NovelToon NovelToon
System Penyesalan Seorang Ibu.

System Penyesalan Seorang Ibu.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Reinkarnasi
Popularitas:361
Nilai: 5
Nama Author: james 9870

Dendam membuat Clara menukar bayinya dengan bayi sahabat yang mengkhianatinya. Ia membesarkan anak musuhnya dalam penderitaan, sementara sang musuh membesarkan darah daging Clara dalam kebohongan.
Belasan tahun kemudian, ego dan intrik kotor mereka memicu kutukan berdarah. Tanpa sadar, kedua ibu ini justru merancang neraka yang menghancurkan nyawa anak Dan diri mereka sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon james 9870, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 — Dua Jam yang Mengubah Dunia

​Sejak hari pesta ulang tahun itu, ada sesuatu yang bergeser secara perlahan namun pasti dalam poros kehidupan Maya. Bukan perubahan besar yang dramatis seperti menang lotre atau pindah rumah, melainkan sebuah perubahan kecil dari sebuah rutinitas.

​Setiap kali bel tanda usainya jam sekolah berbunyi nyaring, Maya tidak lagi hanya berdiri sendirian dengan ember pel, menatap nanar ke arah gerbang menunggu ibunya kembali dari 'waktu dua jam' kehilangannya.

​Kini, setiap pukul satu siang, sebuah mobil sedan hitam akan berhenti sedikit menjauh dari gerbang sekolah. Kaca jendelanya akan turun perlahan, dan wajah Elena yang tersenyum lebar akan menyembul keluar.

​"Maya! Cepat!" panggil Elena, suaranya tertahan agar tidak menarik perhatian guru-guru yang tersisa.

​Maya, yang sudah selesai menyembunyikan alat pelnya, akan berlari kecil dengan jantung berdebar-debar karena sensasi melanggar aturan, lalu melompat masuk ke dalam mobil.

​"Ibu belum pulang, kan?" tanya Elena memastikan, meski ia sudah hafal polanya.

​Maya menoleh ke belakang, menatap jalanan yang kosong. "Belum. Kita punya waktu sebelum Ibu menjemputku."

​Elena bersorak kecil, menyuruh sopirnya melaju.

​Mereka tidak pernah pergi terlalu jauh atau melakukan hal yang mewah. Sebagian besar waktu dua jam itu mereka habiskan di rumah keluarga Danendra yang bagaikan istana.

​Bagi Elena, membawa Maya ke rumahnya adalah sebuah kesenangan sederhana. Namun bagi Maya, dua jam yang ia habiskan di rumah megah itu adalah satu-satunya momen dalam hidupnya di mana ia bisa bernapas tanpa merasa takut. Selama dua jam itu, ia tidak merasa miskin, ia tidak merasa lapar, dan yang terpenting, ia tidak harus berjalan berjingkat-jingkat takut memancing kemarahan ibunya. Selama dua jam itu, ia diizinkan menjadi anak berusia tujuh tahun yang normal.

​Namun, mengadaptasi diri dengan kemewahan bukanlah hal yang mudah bagi anak yang dibesarkan oleh tamparan kemiskinan.

​Pada hari-hari pertamanya masuk ke dalam rumah keluarga Danendra, Maya selalu terlihat kaku dan penuh kehati-hatian. Ketika Elena mengajaknya duduk di ruang keluarga untuk menonton film kartun, Maya menolak duduk di tengah sofa.

​"Maya, duduk sini di sebelahku!" tepuk Elena pada bantal sofa berbahan beludru Italia yang sangat empuk.

​Maya menggeleng pelan. Ia memilih duduk di ujung paling pinggir dari sofa itu, memastikan hanya setengah bagian pahanya yang menyentuh bantalan sofa, sementara kedua tangannya dijepit di antara lututnya.

​Elena mengerutkan kening, merasa heran. "Kenapa kamu duduk di ujung begitu? Nanti kamu jatuh."

​"Supaya sofamu tidak kotor, Elena," jawab Maya dengan nada sangat serius, menatap celananya yang berdebu akibat menyapu koridor. "Kalau aku duduk di tengah, nanti kotorannya menempel. Ibuku tidak akan bisa mencuci sofa sebesar ini."

​Elena menghela napas panjang, lalu dengan paksa menarik tangan Maya hingga gadis itu terseret ke tengah sofa dan jatuh ke atas tumpukan bantal empuk. "Kamu ini aneh sekali, Maya! Sofanya tidak akan marah kalau kotor. Kalau kotor, nanti bi Bibi yang bersihkan. Sekarang duduk diam dan tonton kartunnya!"

