Ervan Noir seorang yang bermimpi menjadi Hunter akan tetapi impianya tidak sesuai kenyataan ketika peluang menjadi Hunter di Depan Mata, kejadian diluar prediksi dimana saat proses pemasanagn CORE progres instalationya 0℅ sejak itu Ervan menjadi bahan olokan sering di bully , hingga suatu Insiden menimpa Ervan dimana ketika Ervan berada di Ambang kematian Instalation yang awalnya 0℅ mulai aktif, hingga akhirnya Takdir Ervan sebagsi seorang Hunter dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LetterFromJusticia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 — Mimpi yang Membuat Mereka Terdiam
Meja makan panti malam itu lebih berisik daripada biasanya.
"𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢𝘬𝘶! 𝘑𝘢𝘵𝘢𝘩𝘬𝘶 𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘶𝘢!" Seorang anak menarik piring ayam ke arahnya.
"𝘛𝘢𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘥𝘶𝘢, 𝘢𝘬𝘶 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪!" Anak di sebelahnya menahan tepi piring itu dengan sendoknya.
"𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘥𝘢."
"𝘉𝘦𝘥𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢𝘯𝘺𝘢?"
"𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘰𝘵𝘰𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭. 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘩𝘪𝘵𝘶𝘯𝘨."
Ervan yang baru saja mengambil nasi berhenti sebentar, memandangi dua anak yang sedang berdebat memperebutkan potongan ayam terakhir.
Di ujung meja, Rosaline bahkan tidak mengangkat kepala.
"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘳𝘪𝘣𝘶𝘵, 𝘱𝘰𝘵𝘰𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯," kata 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲. Sendoknya tetap bergerak di atas piring.
Keduanya langsung diam.
Ervan menahan senyum.
Ancaman paling efektif malam itu ternyata bukan BETA, melainkan seorang wanita tua berusia tujuh puluh tujuh tahun dengan sendok makan di tangan.
Ia duduk di kursi kosong.
Sejak sore tubuhnya masih menyisakan pegal akibat latihan. Tidak separah kemarin, tetapi pahanya tetap terasa berat saat ia menekuk kaki.
Seorang anak di seberangnya memperhatikannya.
"𝘒𝘢𝘬 𝙀𝙧𝙫𝙖𝙣."
"𝘏𝘮? 𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢?" tanya 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 sambil menyendok lauk ke piringnya.
"𝘒𝘢𝘬𝘢𝘬 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘪𝘩 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘺𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘬𝘦𝘬-𝘬𝘢𝘬𝘦𝘬? 𝘛𝘢𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘶 𝘥𝘶𝘥𝘶𝘬 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘯-𝘱𝘦𝘭𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘦𝘵."
Beberapa anak tertawa.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menatapnya datar. "𝘓𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘴𝘢𝘫𝘢, 𝘣𝘦𝘴𝘰𝘬 𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘫𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘰𝘵𝘰𝘯𝘨."
"𝘔𝘢𝘯𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢. 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘫𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘒𝘢𝘬 𝙀𝙧𝙫𝙖𝙣."
Tawa kembali pecah.
Anak lain ikut menyahut, "𝘒𝘢𝘬 𝙀𝙧𝙫𝙖𝙣 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘱𝘢𝘨𝘪 𝘭𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴. 𝘔𝘢𝘶 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘭𝘦𝘵, 𝘺𝘢?"
"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘭𝘦𝘵, 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘢𝘬𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘵𝘦𝘭𝘦𝘷𝘪𝘴𝘪 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬?"
"𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘦𝘯𝘢𝘭, 𝘒𝘢𝘬𝘢𝘬 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘪𝘯𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪, 𝘺𝘢." Suara yang terakhir itu lebih pelan daripada yang lain.
Ervan baru hendak menjawab ketika menyadari Rosaline sedang memperhatikannya dari seberang meja.
Tidak ikut tertawa.
Tatapan itu membuatnya teringat pesan semalam.
Ia memang sudah memutuskan akan mengatakan semuanya malam ini.
Hanya saja, membicarakannya di kepala terasa jauh lebih mudah dibanding mengucapkannya di depan orang yang sudah menyaksikan bagaimana mimpinya menjadi Hunter runtuh bertahun-tahun lalu.
Ervan mengambil segelas air.
"𝘈𝘬𝘶 𝘭𝘢𝘳𝘪 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘮𝘢𝘶 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘭𝘦𝘵," kata 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻. Gelas di tangannya belum juga ia minum.
