Ares Sudibyo, pewaris keluarga kaya, tidak pernah percaya pada perempuan. Sejak ibunya meninggalkan ayahnya demi pria yang lebih kaya, ditambah pengkhianatan yang dialami pamannya dan dirinya sendiri, Ares memilih menjauh dari pernikahan.
Namun, pertemuannya dengan Alisha Prameswari secara tidak sengaja mengubah sesuatu dalam dirinya. Aroma tubuh Alisha justru membuatnya penasaran karena tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan penolakan, sensasi yang tak pernah ia rasakan dari perempuan lain.
Ketika mengetahui Alisha membutuhkan biaya pengobatan untuk adiknya, Ares menawarkan sebuah kontrak: menanggung seluruh biaya pengobatan, dengan syarat Alisha bersedia memenuhi kebutuhan biologisnya. Setiap kali bersama Ares, Alisha harus menutup mata, sebuah aturan yang tak pernah dijelaskan.
Ares yakin hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Namun ketika ketergantungan mulai tumbuh, sanggupkah ia melepaskan Alisha yang memilih mengakhiri kontrak dan mencari pendamping baru dalam hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Bukan Hanya Aromanya
Tidak lama kemudian, suara air berhenti. Beberapa menit setelahnya, pintu kamar mandi terbuka. Langkah Ares kembali terdengar.
Alisha bisa mencium aroma sabun yang lebih segar. Tidak ada lagi sisa parfum asing seperti sebelumnya.
Langkah Ares berhenti, lalu duduk di samping Alisha. Untuk beberapa detik, keduanya hanya diam.
Kemudian Ares berkata, “Sekarang udah gak ada.”
“Parfumnya?” tanya Alisha.
“Hmm.”
Alisha mengangguk. “Masih pusing?”
“Sedikit.”
Alisha menoleh ke arah suara Ares. “Kalo begitu istirahat aja.”
Ares justru mengulurkan tangannya. Alisha sempat bingung ketika jemari pria itu menyentuh tangannya.
“Tidur.”
Ares menariknya perlahan hingga tubuh Alisha kembali mendekat. Kali ini Alisha tidak terkejut. Ia membiarkan dirinya berada dalam pelukan Ares. Beberapa detik kemudian, lengan pria itu kembali melingkar di pinggangnya.
Alisha mendengar napas Ares yang perlahan menjadi lebih teratur. “Sudah lebih baik?” tanyanya pelan.
“Hmm.”
“Berarti memang karena parfumnya?”
Ares terdiam cukup lama. “Bukan cuma itu.”
Alisha mengernyit. “Lalu?”
Ares tidak langsung menjawab.
Ia justru menutup mata. “Aku gak tahu.”
Jawaban itu membuat Alisha terdiam.
Ares menarik napas perlahan. “Tapi setiap dekat kamu, rasanya lebih baik.”
Jantung Alisha berdetak sedikit lebih cepat. Ia tidak tahu harus menganggap kalimat itu sebagai apa.
Sebuah pengakuan? Atau sekadar fakta yang bahkan Ares sendiri belum mengerti?
Alisha akhirnya hanya berkata, “Kalo begitu, tidur aja.”
Tak ada jawaban yang datang, namun pelukannya kembali mengerat sedikit.
Cahaya pagi perlahan menyusup melalui celah tirai.
Ares membuka mata. Kepalanya terasa ringan. Tidak ada rasa mual ataupun denyutan yang mengganggu seperti semalam.
Ia menarik napas pelan. Aroma Alisha masih ada di dekatnya. Ares menoleh. Perempuan itu masih tertidur dalam pelukannya. Penutup mata menutupi kedua matanya, sementara rambutnya sedikit berantakan dan beberapa helai jatuh di pipi.
Ares mengangkat tangan. Jarinya sempat berhenti di udara sebelum akhirnya menyingkirkan helai rambut yang mengganggu wajah Alisha.
Alisha bergerak kecil. Ares langsung menarik tangannya, tetapi perempuan itu justru bergeser mendekat. Pipinya menyentuh dada Ares.
Pria itu tak bergerak untuk beberapa saat hingga tangannya yang tadi berada di atas selimut perlahan jatuh ke pinggang Alisha. Bukan untuk menariknya, hanya membiarkannya tetap berada di sana.
Beberapa detik kemudian, Alisha menggumam pelan.
“Masih pagi?”
Ares menunduk. “Iya.”
Alisha mengusap wajahnya sendiri, lalu tangannya tanpa sengaja menyentuh dada Ares. Ia langsung berhenti.
“Oh...” Suaranya terdengar malu. “Maaf.”
Ares menangkap tangannya sebelum ditarik. “Gak apa-apa.”
Jemari mereka sempat bersentuhan beberapa detik. Alisha tidak berkata apa-apa. Ares juga tidak segera melepaskannya.
Kemudian Ares baru menyadari sesuatu. Semalam, ia datang ke kamar dalam kondisi tidak nyaman. Setelah mandi dan mengganti pakaian, tubuhnya memang terasa lebih baik.
Tetapi pagi ini ia bangun dengan keadaan jauh lebih tenang. Dan Alisha masih berada di dalam pelukannya. Keberadaannya tetap membuat kamar terasa berbeda.
Ares kembali menatap Alisha. “Alisha.”
“Hm?”
