Di tengah masa kelaparan parah yang melanda desa, seorang bayi perempuan dibuang begitu saja ke dalam hutan terlarang oleh orang tua kandungnya.
Takdir membawanya ke pelukan keluarga pemburu sederhana bernama Arga dan Mira yang kemudian menamainya Natasya.
Tujuh tahun berlalu, Natasya tumbuh menjadi anak ceria yang menyimpan rahasia ajaib karena ia mampu memahami dan berbicara dengan hewan.
Ketika Mira jatuh sakit parah dan membutuhkan tanaman obat langka, Natasya menggunakan kemampuannya untuk menjelajahi hutan terlarang demi menyelamatkan ibunya dan membawa kemakmuran bagi desa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Natasya lalu menjelaskan kondisi memprihatinkan yang sedang dialami oleh keluarganya dan seluruh desa.
Gadis kecil itu bercerita tentang ladang yang kering, gagal panen, dan tangisan anak tetangga.
"Manusia di desaku bisa mati kelaparan semua kalau tidak segera mendapat makanan dalam waktu dekat."
Natasya mengakhiri penjelasannya dengan wajah sedih dan bahu yang menurun lesu.
Gaga hanya diam mendengarkan penjelasan panjang lebar dari sahabat kecilnya itu.
"Urusan manusia yang mati kelaparan itu bukan urusan bangsa hewan liar di hutan ini, Natasya."
Gaga memberikan pandangan logis yang sangat realistis dari sudut pandang hewan penghuni hutan.
"Lagipula, manusia desa sering memasang jebakan besi untuk menangkap teman-teman kami, jadi kenapa kami harus menolong mereka?"
"Tapi kalau manusia di desaku mati kelaparan, aku juga akan ikut mati kelaparan, Gaga."
Natasya memajukan bibirnya dan memasang wajah memelas andalannya ke arah serigala buas tersebut.
"Apa kamu mau melihatku mati kelaparan dan tinggal kerangka tulang saja di dalam rumahku?"
Mendengar ancaman konyol dan kekanakan itu, Gaga langsung menghela napas panjang tanda menyerah sepenuhnya.
"Kau ini benar-benar tahu bagaimana cara paling licik untuk memanipulasi perasaanku, Natasya."
Gaga menggerutu sebal namun tatapannya tetap memancarkan kelembutan yang sangat jelas.
"Jadi, apa kamu tahu tempat rahasia yang masih punya banyak makanan, Gaga?"
Natasya kembali tersenyum cerah merasa menang karena serigala itu luluh begitu saja.
"Aku ini serigala buas pemakan daging, jadi aku hanya tahu persis letak sarang babi hutan dan kawanan rusa."
Gaga menggelengkan kepalanya yang besar perlahan-lahan.
"Manusia desa yang kelaparan pasti tidak akan berani masuk memburu babi hutan liar di wilayah kekuasaanku tanpa senjata yang bagus."
"Kamu benar, Ayahku saja sudah sangat kelelahan dan senjatanya cuma golok kecil tumpul."
Natasya menopang dagunya dengan tangan bersiap memutar otaknya yang cerdas kembali.
"Kalau keberadaan buah-buahan atau umbi-umbian liar, apakah kamu tahu tempatnya, burung kecil?"
Natasya beralih menatap burung yang masih bertengger santai di dahan rendah pohon mangga.
Burung kecil itu memiringkan kepalanya sejenak seolah sedang membuka peta hutan di dalam ingatannya.
"Kalau jenis makanan tumbuhan seperti itu, aku dan teman-teman burungku tahu letak sebuah lembah yang tersembunyi."
Burung itu berkicau dengan nada riang memecah jalan buntu pikiran mereka.
"Lembah itu ada di sebelah timur desa, terhalang oleh bukit batu karang yang curam jadi kaum manusia tidak pernah ke sana."
"Bukit batu timur yang sangat tinggi itu maksudmu?"
Natasya membelalakkan matanya kaget karena tahu tempat yang diceritakan burung tersebut.
"Ayahku pernah bilang bukit batu itu tanahnya sangat tandus dan isinya cuma sarang ular berbisa."
"Itu hanya mitos karangan buatan manusia penakut saja agar anak mereka tidak main ke sana."
