelamnya.
Namun, sebuah penggerebekan menyelamatkannya dan membawanya bekerja sebagai pelayan di mansion megah milik Alessandro Frederick–bos mafia dingin berdarah dingin yang menderita alergi parah terhadap sentuhan manusia.
Satu sentuhan dari orang lain bisa membunuh Alessandro. Tetapi, saat jemari Lucia tak sengaja menyentuhnya, tidak ada rasa terbakar.
Bagaimana bisa seorang mafia kejam menaklukkan hati gadis lugu hingga mengira elusan in-tim adalah usapan rasa kasihan dan ciuman adalah penyembuh rasa sakit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
Gara-gara sepatah kata ‘Aku suka Paman’ yang diucapkan Lucia beberapa hari lalu di bawah guyuran hujan, Alessandro sama sekali tidak bisa tidur nyenyak.
Ucapan polos itu berputar-putar di kepalanya bagai musik tanpa henti.
Maka dari itu, ketika Lucia pagi-pagi sekali merengek ingin sekolah agar pintar dan tidak mudah dibohongi orang, Alessandro tidak punya alasan untuk menolak.
Namun, mengizinkan milik kesayangannya pergi ke sekolah umum yang berkeliaran musuh tentu bukan opsi. Alessandro mendaftarkan Lucia ke Akademi Noble, sekolah kepribadian dan bahasa kelas atas yang sangat eksklusif.
Pengamanan di sana super ketat dan Alessandro bahkan menempatkan belasan anak buahnya dengan pakaian sipil di setiap sudut bangunan.
Pagi itu, Lucia tampil anggun memakai seragam kemeja putih dan rok lipat di atas lutut. Meski rambut hitamnya ditata rapi, aura gadis desa yang tangguh dan ceria tetap terpancar kuat.
“Paman Tampan, aku jalan dulu ya!” seru Lucia riang di pelataran mansion, melambaikan tangan pada Alessandro yang berdiri tegap di samping mobil.
Alessandro melangkah mendekat, membenahi kerah kemeja Lucia yang sedikit terlipat.
“Ingat pesanku, Lucia. Jangan dekat-dekat dengan pria mana pun. Kalau ada yang mengganggumu, bilang pada pengawal di luar.”
“Siap, Paman.” Lucia memberi hormat kaku seperti tentara, membuat Alessandro tak sanggup menahan senyum tipis di bibirnya.
*****
Di dalam kelas bahasa Prancis Akademi Noble, suasana mendadak agak tegang saat Lucia masuk.
Sebagian besar murid di sana adalah anak-anak bangsawan dan pengusaha kaya yang biasa tampil elegan.
Di jam istirahat, seorang siswi bernama Catherine melangkah menghampiri meja Lucia bersama dua pengikutnya.
Catherine menatap Lucia dari ujung rambut hingga ujung sepatu dengan pandangan merendahkan.
“Heh, Budak,” panggil Catherine sinis, menepuk meja Lucia dengan telapak tangannya. “Aku tidak pernah melihatmu di lingkaran sosial kami. Kau ini anak siapa, sih? Kenapa pakaianmu kelihatan murah sekali meski pakai seragam akademi?”
Lucia menghentikan kunyahan rotinya. Gadis itu mengedipkan mata, lalu menatap Catherine polos.
“Pakaianku dibelikan Paman Tampan. Katanya ini mahal. Lagipula, namaku Lucia, bukan Budak. Ibu guru tadi kan sudah panggil namaku.”
“Jangan sok polos ya,” bentak Catherine, kesal karena gertakannya dianggap angin lalu.
Dengan kasar, Catherine mendorong bahu Lucia hingga teh hangat di meja Lucia tumpah mengenai bukunya.
“Gadis kampung tidak tahu diri! Kau tidak pantas ada di sini!”
Sikap menindas itu seketika memicu insting bertahan hidup Lucia. Di desanya, Lucia biasa berburu belut di lumpur dan menangkap babi hutan yang merusak ladang. Dia tidak pernah membiarkan siapa pun menginjak-injaknya.
Tanpa peringatan, Lucia berdiri. Dengan cepat, ia meraih pergelangan tangan Catherine, memutarnya ke belakang, lalu melingkarkan lengannya di leher gadis sombong itu dari belakang, sebuah teknik kuncian leher sempurna yang biasa ia pakai untuk menaklukkan hewan liar di desa.
“Argh, Lepas! Leherku mau patah!” jerit Catherine histeris, tubuhnya terkunci rapat sampai berjinjit.
“Minta maaf pada bukuku yang basah!” gertak Lucia tegas, menyipitkan mata galak tanpa rasa takut sedikit pun.
“Minta maaf pada buku? Apa kau sudah gila?”
“Di desaku, orang yang suka merusak barang orang lain itu namanya parasit! Kau mau kulempar ke kolam ikan di depan, hah?!”
Tak bisa melawan tenaga Lucia, gadis bernama Catherine itupun mengalah.
“I-iya! Maaf! Aku minta maaf!” tangis Catherine pecah di hadapan seluruh murid yang membeku ketakutan.
Tepat pada saat itu, pintu kelas terbuka kasar.
Julian, guru bahasa Prancis bertubuh tinggi dan tampan, melangkah masuk.
“Apa yang terjadi di sini?!” seru Julian panik.
Lucia langsung melepaskan kuncian lehernya, membuat Catherine ambruk ke lantai sambil terbatuk-batuk dan berlari kabur bersama teman-temannya.
Julian menghampiri Lucia dengan raut wajah khawatir yang berlebihan.
“Kau tidak apa-apa? Tanganmu terluka?”
Pria itu tanpa canggung menyambar kedua telapak tangan mungil Lucia dan memegangnya erat-erat seraya menatap mata Lucia dengan pandangan terpesona.
“Kulitmu yang halus ini tidak boleh tergores.”
Lucia mengerutkan dahi, merasa risih. “Pak Guru, lepaskan tanganku. Paman Tampan melarang orang asing pegang-pegang.”
“Ah, baiklah. Saya hanya ingin memastikan kau aman dan juga–”
“Jauhkan tanganmu dari calon istriku. Atau jemarimu tidak akan pernah bisa memegang pena lagi seumur hidupmu,” desis Alessandro dengan rahang mengeras. Entah sejak kapan pria itu sudah berada di sana dan menyaksikan hampir semua perlakuan mereka pada Lucia.
Mak mu dan dy yx sayang ,, mirip tipis-tipis ,, ooooh sayang 🤭🤭🤭🤭
😁😁
mana bisa dibohongi
apalagi sekarang dewasa akut😁😁😁
mana mungkin dia langsung percaya
dgn ucapan gadis itu