Disarankan untuk baca season pertamanya dulu ya!
****
Tiga tahun setelah bangkit dari kematian dengan kekuatan Batu Es yang terkutuk, Han Seol menjelma menjadi penyihir terkuat yang ditakuti sekaligus kesepian. Di tengah bayang-bayang arwah jahat dan luka masa lalu atas hilangnya Seol Ah, ia dipertemukan kembali dengan Jin So Hwa—putri sulung rahasia dari Jinyowon yang jiwanya menyimpan misteri besar.
Demi lolos dari kurungan ibunya, So Hwa nekat mengajukan pernikahan gila kepada Han Seol. Dan demi membungkam seisi kerajaan, sebuah kebohongan konyol terucap: "Saksi pernikahan kami adalah anak di dalam perutku!"
Saat takdir lama mulai terajut kembali dengan identitas baru, akankah es di hati Han Seol mencair, ataukah rahasia tiga tahun lalu justru akan menghancurkan mereka sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Hangat di Dalam Kamar dan Jerat Ancaman sang Penyihir Agung
Sinar matahari pagi menembus celah jendela kayu, membawa kehangatan yang perlahan mengusir kabut tipis di pelataran rumah keluarga Han. Han Seol perlahan membuka matanya. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun yang panjang dan menyiksa, ia terbangun dengan tubuh yang terasa sangat ringan dan segar.
Tidak ada dengungan suara arwah yang berisik, tidak ada cengkeraman hawa dingin yang mengerikan.
Namun, begitu ia mendudukkan tubuhnya dan melihat Jin So Hwa berdiri di dekat ranjang sembari merapikan selimut, rahang Han Seol seketika mengeras.
"Kenapa kau membangunkanku?" ketus Han Seol, menyembunyikan rasa canggungnya dengan nada suara yang menyalahkan.
Jin So Hwa mengerjapkan mata, sedikit cemberut. "Aku tidak membangunkanmu, Han Seol. Kau sendiri yang terbangun karena matahari sudah tinggi."
Han Seol membuang muka, enggan mengakui sebuah fakta nyata di dalam hatinya. Padahal, penyebab utama ia bisa tertidur dengan sangat nyenyak dan tenang sepanjang malam itu adalah murni karena keberadaan Jin So Hwa di sisinya.
Dengan adanya gadis itu yang memeluknya semalaman, lingkaran perlindungan spiritual yang memancar dari raga So Hwa terbukti mampu membungkam dan menghalau datangnya arwah-arwah jahat yang biasanya selalu mengganggu tidurnya.
Bukti nyata itu terlihat jelas dari berubahnya suhu di kamar tersebut yang kini menjadi sangat hangat dan nyaman, berbeda jauh dengan aura mistis dingin yang biasanya menyelimuti Cheon Gi Won.
Sementara itu, bagi Jin So Hwa sendiri, malam yang ia lewatkan dengan menemani Han Seol tidur ternyata membawa dampak besar pada batinnya.
Sejak matanya terbuka di pagi buta, kepalanya mendadak dihujani oleh ingatan masa lalu yang kian gencar terlintas. Bayangan-bayangan tentang kenangan manis, tawa, hingga tangisan di masa lalu berputar berulang kali di benaknya.
Bahkan, saking sering dan intensnya ingatan itu melintas tanpa bisa ia kendalikan, sampai-sampai membuat Jin So Hwa merasa pusing dan harus memegangi pelipisnya berkali-kali.
****
Beberapa saat kemudian, setelah mengumpulkan kesadarannya sepenuhnya, Han Seol mengajak Jin So Hwa pergi ke istana kerajaan. Tujuannya adalah untuk menemui langsung sang Ratu yang jiwanya terkurung di raga dukun Choi.
Di dalam aula istana yang sunyi, Han Seol melangkah maju dengan wibawa yang menekan. Di hadapan sang Ratu, ia menundukkan kepalanya sedikit.
"Saya datang untuk meminta maaf, Yang Mulia Ratu. Kejadian di acara jamuan teh Anda kemarin malam telah melibatkan istri saya dan menimbulkan kekacauan yang tidak perlu."
Ratu di raga dukun Choi hanya menatapnya dengan pandangan dingin yang tajam. Setelah formalitas itu selesai, Han Seol menoleh ke arah So Hwa dan memberi isyarat mata agar gadis itu keluar terlebih dahulu dari ruangan. Begitu pintu aula tertutup rapat dan hanya menyisakan mereka berdua, barulah Han Seol mulai merencanakan strategi rahasianya yang sebenarnya.
Han Seol melangkah perlahan, memandangi dekorasi istana sebelum pandangan matanya mengunci lurus pada raga dukun Choi. Ia mulai memancing batin sang Ratu dengan kalimat yang sarat akan umpan.
"Yang Mulia, dengan kekuatan besar dari Batu Es yang bersemayam di dalam tubuhku saat ini... aku bisa melakukan apa saja yang kukehendaki di dunia ini. Bahkan, jika aku mau, aku bisa mengabulkan apa saja yang menjadi keinginan terbesarmu," pancing Han Seol dengan nada suara yang tenang namun memikat.
