Retna tak pernah menyangka rumah tangga yang mati-matian ia pertahankan akan berakhir dalam satu keputusan kejam: perceraian. Atas desakan suami dan ibu mertuanya, ia diusir dari rumah, seolah seluruh pengorbanan, cinta, dan tahun-tahun yang ia jalani bersama keluarga itu tak pernah berarti.
Dengan hati hancur, Retna bersumpah tak akan lagi percaya kepada laki-laki. Baginya, cinta hanyalah pintu menuju luka yang lebih dalam.
Namun, ketika ia memilih mengunci rapat hatinya, seorang pria asing justru hadir membawa kehangatan yang belum pernah ia rasakan. Pria yang dijulukinya “Mas Bule” itu memperlakukannya dengan tulus, penuh perhatian, dan kasih sayang—perlahan menggoyahkan sumpah yang selama ini ia pegang.
Di antara trauma masa lalu dan harapan yang mulai tumbuh, mampukah Retna kembali membuka hati? Ataukah pria asing itu benar-benar hadir sebagai penyembuh luka sekaligus jodoh yang selama ini diam-diam menunggunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 - Mulai Serius
Pagi datang lebih cepat dari yang Retna harapkan.
Sejak membuka mata, pikirannya langsung teringat pada kejadian semalam.
Pengakuan Nathan.
Pelukan itu.
Dan kecupan lembut yang masih membuat wajahnya terasa panas setiap kali mengingatnya.
Retna menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya.
"Astaga..."
Ia menghela napas panjang.
Kenapa laki-laki itu harus datang ke kamarnya tengah malam?
Kenapa harus mengatakan semua perasaannya saat Retna bahkan belum siap?
Dan yang paling membuatnya bingung...
Kenapa hatinya justru terasa bahagia?
Retna segera bangun dan memaksa dirinya berhenti memikirkan hal itu.
Ia bersiap seperti biasa, lalu keluar kamar.
Namun baru beberapa langkah menuju dapur, Retna berhenti.
Nathan sudah ada di sana.
Pria itu sedang duduk menikmati kopi paginya.
Begitu melihat Retna, Nathan langsung mengangkat wajah.
"Selamat pagi."
Retna mendadak salah tingkah.
"Pa... pagi, Mas."
Nathan tersenyum.
"Apa tidurmu nyenyak?"
Pertanyaan sederhana itu justru membuat Retna semakin gugup.
"I..Iya."
Padahal sebenarnya ia hampir tidak tidur semalaman.
Nathan seolah tahu jawabannya tidak sepenuhnya benar, tetapi tidak memaksanya.
"Bagus."
Retna segera menuju dapur.
Biasanya ia akan langsung menyiapkan sarapan tanpa banyak bicara.
Namun pagi itu tangannya terasa canggung.
Bahkan ketika mengambil gelas saja, ia hampir menjatuhkannya.
Nathan yang melihat dari meja langsung berdiri.
"Hati-hati."
"Saya tidak apa-apa."
Retna buru-buru mengambil gelas itu.
Nathan mendekat.
"Retna."
Perempuan itu berhenti.
"Ya?"
"Soal semalam..."
Wajah Retna langsung memerah.
"Mas..."
"Aku cuma ingin memastikan kamu tidak merasa terpaksa."
Retna terdiam.
Nathan menatapnya serius.
"Aku memang mengatakan perasaanku. Aku juga memeluk dan mencium kamu."
Retna semakin menunduk.
"Tapi aku tidak ingin kamu berpikir bahwa setelah itu kamu harus membalas perasaanku."
Retna perlahan mengangkat wajah.
Nathan tersenyum lembut.
"Aku bisa menunggu."
Kalimat itu membuat dada Retna terasa hangat.
"Mas tidak menyesal?"
"Menyesal?"
Nathan menggeleng.
"Tidak."
"Tapi Mas bilang sebelumnya kita harus melupakan semuanya."
"Aku salah."
Nathan menjawab tanpa ragu.
"Aku terlalu takut dengan perasaanku sendiri."
Retna terdiam.
