NovelToon NovelToon
Sang Pewaris Dan Gadis Biasa

Sang Pewaris Dan Gadis Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:963
Nilai: 5
Nama Author: Andi diana Nana anggrini

Lia hanyalah gadis biasa. Hidup sederhana, bekerja keras membantu orang tuanya, tidak punya harta, tidak punya nama besar. Ia hanya ingin menjalani hari dengan tenang dan jujur.

Namun takdir membawa ia melangkah masuk ke dunia yang sama sekali asing — dunia mewah, dingin, dan penuh aturan milik Arga, pewaris tunggal kekayaan keluarga paling berpengaruh di kota itu.

Pertemuan mereka bukan karena kebetulan. Sebuah perjanjian lama mengikat kedua keluarga, memaksa mereka menikah. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah kewajiban yang harus ia penuhi. Bagi Lia, ini adalah awal dari perjalanan yang menguji ketabahan, kesetiaan, dan hatinya.

Di antara dua dunia yang tak pernah bertemu, bisakah cinta tumbuh? Apakah gadis biasa seperti Lia mampu menembus dinding dingin yang dibangun Arga? Atau pada akhirnya, ia hanya akan menjadi kisah singkat yang terlupakan di istana megah itu?

"Aku mungkin tidak lahir dengan harta, tapi aku lahir dengan hati yang mampu mencintaimu seutuhnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andi diana Nana anggrini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dia Bukan Seperti yang Kukira

Pertama kali aku mendengar nama Arga disebut, itu bukan dalam cerita yang indah. Itu adalah bisikan-bisikan yang terdengar di sudut ruangan, di antara kerabat, di surat-surat yang dikirimkan ke desa kami. Namanya disebut dengan nada hormat bercampur rasa takut, seakan ia adalah sosok yang jauh, dingin, dan tak tersentuh.

"Dia pria yang keras."

"Tidak pernah tersenyum, tidak pernah memedulikan perasaan orang lain."

"Kau hanya akan menjadi hiasan di sisinya. Setelah pernikahan, ia akan kembali ke dunianya dan kau akan sendirian."

"Hati tempat ia tinggal sudah lama tertutup rapat."

Aku mendengar semuanya. Aku tidak menyangkal, tidak membantah — aku hanya menerima, menelan kata-kata itu satu per satu hingga ia menempati ruang di pikiranku. Hari-hari sebelum berangkat ke sini, aku tidur dengan perasaan cemas yang berat, membayangkan wajah yang kaku, kata-kata yang tajam, ruangan yang besar dan dingin tempat aku akan berdiri sendirian, tak dikenal, tak dipedulikan.

Hari pertama tiba. Ia berdiri di ambang pintu, tinggi, tegap, wajahnya tanpa senyum, matanya menatapku sejenak lalu beralih seakan aku hanyalah salah satu benda yang masuk ke rumahnya. Ia menyapa singkat, memberi isyarat agar aku mengikuti, lalu berjalan di depan tanpa menoleh sekali pun. Kata-kata orang seakan terbukti. Inilah dia, pikirku. Inilah sosok yang dingin itu.

Namun takdir seringkali menyimpan kebenaran di balik pintu yang tidak dibuka sekaligus. Ia menyisakan celah-celah kecil, tempat cahaya bisa masuk perlahan, menyadarkan kita bahwa apa yang terlihat dari luar belum tentu sama dengan apa yang ada di dalam.

Celah pertama muncul seminggu setelah kedatanganku. Aku terjaga larut malam, terbatuk-batuk karena udara yang sejuk, duduk sendirian di beranda, memeluk diriku sendiri. Aku tidak menyadari ada orang lain hingga suara langkah kaki terdengar pelan. Arga berdiri di sana, tidak tidur, mengenakan jubah tidur sederhana, rambutnya sedikit berantakan. Ia tidak menyindir, tidak menyuruhku masuk. Ia hanya mendekat, memberikan selimut tebal yang ia bawa, dan berkata dengan suara yang rendah namun lembut, "Udara malam di sini lebih dingin dari yang kau kira. Jangan sakit."

Lalu ia pergi. Singkat, sederhana, namun cukup untuk membuatku berhenti sejenak memikirkan semua yang kudengar.

Celah kedua muncul saat aku tidak sengaja menjatuhkan vas bunga kesayangan ibunya — atau setidaknya, itulah yang dikatakan semua orang. Pecah berantakan di lantai keramik. Aku gemetar, menunggu kemarahan, teguran, pandangan kecewa. Ia datang, melihat pecahan itu, lalu melihatku yang menahan air mata. Alih-alih marah, ia berlutut di sampingku, menghentikan tanganku yang berusaha memungut pecahan dengan tangan kosong, dan berkata, "Luka di tanganmu lebih berharga daripada vas ini. Biarkan pelayan yang membereskannya."

Ia tidak memarahiku. Tidak menanyakan asal-usul vas itu. Tidak berkata 'kau tidak berhati-hati'. Ia hanya memastikan tanganku tidak terluka, lalu berdiri dan berkata, "Jangan khawatir. Benda bisa diganti. Yang tidak bisa diganti adalah ketenangan hatimu."

Kata-kata itu sederhana, namun ia mengubah sesuatu di dalam diriku.