​Maya tertawa kecil, merasakan keempukan beludru di punggungnya. Lama-kelamaan, dinding pertahanan dan rasa rendah diri Maya mulai terkikis. Ia mulai bisa tertawa lepas saat Elena menceritakan lelucon, ia mulai berani mengambil camilan tanpa harus diminta tiga kali, dan ia mulai lupa bahwa dirinya sedang menyelinap ke dunia yang bukan miliknya.

​Tanpa kedua anak itu sadari, setiap sore, ada sepasang mata tua yang selalu memperhatikan mereka dari kejauhan.

​Kakek Suryo, yang memutuskan memperpanjang masa tinggalnya di kediaman keluarga putranya, menemukan sebuah hiburan baru di usia senjanya. Awalnya, ia hanya mengamati mereka dari balik pintu kaca ruang kerjanya karena tidak ingin mengganggu keseruan anak-anak. Namun, semakin sering ia melihat interaksi mereka, semakin Kakek Suryo merasa takjub dan ditarik oleh pesona aneh gadis kecil berpakaian kusam itu.

​Kakek Suryo memperhatikan kebiasaan-kebiasaan kecil Maya yang sangat tidak biasa untuk anak seusianya.

​Anak itu memiliki rasa tahu diri dan empati yang melampaui usianya. Jika pembantu rumah tangga membawakan nampan berisi jus jeruk dingin dan kue-kue, Maya selalu berdiri, menundukkan kepala, dan mengucapkan "Terima kasih, Bibi" dengan sangat tulus—sesuatu yang bahkan cucunya sendiri (Elena) sering lupa lakukan karena terbiasa dilayani.

​Jika ada makanan yang disajikan, Maya tidak pernah mengambil lebih dari satu potong, bahkan jika ia terlihat sangat lapar. Ia mengunyahnya pelan-pelan, seolah sedang menikmati makanan terakhir di bumi.

​Suatu sore, Kakek Suryo melihat Elena membuka sebuah paket besar yang dikirimkan oleh ibunya (Vera) yang sedang berada di luar negeri. Isinya adalah sebuah boneka porselen buatan tangan yang mengenakan gaun sutra, lengkap dengan rumah-rumahan kayunya.

​"Lihat, Maya! Bagus kan?!" Elena memamerkan boneka itu.

​Maya, yang berdiri di samping meja, menatap boneka itu dengan mata berbinar-binar penuh kekaguman. Tangan kecilnya sempat terangkat sedikit, namun segera ditariknya kembali ke belakang punggung.

​"Bagus sekali, Elena. Gaunnya berkilau," ucap Maya memuji dengan tulus, tanpa ada nada iri sedikit pun.

​Elena langsung menyodorkan boneka itu ke arah Maya. "Kamu mau pegang? Ambil saja, coba sisir rambutnya."

​Maya menggeleng cepat, melangkah mundur. "Jangan, Elena. Ini mainan mahal. Tanganku kasar, nanti merusak sutranya."

​"Ah, kamu selalu saja bilang takut merusak!" sungut Elena, meletakkan boneka itu di pangkuan Maya secara paksa. "Mainan itu dibuat untuk dimainkan, Maya, bukan untuk dilihat saja. Kalau kamu suka, nanti aku minta Mamaku belikan satu lagi untukmu."

​Maya buru-buru memeluk boneka itu dengan sangat hati-hati, seolah memeluk bayi hidup. "Jangan! Tidak perlu membelikan untukku. Bisa melihatmu memainkannya saja aku sudah sangat senang, Elena."

​Kakek Suryo yang berdiri di balik pilar ruang tengah, merasakan dadanya berdesir hangat sekaligus nyeri melihat pemandangan itu. Anak normal seusia Maya pasti akan merengek meminta mainan yang sama, atau setidaknya meminjamnya untuk dibawa pulang. Namun anak ini... ia sudah belajar untuk membatasi mimpinya agar tidak kecewa.

​Sore berikutnya, cuaca sangat cerah. Kakek Suryo memutuskan untuk keluar dan duduk di kursi rotan di taman belakang sambil membaca koran. Tak lama kemudian, Maya dan Elena berlari keluar rumah menuju halaman rumput.

