NovelToon NovelToon
Dendam Salah Alamat

Dendam Salah Alamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mardzan J.

Pernikahan Nadira Alesya batal di depan mata ketika calon suaminya melarikan diri demi menikahi wanita lain. Terluka dan dipenuhi dendam, Nadira tak menyangka justru harus menikah dengan Rayzan Arjunawan, saudara dari pria yang telah meninggalkannya. Bagi Nadira, Rayzan hanyalah penebus dosa atas penghinaan yang ia terima.

Namun, Rayzan menghadapi sikap Nadira dengan kesabaran dan ketulusan. Perlahan, pernikahan yang awalnya dibangun atas dendam berubah menjadi sesuatu yang tak pernah Nadira rencanakan. Laki-laki yang seharusnya menjadi alat balas dendam justru membuat hatinya jatuh cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardzan J., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu Tak Diundang

Malam hari tiba. Rayzan sedang duduk di sofa ruang tamu. Sedari tadi ia tidak mengobrol dengan istrinya sendiri karena Nadira sudah mengurung diri di dalam kamar mereka.

Merasa sudah tidak tahan lagi, Rayzan melemparkan bantal ke sofa, kemudian beranjak dari tempat duduknya dan melangkahkan kaki menuju kamar Nadira.

Namun, belum sempat tangannya menggenggam gagang pintu, pintu kamar tersebut sudah terbuka. Seorang wanita dengan baju tidur berwarna merah menyala muncul di hadapannya, membuat Rayzan menelan ludah.

“Apa? Jangan macam-macam kamu.”

Rayzan segera menggelengkan kepala untuk mengusir pikiran aneh yang sempat melintas di benaknya.

“Aku lapar.”

“Kalau lapar, ya makan. Ngapain cari aku? Aneh!”

“Aku mau makan. Aku udah nggak tahan. Aku benar-benar lapar.”

“Lihat aja di dapur. Makan apa yang ada.”

“Nadira, please ... Apa perlu aku bersujud di kakimu untuk meminta makan?” tanya Rayzan. “Kalau aku tau memasak, aku nggak akan minta bantuan kamu.”

“Ya ampun ... Aku bukan pembantumu.”

Rayzan mengembuskan napas sejenak. “Kamu nggak mau masakin makanan buat aku?”

“Aku nggak mau.”

“Aku suamimu. Sekarang aku lapar.”

“Aku nggak mau!” ucap Nadira tegas sambil melotot ke arah Rayzan.

Rayzan tersenyum simpul. Kemudian ia membalikkan badan dan berjalan ke arah dapur sambil menyeka air mata yang hampir jatuh.

“Kita lihat siapa yang akan mengalah,” batin Rayzan sambil melangkah pergi.

Deg!

Nadira meletakkan telapak tangannya di dada.

“Apa aku sekejam ini?”

“Nggak, Nadira. Kamu juga pernah menolong orang yang kelaparan di jalan.”

“Setidaknya kalau kamu nggak mau menganggap dia sebagai suami, anggap saja dia sebagai pengemis yang sering kamu temui di jalan untuk meminta makan.”

Nadira akhirnya berlari mengejar Rayzan. Di dapur, ia melihat lelaki itu sedang menyiapkan nasi.

“Kamu mau ngapain?”

“Aku udah bilang tadi, aku benar-benar lapar. Kamu nggak lihat tanganku?”

Nadira memperhatikan telapak tangan lelaki itu yang terlihat bergetar.

“Kalau kamu nggak ikhlas aku makan di sini, aku akan pulang ke rumah. Umi pasti nggak akan membiarkan anaknya seperti ini.”

“Kamu mau makan apa?” tanya Nadira.

“Terperangkap lagi,” batin Rayzan.

Rayzan terlihat kebingungan hingga mengernyitkan keningnya.

“Aku makan nasi aja.”

Nadira berdecak kesal.

“Aku bukan tanya itu. Aku tanya kamu mau apa biar aku masakin.”

“Kamu mau masak buat aku?”

