Setelah kejadian Raka menyelamatkan warga desa Ciherang dari para korporat di kota, Raka Ardian mencoba peruntungan ke kota mencari kerjaan sambil menyelidiki perusahaan yang mengambil tanah warga Ciherang.
Berbagai kejadian suka dan duka dia hadapi.
Mampukan Raka bertahan di kota yang sering kali mengabaikan rasa kemanusiaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djafar S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 REUNI SAUDARA SEPERGURUAN
Matahari pagi di kawasan Ciumbuleuit baru saja menampakkan sinarnya yang hangat, menghapus sisa-sisa ketegangan dari insiden malam-malam sebelumnya. Raka Ardian sedang menikmati secangkir kopi hitam di teras pendopo sambil merapikan gulungan jarum peraknya, ketika tiba-tiba suara derit ban mobil SUV hitam berhenti mendadak di depan gerbang kayu jati utama, disusul suara ketukan pintu yang tergesa-gesa dan tidak sabaran.
"Raka! Buka gerbangnya! Tolong aku, gawat!" teriak sebuah suara bariton yang sangat akrab di telinga Raka.
Raka mengernyit heran sejenak, lalu bergegas melangkah membukakan pintu gerbang. Belum sempat ia menyapa, sesosok pria berbadan tegap dengan jaket kulit lusuh dan rambut agak berantakan langsung menerobos masuk, merangkul pundak Raka erat-erat sambil terengah-engah sehabis berlari.
"Wah, sepupuku yang paling sakti mandraguna! Untung kau ada di rumah, kalau tidak, aku bisa jadi sate basah diincar preman pasar bayaran!" ujar pria itu heboh tanpa jeda.
Dia adalah "Arga"—saudara sepupu Raka sekaligus sesama murid pewaris utama dari aliran ilmu Welingan Sejati.
Berbeda dengan Raka yang memiliki pembawaan tenang, dingin, dan penuh perhitungan, Arga memiliki karakter yang supel, banyak bicara, ekspresif, namun menyimpan kemampuan bela diri yang luar biasa tangguh dan mematikan dalam situasi terdesak.
Belum sempat Raka menjawab sapaan heboh dari sepupunya itu, pintu mobil SUV di belakang Arga terbuka lebar. Seorang gadis berwajah oriental yang sangat cantik jelita dengan balutan mantel musim dingin modis turun dari mobil, membawa dua kantong plastik besar belanjaan di tangan kirinya sambil membungkuk sopan memberi salam khas Korea kepada Raka.
"Annyeonghaseyo... Raka-ssi?" sapa gadis itu dengan senyuman canggung namun memancarkan keramahan yang tulus. Namanya Min-ji, seorang warga negara Korea yang merupakan kekasih tercinta Arga sekaligus putri kandung dari pemilik utama perusahaan investasi kayu ramah lingkungan di Kalimantan.
Nadia, yang mendengar keributan cukup nyaring di halaman depan rumah, langsung keluar dari pintu utama dengan apron dapur masih melilit rapi di pinggangnya. Ia menatap bingung ke arah Arga dan Min-ji secara bergantian dengan sebelah alis terangkat tinggi.
"Raka, siapa mereka berdua ini? Teman seperguruanmu dari perguruan silat mana lagi yang datang mendadak? Kenapa tiba-tiba membawa cewek asing dengan belanjaan menumpuk begini?" tanya Nadia dengan nada penasaran campur rasa curiga khas seorang kekasih.
Arga langsung melepaskan rangkulannya dari Raka, menatap ke arah Nadia dengan mata berbinar-binar kagum yang berlebihan, lalu bertepuk tangan pelan. "Wah, pantas saja sepupuku ini betah tinggal di kota besar! Ternyata Raka dijaga oleh seorang bidadari galak yang luar biasa cantik jelita!" puji Arga tanpa filter sedikit pun.
Seketika itu juga, pipi Nadia bersemu merah padam karena malu bercampur sebal. Ia melotot tajam ke arah Arga, lalu beralih menatap Raka dengan tatapan menuntut penjelasan segera. Raka hanya bisa menghela napas panjang pasrah sambil tersenyum tipis menghadapi kelakuan sepupunya yang tidak pernah memiliki rem dalam berbicara.
"Nadia, perkenalkan, ini Arga, saudaraku sekaligus saudara seperguruanku," jelas Raka dengan tenang. "Dan ini Min-ji, kekasihnya dari Korea."
Min-ji buru-buru maju selangkah, membungkuk hormat kepada Nadia sambil tersenyum manis dan menyerahkan kantong plastik belanjaan yang dibawanya. "Nadia-ssi, senang berkenalan denganmu. Arga banyak sekali bercerita tentang kalian selama perjalanan. Aku sengaja membawa bahan-bahan makanan segar untuk kita masak bersama... semoga kita bisa cepat akrab."
Melihat keramahan Min-ji yang begitu tulus dan senyuman polosnya, benteng pertahanan gengsi Nadia langsung runtuh dalam sekejap. Ia balas tersenyum ramah, menerima kantong belanjaan tersebut, dan langsung melupakan sisa-sisa kekesalannya pada tingkah usil Arga.
"Ah, selamat datang di Ciumbuleuit, Min-ji! Mari masuk ke dalam rumah. Biar kubantu menyiapkan bahan di dapur. Jangan dengarkan omongan Arga tadi, dia memang dari kecil kurang minum air putih jadi suka ngelantur," ujar Nadia hangat, langsung merangkul Min-ji akrab menuju dapur rumah utama.
Di teras pendopo yang kini kembali tenang, Raka menepuk bahu Arga sambil menatap tajam sepupunya itu. "Ada masalah apa sampai kau harus lari terbirit-birit membawa Min-ji meninggalkan Kalimantan ke Bandung, Arga? Ceritakan semuanya padaku secara detail."
Senyum jenaka di wajah Arga seketika memudar, digantikan oleh ekspresi wajah yang serius, tegang, dan dipenuhi amarah terpendam. "Bisnis pengolahan kayu ramah lingkungan milik keluarga Min-ji di Borneo sedang disabotase habis-habisan oleh pengusaha lokal serakah bernama Pak Prabowo.
Dia menyewa preman bayaran, memprovokasi warga desa, dan berniat menghancurkan investasi kami secara paksa!"
Raka menyipitkan matanya tajam. Jaringan kejahatan korporasi dan premanisme rupanya belum sepenuhnya padam di negeri ini; ada tangan-tangan kotor lain yang mencoba merayap di balik investasi luar negeri. Genderang perang persaudaraan kini resmi ditabuh, siap menghantam siapa saja yang berani bermain api.