Mendengar tawaran yang teramat menggiurkan itu, sang Ratu seketika langsung terpancing oleh ambisi pribadinya. Matanya berkilat penuh harap. Ia condong ke depan dan berbisik serak, "Jika kau memang bisa melakukan apa saja... pindahkan jiwaku dari raga dukun Choi yang busuk ini ke dalam tubuh orang lain yang lebih muda dan cantik, Han Seol! Lakukan itu untukku!"
Ratu melanjutkan dengan napas memburu, membongkar rahasianya sendiri tanpa sadar. "Jika kau bersedia memindahkan jiwaku sekarang, aku bersumpah tidak perlu lagi terlibat di dalam sebuah rencana rumit bersama Jin Wu untuk menurunkan Batu Es baru dari langit! Kau tahu sendiri, Batu Es hanya akan turun jika dunia ini sedang dilanda bencana kekeringan yang hebat!"
“Kekeringan,” batin Han Seol, sebuah senyuman getir yang sangat tipis terukir di sudut bibirnya.
Mendengar pengakuan frontal tersebut, Han Seol akhirnya tahu secara mutlak bahwa seluruh rencana jahat sang Ratu dan juga Jin Wu untuk menguasai benteng Jinyowon selama ini adalah terkait dengan pencurian artefak suci yang bisa memicu bencana kekeringan massal demi memanggil Batu Es baru.
Han Seol menegakkan tubuhnya, tatapan matanya seketika berubah menjadi teramat dingin dan mengintimidasi, memadamkan seluruh harapan di wajah sang Ratu.
"Mendengar hal itu... aku tegaskan kepadamu, Yang Mulia, bahwa aku sama sekali tidak peduli dengan rencana bencana kekeringan yang sedang kalian susun."
Han Seol maju satu langkah, menekan atmosfer ruangan hingga sang Ratu merasa sesak napas. "Namun, dengarkan ini baik-baik. Aku bersumpah akan menggunakan seluruh kekuatan Batu Es di dalam diriku dengan sesuka hati untuk menghancurkan siapa saja... jika ada orang yang berani mengusik keselamatan orang-orang terdekat di sekelilingku. Dan apa yang kukatakan barusan..." Han Seol membalikkan tubuhnya, bersiap pergi. "...supaya disampaikan dengan sangat jelas kepada kolegamu yang licik itu. Jin Wu."
****
Di luar koridor istana yang megah, Jin So Hwa sedang berdiri menanti dengan cemas. Begitu melihat Han Seol keluar, ia segera menyusul langkah kaki suaminya. Saat mereka berjalan di area taman istana yang sepi, So Hwa akhirnya bisa mengutarakan apa yang mengganjal di hatinya sejak kemarin.
"Han Seol, terima kasih," ucap Jin So Hwa dengan tulus, menatap wajah pria di sampingnya. "Terima kasih karena kau sudah pergi ke Jinyowon dan memusnahkan alat kendali benang sihir yang menyiksaku."
Han Seol tidak menjawab, ia tetap berjalan lurus ke depan. Melihat respon dingin tersebut, didorong oleh rasa haru yang meluap, Jin So Hwa dengan nekat mengulurkan tangannya dan menautkan jemarinya erat-erat ke dalam genggaman tangan Han Seol.
DEG!
Sentuhan kulit yang halus itu seketika memicu gelombang emosi yang dahsyat di dalam ingatan Han Seol. Pikirannya langsung terlempar secara paksa ke masa lalu bersama Seol Ah.
Pasalnya, dulu sekali, di bawah saksi malam yang indah, Han Seol pernah mengucapkan sumpah yang sakral bahwa ia hanya akan menautkan jemari tangannya dengan tangan Seol Ah seorang, tidak dengan wanita lain di dunia ini.
Alhasil, tautan tangan Jin So Hwa pun kembali membuat hati Han Seol dihantam rasa sedih dan bersalah yang teramat mendalam kepada mendiang kekasihnya.
Dengan gerakan yang terkesan kasar dan terburu-buru, Han Seol langsung menyentak dan melepas paksa genggaman tangan So Hwa, lalu mempercepat langkah kakinya dengan raut wajah yang menggelap.
Sesampainya mereka kembali di kediaman keluarga Han, suasana hangat pagi tadi telah berubah menjadi kaku. Jin So Hwa yang merasa frustrasi karena terus-menerus ditolak, mencoba memperjelas situasinya. Ia melangkah menghadang Han Seol di ruang tengah dan memperparah keadaan dengan menceritakan kilasan ingatan yang mengganggunya sejak pagi.
"Han Seol, kenapa kau selalu menghindar?!" seru Jin So Hwa dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ingatan-ingatan yang muncul di kepalaku... semuanya terlihat sangat jelas dan nyata seperti ingatanku sendiri! Aku melihat bagaimana kita saling tertawa, bagaimana kita berbagi rasa... itu adalah memoriku!"