​Elena yang hiperaktif sedang mengejar seekor kupu-kupu kuning besar, berlarian ke sana kemari sambil berteriak kegirangan, gaunnya berkibar-kibar berantakan. Sementara itu, Maya yang kelelahan memilih duduk bersila di atas rumput tak jauh dari kursi Kakek Suryo, memperhatikan sahabatnya dengan senyum kecil.

​Kakek Suryo melipat korannya dan menoleh ke bawah. "Kenapa kamu tidak ikut mengejar kupu-kupu, Maya?" sapa Kakek santai.

​Maya mendongak, matanya yang bulat mengerjap. Ia tersenyum sopan. "Capek, Kakek." Sejak beberapa hari yang lalu, Kakek Suryo menyuruh Maya memanggilnya 'Kakek', bukan 'Tuan', agar tidak terlalu kaku.

​"Baru berlari sebentar sudah capek?" goda Kakek Suryo sambil terkekeh pelan. "Coba lihat Elena, dia masih punya banyak energi."

​Maya menopang dagunya dengan kedua tangan, memandang Elena yang baru saja tersandung kakinya sendiri lalu bangkit lagi mengejar kupu-kupu. Dengan wajah sangat polos dan serius, Maya menjawab, "Tentu saja Elena masih kuat lari, Kek. Lari Elena itu persis seperti ayam yang sedang dikejar anjing tetangga. Cepat tapi tidak ada arahnya."

​Kakek Suryo terdiam selama dua detik mencerna perumpamaan itu.

​Lalu, sebuah tawa besar dan lepas—tawa yang belum pernah ia keluarkan selama bertahun-tahun sejak masalah bisnis merongrong kepalanya—meledak dari dada pria tua itu. Ia tertawa terbahak-bahak hingga harus memegang perutnya. Perumpamaan yang keluar dari mulut anak berusia tujuh tahun yang hidup di jalanan itu terdengar sangat otentik, kasar, namun luar biasa jenaka.

​Mendengar suara tawa yang keras, Elena berhenti berlari dan menghampiri mereka dengan napas tersengal. "Kakek menertawakan apa? Maya, kamu bilang apa ke Kakek?"

​Kakek Suryo mengusap air matanya yang keluar karena terlalu banyak tertawa. "Tidak apa-apa, Elena. Maya baru saja memuji kecepatan berlarimu."

​"Benarkah?" Elena berkacak pinggang, menatap Maya curiga. "Tapi aku dengar ada kata 'ayam' tadi."

​Maya buru-buru menutup mulutnya menahan senyum nakalnya. "Aku bilang... kamu gesit seperti ayam jago, Elena."

​"Oh! Tentu saja!" Elena membusungkan dadanya bangga, lalu kembali berlari mengejar kupu-kupu lain, tidak menyadari sarkasme halus sahabatnya.

​Maya dan Kakek Suryo saling bertatapan, lalu keduanya kembali tertawa bersama. Di bawah sinar matahari sore itu, Kakek Suryo menyadari satu hal: untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rumah besar tangga keluarga Danendra yang biasanya kaku dan dingin ini terasa benar-benar hidup. Dan ironisnya, nyawa dari kehangatan itu justru dibawa oleh seorang anak pembersih lantai yang bahkan tidak memiliki tanggal lahir.

​Malam harinya, Kakek Suryo duduk sendirian di ruang kerjanya yang dilapisi kayu mahoni. Lampu meja baca menyorot pudar pada sebuah buku laporan keuangan yang tidak ia baca sejak satu jam yang lalu. Pikirannya melayang pada sosok gadis kecil berkaus kusam yang tadi sore membuatnya tertawa lepas.

​Ia memanggil tangan kanannya, seorang pengurus keluarga yang sudah puluhan tahun mengabdi pada keluarga Danendra. Pria paruh baya berseragam rapi itu masuk dan menunduk hormat.

​"Ada yang bisa saya bantu, Tuan Besar?"

​Kakek Suryo menyandarkan tubuhnya ke kursi kulitnya. Jari-jarinya mengetuk meja secara perlahan. "Kamu tahu anak kecil yang sering datang ke sini bersama Elena akhir-akhir ini?"

​"Maksud Anda... Maya? Anak dari petugas kebersihan sekolah itu, Tuan?"

​"Ya. Apakah kamu punya informasi tentang keadaan keluarganya?"

​Pengurus itu menggeleng pelan. "Tidak banyak, Tuan Besar. Saya hanya mendapat laporan dari sopir yang sering mengantarnya ke gerbang sekolah. Ibunya adalah seorang janda yang bekerja serabutan, saat ini menjadi tenaga kebersihan di sekolah Nona Elena. Mereka tinggal di perkampungan padat di pinggiran kota. Hanya itu."

