Dafa Mahendra itu kapten basket paling keren se-antero sekolah, tapi otaknya suka agak lemot kalau urusan cinta. Niatnya mau nembak Kinar Kirana (kapten basket putri) pakai cara super romantis di koridor yang gelap, Dafa malah salah sasaran! Akibat salah narik tangan karena panik, dia justru menyatakan cinta ke Lilis Nurmala—kapten cheerleader sekaligus musuh bebuyutannya yang super galak dan hobi adu mulut dengannya.
Sialnya, momen salah tembak itu viral! Demi menjaga gengsi dan menghindari hukuman dari guru karena bikin keributan, mereka terpaksa pura-pura pacaran. Di sisi lain, Kinar yang aslinya naksir Dafa mulai panik dan mencoba merebut Dafa kembali. Belum lagi Azril, kapten futsal yang protektif banget sama Lilis, siap menghajar Dafa kapan saja. Tapi, siapa sangka? Dari yang tadinya hobi bertengkar, saling mengejek, dan pasang jebakan jail tiap hari di kelas, Dafa dan Lilis justru pelan-pelan malah saling bikin baper beneran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belajar Bersama Demi Nilai Sempurna 32.
Aroma buku tua bercampur wangi pembersih lantai instan menyambut Dafa begitu dia melangkah melewati pintu kaca perpustakaan. Tempat ini adalah wilayah asing baginya.
Selama hampir tiga tahun bersekolah di SMA Wahidin, Dafa mungkin hanya menginjakkan kaki di sini tiga kali—itu pun karena terpaksa saat dihukum membersihkan rak oleh Guru Piket.
Di sudut ruangan dekat jendela besar yang menghadap ke lapangan basket, Lilis sudah duduk menunggu.
Di depannya, tiga buah buku tebal Matematika Wajib jilid kelas dua belas sudah bertumpuk, lengkap dengan dua buah buku tulis kosong dan sekotak pensil.
Wajah Lilis tampak seperti seorang algojo yang siap mengeksekusi tahanan.
"Duduk," perintah Lilis dingin saat Dafa mendekat. Suaranya pelan, menaati aturan perpustakaan, tapi intensitas ketegasannya tidak berkurang sedikit pun.
Dafa tersenyum kikuk, menarik kursi kayu di hadapan Lilis dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara decitan yang berisik. "Galak amat, Bos. Belum juga mulai."
"Gue gak punya waktu buat bercanda, Daf," Lilis melipat tangan di dada, menatap Dafa lurus-lurus. "Waktu kita cuma dua minggu. Musuh lo itu Azril. Cowok yang kalau liburan semester malah nyelesain soal UTBK tahun-tahun lalu buat hiburan. Sedangkan lo? Nyari nilai KKM aja harus nunggu mukjizat."
Dafa meringis. Kata-kata Lilis menusuk tepat di egonya, tapi dia tahu cewek itu tidak salah. "Ya makanya gue minta tolong lo. Otak gue mungkin karatan, tapi kalau mesinnya udah dipanasin, jalan kok."
Lilis menghela napas panjang, mencoba meredam kekesalannya.
Dia menggeser satu buku tulis kosong dan sebatang pulpen ke depan Dafa. "Kita mulai dari yang paling dasar untuk UTS nanti. Matriks dan transformasi geometri. Buka halaman 42."
Dafa membuka buku tersebut. Begitu matanya menangkap deretan angka di dalam kurung siku besar yang bercampur dengan huruf-huruf variabel, kepalanya langsung terasa pening.
Sel-sel otaknya yang biasanya hanya dipakai untuk memikirkan strategi flanking di game online atau rute kabur dari guru BK, mendadak mengalami syok budaya.
"Oke, perhatiin," Lilis mulai menjelaskan. Jari telunjuknya yang lentik menunjuk pada baris dan kolom di buku. "Matriks itu intinya susunan bilangan. Kalau lo mau mengalikan dua matriks, rumusnya itu baris dikali kolom. Baris pertama matriks A, dikali kolom pertama matriks B. Jangan sampai terbalik."
