“Mari bercerai, Mas!”
Rania menatap lurus ke mata suaminya tanpa gentar, meski hatinya terasa hancur perlahan.
Harsa membeku. Kata cerai tak pernah ada dalam hidupnya. Baginya, Rania adalah miliknya selamanya, takdir yang tak bisa diubah siapa pun.
“Apa katamu?!”
Rania menggigit bibir, menahan sesak di dada sebelum akhirnya berkata pelan namun tegas, “Aku ingin bercerai. Aku sudah lelah menjadi istrimu!”
Selama tiga tahun pernikahan mereka, semuanya baik-baik saja. Harsa mencintainya dengan cara yang hangat. Sampai kematian sang adik mengubah segalanya.
Sejak saat itu, Harsa seolah perlahan menjauh darinya. Semua waktunya habis untuk menjaga janda adiknya dan keponakan kecil mereka. Sedangkan Rania, hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri.
Tak ada yang tahu, di balik senyum tenangnya, Rania sedang berjuang melawan penyakit yang mematikan.
Akankah Harsa setuju dengan perceraian itu? Ataukah Rania memilih pergi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 12
Langkah kaki Harsa terdengar berat saat memasuki ruang tamu. Di tangan kanannya, ia masih menjinjing dua kotak kue yang dibelinya dengan penuh pertimbangan di toko tadi.
Namun, atmosfer hangat yang ia harapkan seketika runtuh. Bl
Belum sempat ia melonggarkan dasinya, sosok Ratna sudah berdiri di ambang pintu dengan wajah yang berkerut masam dan napas yang memburu menahan amarah.
“Harsa! Akhirnya kamu pulang juga, Nak!” seru Ratna, suaranya melengking memecah keheningan malam.
Harsa menghentikan langkahnya, menatap sang ibu dengan kening berkerut.
“Ada apa, Bu? Kenapa Ibu belum tidur? Ini sudah malam.”
“Bagaimana Ibu bisa tidur kalau menantu kurang ajar pilihanmu itu baru saja mengutuk Ibu?!” adu Ratna tanpa membuang waktu.
Ia melangkah mendekati Harsa, telunjuknya menunjuk-nunjuk ke arah lantai atas dengan gemetar.
“Kamu tahu apa yang dia katakan tadi siang dan barusan? Dia meneriaki Ibu, Harsa! Dia bilang Ibu ini penuh racun. Dia juga menyumpahi rumah tanggamu agar hancur! Ibu ini orang tuamu, tapi dia sama sekali tidak punya sopan santun!”
Mendengar aduan yang begitu beruntun dan menyudutkan, rahang Harsa seketika mengeras.
Rasa lelah setelah bekerja seharian berbaur dengan kilatan amarah yang mendadak tersulut.
Ditambah lagi, egonya sebagai kepala keluarga terusik. Di matanya selama ini, Rania adalah sosok yang selalu menurut dan penyabar.
Bagaimana bisa istrinya berani bertindak sekasar itu pada ibunya sendiri?
“Dimana Rania, Bu?” tanya Harsa, suaranya mendadak berubah menjadi sangat dingin dan berat.
“Di kamarnya! Tadi setelah memaki Ibu, dia langsung mengunci diri!” sahut Ratna, sengaja menambah bumbu provokasi.
Tepat setelah kalimat itu selesai diucapkan, terdengar suara langkah kaki yang lambat dari arah tangga.
Kedua orang itu menoleh. Rania baru saja turun. Ia mengenakan gamis rumahan yang longgar, rambutnya yang basah setelah mandi dibalut oleh handuk kecil.
Wajahnya tampak luar biasa pucat, hampir menyerupai kertas, namun tatapan matanya kosong dan datar.
Rania baru saja selesai membersihkan diri setelah memastikan seluruh menu makan malam untuk suami dan mertuanya tersaji di meja.
“Rania! Ikut aku ke ruang tengah sekarang!” bentak Harsa, suaranya menggelegar di ruang tengah.
Rania tidak terkejut, pun tidak gemetar seperti biasanya jika Harsa sudah meninggikan suara. Ia melangkah tenang, lalu berdiri beberapa meter di depan suaminya.
“Ada apa, Mas?” ujarnya, terlampau datar.
“Ada apa kamu bilang?!” Harsa melangkah maju, menatap istrinya dengan pandangan mengintimidasi.
“Apa yang kamu lakukan pada ibu hari ini, Rania? Kenapa kamu berani meneriaki ibu? Di mana sopan santunmu sebagai seorang istri?!”
Rania melirik sekilas ke arah Ratna yang kini berdiri di belakang punggung Harsa dengan senyum kemenangan yang samar.
Rania menghela napas pendek, dadanya terasa kebas.
“Aku tidak meneriaki ibu, Mas. Aku hanya membela diriku sendiri dari kata-kata ibu yang sudah kelewat batas.”