Nathan melanjutkan,
"Dan sekarang aku sadar, semakin aku mencoba menjauh, semakin aku ingin berada di dekatmu."
Retna tidak tahu harus menjawab apa.
"Jadi mulai sekarang, aku akan jujur."
"Jujur bagaimana?"
Nathan tersenyum.
"Kalau aku ingin mengajakmu makan, aku akan bilang aku ingin makan bersamamu."
Retna menahan senyum.
"Kalau aku khawatir, aku akan mengatakannya."
Nathan melangkah sedikit mendekat.
"Dan kalau aku rindu..."
Retna langsung menatapnya.
Nathan tersenyum kecil.
"Aku juga akan bilang."
Retna buru-buru memalingkan wajah.
"Mas Nathan..."
Nathan tertawa pelan.
"Aku cuma bercanda."
"Mas suka sekali membuat saya bingung."
"Karena kamu lucu kalau sedang bingung."
Retna langsung menatapnya dengan wajah kesal.
"Saya serius."
"Aku juga serius."
Keduanya terdiam.
Namun kali ini keheningan itu terasa berbeda.
Tidak canggung seperti sebelumnya.
Justru ada kehangatan yang perlahan tumbuh di antara mereka.
Setelah sarapan selesai, Retna membawa piring ke dapur.
Nathan masih memperhatikannya.
"Retna."
"Hmm?"
"Besok ikut aku."
"Mau ke mana?"
"Aku ingin mengajakmu keluar."
Retna mengerutkan kening.
"Untuk apa?"
"Makan malam."
Retna tersenyum kecil.
"Mas kan bisa pergi sendiri."
Nathan menggeleng.
"Aku ingin pergi bersamamu."
Retna kembali terdiam.
Dulu ia selalu menganggap setiap ajakan Nathan sebagai bagian dari pekerjaannya.
Namun sekarang semuanya terasa berbeda.
Ia tidak lagi tahu apakah dirinya sedang diajak sebagai seorang pekerja...
atau sebagai perempuan yang disukai oleh seorang pria.
"Kalau saya menolak?"
Nathan tersenyum.
"Aku akan bertanya lagi."
Retna tertawa kecil.
"Mas keras kepala."
"Kalau soal kamu, mungkin iya."
Senyum Retna perlahan menghilang.
Bukan karena tidak senang.
Justru karena kalimat sederhana itu membuat hatinya berdebar.
Nathan kemudian mengambil jaketnya.
"Aku pergi dulu."
Retna mengangguk.
"Hati-hati."
Nathan berhenti.
Ia menoleh.
"Tadi kamu bilang apa?"
Retna bingung.
"Saya bilang hati-hati."
Nathan tersenyum lebar.
"Biasanya kamu cuma bilang, 'Selamat bekerja, Mas.'"
Retna langsung salah tingkah.
"Itu... kebetulan saja."
Nathan mendekat beberapa langkah.
"Kalau begitu, aku suka kebetulan seperti itu."
Retna menahan senyum.
Nathan kemudian pergi.
Namun sebelum pintu tertutup, ia kembali menoleh.
"Retna."
"Iya?"
"Aku serius dengan yang aku katakan semalam."
Retna terdiam.
"Aku tidak ingin kamu merasa harus menjawab sekarang."
Nathan tersenyum.
"Tapi aku juga tidak akan lagi menyembunyikan bahwa aku menyukaimu."
Pintu akhirnya tertutup.
Retna berdiri seorang diri di ruang tengah.
Tangannya menempel di dada.
Jantungnya kembali berdetak cepat.
Ia menggeleng pelan.
"Kenapa sekarang Mas Nathan jadi seperti ini?"
Namun diam-diam bibirnya melengkung membentuk senyum.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Retna merasa ada seseorang yang melihat dirinya bukan berdasarkan masa lalu.
Bukan berdasarkan kegagalannya sebagai seorang istri.
Bukan berdasarkan pekerjaannya.
Nathan melihatnya sebagai Retna.
Seorang perempuan yang pantas disayangi.
Dan meskipun ia masih takut membuka hati...
perlahan, dinding yang selama ini ia bangun mulai retak.