“Kalau aku minta kamu datang ke sini...” Ares berhenti sejenak. “Kamu keberatan?”
Alisha sedikit mengernyit di balik penutup matanya. “Kenapa tiba-tiba nanya gitu?”
Ares tidak menanggapi.
Alisha tersenyum kecil. “Selama Tuan masih butuh saya, saya datang.”
Jawaban itu sederhana. Namun entah kenapa, Ares justru semakin diam.
Alisha kemudian mencoba duduk. “Aku mau lepas penutup mata.”
Tangannya baru bergerak ke belakang kepala ketika Ares menahan pergelangan tangannya.
“Jangan.”
Alisha berhenti. “Kenapa?”
Ares menatap wajahnya beberapa detik. Lalu tangannya perlahan berpindah dari pergelangan menuju jari-jari Alisha.
“Sebentar lagi.”
Alisha tidak tahu apa yang dimaksudnya. Namun ia tidak bertanya lagi.
Ares melepaskan tangannya perlahan, kemudian bangkit dari ranjang.
“Aku mau mandi.”
Alisha mengangguk.
Ares berjalan beberapa langkah menuju lemari. Baru dua langkah, ia berhenti. Tatapannya kembali kepada perempuan yang masih duduk di ranjang. Untuk sesaat, Ares seperti ingin mengatakan sesuatu. Namun akhirnya ia hanya berkata,
“Dan Alisha.”
Alisha menoleh ke arah suara Ares. “Iya?”
“Mulai sekarang, kalau aku bilang datang...” Ares berhenti sejenak. “Jangan cuma datang karena kontrak.”
Alis Alisha bertaut. Ares tidak menjelaskan maksudnya. Ia hanya berbalik dan melangkah menuju kamar mandi, meninggalkan Alisha yang masih duduk di ranjang dengan satu pertanyaan yang tiba-tiba memenuhi pikirannya.
Kalau bukan karena kontrak, lalu karena apa?
***
Sore itu, Dokter memeriksa hasil pemeriksaan Ares satu per satu sebelum akhirnya meletakkan tabletnya.
“Dibandingkan pemeriksaan sebelumnya, kondisi Anda jauh lebih baik.”
Ares yang duduk di kursi pemeriksaan hanya mengangguk.
“Tidur?” tanya dokter.
“Lebih baik," jawab Ares.
“Berapa jam?” dokter menulis catatan pemeriksaan.
Ares terdiam sejenak. “Enam sampai tujuh.”
Dokter mengangkat alis. “Itu peningkatan yang cukup besar.”
Reki memerhatikan dari sisi kursi. Beberapa hari ini ada perubahan kecil pada Ares. Kemarin, saat reaksinya kambuh karena perempuan Kencana Group, ia masih bisa menahan diri. Biasanya insiden semacam itu cukup untuk membuat suasana memburuk.
Dokter kembali bertanya, “Ada perubahan dalam rutinitas Anda?”
Ares menggeleng. “Nggak.”
“Obat?” dokter terus mencatat.
“Tidak.”
Dokter menatap Ares sekilas sebelum kembali fokus pada catatannya. “Tekanan pekerjaan?”
“Masih sama.”
Kali ini dokter mengamati wajah Ares. “Kalau begitu, apa yang berubah?”
Ada satu nama yang langsung muncul di kepala Ares.
Alisha.
Ares tidak mungkin menjelaskan bahwa sejak Alisha hadir, semuanya terasa lebih ringan.
“Gak ada,” jawab Ares akhirnya.
Dahi Reki samar menatap Ares.
Dokter tidak memaksanya. “Oke. Kita pantau dulu. Tapi kalau ada yang membuat kondisi Anda lebih tenang, jangan diabaikan.”
Ares berdiri. “Apa maksud dokter?”
“Tubuh kadang merespons sesuatu yang gak kita sadari.”
Ares tidak menanggapi. Ia mengambil jasnya dan keluar bersama Reki.
Baru beberapa langkah dari ruang pemeriksaan, langkah Ares terhenti. Di ujung lorong, Alisha berdiri sambil tersenyum. Di hadapannya ada seorang pria yang memakai snelli. Ares mengenali dokter itu.
Yudhis menyerahkan sebuah kotak kecil kepada Alisha. “Kue putu. Tadi aku lihat di depan rumah sakit. Aku inget kamu suka.”
Mata Alisha langsung berbinar. “Kak Yudhis masih ingat?”
“Mana mungkin lupa?” ujar Yudhis.
Alisha tertawa kecil. “Makasih, Kak.”
Ares tidak bergerak. Tatapannya jatuh pada kotak kue itu. Kue putu. Sesuatu yang bahkan tidak pernah ia dengar dari Alisha.
Namun pria itu tahu. Bukan hanya tahu, Yudhis bahkan tahu tanpa perlu bertanya.
Rahang Ares mengeras.
...✨“Kadang kita mencari alasan untuk menjelaskan rasa nyaman yang hadir, padahal jawabannya sederhana: bukan tempatnya yang membuat kita tenang, melainkan seseorang yang ada di dalamnya.”✨...
.
To be continued
cukup mantan mu si Reni yg ribet
kamu jangan ikutan res
Semangat Kak Nana.. Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
kacau ini orang 🤣🤣
takut ga bisa tanggung jawab sama tatapan mu.
pengecut dia takut kalah sama rasa bersalah nya🫣😔
Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