“Jangan sampai aku berubah pikiran!” ucap Nadira.

Rayzan menggelengkan kepalanya. Kemudian ia mengambil nasi tanpa memperdulikan sang istri.

“Ha!” Nadira heran karena tawarannya justru diabaikan begitu saja.

Dengan gerakan cepat, ia menutup rice cooker.

“Kamu nggak dengar apa yang aku tanya tadi?”

“Apa kamu ikhlas membantu aku? Nggak perlu, Nadira. Kamu sudah capek masak, tapi pahala nggak kamu dapatkan.”

“Ya Tuhan, lelaki ini.” Nadira menghela napas. “Aku ikhlas, sayang.”

Wanita itu menampilkan senyum terpaksa.

“Oke ... Karena kamu sudah manggil aku sayang, aku nggak akan meminta yang berat-berat. Aku mau kamu masakin apa yang ada aja.”

“Nggak mau request?” tanya Nadira.

“Kamu adalah istriku. Apa pun yang kamu masak akan aku makan tanpa request apa pun.”

“Romantis,” ujar Nadira sambil memiringkan bibirnya. “Udah sana. Aku mau masak dulu.”

“Iya, sayang.”

[] [] []

Di tempat lain, Ozan dan putranya sedang berada di salah satu ruangan. Banyak urusan kantor yang cukup terbengkalai karena Rayzan sudah jarang masuk.

“Kamu rasa Rayzan lagi ada masalah nggak, ya? Secara, dia sudah jarang masuk kantor. Dihubungi juga susah.”

“Ayah ... Sebenarnya aku nggak yakin kalau pernikahan mereka bahagia. Aku malah takut kalau keluarga mereka mencelakai Rayzan.”

Tiba-tiba saja Ozan tertawa geli. Tuduhan dari putra pertamanya itu sungguh di luar nalar.

“Kamu jangan aneh-aneh. Mana mungkin Rayzan celaka di rumah itu.”

“Iya, Yah ... Seperti waktu itu, Rayzan—”

Daulat langsung memalingkan wajahnya. Hampir saja ia keceplosan tentang kondisi Rayzan yang sebelumnya pernah masuk rumah sakit akibat ulah Nadira.

“Waktu itu?” Ozan menaikkan sebelah alisnya.

“Waktu itu ... Hmm, waktu Aku membatalkan pernikahan sama Nadira. Aku takut kalau Rayzan akan dicelakakan oleh Nadira.”

“Pikiran kamu itu sudah terlalu berlebihan. Rayzan laki-laki. Nggak mungkin dia membiarkan Nadira melukainya,” ucap Ozan. “Kecuali kamu!”

“Kamu aja rela membiarkan Rayzan terus-terusan dapat masalah.”

“Maafin aku ya, Pa.”

[] [] []

Setelah belasan menit berlalu, Nadira menatap makanan yang telah selesai dimasaknya dengan senyuman manis.

“Oke ... Waktunya memanggil suami, eh!”

“Arghhh!!!”

Nadira kesal sendiri mendengar ucapannya. Kemudian ia segera memanggil sang suami sambil berjalan ke arah ruang tamu.

“Katanya lapar, tapi malah tidur.”

Nadira semakin mendekati lelaki itu. Saat ia hendak menarik lengan suaminya, Rayzan tiba-tiba bergerak hingga wajah mereka berhadapan begitu dekat.

Hal itu membuat Nadira merasa iba.

“Wajahnya kelihatan capek banget. Pasti lagi banyak pikiran. Salah sendiri sih, cari masalah sama aku.”

Tok! Tok! Tok!

Ketukan pintu dari luar membuat Rayzan terbangun dari tidurnya. Ia kaget saat menyadari Nadira berada begitu dekat. Lelaki itu segera memberi jarak di antara mereka.

“Ya ampun, Nadira!” ucap Rayzan sambil mengusap wajahnya kasar. “Kamu ngapain ngagetin aku?”

