NovelToon NovelToon
Lord Of The Gods

Lord Of The Gods

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Tamat
Popularitas:52.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Setelah mengorbankan wujud fananya untuk menyelamatkan jiwa Su Qingyue, Lin Chen hancur oleh cakar Kaisar Langit dari Ras Naga Sejati.

Sisa jiwanya yang nyaris sirna diselamatkan oleh pengorbanan umur Tian Yu yang memanggil Esensi Phoenix Abadi, mengubahnya menjadi sebuah kepompong api. Atas kehendak Tuan Istana Ujung Takdir, kepompong itu dibuang ke dunia fana murni Kerajaan Chen tempat di mana hukum kultivasi, Qi spiritual, dan ancaman dewa tidak pernah ada.

Ratusan tahun berlalu dalam keheningan, menunggu sang Penantang Langit untuk menetas kembali. Tanpa kultivasi, tanpa tombak dewa di tangannya, namun membawa fondasi fisik gabungan dari Naga, Kekacauan, dan Phoenix Abadi, Lin Chen memulai kehidupan keduanya bukan sebagai monster kehancuran, melainkan sebagai seorang pangeran fana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: Interogasi di Bawah Bulan

Pecahan kaca berserakan di atas karpet beludru yang kini ternoda oleh debu dan aura pembunuh. Di tengah Aula Bunga Persik yang hancur, Mo Yuan berdiri dengan postur sedikit membungkuk. Belati karatan di tangan kanannya meneteskan racun hitam yang mendesis saat menyentuh lantai.

Di belakangnya, Shen Lu menyarungkan kembali setengah pedangnya, mundur selangkah ke arah bayang-bayang. Ia memberikan panggung sepenuhnya kepada Mo Yuan.

"Kau berani menantangku sendirian, tikus selokan?!" raung Xue Tu. Mata merah jenius Klan Iblis Darah itu menyala seperti lentera neraka.

Tanpa menunggu balasan, Xue Tu merapal segel tangan dengan kecepatan kilat. Qi berwarna merah pekat meledak dari dalam Dantian-nya, membentuk tiga tombak darah raksasa yang melayang di udara. Bau darah yang memuakkan seketika mencekik paru-paru para pengawal fana di sekeliling aula.

Tombak Pemakan Tulang Iblis Darah!

Ketiga tombak darah itu melesat membelah udara, mengunci tiga titik mematikan di tubuh Mo Yuan. Kecepatannya melampaui suara, membawa hukum korosif yang bisa melelehkan baja spiritual sekalipun.

Namun, Mo Yuan tidak gentar. Mata abu-abunya yang dingin telah terbiasa membaca keputusasaan dan kematian sejak ia masih menjadi pengemis jalanan.

Saat tombak pertama nyaris menembus dadanya, tubuh Mo Yuan tiba-tiba meliuk dengan kelenturan yang tidak masuk akal. Ia menggunakan Teknik Langkah Bayangan, memutar tubuhnya hingga sejajar dengan lantai. Tombak pertama lewat hanya selebar sehelai rambut dari ujung hidungnya.

Tidak berhenti di situ, Mo Yuan memijakkan kakinya kuat-kuat ke pilar batu di dekatnya, menggunakan tolakan itu untuk melesat ke arah Xue Tu dengan lintasan zig-zag yang membingungkan pandangan. Tombak kedua dan ketiga menghantam lantai kosong, menciptakan ledakan kawah berdarah.

"Terlalu banyak gaya," bisik Mo Yuan, suaranya tiba-tiba terdengar langsung di telinga kiri Xue Tu.

Xue Tu membelalakkan matanya. Kapan dia mendekat?!

Jenius Iblis Darah itu secara insting memadatkan perisai darah di sisi kirinya. Namun, itu adalah tipuan mematikan! Mo Yuan tidak berada di kiri. Menggunakan gaung Qi dan ilusi bayangan, tubuh asli Mo Yuan muncul dari arah kanan atas, menukik turun dengan belati karatannya yang terhunus lurus menuju leher Xue Tu.

TRANG!

Xue Tu berhasil mengangkat lengan bajunya yang berlapis zirah duri untuk menangkis belati tersebut pada detik terakhir. Percikan api spiritual menyambar, namun racun hitam dari belati Mo Yuan berhasil menembus celah zirah dan menggores lengan Xue Tu.

Rasa kebas yang luar biasa dingin langsung merayap di meridian lengan jenius Alam Abadi itu.

"Keparat kotor! Kau menggunakan racun murahan padaku?!" Xue Tu menggeram, memaksakan Qi darahnya untuk membakar racun itu dari dalam nadinya. Ia menendang keras ke arah dada Mo Yuan.

Mo Yuan menyilangkan kedua lengannya untuk menangkis. Benturan itu memukul mundur Mo Yuan sejauh tiga tombak, namun ia mendarat dengan mulus layaknya seekor kucing hitam, tidak terluka sedikit pun.