Dafa mencoba mendengarkan. Dia benar-benar mencoba. Dia menatap bibir Lilis yang bergerak menjelaskan, memperhatikan bagaimana kening cewek itu sedikit berkerut saat mencoba menyederhanakan bahasa rumus agar lebih mudah dipahami.
Tapi ketika pandangan Dafa turun ke kertas corat-coret, semua penjelasan Lilis menguap begitu saja.
Angka-angka itu seperti menari-nari dan mengejeknya.
"Paham?" tanya Lilis setelah lima menit menjelaskan tanpa henti.
Dafa berdeham, mencoba terlihat meyakinkan. "Uh... berarti yang kiri dikali yang kanan, terus ditambahin kan?"
Lilis memijat pangkal hidungnya. "Dafa, baris dikali kolom. Baris itu yang mendatar, kolom itu yang tegak. Sekarang coba lo kerjain soal nomor satu ini."
Dafa menerima pulpen dari Lilis.
Tangannya terasa kaku. Dia menuliskan angka pertama, mencoba mengingat urutan yang baru saja diucapkan Lilis. Dia mengalikan angka di baris pertama dengan... baris pertama lagi di matriks sebelahnya.
Plak!
Sebuah sentilan mendarat telak di dahi Dafa.
Tidak terlalu keras, tapi cukup untuk membuat Dafa mengaduh kaget.
"Aduh! Sakit, Lis!" protes Dafa sambil mengusap dahinya yang memerah.
"Itu hukuman buat otak lo yang bebal," desis Lilis gemas. "Gue baru bilang satu menit yang lalu, baris dikali kolom! Kenapa lo kalikan baris sama baris lagi? Lo mau kalah taruhan dan hilang dari hidup gue?"
Pertanyaan terakhir Lilis membuat gerakan tangan Dafa yang sedang mengusap dahinya terhenti. Dia menatap Lilis.
Ada kilatan rasa takut yang tulus di mata cewek itu.
Di balik semua kemarahan dan omelannya sejak di kantin tadi, Lilis sebenarnya takut.
Cewek itu takut jika Dafa benar-benar kalah dan mereka harus menjauh.
Ketegangan samar menyelimuti meja mereka.
Dafa menurunkan tangannya dari dahi, lalu memperbaiki posisi duduknya.
Sifat kekanak-kanakannya perlahan memudar, digantikan oleh keseriusan yang jarang dia tunjukkan di sekolah.
"Gue gak bakal kalah, Lis," ujar Dafa dengan suara rendah yang terdengar sangat bersungguh-sungguh. "Gue emang bego di kelas. Tapi gue gak pernah main-main kalau menyangkut hal yang berharga buat gue."
Jantung Lilis berdegup sedikit lebih cepat mendengar nada bicara Dafa yang mendadak berubah. Dia membuang muka sejenak, berpura-pura merapikan letak kotak pensilnya untuk menyembunyikan rona tipis di pipinya. "Kalau gak mau kalah, makanya otaknya dipake. Jangan cuma gengsinya yang digedein."
"Iya, iya. Ulangi lagi deh. Kali ini gue merhatiin beneran. Sumpah," janji Dafa, memajukan tubuhnya agar bisa melihat kertas lebih dekat.
Lilis kembali menuliskan contoh soal yang baru. Kali ini, dia menjelaskan dengan lebih perlahan, memecah setiap langkah menjadi bagian-bagian kecil.
Dafa mendengarkan dengan konsentrasi penuh, menahan diri untuk tidak mengeluh meskipun kepalanya mulai berdenyut tegang.
Satu jam berlalu dalam keheningan perpustakaan yang hanya diisi oleh suara bisikan lirih Lilis dan gesekan pulpen di atas kertas.
Dafa mulai bisa mengerjakan beberapa soal dasar, meskipun sesekali dia masih melakukan kesalahan fatal karena kecerobohannya.
Dan setiap kali Dafa salah menempatkan tanda minus atau keliru menjumlahkan angka...