Sontak saja, Han Seol yang mendengar klaim tersebut justru menjadi tambah kesal dan murka pada Jin So Hwa. Baginya, So Hwa hanyalah meniru dan membaca rekaman emosi dari giok peninggalan Seol Ah.
Bahkan, saking kesalnya karena merasa kesucian memorinya bersama Seol Ah sedang diusik, Han Seol menatap So Hwa dengan pandangan membunuh.
"Cukup, Jin So Hwa! Jika kau kembali mengingat sesuatu dari giok itu, lakukan saja apa pun yang kau mau! Tapi jangan pernah mengatakannya di depanku!" tekan Han Seol dengan suara bergetar menahan amarah batinnya.
"Kau harus tahu... apa pun yang kau lakukan di hadapanku terkait ingatan-ingatan itu, hanya akan membuat hatiku hancur berkeping-keping karena terus-menerus dipaksa mengingat Seol Ah yang telah tiada!"
Setelah menumpahkan kemarahannya, Han Seol berbalik dan berjalan masuk ke dalam ruang kerjanya, membanting pintu dengan keras.
Jin So Hwa berdiri mematung di tengah ruangan yang sunyi. Air matanya akhirnya menetes perlahan membasahi pipinya. Mendengar kata-kata kasar yang keluar langsung dari mulut Han Seol barusan, ia bisa merasakan dengan sangat jelas dan perih bahwa posisi Seol Ah di dalam lubuk hati pria itu benar-benar teramat kuat dan belum tergantikan oleh kehadirannya sedikit pun. Ia hanyalah bayang-bayang yang mengganggu sebuah duka.
****
Beberapa saat kemudian, di tengah suasana rumah yang masih diliputi kecanggungan, sebuah ketukan terdengar di gerbang depan. Jin Hwa Young, sang ibu pemimpin Jinyowon, datang berkunjung untuk menemui Jin So Hwa secara langsung.
Keduanya kini duduk berhadapan di paviliun samping. Namun, bukan hanya untuk menanyai kabar kesehatan atau berbasa-basi mengenai insiden kemarin malam, Jin Hwa Young ternyata datang membawa sebuah penawaran baru. Ia menatap putri sulung palsunya itu dengan gurat wajah yang melunak.
"So Hwa, pulanglah bersamaku ke Jinyowon," ajak Jin Hwa Young, suaranya terdengar tulus tanpa intrik. "Ibu berjanji di hadapanmu hari ini... jika kau bersedia kembali, Ibu tidak akan pernah lagi mengurungmu di dalam paviliun gelap, dan Ibu juga tidak akan pernah memaksamu untuk menikah dengan pria pilihan keluarga Baek atau siapa pun."
Mendengar janji kebebasan yang selama ini sangat ia dambakan, Jin So Hwa terdiam sejenak. Namun, pandangan matanya beralih menatap ke arah pintu rumah Han Seol. Gadis itu menarik napas dalam-dalam. Meskipun ia tahu bahwa sampai detik ini perasaannya belum terbalas dan ia sering mendapatkan perlakuan dingin, Jin So Hwa sadar bahwa ia sudah terlanjur jatuh cinta teramat dalam kepada Han Seol.
"Maafkan aku, Ibu," jawab Jin So Hwa dengan nada suara yang teguh dan mantap. "Aku memilih untuk tetap tinggal di sini. Aku ingin berada di rumah ini, di samping Han Seol."
Mendengar keteguhan hati yang luar biasa dari putri sulungnya yang lebih memilih menderita di samping sang Penyihir Agung dibandingkan pulang ke rumah mewah, Jin Hwa Young akhirnya menghela napas panjang. Ego besarnya runtuh. Ia mengalah dan memutuskan untuk memberikan restu resmi atas pernikahan mereka berdua.
"Baiklah jika itu sudah menjadi keputusan bulatmu," ucap Jin Hwa Young, merapikan pakaiannya sembari berdiri. "Namun meski begitu, aku memberikan satu syarat mutlak yang harus kalian penuhi. Kau bersama Han Seol harus datang langsung ke benteng Jinyowon untuk meminta restu dan melakukan penghormatan secara resmi kepadaku sebagai ibumu."
Setelah mengucapkan syarat tersebut, Jin Hwa Young pun berbalik pergi meninggalkan kediaman Han bersama rombongannya.
Sepeninggal ibunya, Jin So Hwa kembali terduduk dengan lemas di kursinya. Raut wajahnya berubah menjadi sangat pesimis dan putus asa. Syarat dari ibunya terasa seperti sebuah kemustahilan yang teramat besar baginya.
So Hwa tahu betul watak suaminya; Han Seol bukanlah tipe orang yang mau merendahkan dirinya atau membungkuk meminta restu kepada orang lain, terlebih kepada pihak Jinyowon yang sangat ia benci. Belum lagi, Han Seol adalah pria yang sangat jarang pulang ke rumah dan selalu sibuk memburu pemindah jiwa, sehingga untuk sekadar bertemu dan berkomunikasi dengannya saja rasanya sudah teramat sulit bagi So Hwa saat ini.