​Kakek Suryo mengangguk pelan, tatapannya menerawang ke luar jendela kaca, menatap kegelapan malam. Ia tidak ingin menyelidiki latar belakang kelam anak itu terlalu jauh. Menghancurkan privasi orang miskin bukanlah gayanya. Ia hanya tahu satu hal: anak cerdas, tulus, dan memiliki empati sebesar Maya tidak seharusnya menghabiskan sisa hidupnya memegang gagang pel di koridor sekolah. Anak seperti Maya layak mendapatkan dunia.

​"Dengar," suara Kakek Suryo terdengar berat dan penuh wibawa. "Mulai tahun ajaran depan, aku ingin kamu mengurus semua biaya pendidikan anak itu."

​Pengurus keluarga itu mengangkat alisnya, sedikit terkejut. Tuan besarnya ini memang dermawan, namun jarang sekali turun tangan langsung mencampuri urusan spesifik seorang anak yang baru dikenalnya beberapa hari. "Maksud Anda, Tuan Besar akan memberikan beasiswa dari yayasan kita?"

​"Bukan dari yayasan. Dari dana pribadiku," potong Kakek Suryo tegas. "Urus semua pendaftarannya di sekolah dasar yang bagus. Kalau perlu, masukkan dia ke sekolah Elena. Bayar seluruh biaya uang pangkal, SPP, buku, seragam, hingga biaya transportasi."

​"Untuk berapa lama, Tuan Besar?"

​"Sampai anak itu lulus kuliah," jawab Kakek Suryo tanpa ragu sedetik pun. "Aku ingin menanggung seluruh masa depannya."

​Pengurus itu terdiam, mencerna instruksi yang sangat besar nilainya itu. "Baik, Tuan. Namun, bagaimana jika ibunya menolak? Kebanyakan orang dari kelas ekonomi bawah memiliki harga diri yang aneh saat menerima bantuan sebesar ini secara tiba-tiba."

​Kakek Suryo menghela napas panjang. Ia sudah memikirkan hal itu. "Karena itulah aku tidak ingin bantuan ini terlihat seperti amal atau belas kasihan. Aku sendiri yang akan berbicara langsung dengan ibunya dalam beberapa hari ke depan. Aku akan memberikan alasan bahwa ini adalah bentuk terima kasih keluarga kita karena Maya telah menjadi teman yang sangat baik untuk Elena."

​Kakek Suryo menoleh ke arah foto Elena yang terpajang di mejanya, lalu kembali menatap luar jendela. "Anak seusia Maya seharusnya memikirkan pelajaran matematika dan buku cerita apa yang ingin ia baca sebelum tidur. Bukan memikirkan cara memeras kain pel atau merasa takut membuat marah ibunya. Aku hanya ingin anak itu punya kesempatan yang sama seperti cucuku."

​Di dalam ruang kerja yang sunyi itu, Kakek Suryo membuat sebuah keputusan besar dari lubuk hatinya yang terdalam. Niatnya murni lahir dari rasa iba dan kasih sayang seorang pria tua yang kesepian, yang menemukan percikan kehangatan dari seorang anak asing.

​Namun, dunia menyimpan rahasianya dengan cara yang paling kejam.

​Kakek Suryo tidak tahu bahwa niat baiknya ini akan segera memicu kepanikan luar biasa di pihak Clara. Ia tidak tahu bahwa gadis kecil berpakaian kusam yang ingin ia selamatkan nasibnya itu memiliki darah yang sama persis dengan darah yang mengalir di nadinya sendiri. Ia tidak tahu bahwa anak yang selama ini ia anggap hanya sebagai sahabat cucunya... sesungguhnya adalah cucu kandungnya sendiri yang dirampas haknya sejak napas pertama.

​Dan yang paling menyakitkan dari semua ironi ini adalah: Kakek Suryo sedang berdiri di ambang pintu kebenaran, begitu dekat hingga ia bisa menyentuhnya. Namun takdir, dengan segala benang kelamnya, belum memberikan izin padanya untuk membuka pintu tersebut.

​Untuk saat ini, Maya hanyalah Maya si anak miskin. Dan Kakek Suryo hanyalah Kakek Elena yang baik hati. Keduanya tidak tahu bahwa dua jam yang berharga ini perlahan-lahan sedang memutar roda waktu menuju sebuah perpisahan yang akan menghancurkan hati mereka semua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!