Elara terjebak dalam novel–bukan sebagai pahlawan, bukan juga sebagai penjahat, melainkan selir yang bahkan namanya kerap terlupa.
Lebih dari itu, ia adalah orang yang hanya ingin hidup tenang, bermalas-malasan, bahkan terlalu malas untuk melafalkan dialog yang ditetapkan untuknya.
Oleh sebab itu, sebagai tokoh pendukung yang bangkit dari kematian, ia tak berniat menuntut balas? Ia memilih tak ikut campur sedikit pun.
Namun, bagaimana jika alur malah berbalik dan membuatnya menjadi tokoh utama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Elera duduk di kursi di seberang meja Kaisar. Ia menatap dokumen itu. Matanya fokus pada satu titik. Detik demi detik berlalu. Suara kuas Kaisar yang menggores kertas terdengar ritmis. Suara angin di luar jendela terdengar lembut.
Dan Elara melakukan apa yang paling ia kuasai.
Ia tidur.
Bukan tidur biasa. Ini adalah tidur tingkat lanjut. Napasnya melambat, matanya terpejam, dan kepalanya perlahan-lahan mulai mengangguk-angguk, sebelum akhirnya ia menyangga dagunya dengan tangan, membiarkan tubuhnya rileks sepenuhnya sambil tetap duduk tegak.
Kaisar Lucian berhenti menulis.
Ia menatap wanita di seberangnya. Elara von Clervant, selir yang seharusnya mati, yang seharusnya takut, yang seharusnya mencoba merayunya atau setidaknya terlihat canggung, kini sedang tidur mendengkur pelan di tengah Ruang Kerja Pribadi Kaisar.
Lucian menatapnya lama. Ia menunggu wanita itu terbangun karena takut. Ia menunggu pelayan di luar masuk dan menghukum wanita itu.
Tapi tidak ada yang terjadi. Ruangan itu hanya diisi oleh suara dengkuran halus Elara yang terdengar seperti kucing yang sedang bermimpi mengejar tikus.
Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun memerintah, Kaisar Lucian merasa... tenang.
Tidak ada wanita yang mencoba memancing perhatiannya. Tidak ada politik istana yang berbisik di telinganya. Hanya ada suara napas yang teratur dan wanita yang tidak peduli pada kekuasaan, kekayaan, atau dirinya.
Lucian tersenyum tipis. Ia mengambil kuasnya kembali, namun kali ini ia menulis dengan gerakan yang lebih ringan.
***
Dua jam kemudian, pintu Ruang Kerja terbuka dengan suara yang agak keras.
“Yang Mulia! Hamba membawa sarapan untuk.."
Suara itu terpotong.
Putri Mahkota Aurelia berdiri di ambang pintu, memegang nampan berisi makanan. Matanya yang indah membelalak melihat pemandangan di hadapannya.
Kaisar Lucian sedang bekerja dengan tenang. Dan di seberangnya, Selir Elara, wanita yang konon menari telanjang di atas meja mayat sedang tidur dengan mulut yang sedikit terbuka, dan ada sedikit bekas air liur di sudut bibirnya.
“Putri Mahkota,” sapa Kaisar Lucian datar, tanpa menghentikan tulisannya. “Kau terlambat.”
Aurelia menelan ludah. Ia menatap Elara, lalu menatap Kaisar. Otaknya berputar cepat.
Ini jebakan. Selir murahan ini pasti melakukan sihir. Atau dia sengaja tidur untuk menunjukkan betapa santainya dia di hadapan Kaisar, untuk memancingku marah!
“Yang Mulia…” suara Aurelia terdengar manis, namun ada nada tajam di dalamnya. “Hamba tidak bermaksud mengganggu. Hamba hanya khawatir Yang Mulia kelelahan. Dan.. Selir Elara tampaknya sangat lelah.”
Tepat pada saat itu, Elara terbangun.
Ia mengedipkan matanya beberapa kali, menyeka sudut mulutnya dengan punggung tangan, dan menatap Aurelia dengan wajah yang masih setengah sadar.
“Eh?” suara Elara serak. Ia menatap Aurelia, lalu menatap Kaisar, lalu menatap tumpukan dokumen. “Maaf… rapat direksi sudah selesai? Apakah kita sudah membahas KPI kuartal ini?”
Keheningan yang absolut menyelimuti ruangan itu.
Aurelia ternganga. “Rapat.. direksi? KPI?”
Sial. Aku salah. Aku baru saja menggunakan terminologi korporat.
Dengan cepat, Elara menjatuhkan dirinya dari kursi, berlutut di lantai, dan menundukkan kepala dalam-dalam.
“Hamba memohon ampun, Yang Mulia! Hamba… hamba masih terpengaruh racun! Otak hamba berhalusinasi! Hamba pikir hamba sedang berada di… di alam mimpi yang sangat membosankan di mana hamba harus menghitung angka-angka!”
Kaisar Lucian meletakkan kuasnya. Ia menatap Elara yang sedang bersujud di lantai, lalu menatap Aurelia yang tampak bingung dan sedikit terhina.
“Racun itu memang memengaruhi ingatan dan akal sehat,” kata Kaisar Lucian, nadanya datar namun ada nada geli yang samar. “Bangun, Elara. Putri Mahkota membawa sarapan. Makanlah sebelum kau pingsan lagi dan membuatku repot harus memanggil tabib.”
Elara mengangkat kepalanya sedikit. Matanya langsung tertuju pada nampan di tangan Aurelia. Ada roti panggang, selai buah, dan telur rebus.
“Terima kasih, Yang Mulia. Terima kasih, Putri Mahkota,” ucap Elara tulus. Bukan karena sopan santun, tapi karena perutnya benar-benar lapar.
Ia bangkit, duduk kembali di kursinya, dan tanpa menunggu dipersilakan, ia mengambil sepotong roti panggang dan menggigitnya dengan lahap.
Aurelia menatapnya dengan tatapan ngeri. Wanita ini gila. Dia pasti gila. Tidak ada wanita waras yang akan makan seperti babi kelaparan di depan Kaisar dan Putri Mahkota!
“Selir Elara..” bisik Aurelia pelan, condong ke depan. “Kau.. tidak takut pada Kaisar?”
Elara mengunyah rotinya, menelan, lalu menatap Aurelia dengan mata yang sayu.
“Putri Mahkota,” bisik Elara balik, suaranya terdengar sangat serius. “Saya takut pada banyak hal. Saya takut pada tagihan, saya takut pada nyamuk, dan saya takut pada orang yang bangun jam lima pagi. Tapi saya tidak takut pada bos yang hanya bisa duduk dan menulis. Kalau Yang Mulia mau menghukum saya, silakan. Tapi tolong jangan sekarang, saya sedang mengunyah.”
Aurelia terdiam, wajahnya berubah merah padam antara marah dan tidak percaya.
Kaisar Lucian, di sisi lain, tertawa.
Itu bukan tawa yang keras. Hanya sebuah helaian napas yang terdengar seperti tawa kecil dari dada bidangnya. Namun bagi para pelayan di luar, itu adalah keajaiban. Kaisar mereka tertawa.
“Kau benar-benar unik, Elara von Clervant,” gumam Kaisar Lucian, matanya berkilat dengan sesuatu yang berbahaya dan menarik. “Tetaplah di sisiku. Aku ingin melihat berapa lama kau bisa bertahan dengan kemalasanmu itu.”
Elara menelan rotinya yang tiba-tiba terasa seperti batu.
Astaga, batin Elara pasrah sambil menatap langit-langit. Aku tidak sedang dipromosikan. Aku sedang diadili. Dan hukumannya adalah lembur permanen.