Plak!
Sentilan kedua mendarat lagi di dahinya.
"Lis, lama-lama dahi gue bisa amnesia kalau disentil terus," protes Dafa sambil meringis, meski kali ini ada senyum tipis di sudut bibirnya.
"Biarin. Anggap aja ini terapi kejut buat sel saraf lo yang tidur siang," sahut Lilis tanpa dosa, meski tangannya kemudian terulur untuk mengusap pelan bagian dahi Dafa yang baru saja dia sentil. Sentuhan jari Lilis yang hangat dan lembut di dahinya membuat Dafa terpaku selama beberapa detik, sebelum cewek itu buru-buru menarik tangannya kembali dengan canggung.
Lilis berdeham, mencoba mengembalikan fokus. "Udah jam lima sore. Perpustakaan mau tutup. Untuk hari ini kita cukupin dulu."
Dafa bersandar di kursi, melemaskan otot-otot lehernya yang terasa kaku. Dia melihat buku tulisnya yang kini penuh dengan corat-coret rumus dan angka—sebuah pemandangan yang mustahil ada di tasnya seminggu yang lalu.
Saat mereka berdua merapikan buku dan memasukkannya ke dalam tas, Lilis menatap Dafa yang sedang menyampirkan ranselnya di bahu. "Daf."
"Hm?" Dafa menoleh.
"Taruhan ini... lo beneran siap hadapi konsekuensinya kalau lo gagal?" tanya Lilis pelan, langkah kakinya melambat saat mereka berjalan menuju pintu keluar perpustakaan.
Dafa berhenti melangkah tepat di area lobi perpustakaan yang mulai sepi.
Dia menatap Lilis, mendapati kecemasan yang mendalam di wajah cewek itu.
Hubungan mereka memang berawal dari sebuah sandiwara, sebuah kesepakatan di atas kertas untuk saling menguntungkan.
Tapi sore ini, di antara tumpukan buku matematika dan sentilan di dahi, Dafa sadar bahwa baginya, ini sudah bukan lagi sekadar sandiwara.
Dafa tersenyum, sebuah senyuman tipis yang tidak memiliki keraguan sama sekali. Dia melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka.
"Gue gak berencana buat gagal, Lilis," kata Dafa tegas, matanya mengunci pandangan Lilis. "Azril boleh punya otak olimpiade. Tapi dia gak punya alasan sekuat yang gue punya buat menangin duel ini."
"Alasan apa?" tanya Lilis hampir berbisik.
Dafa menunjuk dahi Lilis sendiri dengan jari telunjuknya, meniru gerakan Lilis saat memarahinya di kantin tadi. "Alasannya ya lo. Gue gak bakal biarin cowok sombong itu ngatur dengan siapa lo boleh jalan atau pulang sekolah. Taruhan ini gue yang mulai, dan gue yang bakal selesaiin."
Lilis terdiam, tenggorokannya mendadak terasa kering. Kata-kata Dafa tidak puitis, tidak menggunakan majas-majas rumit seperti yang sering diucapkan Azril saat mencoba mendekatinya. Tapi kejujuran dan ketegasan dalam suara Dafa malam itu terasa jauh lebih nyata dan menghujam langsung ke dadanya.
Sebelum Lilis sempat membalas, Dafa sudah berbalik dan berjalan mendahuluinya menuju pintu keluar, kembali menjadi Dafa yang santai dan penuh percaya diri.
"Yuk pulang. Besok sore kita di sini lagi kan? Siapin jari lo, karena gue yakin dahi gue bakal butuh banyak kompresan es batu dua minggu ke depan," seru Dafa tanpa menoleh, melambaikan tangannya di udara.
Lilis menatap punggung Dafa yang bergerak menjauh.
Perlahan, sebuah senyuman kecil yang tidak bisa dia tahan muncul di wajahnya. Dia menggelengkan kepala, mempercepat langkahnya untuk menyusul cowok bebal di hadapannya.
......................
...****************...
Tbc,