"𝘛𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘢𝘱𝘢 𝘤𝘢𝘱𝘦𝘬-𝘤𝘢𝘱𝘦𝘬 𝘭𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘱𝘢𝘨𝘪?"
Ervan terdiam sesaat.
"𝘚𝘦𝘣𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘢𝘥𝘢 𝘚𝘦𝘭𝘦𝘬𝘴𝘪 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳." 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 meletakkan gelasnya. "𝘈𝘬𝘶 𝘪𝘬𝘶𝘵."
Suara sendok yang tadi saling beradu seolah berhenti bersamaan.
Beberapa anak menatapnya.
Salah satu masih mengunyah dengan pipi menggembung.
"𝘏𝘢𝘩?"
"𝘈𝘬𝘶 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘤𝘢𝘯𝘥𝘢. 𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘧𝘵𝘢𝘳," kata 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.
Dua detik kemudian meja makan meledak.
"𝘚𝘦𝘳𝘪𝘶𝘴, 𝘒𝘢𝘬?!"
"𝘒𝘢𝘬 𝙀𝙧𝙫𝙖𝙣 𝘮𝘢𝘶 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳? 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳𝘢𝘯?"
"𝘉𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘢𝘬𝘢𝘬 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘫𝘢𝘵𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪?"
"𝘛𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘔𝘢𝘨𝘪𝘤 𝘫𝘶𝘨𝘢?"
"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘮𝘶 𝘉𝘌𝘛𝘈, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘨𝘦𝘥𝘦! 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘥𝘶𝘭𝘶!"
Pertanyaan datang dari segala arah sampai Ervan tidak tahu mana yang harus dijawab lebih dahulu.
Di tengah kegaduhan itu, hanya Rosaline yang tidak mengatakan apa pun.
Dan justru itu yang paling Ervan perhatikan.
"𝘚𝘶𝘥𝘢𝘩. 𝘋𝘶𝘥𝘶𝘬 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢."
Suara Rosaline akhirnya memotong semuanya.
Anak-anak perlahan kembali duduk.
Ia menatap Ervan.
"𝘑𝘢𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘧𝘵𝘢𝘳. 𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘦𝘯𝘤𝘢𝘯𝘢?"
Ervan mengangguk.
"𝘚𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯?"
"𝘋𝘶𝘢 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘭𝘢𝘭𝘶," jawab 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻. "𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘶 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘪𝘯𝘪."
"𝘋𝘶𝘢 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘭𝘢𝘭𝘶." 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲 mengulanginya pelan. "𝘉𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘫𝘢𝘥𝘪𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶?"
Ervan tahu persis kejadian mana yang dimaksud.
Pisau.
Darah.
Pakaian yang robek.
Dan luka yang seharusnya ada tetapi menghilang begitu saja.
"𝘐𝘺𝘢. 𝘚𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶."
Rosaline meletakkan sendoknya.
"𝘉𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘫𝘶 𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘴𝘶𝘬𝘮𝘶." Nada suaranya tidak tinggi. Justru karena itulah meja makan kembali sunyi. "𝘚𝘢𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘨𝘪 𝘪𝘵𝘶, 𝙀𝙧𝙫𝙖𝙣. 𝘋𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘧𝘵𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳?"
"𝘉𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳. 𝘉𝘢𝘳𝘶 𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘬𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢."
"𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘮𝘢𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘺𝘢, 𝙀𝙧𝙫𝙖𝙣."
Ervan menutup mulut.
Benar juga.
Rosaline menarik napas pendek.
"𝘚𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯-𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘫𝘢𝘳 𝘪𝘯𝘪. 𝘊𝘖𝘙𝘌-𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘵𝘪𝘧, 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘱𝘦𝘮𝘦𝘳𝘪𝘬𝘴𝘢𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘢. 𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘶𝘮𝘶𝘳𝘮𝘶 𝘥𝘦𝘭𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘴, 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘬𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘬𝘶𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘶𝘭𝘢𝘯."
Tatapannya turun sebentar ke tangan Ervan.
"𝘈𝘯𝘢𝘬-𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘢𝘩𝘮𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭."
"𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶."
"𝘉𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯-𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘫𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢. 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘭𝘢𝘭𝘶."
"𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶."
"𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩. 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪𝘢𝘯."
"𝘐𝘵𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶."
"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶, 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣 𝘴𝘦𝘰𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘤𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘧𝘵𝘢𝘳 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘯𝘫𝘢."
Ervan terdiam.