Perlahan, hari demi hari, aku mulai melihatnya — bukan sosok yang digambarkan orang-orang, melainkan seseorang yang berbeda. Seseorang yang saat berbicara dengan pelayan selalu menatap mata mereka, bukan melihat ke tempat lain. Seseorang yang diam-diam memastikan makanan yang disajikan sesuai dengan kebiasaanku, tanpa membiarkan siapa pun tahu bahwa ia yang mengaturnya. Seseorang yang saat hujan turun deras dan aku belum pulang dari kebun, berdiri di beranda dengan payung di tangan, menunggu dengan wajah cemas, bukan karena takut aku basah, tapi karena takut aku sakit.

Suatu sore, saat kami duduk di tepi kolam, aku memberanikan diri bertanya. "Arga... orang-orang mengatakan banyak hal tentangmu sebelum aku datang. Bahwa kau dingin. Bahwa kau tidak peduli. Bahwa..." aku berhenti, takut menyakiti hatinya.

Ia menoleh, menatap air yang tenang, lalu menarik napas panjang. "Aku tahu. Dan aku tidak menyalahkan mereka. Aku membiarkan mereka berpikir begitu. Itu lebih mudah."

"Mengapa?"

Ia terdiam sejenak, memutar sehelai rumput di jemarinya. "Saat ibuku pergi, ayahku berubah. Ia menjadi sibuk, jauh, seakan setiap orang di sekitarnya hanya ada untuk mengurus keperluannya. Aku melihatnya, dan aku berpikir — jika aku tidak peduli pada siapa pun, tidak ada yang bisa menyakitiku. Jika aku menutup pintu hatiku, tidak ada yang bisa masuk dan pergi lagi. Jika aku dianggap dingin dan keras, orang tidak akan melihat bahwa sebenarnya aku rapuh."

Suaranya pelan, namun setiap kata terasa berat, seakan ia memikulnya sendirian selama bertahun-tahun. "Jadi aku membangun dinding. Tinggi. Tebal. Aku berbicara sedikit, tersenyum jarang, menjaga jarak. Orang-orang melihat dinding itu dan berkata, 'Dia dingin'. Tidak ada yang bertanya, 'Mengapa kau membangunnya?'"

Ia menatapku, dan di matanya aku melihat kesedihan yang lama tersembunyi. "Kau tidak menanyakan itu juga. Kau hanya duduk di luar dinding itu, sabar, menunggu. Hingga aku sendiri yang membukanya untukmu."

Semakin lama aku di sini, semakin banyak kebenaran yang terungkap — kebenaran yang tidak pernah dibisikkan siapa pun. Ia tidak pernah mengusir kerabat yang meminta bantuan, meski mereka datang dengan sikap yang tidak menyenangkan. Ia menyisihkan sebagian pendapatan perkebunan untuk mendidik anak-anak yang tidak mampu di desa sekitar — tanpa tanda tangan, tanpa nama, tanpa pemberitahuan kepada siapa pun. Setiap bulan ia pergi ke makam ibunya, duduk berjam-jam, berbicara pelan seakan ia masih ada di sana. Ia menyimpan buku cerita yang dibacakan ibunya dulu, di laci meja kerjanya, dibaca ulang saat ia merasa kesepian.

"Dulu aku berpikir menjadi kuat berarti tidak butuh siapa pun," ucapnya suatu malam, saat kami berbaring di dekat jendela yang terbuka, membiarkan angin malam masuk perlahan. "Aku salah. Menjadi kuat justru berani mengakui bahwa ada seseorang yang kau butuhkan. Berani membuka pintu yang sudah tertutup puluhan tahun."

Ia menoleh ke arahku, cahaya bulan menyentuh wajahnya dengan lembut. "Kau tidak datang mengubahku, Lia. Kau hanya membuatku berani menjadi diriku sendiri — diriku yang dulu, sebelum kesepian mengajariku menutup diri."

Hari itu aku menyadari sesuatu yang sangat berharga: orang-orang yang paling sering dianggap dingin justru adalah mereka yang paling takut disakiti. Mereka yang terlihat tidak peduli justru adalah mereka yang paling mendambakan perhatian. Dan Arga — yang dikatakan tak berhati — ternyata memiliki hati yang paling lembut, paling tulus, paling mampu mencintai dengan segenap jiwanya.

Dia bukan seperti yang kukira. Kalimat itu kini terngiang di hatiku bukan sebagai keheranan, melainkan sebagai rasa syukur yang mendalam. Yang kukira keras ternyata lembut. Yang kukira jauh ternyata rindu. Yang kukira tidak mampu mencintai ternyata mencintaiku lebih dari siapa pun.

Suatu sore, saat kami berjalan pulang dari halaman kecilku, aku berkata padanya, "Orang-orang belum tahu siapa kau sebenarnya. Tapi aku tahu."

Ia tersenyum, senyum yang tenang dan bahagia. "Tidak perlu mereka tahu. Cukup kau yang tahu. Cukup kau yang melihat. Itu sudah lebih dari cukup."

Dan di saat itulah aku paham: kesan pertama hanyalah permukaan. Kata-kata orang lain hanyalah bayangan. Hanya kesabaran, kepercayaan, dan kasih sayang yang bisa membuka pintu menuju kebenaran yang tersembunyi di dalam hati seseorang. Dan kebenaran tentang Arga — kebenaran yang indah, hangat, dan menakjubkan — kini menjadi milikku untuk dijaga seumur hidup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!