Clyrine Elamora Rexander adalah putri manja pemilik Raxenswood Academy yang memilih menyembunyikan identitasnya dan menjalani kehidupan sebagai murid pemberontak yang gemar berkelahi demi melindungi mereka yang tertindas.
Namun, kehidupan palsunya mulai runtuh ketika ia berhadapan dengan Claire, saudari tirinya yang ternyata menyimpan sisi gelap, serta Jonathan Wright, pria yang ingin memanfaatkan perjodohan mereka untuk merebut Raxenswood.
Di tengah rahasia keluarga, pengkhianatan, dan ancaman yang semakin dekat, Clyrine harus berhenti bersembunyi dan menghadapi kenyataan bahwa menjadi pewaris Raxenswood berarti mempertaruhkan segalanya.
Sebab di balik semua kekacauan itu, ada seseorang yang diam-diam telah merencanakan semuanya dari balik bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xyfvxnyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepulangan dan Tatapan Curiga
Sedan hitam milik Damien akhirnya berhenti mulus di depan gerbang tinggi kediaman keluarga Rexander. Pendar lampu taman memantulkan bayangan lampu mobil ke dinding marmer rumah megah itu. Suasana halaman depan tampak tenang, tetapi kehadiran Alaric yang sedang berdiri di dekat teras dengan cangkir kopi di tangan langsung menangkap perhatian mereka.
Clyrine menghembuskan napas panjang, merapikan sedikit poni oranye-tembaganya di cermin penumpang. "Kak Alaric beneran nungguin di luar..."
"Tenang aja," sahut Damien datar seraya mematikan mesin mobil dan melepas sabuk pengamannya. "Biar gue yang bicara.
Mereka berdua melangkah keluar dari mobil. Udara malam yang dingin menyapa kulit Clyrine. Begitu melihat siapa yang keluar dari kursi penumpang depan, mata Alaric membelalak kaget. Ia menurunkan cangkir kopinya, melangkah cepat menghampiri mereka di dekat kap mobil.
"Damien? Cly?" Alaric menatap adiknya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan kening berkerut dalam. "Lo dari mana aja jam segini baru pulang, Cly? Terus... kenapa bisa bareng Damien?"
Clyrine sempat menahan napas, refleks melirik ke arah Damien di sebelahnya.
Dengan raut wajah tenang dan berwibawa khasnya, Damien melangkah maju satu tindak, menyembunyikan kedua tangannya di dalam saku celana. "Gue yang jemput dia tadi sore, Ric. Gue ajak dia makan sekalian bantu dia belajar beberapa materi sekolah yang dia nggak paham."
Alaric menatap Damien dengan tatapan tidak percaya, lalu beralih menatap Clyrine yang sibuk menganggukkan kepala secepat kilat.
"Belajar?" Alaric terkekeh heran, menyilangkan tangan di dada. "Sejak kapan adik gue yang pembuat onar ini demen belajar? Apalagi sama lo, Dam?"
"Gue emang belajar, Kak!" potong Clyrine cepat, berusaha membuat suaranya terdengar meyakinkan. "Kak Damien pinter banget ngajarnya, beda sama guru di sekolah yang ngebosenin."
Damien menepuk pelan bahu Alaric. "Dia emang ada niat buat benerin nilainya, Ric. Tadi gue sempet tes beberapa soal dan dia cepet tanggap. Jadi gue bawa dia makan malam dulu biar nggak pingsan kelelahan."
Alaric diam sejenak, meneliti raut wajah kedua orang di hadapannya. Sebagai sahabat dekat Damien selama bertahun-tahun di kampus, ia tahu Damien bukanlah tipe pria yang suka berbohong atau mengurusi hal-hal tidak penting—apalagi soal anak sekolah. Namun, melihat kedekatan yang mendadak muncul di antara adiknya dan sahabatnya ini tetap terasa sedikit asing bagi Alaric.
"Yaudah deh kalau gitu," desah Alaric akhirnya, luluh oleh penjelasan Damien. Ia menatap Clyrine dengan raut wajah sedikit melunak. "Bagus kalau lo beneran mau berubah, Cly. Mommy dari tadi nanyain lo, cepat masuk ke dalam sebelum Daddy pulang."