Beberapa anak saling melirik. Mereka cukup memahami suasana untuk tidak ikut bicara.
𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲 melanjutkan, "𝘚𝘢𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨𝘮𝘶 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘪𝘮𝘱𝘪. 𝘋𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘶𝘭𝘶 𝘱𝘶𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬. 𝘚𝘢𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘶𝘵𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘫𝘶𝘴𝘵𝘳𝘶 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 𝘮𝘢𝘵𝘪."
Kalimat terakhir membuat Ervan tidak segera menjawab.
Ia tidak bisa mengatakan semuanya.
Bagaimana CORE yang selama bertahun-tahun berhenti pada nol persen tiba-tiba menyelesaikan instalasinya ketika ia sekarat.
Bagaimana luka tusuk itu lenyap.
Bagaimana recovery tubuhnya beberapa hari ini mulai terasa aneh.
Ervan sendiri belum memahami jawabannya.
Mengatakan setengah dugaan sebagai fakta hanya akan membuat Rosaline lebih khawatir.
"𝘈𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘣𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘵𝘶," katanya akhirnya.
Alis Rosaline sedikit terangkat.
"𝘈𝘱𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘣𝘢𝘩?"
Ervan memilih kata-katanya.
"𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨. 𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘺𝘢𝘬𝘪𝘯, 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘢𝘴𝘢𝘭 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘣𝘢𝘬."
Rosaline tampak hendak memotong, tetapi Ervan melanjutkan.
"𝘈𝘬𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘳𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘮𝘢𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩 𝘴𝘦𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯. 𝘚𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘶𝘩𝘪𝘵𝘶𝘯𝘨. 𝘗𝘦𝘭𝘶𝘢𝘯𝘨𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘶𝘳𝘶𝘬."
"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘱𝘦𝘭𝘶𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘶𝘳𝘶𝘬, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢?"
Ervan menatap meja beberapa detik.
"𝘋𝘶𝘭𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. 𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶."
Angka nol itu kembali terlintas di benaknya.
CORE Installation Progress: 0%.
Tidak peduli seberapa besar kompatibilitasnya, hasil akhirnya selalu sama.
Zero.
"𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨..." 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengepalkan tangannya perlahan. "𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪. 𝘚𝘦𝘮𝘱𝘪𝘵, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘥𝘢."
Rosaline masih diam.
Ervan mengangkat wajah.
"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘨𝘢𝘨𝘢𝘭 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘰𝘣𝘢, 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢. 𝘎𝘢𝘨𝘢𝘭 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘬𝘶𝘳𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯."
Ia berhenti sebentar.
"𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘶𝘯𝘥𝘶𝘳 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘮𝘣𝘢𝘵... 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘣𝘢𝘬𝘢𝘭 𝘬𝘶𝘴𝘦𝘴𝘢𝘭𝘪 𝘴𝘦𝘶𝘮𝘶𝘳 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱."
Tidak ada jawaban langsung.
Salah seorang anak bahkan menurunkan sendoknya pelan-pelan agar tidak menimbulkan suara.
Rosaline memandang Ervan cukup lama hingga ia mulai merasa seperti sedang diperiksa kembali di laboratorium CORE.
Akhirnya wanita tua itu mengembuskan napas.
"𝘒𝘦𝘳𝘢𝘴 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢. 𝘋𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘣𝘢𝘩."
Ervan hampir tersenyum.
"𝘔𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘭𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯𝘬𝘶."
"𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘰𝘣𝘢-𝘤𝘰𝘣𝘢 𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘤𝘢𝘯𝘥𝘢."
"𝘉𝘢𝘪𝘬. 𝘔𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘶𝘴." 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menegakkan punggung seperti murid yang baru ditegur.
"𝘛𝘶𝘩, 𝘬𝘢𝘯. 𝘔𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯."
Beberapa anak terkikik.
Ketegangan di meja sedikit mencair.
Namun Rosaline belum selesai.
"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩."
Ervan kembali serius.
"𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘬𝘴𝘢 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘣𝘢𝘥𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘳𝘶𝘴𝘢𝘬 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘬𝘦𝘫𝘢𝘳 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘸𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯; 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘫𝘢𝘵𝘢𝘩𝘮𝘶 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘱𝘶𝘳 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘰𝘳𝘣𝘢𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘶𝘳."
Rosaline mengangkat satu jari.
"𝘋𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘭𝘢𝘨𝘪."
Ervan sudah bisa menebak.
"𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘣𝘢𝘳. 𝘚𝘢𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘵𝘶𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘪 𝘵𝘦𝘭𝘦𝘱𝘰𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘱𝘢𝘨𝘪."
"...𝘐𝘺𝘢."
"𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯 '𝘪𝘺𝘢' 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘴𝘰𝘬 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘭𝘶𝘱𝘢𝘬𝘢𝘯."
"𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘬𝘢𝘣𝘢𝘳," kata 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻. "𝘗𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘵, 𝘫𝘢𝘥𝘸𝘢𝘭 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘣𝘢𝘩, 𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘪𝘵𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘬𝘢𝘣𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘶𝘭𝘶."
Rosaline menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya mengambil sendok lagi.
Itu bukan persetujuan penuh.
Ervan tahu.
Kekhawatiran masih terlihat jelas di wajahnya.
Tetapi setidaknya Rosaline tidak menyuruhnya mundur.
Salah seorang anak langsung mengangkat tangan.
"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘒𝘢𝘬 𝙀𝙧𝙫𝙖𝙣 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳, 𝘴𝘦𝘯𝘫𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦 𝘴𝘪𝘯𝘪 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬?"
"𝘕𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩," jawab 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 cepat.
"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩? 𝘒𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘮𝘢𝘶 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵."
"𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 '𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘮𝘢𝘶 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵' 𝘷𝘦𝘳𝘴𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘶𝘫𝘶𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘴𝘦𝘱𝘢𝘳𝘶𝘩."
Anak lain menyela, "𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘒𝘢𝘬 𝙀𝙧𝙫𝙖𝙣 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘦𝘯𝘢𝘭, 𝘵𝘳𝘢𝘬𝘵𝘪𝘳 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯, 𝘺𝘢!"
"𝘓𝘰𝘭𝘰𝘴 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮, 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘨𝘪𝘩 𝘵𝘳𝘢𝘬𝘵𝘪𝘳𝘢𝘯."
"𝘐𝘵𝘶 𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘮𝘰𝘵𝘪𝘷𝘢𝘴𝘪, 𝘒𝘢𝘬. 𝘉𝘪𝘢𝘳 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵."
Ervan tertawa kecil.
Sudah lama kata Hunter tidak terdengar seperti sesuatu yang boleh dibicarakan tentang dirinya di meja makan ini.
Dulu kata itu selalu diikuti tatapan kasihan.
Malam ini berbeda.
Masih jauh.
Masih mustahil bagi sebagian orang.
Tetapi tidak lagi mati.
---
Keesokan harinya, Ervan menunggu sampai minimarket cukup sepi sebelum menghampiri pemilik toko.
"𝘈𝘥𝘢 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳? 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶."
Pria itu menoleh dari lembar laporan stok.
"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘨𝘢𝘫𝘪, 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢."
"𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘰𝘢𝘭 𝘨𝘢𝘫𝘪."
"𝘚𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪. 𝘗𝘢𝘥𝘢𝘩𝘢𝘭 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘮𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘯𝘰𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯."
Ervan menarik kursi.
"𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘫𝘢𝘥𝘸𝘢𝘭 𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯," kata 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 setelah duduk. "𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘪𝘣𝘶𝘳, 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘥𝘪𝘨𝘦𝘴𝘦𝘳."
Pemilik minimarket akhirnya meletakkan laporan.
"𝘔𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘥𝘸𝘢𝘭𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨?"
"𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘧𝘵𝘢𝘳 𝘚𝘦𝘭𝘦𝘬𝘴𝘪 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳. 𝘞𝘢𝘬𝘵𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪, 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩 𝘫𝘢𝘮 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱."
Diam.
Pria itu berkedip sekali.
Lalu sekali lagi.
"𝘒𝘢𝘮𝘶?"
"𝘐𝘺𝘢, 𝘢𝘬𝘶."
"𝘐𝘬𝘶𝘵 𝘚𝘦𝘭𝘦𝘬𝘴𝘪 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳?"
"𝘐𝘺𝘢. 𝘚𝘦𝘭𝘦𝘬𝘴𝘪 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳."
Tatapannya semakin aneh.
"𝙀𝙧𝙫𝙖𝙣 𝙉𝙤𝙞𝙧?"
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menghela napas. "𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝙀𝙧𝙫𝙖𝙣 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪, 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢."
Pemilik toko bersandar.
Ia tentu tahu cerita Ervan.
Orang-orang di lingkungan sekitar juga tahu julukan yang pernah melekat padanya.