"Dalam pertarungan hidup dan mati, tidak ada racun murahan, yang ada hanyalah musuh yang bodoh," kekeh Mo Yuan di balik topengnya.

Xue Tu merasa harga dirinya diinjak-injak hingga rata dengan tanah. Ia, jenius elit dari Alam Abadi, ditipu dan digores oleh manusia fana dari planet sampah! Urat-urat di wajahnya menonjol, dan matanya memerah sepenuhnya.

"AKU AKAN MEMBAKAR JIWA KOTORMU HINGGA MENJADI ABU!" raung Xue Tu, menggigit ujung lidahnya hingga berdarah.

Ia bersiap menggunakan teknik terlarangnya, Pengorbanan Darah. Dengan membakar esensi darahnya sendiri, ia bisa menerobos paksa segel hukum dunia fana ini selama tiga tarikan napas untuk melepaskan kekuatan Nascent Soul dan meratakan seluruh istana ini.

Namun, tepat sebelum segel darah itu terbentuk, sebuah gelombang suara yang luar biasa merdu menyapu aula, memadamkan fluktuasi Qi berdarah Xue Tu seketika.

"Tahan amarahmu, Tuan Muda Xue."

Xiao Mei, wanita dari Klan Kuno Xiao, melangkah maju. Matanya menatap Xue Tu dengan peringatan yang tajam. "Jangan membuat dirimu menjadi tontonan konyol. Kita sedang diawasi. Membakar esensi darahmu di sini hanya akan membuatmu kehilangan kualifikasi saat perburuan Roh Dunia nanti. Apa kau ingin mati konyol di tangan musuh sekte-mu saat kau melemah esok hari?"

Suara Xiao Mei yang mengandung Tubuh Iblis Penakluk Surga tidak hanya meredam amarah Xue Tu, tapi juga secara paksa menarik kewarasan pemuda itu kembali. Xue Tu terengah-engah, memandang Mo Yuan dengan kebencian yang mendidih, lalu melirik ke sekeliling, menyadari bahwa mengorbankan fondasi kultivasinya demi membunuh dua serangga lokal ini tidak sepadan.

"Kalian sangat beruntung hari ini, tikus-tikus bayangan," desis Xue Tu, menarik Qi darahnya kembali ke dalam Dantian. Ia menatap ke arah keluarga kerajaan Chen. "Dan kalian... raja semut. Nikmati sisa umur kalian. Saat perburuan dimulai, aku sendiri yang akan memenggal kepala kalian dan menghisap sumsum pangeran cilik itu!"

Dengan jubah yang berkibar marah, Xue Tu berbalik dan melesat pergi menembus atap, disusul oleh para pengawalnya.

Xiao Mei menatap Mo Yuan dan Shen Lu sejenak. Matanya menyipit, mengingat aura Aliansi Bayangan Langit di dalam ingatannya. Ia lalu melirik sekilas ke arah Lin Chen yang masih meringkuk di pelukan ibunya, sebelum akhirnya memutar tubuh indahnya dan menghilang bagaikan kelopak bunga yang tertiup angin.

Setelah para kultivator Alam Abadi itu pergi, tekanan di dalam aula akhirnya mereda.

Raja Chen dan Lin Feng menjatuhkan pedang mereka, napas mereka terengah-engah. Namun, sebelum mereka bisa berterima kasih kepada dua sosok berjubah hitam itu, Mo Yuan menyarungkan belatinya dan menatap ke arah keluarga kerajaan.

"Kami, Aliansi Bayangan Langit, tidak membela kalian. Kami hanya menyingkirkan lalat yang berisik di wilayah kami," ucap Mo Yuan dengan nada arogan yang dibuat-buat, persis seperti instruksi Lin Chen untuk menjaga jarak faksi. "Jangan pernah mencoba mencari tahu siapa kami."

Dalam satu putaran bayangan, Mo Yuan dan Shen Lu melesat menembus lubang di atap, menghilang sepenuhnya ke dalam malam tanpa meninggalkan satu pun jejak langkah.

Malam semakin larut. Kekacauan di Istana mulai terkendali. Para pelayan membersihkan puing-puing, sementara Raja Chen dan para jenderal mengadakan rapat darurat di ruang takhta untuk membahas entitas-entitas yang baru saja meruntuhkan kewarasan fana mereka.

Di Paviliun Anggrek, kediaman Pangeran Ketiga, suasana terasa sangat sunyi.

Lin Chen berbaring di atas ranjang sutranya, bernapas dengan ritme yang lambat dan teratur, menyempurnakan ilusi seorang anak remaja yang kelelahan dan tertidur pulas setelah mengalami trauma.

Namun, lautan jiwanya sepenuhnya terjaga.

Klek.

Pintu kamarnya terbuka tanpa suara.

Lin Chen tidak menggerakkan satu pun otot wajahnya, namun Niat Jiwanya memindai sosok yang baru saja masuk. Itu adalah Permaisuri Lin Yue. Sang ibu masih mengenakan gaun perayaannya, namun ekspresinya tidak lagi memancarkan kehangatan seorang ibu biasa. Wajahnya tegang, dingin, dan dipenuhi kewaspadaan tingkat tinggi.

