Xie Yufei (17 tahun), remaja Gen-Z yang hobi julid, tewas tersedak boba dan bertransmigrasi ke zaman kuno menjadi Nona Muda yang lemah lembut.
Demi bertahan hidup, Yufei berakting super anggun dan polos. Namun, dia tidak tahu kalau suara hatinya yang sangat berisik dan penuh istilah modern bisa terdengar jelas oleh Pangeran Mo Cheng yang kejam, kakak kandungnya, dan pelayan setianya!
Kekacauan dimulai saat Yufei membungkuk takzim, sementara isi kepalanya sibuk mengomel: (Buset, ini Pangeran mukanya ditekuk mulu kayak belum bayar kontrakan. Ganteng sih spek drakor, tapi auranya psikopat banget!)
Mendengar itu, sang Pangeran dingin seketika tersedak teh. Di saat Yufei merasa akting polosnya sempurna, orang-orang di sekitarnya justru sedang berjuang setengah mati menahan tawa mendengar isi kepalanya yang super kocak!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20: Lemparan ramuan sereh dan skincare penyelamat nyawa
Ketegangan di sektor selatan Hutan Terlarang mendadak memuncak. Ujung anak panah berlumur racun hijau gelap itu masih membidik tepat ke arah dada Pangeran Mo Cheng. Si pembunuh bayaran bertopeng hitam tersenyum sinis di balik topengnya, siap melepaskan tali busur untuk mengakhiri hidup sang pangeran dalam sekali lesatan.
Di luar, Xie Yufei gemetaran di dalam dekapan Pangeran Mo Cheng, wajahnya tampak sangat ketakutan seolah-olah ajal sudah menjemput mereka. Namun, di dalam kepalanya, otak anak IPA-nya langsung bekerja dalam mode supercomputer berkecepatan tinggi:
(Waduh mampus, jaraknya dekat bener! Kalau itu panah melesat, kecepatan mekaniknya gak bakal bisa dihindari pake refleks manusia biasa, biar kata Mas Jenderal punya skill dewa. Racun hijau itu fiks ekstrak bisa ular atau tanaman beracun konsentrasi tinggi, kena gores dikit bisa langsung wassalam! Pikir, Yufei, pikir! Pakai logika sains lu! Apa yang ada di kantong baju gue sekarang?!)
Tangan Yufei yang meraba-raba kantong jubah berburunya mendadak menyentuh sebuah botol keramik kecil. Itu adalah sisa botol konsentrat minyak sereh wangi pekat yang sengaja dia bawa untuk touch-up kalau-hal losion di tubuhnya memudar.
(NAH! Ini dia! Minyak sereh pekat ini punya kandungan senyawa sitronelal dan geraniol hampir sembilan puluh persen! Kalau kena selaput lendir mata dalam bentuk murni, bakal memicu iritasi akut, perih luar biasa, dan kebutaan sementara akibat erosi kornea! Selamat menikmati produk skincare organik terperih di dunia kuno, wahai pembunuh bayaran!)
Pangeran Mo Cheng yang sudah bersiap untuk memutar tubuhnya demi menjadikan punggungnya sebagai perisai hidup bagi Yufei, mendadak menghentikan gerakannya. Sitronelal? Erosi kornea? Skincare? Meskipun bingung setengah mati dengan istilah medis modern itu, pangeran menangkap satu rencana inti: Yufei ingin menyerang mata si pembunuh dengan cairan sereh pekat.
Mendapatkan petunjuk emas dari isi kepala Yufei, Pangeran Mo Cheng langsung menyesuaikan gerakannya demi mendukung rencana sang penasihat rahasia. Pangeran sengaja menarik tali kendali kuda agar kuda mereka meringkik heboh, mengalihkan perhatian si pembunuh bayaran selama satu detik yang krusial.
"Sekarang, Nona Xie!" bisik Pangeran Mo Cheng dengan suara rendah di dekat telinga Yufei.
Yufei tidak membuang waktu. Dengan gerakan melempar layaknya atlet tolak peluru darurat, dia membuka tutup botol keramik itu dan menyiramkan seluruh cairan minyak sereh pekat di dalamnya tepat ke arah wajah si pembunuh bayaran yang jaraknya hanya beberapa langkah dari mereka.
Croottt!
"ARRRGHHH!!!"
Jeritan melengking yang sangat menyedihkan langsung pecah di tengah kegelapan hutan. Cairan pekat itu tepat mengenai kedua mata si pembunuh bayaran. Rasa perih yang luar biasa panas seperti ditaburi cabai bubuk langsung ke bola mata membuat si pembunuh refleks melepaskan busurnya dan jatuh berlutut ke tanah sambil mencakar-cakar topengnya sendiri.
"Mataku! Panas! Sihir apa ini?! Arghhh!" raung si pembunuh dengan beringas.
Di dalam hatinya, Yufei langsung bersorak heboh sambil berjoget imajiner:
(Bwahaha! Sukurin lu! Itu namanya kekuatan zat kimia sitronelal murni, Malih! Rasain tuh sensasi skincare alami yang langsung meresap ke dalam jiwa dan raga lu! Mas Jenderal, buruan sikat! Mumpung malingnya lagi blind alias kena efek stun akibat serangan sereh gue!)
Pangeran Mo Cheng tidak menyia-nyiakan kesempatan emas yang diciptakan oleh "cheat code"-nya. Dengan gerakan secepat kilat, sang pangeran melompat turun dari atas kuda, menghunus pedang peraknya, dan dengan satu sapuan gagah, dia berhasil melumpuhkan kedua tangan si pembunuh bayaran hingga jatuh telungkup tak berdaya di tanah.
Tepat pada saat itu, Xie Jian dan pasukan khusus akhirnya berhasil menyusul ke sektor selatan setelah membersihkan sisa-siga babi hutan di perkemahan.
"Yang Mulia! Anda tidak apa-apa?!" tanya Xie Jian dengan napas terengah-engah, wajahnya penuh kecemasan. Namun, matanya langsung melotot melihat si pembunuh bayaran sudah merintih di tanah dengan aroma sereh yang sangat menyengat di sekitarnya.
Pangeran Mo Cheng menyeka pedangnya, lalu menatap Yufei yang masih duduk di atas kuda dengan wajah pura-pura syok dan lemas. Pangeran tersenyum sangat tipis, matanya memancarkan binar kehangatan yang mendalam.
"Aku tidak apa-apa, Xie Jian. Ikat pembunuh ini. Dan... pastikan kau berterima kasih pada adikmu. Kitab rahasianya baru saja menyelamatkan nyawaku dengan cara yang... sangat harum," ucap Pangeran Mo Cheng, membuat daun telinganya kembali memerah samar karena lagi-lagi kagum dengan kecerdikan absurd gadis itu.
Sementara Yufei di atas kuda hanya bisa memasang senyum polos tanpa dosanya, walau di dalam hati dia sudah mengeluh pasrah: Huft, selamat dari maut sih iya, tapi botol skincare gue habis total. Mas Jenderal, lu musti ganti rugi dengan emas batangan yang lebih banyak ya besok!