“Siapa yang ngagetin, coba? Aku mau bangunin kamu. Makanannya sudah selesai.”

“Bilang aja kamu mau bangunin aku dengan cara mencium aku, kan?”

Plak!

Rayzan mendapatkan pukulan di lengannya.

“Apaan, sih!”

Tok! Tok! Tok!

“Siapa yang datang, ya?” tanya Rayzan.

“Sebentar, aku buka dulu. Kamu langsung makan aja.”

“Hmm, oke!”

Nadira membuka pintu rumah. Saat Rayzan menoleh sekilas, lelaki itu langsung membulatkan matanya ketika melihat seseorang yang dikenalnya datang bertamu.

“Meidra.”

“Rayzan mana? Aku mau ketemu dia.”

Ketika Meidra menoleh ke arah dalam rumah, ia melihat Rayzan berdiri tidak jauh dari mereka. Meidra kemudian menggeser tubuh Nadira dan langsung masuk ke dalam.

“Sayang.”

Meidra tanpa segan langsung memeluk Rayzan. “Kenapa kamu menikah sama Nadira, hiks?”

“Hei.” Rayzan segera melepaskan pelukan itu. Kemudian ia menangkup wajah Meidra. “Maafin aku. Aku sudah bikin kamu kecewa.”

“Terus gimana dengan aku sekarang? Aku nggak tahu harus sama siapa lagi.”

“Aku masih ada. Kapan pun kamu bisa bercerita sama aku. Tapi untuk menjalani hubungan lagi, rasanya sudah nggak bisa. Aku sudah punya istri sekarang.”

“Aku mau kamu nikahin aku. Aku tahu kamu nggak cinta sama dia. Aku nggak peduli kalau harus jadi istri kedua.”

Nadira menarik tangan Meidra dan menampar wajah wanita itu.

Plak!

“Rayzan nggak akan menikah dengan siapa pun lagi. Dia adalah suamiku. Aku nggak akan mengizinkan dia memiliki istri kedua,” ucap Nadira sambil menatap tajam ke arah Meidra.

Pada dasarnya, ia memang membenci wanita itu.

“Kamu ngapain nampar Meidra?”

“Aku nggak suka sama ucapannya,” ujar Nadira membela diri. “Kamu harus ingat! Kamu bilang kamu nggak akan menceraikan aku, kan? Oke, aku juga nggak akan membiarkan kamu menikah dengan wanita ini.”

“Rayzan! Kamu nggak perlu mengikuti kata-kata Nadira. Dia ini bukan perempuan baik-baik. Dia sudah nggak perawan.”

Deg!

Nadira memundurkan tubuhnya satu langkah. Rasanya sakit sekali saat Meidra mengatakan hal itu. Perempuan yang pernah dekat dengannya itu kini terang-terangan menyerang harga dirinya.

“Nggak ada yang spesial dari Nadira. Dia adalah bekas pria lain.”

“Kamu pulang sekarang!”

“Kamu ngusir aku?” tanya Meidra.

“Aku nggak suka kamu menghina Nadira seperti itu,” ujar Rayzan.

“Itu kenyataannya, Rayzan. Perempuan yang menjadi istrimu ini bukan perempuan suci.”

Rayzan pun menarik lengan Meidra dan membawanya keluar dari rumah.

“Pergi! Aku nggak menyangka perempuan yang aku kenal bisa berkata buruk tentang orang lain.”

“Kamu jahat, Rayzan. Kamu sudah berubah.”

“Aku nggak berubah, Mei. Kamu yang berubah ... Kamu harus tahu, walaupun aku nggak cinta sama Nadira, aku nggak akan mengkhianati janjiku pada Umi. Nadira akan menjadi istriku untuk yang pertama dan terakhir.”

Plak!

Kini Rayzan mendapatkan tamparan dari Meidra.

Wanita itu sangat kecewa kepada Rayzan. Hubungan mereka kandas begitu saja, padahal sebelumnya tidak pernah ada permasalahan besar di antara mereka.

1
Rian Moontero
mampiirr👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!