“Membela diri? Dengan cara memaki orang tuaku?!” cecar Harsa, suaranya kian meninggi.
“Rania, aku tahu belakangan ini kamu mungkin sedang sensitif atau lelah. Tapi tidak ada alasan apa pun yang membenarkanmu untuk bersikap tidak sopan pada ibuku! Kamu harus minta maaf sekarang juga!”
“Minta maaf untuk apa, Mas?” Rania menatap lurus ke dalam manik mata Harsa.
Untuk pertama kalinya, tidak ada ketakutan di dalam binar mata wanita itu.
“Untuk setiap jengkal kesabaranku yang selalu diinjak-injak? Atau untuk rahimku yang dikutuk kering dan mandul oleh ibumu sendiri?”
Deg¡
Harsa tertegun sejenak. Ia melirik ke arah ibunya, namun Ratna buru-buru memalingkan wajah, berpura-pura mengusap matanya seolah dialah korban yang teraniaya.
“Jangan mengalihkan pembicaraan, Rania! Apa pun alasannya, kamu tetap salah karena sudah melawan!” Harsa bersikeras, egonya yang keras menolak untuk mengalah di depan sang ibu.
“Kenapa kamu jadi berubah seperti ini? Kamu bukan Rania yang aku kenal tiga tahun lalu. Kenapa kamu jadi sekeras kepala dan seberani ini melawan orang tua?!”
Rania terkekeh pelan, sebuah tawa lirih yang justru terdengar sangat menyakitkan di telinga Harsa.
“Aku tidak berubah, Mas. Aku hanya akhirnya tersadar. Selama tiga tahun ini aku selalu diam karena aku menghargaimu sebagai suamiku. Tapi malam ini aku sadar, diamku ternyata membuat kalian berpikir bahwa aku tidak punya harga diri yang bisa terluka.”
Harsa menatap Rania dengan rasa kaget yang menjalar di dadanya. Perubahan sikap Rania yang mendadak berani ini benar-benar di luar kendalinya.
Di tengah kepanikannya yang terselubung kemarahan, mata Harsa tidak sengaja menangkap kotak kue di genggaman tangannya.
Mengingat ucapan Pak Darto tadi di mobil tentang kondisi kesehatan istrinya, Harsa mencoba meredam ketegangan dengan caranya sendiri, cara yang kaku dan canggung.
Harsa mengangkat kotak kue tersebut, menyodorkannya sedikit ke depan tubuh Rania.
“Sudahlah. Aku tidak mau berdebat panjang malam-malam begini. Lihat, aku sengaja mampir ke toko kue tadi. Aku belikan cake stroberi kesukaanmu. Makanlah, lalu setelah ini minta maaf pada ibu, dan kita lupakan masalah ini.”
Rania menatap kotak kue berlogo emas itu dengan pandangan yang kosong. Ingatan tentang masa-masa indah saat ia memakan kue itu bersama Harsa mendadak melintas, namun alih-alih membawa kebahagiaan, ingatan itu kini terasa hambar dan membawa rasa mual.
Rania menggelengkan kepalanya perlahan, lalu mundur satu langkah menjauh dari Harsa.
“Bawa saja kue itu untuk Wulan atau Gavin, Mas. Atau berikan pada ibumu.”
Harsa mengerutkan dahi, merasa niat baiknya ditolak mentah-mentah.
“Rania, aku membelikan ini khusus untukmu karena aku ingat kamu menyukainya. Kenapa kamu malah bicara begitu?”
Rania menatap suaminya dengan senyuman tipis yang terasa sangat asing di mata Harsa.
“Mulai hari ini, detik ini... aku sudah tidak menyukai kue stroberi itu lagi, Mas. Rasanya sudah terlalu asam untuk lidahku.”
Harsa seketika terdiam. Kalimat sederhana itu entah bagaimana terdengar seperti sebuah metafora yang mengerikan bagi hubungan pernikahan mereka.
Kalimat itu bukan sekadar soal rasa kue, melainkan sebuah pernyataan bahwa ada sesuatu di dalam hati Rania yang telah mati dan tidak akan pernah bisa kembali seperti semula.
“Urus ibumu, aku mau istirahat.”
Harsa mematung dengan kotak kue yang menggantung di udara, sementara Rania berbalik perlahan dan kembali melangkah naik ke lantai atas tanpa memedulikan mereka.
“Lihat, istrimu memang keterlaluan Harsa!” teriak Ratna.
Harsa kalo Masih mau sama Rania sok aku dukung selama mau berubah yak! anggap aja perjuanganmu itu ganti 1 tahun kebelakang💪
selama no making love, dungu sedikit it's okay 👌😄
sebentar sebentar saja kamu menikmati fasilitas kemewahan itu
iya iya siap siap sebelum didepak
dari rumah mewah ituu