NovelToon NovelToon
Sistem Kasino Realitas

Sistem Kasino Realitas

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Jarinya dipotong. Adiknya mati. Tabungannya dirampas.

Dibuang seperti bangkai oleh bos kasino tempatnya mengabdi selama lima tahun, mantan bandar bernama Sora membangkitkan satu-satunya senjata yang tersisa yakni sistem yang memanipulasi probabilitas kenyataan.

Pisau yang harusnya menancap di dada? 0,01% peluang kena. Brankas yang harusnya terkunci rapat? 99,99% terbuka. Sekarang, meja taruhan sudah terbalik. Dan rumah kasino yang selalu menang akan ia beli sendiri.


Peringatan Konten: Cerita ini mengandung kekerasan fisik ekstrem, adegan penyiksaan berdarah, tema kriminalitas (judi, pemerasan, pencucian uang), trauma psikologis gelap, serta bahasa kasar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Aroma bumbu mi instan kuah bercampur bau tembakau apek dan hawa panas dari selusin kipas prosesor komputer langsung menyergap hidung Sora saat ia mendorong pintu geser aluminium Warnet Meteor.

Papan nama neon di luar toko itu sudah lama pecah, hanya menyisakan huruf “METE” yang berkedip dengan warna biru redup di bawah kegelapan malam perbatasan distrik. Lantai linoleumnya yang terkelupas dipenuhi abu rokok, puntung kretek gepeng, dan ceceran bungkus plastik makanan ringan. Di sepanjang dinding samping, deretan bilik sekat tripleks setinggi dada membagi ruangan sempit itu menjadi lorong-lorong pribadi yang remang-remang.

Sebagian besar monitor cembung di bilik depan menampilkan layar permainan perang daring kuno atau video musik beresolusi rendah. Beberapa pemuda tanggung tertidur di atas keyboard dengan kepala bertumpu pada lengan baju yang dekil, kelelahan setelah begadang berjam-jam demi koneksi internet murah.

Sora melangkah menyusuri lorong sempit di antara bilik-bilik itu tanpa menimbulkan suara derap langkah. Topi pet lusuhnya ditarik rendah menutupi dahi, sementara tangan kirinya yang buntung ia sembunyikan di balik saku jaket parka.

Di ujung lorong terdalam, tersembunyi di balik partisi tripleks nomor sembilan yang ditempeli poster grup musik cadas pudar, ia melihat punggung seorang perempuan muda.

Rambutnya dipotong pendek model bob berantakan dengan ujung-ujung yang mencuat tak beraturan. Jaket hoodie hitam kebesaran menutupi bahunya yang kurus, dan sepasang jemari kurus dengan kuku-kuku pendek tanpa cat menari di atas papan keyboard mekanik tua. Ketukan tombol keyboard itu menderak rapat dan bising, mengisi lorong sempit dengan derau ketukan mekanik yang konstan.

Dua monitor tabung sembilan belas inci di hadapannya memancarkan cahaya biru kehijauan yang kontras dengan kegelapan ruangan. Di layar kiri, deretan baris kode baris perintah bergulir cepat tanpa henti. Di layar kanan, sebuah diagram skematis rangkaian serat optik pelabuhan terpetakan dengan puluhan titik simpul berkedip merah.

Maya. Dua puluh dua tahun. Anak tunggal seorang mendiang sopir truk kontainer yang tewas terlilit utang bunga berbunga kasino ruko Tiga Naga.

Perempuan itu meniup gelembung permen karet warna merah muda dari bibirnya yang pucat.

Pletuk.

Gelembung itu meletus pelan, menempel di dagunya sebelum ia menariknya kembali ke dalam mulut dengan lidah tanpa mengalihkan pandangan dari monitor. Kantung mata hitam pekat di bawah kelopak matanya yang sayu menjadi bukti malam-malam tanpa tidur di depan layar kaca.

Baru dua langkah Sora menjejaki lorong, pintu depan warnet mendadak ditendang keras hingga menghantam dinding partisi kasir.

BRAK!

“Mana si Maya?!” teriak sebuah suara serak dan berat dari arah pintu masuk.

Dua orang pria bertubuh tegap melangkah masuk dengan langkah congkak. Keduanya mengenakan jaket jins tanpa lengan yang memamerkan lengan berotot penuh luka sayat, dan di pinggang mereka terselip dompet rantai besi yang bergemerincing setiap kali melangkah.

Penagih utang lintah darat suruhan Koko Jerry yang beroperasi di wilayah perbatasan pasar.

Anak-anak muda yang sedang bermain game di bilik depan langsung mematikan monitor mereka dan menundukkan kepala, pura-pura tertidur agar tidak terseret masalah. Penjaga kasir warnet yang masih remaja buru-buru bersembunyi di balik kolong meja kasir, gemetar ketakutan melihat pentungan kayu tebal di tangan penagih utang yang paling besar.

Kedua penagih itu melangkah lurus menuju bilik nomor sembilan, sepatu bot mereka menjejak lantai dengan suara berat yang mengintimidasi.

“Woy, bocah tengik!” bentak penagih utang pertama, pria berwajah bopeng dengan bekas jahitan di pelipis kanan. Tangannya yang kasar langsung menggebrak meja bilik nomor sembilan hingga monitor tabung bergetar hebat. “Batas waktu perpanjangan utang bapak lu udah lewat seminggu! Mana duit empat belas juta?!”

Maya tidak menoleh. Jemarinya bahkan tidak berhenti mengetik baris perintah di layar birunya. Hanya ada dengusan pelan dari lubang hidungnya saat ia mengunyah permen karetnya lebih cepat.

“Bapak gua udah mati enam bulan lalu di selokan pelabuhan,” sahut Maya datar, suaranya serak khas perokok berat yang jarang bicara. “Utangnya lunas bareng kuburannya. Kalau mau nagih, gali tanah kuburannya di Pesisir Tiram sana. Bawa cangkul sendiri.”

“Kurang ajar lu ya!”

Penagih bopeng itu murka. Tangannya menyambar kerah hoodie hitam Maya, berniat menyeret gadis kurus itu keluar dari kursi putarnya ke lantai lorong. Penagih kedua di belakangnya sudah bersiap mencabut kabel daya monitor untuk menyita perangkat komputer tersebut sebagai jaminan sita paksa.

Saat telapak tangan penagih bopeng mencengkeram kain tudung Maya, sesosok bayangan berkelebat cepat tepat di belakang tengkuknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!