Maya cuma cewek biasa yang nggak sengaja masuk ke lingkaran kehidupan Reza, bos mafia paling ditakuti di kota. Awalnya, Maya cuma cari aman. Tapi lama-lama, pesona Reza yang dingin tapi protektif bikin Maya luluh. Masalah utamanya? Reza sudah punya istri sah, Sora—wanita berkelas dari keluarga terpandang yang rela melakukan apa saja demi mempertahankan posisinya.
Di mata orang luar dan lingkaran mafia, Maya digelari sebagai pelakor yang merusak kedamaian. Tapi bagi Maya, ini bukan sekadar cinta terlarang. ini soal bertahan hidup di dunia gelap yang penuh pengkhianatan.
Ketika rahasia besar Reza dan Sora terkuak, Maya harus memilih: tetap bertahan di samping pria paling berbahaya walau dicap perusak rumah tangga, atau kabur sebelum nyawanya sendiri yang melayang.
Cinta terlarang, perebutan kekuasaan, dan intrik berdarah. akankah Maya mendapatkan hati Sang Mafia, atau justru jadi korban berikutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30
Pernyataan Rian barusan menghantam kepala Maya seperti palu godam. Kata-kata itu berputar-putar di dalam kepalanya, membuat napasnya sesak dan sekujur tubuhnya mendadak dingin.
Rian—orang kepercayaan yang paling diandalkan dan dipercaya oleh Reza selama bertahun-tahun—ternyata adalah pengkhianat di balik semua malapetaka ini.
"Rian... kamu... kamu yang membocorkan semuanya ke Sora?" bisik Maya terbata-bata, matanya membelalak tak percaya menatap pria di hadapannya.
Rian sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah. Wajahnya tetap datar, dingin, dan tenang. Ia memasukkan paspor baru dan kunci mobil itu ke dalam genggaman tangan Maya yang gemetar hebat.
"Iya, itu saya," jawab Rian tanpa ragu sedikit pun.
"Jangan lihat saya dengan tatapan jijik begitu, Mba Maya. Di dunia bawah seperti ini, kesetiaan itu cuma mitos yang dibeli dengan uang dan kekuasaan. Keluarga besar Burhan dan Sora menjanjikan posisi tertinggi buat saya setelah Reza jatuh. Dan kenyataannya, keberadaan Mba Maya di sisi Reza memang jadi kelemahan paling fatal yang gampang dimanfaatkan."
Maya menggelengkan kepalanya perlahan, air matanya tumpah membasahi pipinya.
"Kenapa kamu tega berkhianat pada Reza? Dia menganggap kamu seperti saudaranya sendiri, Rian!"
"Justru karena dia terlalu percaya pada orang lain, dia hancur," balas Rian tajam. Ia menunjuk ke arah pintu belakang lorong yang terhubung langsung ke garasi rahasia.
"Sekarang, waktu Mba Maya tidak banyak. Kalau Reza keluar dari ruang kerjanya dan tahu Mba Maya mau kabur, dia pasti bakal mengamuk dan menghancurkan rencana saya. Cepat pergi sekarang!"
Maya mencengkeram paspor dan kunci mobil itu erat-erat. Hatinya berkecamuk hebat antara rasa marah, bersalah, dan takut. Namun, kata-kata Rian tentang dirinya sebagai
"kelemahan paling fatal" bagi Reza membuatnya mengambil keputusan bulat. Ia harus pergi agar Reza bisa menyelamatkan sisa kerajaannya tanpa terbebani oleh kehadirannya.
"Baiklah... aku pergi," bisik Maya parau dengan air mata yang terus menetes.
Maya berlari kecil menyusuri lorong gelap menuju garasi belakang, meninggalkan Rian yang berdiri mematung dengan seringai dingin di bibirnya.
Keesokan paginya. Sinar matahari pagi menembus celah-celah jendela rumah aman pinggiran kota.
Reza membuka matanya perlahan di atas tempat tidur. Ia meraba sisi ranjang sebelah, namun tempat itu terasa kosong dan dingin.
Alis Reza langsung berkerut. Ia beranjak bangun dengan cepat, mengenakan kemejanya lalu melangkah keluar kamar.
"Maya?" panggil Reza dengan suara beratnya.
Tidak ada jawaban. Reza melangkah ke ruang tamu, lalu memeriksa dapur, namun ruangan itu kosong. Yang tertinggal di atas meja dapur hanyalah sebuah gulungan kertas kecil dan cincin perak murah pemberian Reza beberapa hari lalu.
Jantung Reza berdegup kencang. Ia menyambar kertas kecil itu dan membukanya dengan tangan yang mendadak gemetar. Tulisan tangan Maya terlihat berantakan karena air mata:
Reza... Maafkan aku. Jangan cari aku lagi. Keberadaanku cuma membawa kehancuran buat kamu. Biarkan aku pergi supaya kamu bisa hidup tenang. Aku mencintaimu, tapi aku tidak sanggup jadi racun di hidupmu.