Lin Yue menutup pintu dari dalam. Ia berjalan ke tengah ruangan, lalu melakukan sesuatu yang membuat Lin Chen di atas ranjang nyaris menahan napasnya.

Tangan ramping sang Permaisuri menari di udara dengan kecepatan luar biasa. Seutas Qi berwarna biru pucat mengalir dari ujung jarinya, membentuk empat segel formasi di empat sudut kamar tersebut.

Itu adalah Formasi Pengunci Suara dan Aura Tingkat Fana! Meski kelasnya rendah karena batasan Dantian-nya, eksekusinya luar biasa presisi, menunjukkan bahwa ia adalah seorang veteran kultivasi di masa lalu.

Setelah formasi itu menyala dan mengisolasi kamar tersebut dari dunia luar, Lin Yue berjalan mendekati pinggir ranjang.

Wanita itu berdiri diam sejenak, menatap putranya yang sedang 'tertidur' dengan napas pelan. Cahaya bulan purnama menyusup melalui jendela, menerangi wajah tampan Lin Chen.

Lalu, sebuah suara yang kehilangan seluruh nada manja dan keibuannya, memecah keheningan malam di dalam kamar itu. Suara itu datar, dingin, dan penuh dengan kepastian yang tak terbantahkan.

"Berhentilah berpura-pura tidur, Chen'er."

Lin Chen tidak bergerak selama dua detakan jantung.

Ibu benar-benar tahu, batin Lin Chen.

Secara perlahan, Lin Chen membuka kelopak matanya. Sepasang mata keemasannya, yang biasanya memancarkan keluguan di depan ibunya, kini setenang dan sedalam jurang es yang menatap lurus ke arah Lin Yue.

Lin Chen duduk dengan tenang. Posturnya berubah. Bukan lagi anak laki-laki manja, melainkan entitas kuno yang menyembunyikan badai di balik kesunyiannya.

Lin Yue melihat perubahan lansung di mata putranya. Kecurigaan yang ia rasakan sejak sore tadi akhirnya terbukti.

"Kau menangkis serangan kultivator Foundation Establishment itu menggunakan gerakan menghindar murni," suara Lin Yue bergetar tipis, meski ia berusaha keras mempertahankan ketegasannya. "Kau sengaja tersandung, dan kau memukul titik meridian sikunya tanpa memancarkan setetes pun Qi. Di dunia fana ini, Ayahmu dan Kakakmu mungkin mengira kau sangat beruntung... tapi aku telah membunuh cukup banyak kultivator di masa laluku untuk tahu apa itu 'Kepadatan Tubuh Dewa'."

Lin Yue melangkah maju, mencengkeram erat pinggiran ranjang. Matanya memerah menahan air mata yang campur aduk antara cinta, ketakutan, dan kebohongan panjang.

"Sejak pertama kali aku mengangkatmu dari di hutan perburuan tujuh belas tahun lalu... aku tahu kau bukan manusia biasa," bisik Lin Yue parau. Ia menatap lekat-lekat mata keemasan putranya. "Bicaralah jujur padaku. Siapa kau sebenarnya, di balik tubuh putra bungsuku ini?"

Lin Chen terdiam. Ia yang pernah meratakan Sektor Langit kini berhadapan dengan lawan yang tidak bisa ia bunuh, tidak bisa ia hindari, dan tidak bisa ia bohongi lagi. Roda takdir rahasia keluarganya telah berputar ke arah yang tidak pernah ia prediksi.

1
Indah Hidayat
kaisar naga beladirinya kok tiba2 dihapus ?
Raden
luar biasa mantap thor
Raden
mantap💪 lanjut kan 💪
Raden
mantap ratu💪
Raden
hajar bro, mulut kok ga dijaga💪
Raden
seru lagi, mantap💪
Rhaka Kelana
Dan akhirnya, yang diinginkan oleh seorang pria adalah rumah yang penuh dengan kehangatan....😍
Budi Wahyono
kaisar naga nya kok gak ada thor ?
Sang_Imajinasi: ada mas bud, ngulang lgi, karena hilang semua bab
total 1 replies
ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ
keren
Puragabaya
KOPLAK
Su Qingyue ikut Lin Chen dan Tua hitam ke alam Abadi.
Kenapa ana Qingyue lagi di alam Fana 🤣🤣
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
DIFAN2: Novel 'SULUNG' hadir dengan keseruan kisah petualangannya, yuk kak merapat.
total 1 replies
Rinaldi Sigar
lanjut
Edy Amran. MM
Lanjut.. ceritanya bagus
Rinaldi Sigar
lanjut
EKO BUDI PRASETYO: lha bukannya qingyue di alam abadi SM Lincen, kok BS di alam fana
total 1 replies
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Boo Ceng Li
🔥🔥🔥💪💪💪👌👌👌
Tosari Agung
sangat keren imajinasi thor🌹🌹🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!