Burung kecil itu mengepakkan sayapnya dengan gaya bangga seolah mengejek manusia.
"Di balik bukit batu tinggi itu ada sebuah lembah kecil yang sangat hijau dan banyak pohon ubi jalar liar yang tumbuh lebat."
"Bahkan ada sebuah mata air tawar kecil yang keluar dari celah batu di sana dan airnya tidak pernah kering sedikitpun."
Mata Natasya langsung berbinar-binar terang mendengar informasi harta karun alam tersebut.
"Itu tempat yang sangat sempurna untuk menyelamatkan desaku dari bencana ini."
"Tapi letaknya cukup jauh kalau harus ditempuh dengan berjalan kaki memutar, Natasya."
Gaga ikut menimpali obrolan seru mereka berdua dengan pertimbangan fisiknya.
"Manusia desa yang sedang lemas kelaparan pasti akan jatuh pingsan sebelum berhasil mendaki bukit batu terjal itu."
"Kamu benar juga, Gaga."
Natasya kembali menggigit ujung jari telunjuknya untuk mencari solusi transportasi bagi warga desa.
"Lalu bagaimana caranya agar warga desa dan ayahku bisa sampai ke tempat itu tanpa harus capek-capek memanjat bukit?"
"Sebenarnya ada sebuah lorong goa kecil tepat di bawah bukit batu itu yang tembus langsung dari desa menuju lembah hijau tersebut."
Burung kecil itu kembali memberikan informasi kunci yang sangat penting bagi rencana Natasya.
"Aku sering terbang potong kompas melewati lorong goa bawah tanah itu kalau sedang malas memutar lewat atas bukit."
"Lorong goa rahasia?"
Natasya tiba-tiba menjetikkan jarinya mendapat ide brilian yang langsung terlintas di kepalanya.
"Di mana letak pintu masuk lorong goa itu jika dilihat dari arah desaku, burung kecil?"
"Pintu masuknya sangat tertutup oleh semak belukar berduri tepat di belakang reruntuhan candi tua di ujung desa sana."
"Candi tua di ujung desa timur ya."
Natasya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti dan mulai menyusun strategi selanjutnya di otaknya.
"Itu kan tempat suram yang sering dibilang sarang setan dan sangat angker oleh Bu Rini serta warga desa lainnya."
"Manusia memang sangat suka membuat cerita hantu bohong untuk menakuti diri mereka sendiri secara tidak masuk akal."
Gaga mendengus keras meremehkan betapa penakutnya bangsa manusia pada hal gaib.
"Jadi apa rencana utamamu sekarang, anak pintar pencari solusi?"
"Aku punya rencana yang sangat bagus, tapi aku butuh bantuan penuh darimu lagi, burung kecil."
Natasya menatap burung bersayap patah itu dengan senyum yang penuh dengan arti tersembunyi.
"Apa kamu bisa pergi memanggil teman-teman burungmu yang lain untuk berkumpul nanti sore menjelang senja?"
"Tentu saja aku bisa, aku punya banyak teman burung pengangguran di hutan perbatasan ini."
Burung itu berkicau mantap mengiyakan permintaan teman manusianya itu.
"Bagus sekali, nanti sore suruh teman-temanmu terbang rendah dan hinggap ramai-ramai di sekitar candi tua angker itu."
Natasya mulai menjelaskan rencana menjebak orang dewasa yang ada di otaknya.
"Kalau bisa, suruh mereka semua membawa sedikit daun ubi liar atau buah-buahan kecil di paruhnya dan jatuhkan benda itu secara acak di jalanan dekat rumah warga."
"Maksudmu kau ingin sengaja memancing manusia desa itu agar penasaran mengikuti jejak makanan burung sampai ke candi?"
Gaga langsung bisa menebak arah pemikiran licik sekaligus brilian dari gadis kecil itu.
"Kamu benar-benar sangat licik untuk ukuran anak manusia yang bahkan belum genap berumur delapan tahun, Natasya."
"Aku tidak licik sama sekali, aku cuma mencari jalan keluar teraman agar warga desa tidak curiga padaku, Gaga."
Natasya mengerucutkan bibirnya pura-pura kesal disamakan dengan kelicikan serigala liar.