"Sialan!" maki Reza murka, meremukkan kertas itu di dalam genggamannya.
Reza langsung berlari keluar rumah menuju halaman depan, tempat Rian sudah berdiri tegak di samping mobil jip dengan wajah pura-pura cemas.
"Tuan Besar! Ada apa? Kenapa pagi-pagi sudah panik begini?" tanya Rian pura-pura bingung.
"Maya kabur, Rian!" bentak Reza emosi, matanya menyala merah.
"Cek CCTV sekarang! Cari tahu ke mana arah mobilnya!"
Sebelum Rian sempat menjawab, gerbang depan rumah aman mendadak terbuka lebar. Tiga buah mobil sedan mewah berlogo lambang dewan mafia masuk dan berhenti tepat di halaman utama.
Pintu mobil terbuka, dan turunlah Tuan Burhan bersama empat orang pengawal bersenjata rapi, diikuti oleh beberapa petinggi dewan tetua.
Reza mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras tajam. Ia melangkah maju menyambut kedatangan mereka dengan tatapan membunuh.
"Mau apa lagi kalian datang ke sini, Burhan?!" bentak Reza dingin.
Tuan Burhan tertawa sinis, berjalan mendekat dengan angkuh sambil menenteng sebuah dokumen tebal.
"Tenang, Reza. Kami datang bukan untuk baku tembak. Kami datang untuk membawakan kenyataan pahit yang mungkin belum kamu sadari."
Reza mendengus sinis. "Kenyataan apa?"
Tuan Burhan memberi isyarat pada pengawalnya untuk melempar beberapa lembar foto cetak berukuran besar tepat ke kaki Reza.
Reza menunduk sekilas. Foto-foto itu memperlihatkan Maya yang sedang memegang paspor baru di dalam mobil, bersiap meninggalkan kota. Namun, bukan itu yang membuat mata Reza membelalak kaget.
Di foto berikutnya, terlihat jelas sosok Maya yang turun dari mobil dan masuk ke dalam sebuah gedung pertemuan rahasia—markas utama dewan tetua dan keluarga Burhan.
Deg!
"Apa maksud dari foto-foto ini?!" murka Reza, mencengkeram kerah jas Tuan Burhan dengan kasar.
Tuan Burhan sama sekali tidak takut. Ia tersenyum lebar, menikmati ekspresi terkejut di wajah Reza.
"Kamu masih belum paham juga, Reza? Perempuan yang selama ini kamu bela setengah mati, perempuan yang kamu pertaruhkan seluruh kerajaan bisnismu... ternyata adalah mata-mata bayaran yang dikirim langsung oleh dewan!"
"Bohong!" teriak Reza, menghempaskan tubuh Tuan Burhan hingga terhuyung ke belakang.
"Maya tidak mungkin mengkhianati saya!"
"Oh, benar-benar buta karena cinta ya..." cibir suara seorang wanita yang sangat familiar dari balik pintu mobil sedan yang terbuka.
Sora melangkah keluar dengan anggun, mengenakan mantel hitam panjang dan kacamata hitam besar yang kemudian ia lepas, menatap Reza dengan senyuman paling meremehkan seumur hidupnya.
"Kalau kamu tidak percaya pada ayahku, dengar sendiri pengakuannya," kata Sora santai, lalu mengetuk layar tablet di tangan pengawalnya.
Sebuah rekaman suara audio diputar keras-keras di halaman rumah aman itu. Suara di dalam rekaman itu sangat jernih, dan itu adalah suara Maya sendiri yang berbicara dengan seseorang:
"Aku sudah tidak tahan lagi hidup dalam pelarian bersama Reza... Aku akan serahkan seluruh dokumen rahasia perusahaan miliknya pada dewan, asalkan kalian cabut status buronanku dan beri aku uang untuk pergi ke luar negeri."
Dunia di sekitar Reza seolah runtuh seketika. Suara rekaman itu berdengung keras di dalam telinganya. Kakinya terasa lemas, dan untuk pertama kalinya dalam hidup, sang bos mafia besar itu mundur selangkah ke belakang dengan tatapan kosong tak percaya.
Sora melangkah mendekati Reza, menatap pria itu dengan tatapan penuh kebencian sekaligus kepuasan mutlak.
"Sekarang kamu dengar sendiri kan, Reza?" bisik Sora tajam di depan wajah suaminya.
"Perempuan jalang yang kamu sebut 'satu-satunya hal nyata' itu... dari awal cuma seorang pengkhianat murahan yang mempermainkan kebodohanmu."
Di sudut halaman, Rian yang berdiri di belakang Reza menyunggingkan senyuman licik yang tak terlihat oleh siapapun, menikmati berhasilnya skenario keji yang ia susun bersama Sora.
Reza mengepalkan tangannya begitu kuat hingga darah segar menetes dari telapak tangannya yang tertusuk kuku sendiri.
Matanya yang tadinya penuh cinta kini berubah menjadi gelap gulita, dipenuhi amarah dan dendam yang siap membakar seluruh kota.
Bersambung......