Zero.
"𝘚𝘢𝘺𝘢 𝘬𝘪𝘳𝘢 𝘶𝘳𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯."
"𝘋𝘶𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯."
"𝘓𝘢𝘭𝘶 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘱𝘢 𝘣𝘦𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢?"
"𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘰𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪."
Tidak ada penjelasan mengenai CORE.
Ervan sengaja menahannya.
Belum ada alasan membuat lebih banyak orang mengetahui sesuatu yang bahkan belum ia pahami sendiri.
Pemilik toko mengetuk meja dengan jarinya.
"𝘑𝘢𝘥𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘫𝘢𝘮 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴? 𝘚𝘢𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘨𝘢 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘳 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢."
Ervan sudah menyiapkan jawabannya.
Ia mengeluarkan kertas kecil berisi pembagian waktu.
"𝘚𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘶𝘵𝘶𝘭𝘪𝘴 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪. 𝘉𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘩𝘪𝘧𝘵 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘳𝘴𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵, 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘶𝘢 𝘫𝘢𝘥𝘸𝘢𝘭 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘵𝘶𝘬𝘢𝘳. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘬𝘶𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯. 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘵𝘶𝘳."
Pria itu membaca catatan tersebut.
"𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘩𝘪𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪?"
"𝘈𝘬𝘶 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨𝘢𝘯𝘢𝘯, 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘶𝘫𝘶𝘯𝘨-𝘶𝘫𝘶𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘵𝘶𝘱 𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢𝘢𝘯𝘬𝘶."
Beberapa detik berlalu.
"𝘙𝘶𝘱𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘶𝘴."
Ervan mengangguk.
Pemilik minimarket mengambil pulpen.
Ia mencoret dua bagian jadwal, memindahkan satu shift, lalu menyerahkan kertas itu kembali.
"𝘊𝘰𝘣𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘯𝘪."
Ervan membacanya.
Waktu latihannya bertambah cukup banyak.
"𝘐𝘯𝘪... 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘭𝘰𝘯𝘨𝘨𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢." 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengangkat wajah dari kertas itu. "𝘠𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘢𝘱𝘢-𝘢𝘱𝘢?"
"𝘚𝘢𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘣𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘣𝘢-𝘵𝘪𝘣𝘢 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘫𝘢𝘳 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳 𝘭𝘢𝘨𝘪." Pria itu kembali mengambil laporan stoknya. "𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘵𝘶𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘰𝘣𝘢, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘵𝘰𝘬𝘰 𝘪𝘯𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘢𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯𝘮𝘶. 𝘚𝘢𝘺𝘢 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘳 𝘴𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢-𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘫𝘢𝘥𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶𝘮𝘶 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱."
Ervan menggenggam kertas tersebut.
"𝘛𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘥𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘪𝘢𝘱 𝘥𝘪𝘵𝘰𝘭𝘢𝘬."
"𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘩𝘢𝘳𝘶 𝘥𝘶𝘭𝘶. 𝘛𝘦𝘳𝘭𝘢𝘮𝘣𝘢𝘵 𝘭𝘪𝘮𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘵, 𝘨𝘢𝘫𝘪𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘱𝘰𝘵𝘰𝘯𝘨."
"𝘈𝘬𝘶 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘮𝘣𝘢𝘵."
Ervan meninggalkan minimarket sore itu dengan jadwal baru di tangan.
Untuk pertama kalinya, hidupnya mulai benar-benar disusun mengelilingi satu tujuan.
Seleksi Hunter.
Ia membuka jurnal.
Di halaman baru, Ervan menulis:
Hari 3.
Kemudian satu baris di bawahnya.
Mulai meningkatkan intensitas.
---
Keesokan paginya, sebelum matahari terbit, Ervan tiba di jalur latihan taman kota.
Ia sengaja memilih tempat itu karena lintasannya lebih panjang dan cocok untuk interval.
Beberapa orang sudah berada di sana.
Sebagian berlari.
Sebagian melakukan pemanasan.
Dua orang membawa tas panjang berlogo perlengkapan Hunter.
Ervan menyalakan stopwatch.
Baru satu langkah ia memasuki lintasan—
sebuah suara terdengar dari belakang.
"𝘌𝘩, 𝘵𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳."
Ervan berhenti.
"𝘐𝘵𝘶... 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘪 𝘡𝘦𝘳𝘰?"
Beberapa kepala mulai menoleh ke arahnya.
mangat nulisnya
mampir juga di karyaku yah😊