"Sip! Makasih Kak Al!" seru Clyrine lega.
Sebelum melangkah masuk ke teras, Clyrine menyempatkan diri berbalik menatap Damien. Binar matanya menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga atas kebohongan manis yang berhasil menyelamatkannya malam ini.
"Makasih ya, Kak Damien... buat 'pelajarannya' hari ini," ujar Clyrine dengan cengiran tipis yang bermakna ganda.
Damien menyunggingkan sudut bibirnya amat tipis, hampir tak terlihat oleh Alaric. "Sama-sama. Jangan lupa pelajari lagi apa yang gue bilang tadi."
"Siap!"
Clyrine berbalik dan berlari kecil memasuki pintu utama rumah, meninggalkan Damien di halaman depan.
Alaric memperhatikan langkah adiknya hingga menghilang di balik pintu jati, lalu kembali menatap Damien dengan mata menyipit tajam. "Seriusan lo ngajarin dia belajar, Dam? Buka buku apa lo berdua?"
Damien hanya terkekeh rendah seraya memutar tubuh menuju pintu pengemudi mobilnya. "Nggak usah banyak tanya. Gue jalan dulu, Ric."
Sementara Clyrine melangkah masuk ke dalam rumah dengan senyum tipis yang tak mampu disembunyikan, dari lantai dua kediaman Rexander, sepasang mata menatap tajam ke arah halaman depan.
Claire Elowen Rexander berdiri di balik tirai tipis kamarnya. Dari sudut ketinggian itu, ia menyaksikan seluruh pemandangan di bawah pendar lampu taman: bagaimana Damien Vance keluar dari mobil bersama Clyrine, bagaimana pria itu pasang badan di depan Alaric, hingga cara Damien menatap saudara tirinya sebelum melaju pergi.
Claire mengepalkan tangannya rapat-rapat. Kuku-kukunya yang terawat rapi menancap kuat ke dalam telapak tangan hingga memutih.
"Kenapa harus Damien Vance?" bisiknya tajam, suaranya sarat dengan kekesalan yang tertahan.
Selama ini, Damien adalah sosok yang tak tersentuh. Damien dingin, berjarak, dan tak pernah menghiraukan siapa pun selain Alaric. Claire sudah berkali-kali mencoba menarik perhatian sahabat kakaknya itu—melempar senyum termanisnya setiap kali Damien datang bertamu, bertingkah sopan dan anggun—namun Damien selalu menanggapi dengan keformalan yang datar.
Tapi hari ini, pria yang sama berdiri di ruang BK membela Clyrine, mengajak gadis itu makan malam, bahkan berbohong demi melindunginya dari Alaric.
Clyrine cuma sampah pembuat onar, batin Claire murka, matanya berkilat penuh dengki. Kenapa semua orang yang gue incer malah berpaling ke dia?
Senyum kemenangan Clyrine saat masuk ke dalam rumah seolah menjadi tamparan keras bagi ego Claire. Saudara tirinya yang biasanya selalu kalah dan terpojok, kini pelan-pelan mulai memegang kendali.
Gigi Claire bergemelutuk. Ia membalikkan badan dan berjalan menuju cermin hiasnya, menatap wajah cantiknya yang kini terdistorsi oleh amarah murni.
"Lo pikir lo udah menang, Clyrine?" gumam Claire pelan, menyunggingkan senyum dingin yang mengerikan. "Lihat aja nanti. Gue bakal pastikan Kak Damien—dan semua orang di rumah ini—tahu siapa lo yang sebenarnya."
Sementara itu, di kamar sebelah, Clyrine menghempaskan tubuhnya ke atas kasur empuknya. Rasa lelah di seluruh ototnya mendadak menguap, berganti dengan gejolak hangat yang memenuhi dadanya.
Ia merogoh saku seragamnya, mengeluarkan kartu nama Damien, lalu menatap layar ponselnya—membayangkan foto selfie konyolnya yang kini terpasang sebagai wallpaper pria itu.
Clyrine tersenyum sendiri, memeluk bantalnya erat-erat. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa tidak lagi sendirian di dalam perang dingin keluarga ini.