Aelsana Jamira, mahasiswi cerdas yang baru lulus kuliah, menerima pekerjaan di Hanggara Group tanpa menyadari bahwa atasannya, Raksa Hanggara, adalah ayah dari Langit, anak yang selama ini ia rawat sebagai pengasuh sekaligus guru lesnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puja Mardika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Ini kesempatan langka mengobrol seperti ini dengan Sana, dan dia ingin tahu perasaan Sana padanya, pendapatnya tentang dirinya, dan sikapnya terhadapnya.
"Pak Raksa... Bapak..." Hubungan dengan siapa? Begitu Raksa mengajukan pertanyaan itu, Sana tidak tahu harus menjawab apa.
Dia juga ingin hubungannya dengan Raksa maju. Tapi ada jurang tak terlihat di antara mereka yang menahannya untuk benar-benar mendekat.
Terlalu banyak yang harus dia pertimbangkan, termasuk jabatan dan status Raksa, serta urusan Langit. Dia takut masalah, jadi dia tidak berani terlalu banyak berharap, apalagi bertindak.
"Sana... aku suka kamu." Karena Sana tidak mau melangkah, dia yang akan memulai lebih dulu!
Sebenarnya Raksa tidak yakin Sana benar-benar menyukainya. Tapi dia merasa Sana tidak sepenuhnya acuh, karena Sana peduli pada hubungannya dengan Sheila.
Jadi dia memutuskan mengambil langkah pertama, apa pun hasilnya. Dia sudah mencoba. Kalau memang jodoh, Sana akan membalasnya.
"Lagi pula... saya nggak... nggak! Saya nggak punya perasaan apa-apa pada Bapak..."
Menghadapi pengakuan Raksa, Sana bergulat dalam hati.
Haruskah dia jujur soal perasaannya? Tapi bagaimana dengan Langit? Bagaimana dengan Sheila, yang bilang ingin kembali pada Raksa? Bagaimana Sana akan menghadapi itu?
"Sana, lihat aku, tanya hatimu, lalu bilang apakah kamu suka aku atau nggak." Raksa menghentikan mobil di depan gerbang rumah keluarga Hanggara dan meminta Sana menatapnya.
Dia tidak mau hubungan yang menggantung. Dia punya perasaan pada Sana dan makin mengkhawatirkannya. Dia tidak mengerti kenapa Sana lebih takut menyerahkan hatinya daripada dirinya sendiri, seorang pria yang sudah pernah bercerai.
"Aku... aku juga suka Bapak. Tapi kayaknya kita masih... eh—"
Sana akhirnya mengungkapkan perasaannya, tapi dia tidak mau memberi janji apa pun pada Raksa saat ini, karena dia masih ragu.
Namun begitu dia mengatakan dia juga menyukainya, bibir Raksa langsung menutup bibirnya, tanpa peduli alasan apa pun yang akan Sana katakan.
Raksa menahan gerakan Sana dan mencium bibir lembutnya dengan erat.
Dia hampir tidak bisa menggambarkan betapa bahagianya dia mendengar Sana juga menyukainya. Dia hanya tahu, sesaat kemudian dia begitu bahagia sampai tidak bisa menahan diri.
"Lepas—jangan, jangan begini—"
Sana berusaha sekuat tenaga mendorong Raksa menjauh. Tapi kehangatan bibir yang menutup bibirnya perlahan membuatnya larut dalam gairah pria itu.
Kok bisa begini?
Tidak! Dia tidak boleh jatuh ke dalam perangkap ini. Ciuman itu terlalu mendadak, dan hubungan mereka berkembang terlalu cepat. Dia sama sekali belum siap!
"Sana, percayalah, aku benar-benar suka kamu."
Melihat ketakutan sekilas di mata Sana, Raksa melepaskannya. Dia tahu tindakannya hari ini tidak biasa dan tidak sabaran, tapi itu semua karena Sana.
Dia sendiri hampir tidak percaya bahwa tanpa sadar dia sudah jatuh cinta pada Sana. Karena itu, begitu mendengar pengakuan Sana, perasaan yang selama ini dia tahan langsung meluap.
"Boleh aku mikir dulu beberapa hari? Semuanya terjadi mendadak banget, aku belum bisa berpikir jernih sekarang." Dia benar-benar harus menimbang apakah akan memulai hubungan dengan Raksa seperti ini.
Kadang, ketika harapan jadi kenyataan, orang malah takut. Takut semuanya hanya ilusi, takut semuanya berlalu begitu saja, dan takut menghadapi kenyataan yang datang sebelum hatinya siap.
"Baik! Walau aku nggak tahu apa lagi yang kamu pertimbangkan, aku hormati keputusanmu. Tapi ada satu hal yang harus kamu setujui sekarang juga." Raksa tidak bermaksud memaksa Sana menerimanya segera, tapi ada satu hal yang harus Sana setujui.
"Apa itu?" Dengan mata membesar, Sana tidak bisa menebak apa yang diinginkan Raksa.