"Kalau aku tiba-tiba datang berlari bilang aku tahu tempat makanan rahasia, mereka semua pasti akan langsung bertanya dari mana aku tahu hal ajaib itu."
"Dan kalau rahasia kekuatan anehmu ketahuan, manusia serakah itu pasti akan menangkap dan memanfaatkanmu habis-habisan sebagai budak pencari makanan selamanya."
Gaga mengangguk sangat setuju dengan kehati-hatian Natasya untuk terus menyembunyikan identitas aslinya.
"Lalu apa yang harus aku lakukan dalam rencanamu yang hebat ini, Natasya?"
Gaga bertanya karena ia merasa tidak mendapatkan tugas seru sedikitpun di operasi rahasia ini.
"Tugasmu hari ini sangat berat yaitu istirahat dan tidur siang yang nyenyak di bawah pohon rindang, Gaga."
Natasya mengelus kepala serigala besar nan galak itu dengan sangat penuh kasih sayang.
"Kamu sudah capek begadang semalaman menemaniku bertarung di danau beracun, jadi kamu harus memulihkan tenagamu untuk berjaga-jaga besok."
Gaga hanya mendengus namun langsung memejamkan matanya menikmati usapan tangan mungil Natasya yang terasa nyaman.
"Baiklah kalau itu perintah wajib darimu, aku akan tidur sampai besok pagi menjelang."
"Terima kasih banyak atas bantuan dan obrolan kalian semua hari ini ya."
Natasya berdiri dan menepuk-nepuk rok usangnya yang terkena debu tanah kering.
"Aku harus pulang ke rumah sekarang dan bersiap memancing ayahku agar mau berjalan ke arah candi tua nanti sore."
"Hati-hati di jalan pulangmu, Natasya."
Gaga melambaikan ekor lebatnya perlahan mengiringi gadis kecil yang kembali berlari menjauh tersebut.
Natasya berlari pulang ke arah rumah dengan hati yang terasa sangat ringan dan dipenuhi oleh harapan baru.
Bencana kelaparan mengerikan ini pasti akan segera berakhir berkat informasi emas dari teman-teman hewannya.
Sesampainya di rumah, Natasya melihat Arga baru saja bersiap keluar halaman dengan membawa karung usang dan sebuah cangkul kecil yang tumpul.
"Ayah mau pergi ke ladang kering sekarang?"
Natasya langsung menghalangi jalan ayahnya tepat di depan pintu rumah.
"Iya, Ayah mau mencari sisa singkong kecil yang mungkin terlewat di saat panen kebun kita bulan lalu."
Arga mengelus kepala putrinya dengan sayang meskipun wajahnya terlihat menanggung beban berat.
"Tunggu sampai sore hari nanti saja, Ayah."
Natasya langsung memeluk dan menahan kaki Arga dengan sekuat tenaganya agar pria itu tidak pergi.
"Kenapa harus menunggu sampai sore hari, Natasya?"
Arga mengerutkan keningnya karena sangat bingung dengan permintaan putrinya yang terkesan mencegahnya bekerja itu.
"Nanti sore cuacanya sudah tidak terlalu panas terik membakar kulit, Ayah."
Natasya melepaskan pelukannya dan memberikan senyuman misterius ke arah ayahnya.
"Dan entah kenapa aku punya firasat yang sangat baik kalau kita berdua akan menemukan sesuatu di arah candi ujung desa nanti."
Natasya memasang wajah penuh keyakinan yang entah bagaimana langsung mengingatkan Arga pada rentetan keajaiban yang terjadi tadi malam.
"Firasat baik di dekat candi tua ya."
Arga tersenyum tipis menyadari pasti ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh putri ajaibnya itu di baliknya.
"Baiklah, Ayah akan mempercayai firasat malaikat kecil Ayah ini seratus persen dan kita berangkat mencari makan nanti sore saja."
Natasya melompat kegirangan karena rencananya meyakinkan sang ayah berjalan sangat mulus tanpa paksaan berarti.
Sore harinya kelak akan menjadi saksi awal mula naiknya reputasi Natasya sebagai dewi penyelamat bagi warga desa miskin yang sedang dilanda keputusasaan.