Dendam akibat pembantaian keluarganya menjadikan Leo Cristian Theodore (18) seorang pembunuh bayaran berdarah dingin sejak usia sepuluh tahun. Namun, hidupnya berubah drastis saat ia menjalankan misi membasmi sebuah keluarga dan menemukan seorang anak perempuan bernama Vellora Zavendra (5thn) bersembunyi di dalam lemari.
Alih-alih merasa takut saat ditodong pistol, Vellora justru memeluk erat Leo dan memohon untuk dibawa pergi karena sebatang kara. Pelukan polos tersebut meruntuhkan pertahanan sang pembunuh bayaran, membuatnya melihat bayangan dirinya sendiri di masa lalu.
Sejak pertemuan dengan gadis kecil itu kini mengubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. LARUT MALAM
Angin malam berhembus membawa hawa dingin yang menusuk tulang, menyapu dedaunan bambu di halaman kediaman Theodore yang bergaya tradisional Jepang. Suasana malam itu begitu sunyi dan mencekam, seolah alam pun tahu ada rahasia gelap yang bersembunyi di balik dinding-dinding kayu tua tersebut.
Langkah kaki yang berat dan gontai terdengar mendekati teras utama. Leo baru saja pulang. Hawa membunuh dan amarah sisa dari insiden memuakkan di bar tadi masih menguar pekat dari tubuhnya. Pemuda yang kini telah menjelma menjadi pria dewasa berusia tiga puluh satu tahun itu melepas jas hitamnya dengan kasar, membiarkannya tersampir sembarangan di bahu. Jari-jarinya yang kokoh bergerak melonggarkan ikatan dasi dan membuka tiga kancing teratas kemejanya, mencoba mencari pasokan udara.
Namun, saat ia menggulung lengan kemejanya hingga sebatas siku, langkahnya mendadak terhenti. Di sudut teras kayu yang minim cahaya, sesosok bayangan duduk mematung.
"Kakak dari mana saja baru pulang jam segini? Ini sudah hampir larut malam."
Suara lembut namun sarat akan nada interogasi itu memecah keheningan. Mata Leo sedikit membelalak, terkejut melihat Vellora duduk sendirian di depan pintu ruang tamu, memeluk lututnya menatap hamparan kerikil di halaman. Gadis berusia delapan belas tahun itu hanya mengenakan gaun tidur tipis berlapis kardigan rajut.
"Vellora? Kenapa kamu belum tidur?" tanya Leo, suaranya terdengar serak. Ia segera melangkah mendekat, berusaha menetralkan raut wajahnya yang tadinya mengeras.
"Tidak apa-apa. Aku hanya sedang mencari angin di sini," gumam Vellora pelan. Wajah cantiknya mendongak, menatap kosong ke arah langit malam yang tak berbintang. Hembusan angin menerbangkan helaian rambut hitam pekatnya, menampakkan gurat kesedihan yang jarang ia perlihatkan.
Leo mendudukkan dirinya di sebelah gadis itu, ikut menatap ke arah halaman yang temaram. Selama beberapa saat, hanya suara jangkrik yang mengisi kekosongan di antara mereka.
Lalu, Vellora menoleh. Matanya menatap Leo lekat-lekat, sebuah tatapan yang entah mengapa membuat insting pembunuh Leo mendadak ciut.
"Kak... apa kamu tahu?" Vellora bergumam lirih, memutus pandangannya sejenak ke arah langit sebelum kembali menatap manik mata Leo. "Ada satu hal yang sebenarnya tidak pernah ingin kutanyakan padamu selama belasan tahun ini."
Urat nadi di leher Leo berkedut. Entah mengapa, firasatnya meneriakkan bahaya. "Apa yang ingin kamu tanyakan?" balasnya setenang mungkin.
Vellora menarik napas panjang, seakan mengumpulkan seluruh keberaniannya. "Aku hanya ingin tahu satu hal. Saat kau menemukanku malam itu... apa Kakak tahu siapa yang membantai habis keluargaku?"
Deg!
Jantung Leo seakan berhenti berdetak detik itu juga. Waktu di sekitarnya terasa membeku. Udara malam yang dingin seketika berubah menjadi hawa panas yang mencekik lehernya. Pertanyaan yang meluncur dari bibir ranum Vellora bagaikan petir yang menyambar tepat di ulu hatinya. Leo terdiam kaku. Mulutnya terkunci rapat, tak mampu mengeluarkan satu silabel pun. Keringat dingin mulai merembes dari pori-pori kulit punggungnya.
Melihat pria di sebelahnya mematung seperti patung lilin dengan raut wajah pias, Vellora mengangkat tangannya. "Kak? Kak Leo?" Vellora melambaikan telapak tangannya tepat di depan wajah Leo, berusaha menarik kesadaran pria itu kembali.
Leo mengerjap lambat, menelan ludah yang terasa sekasar pasir.
Menyadari reaksi aneh kakaknya, Vellora memaksakan seulas senyum getir di bibirnya. "Tidak apa-apa jika Kakak memang tidak tahu. Kakak tidak usah memaksakan diri menjawabnya," ucapnya lembut, meski ada nada kecewa yang terselip di sana. Gadis itu kembali menatap nanar ke depan. "Aku... aku hanya sangat merindukan keluargaku belakangan ini. Aku selalu datang ke pemakaman mereka, kadang setelah pulang sekolah, hanya untuk bercerita."
Mata Leo membulat sempurna. Ia menoleh patah-patah. "Dari mana kamu tahu di mana keluargamu dimakamkan?" tanyanya heran, suaranya sedikit bergetar.
"Kakek Liam yang memakamkan seluruh keluargaku di pemakaman umum. Dia mengantarku ke sana saat aku masih berumur lima tahun, dan terus menemaniku setiap tahunnya. Kakak tentu saja tidak tahu, karena waktu itu Kakak terlalu sibuk dengan urusan Kakak sendiri," gumam Vellora lirih.
Fakta itu kembali menghantam Leo. Liam, kakeknya yang berwajah seram itu, ternyata telah membereskan semua kekacauan berdarah di masa lalu tanpa sepengetahuannya, demi melindungi kewarasan gadis kecil ini.
Vellora menghela napas panjang, merapatkan kardigannya. "Ya sudah, Kak Leo. Aku mau masuk ke dalam, suasana malam ini sudah cukup dingin," pekik Vellora memecah kecanggungan. Ia berdiri dari lantai kayu itu dan melangkah pergi menuju lorong kamarnya tanpa menoleh lagi ke belakang.
Melihat punggung rapuh itu menjauh, rasa bersalah dan ketakutan yang mencekam mengambil alih akal sehat Leo. Ia langsung berdiri.
"Vellora, tunggu!"
Suara bariton Leo bergema, menghentikan langkah gadis itu seketika.
"Ada apa lagi?" tanya Vellora, menolehkan kepalanya dari balik bahu.
Leo mengepalkan tangannya kuat-kuat di sisi tubuh, mencoba menahan gemetar di jari-jarinya. "Ada satu hal yang ingin Kakak tanyakan padamu," ucap Leo dengan napas tertahan dan keringat dingin yang kini mengalir di pelipisnya. "Jika... jika seandainya suatu hari nanti kamu tahu siapa orang yang telah membunuh keluargamu... apa yang ingin kamu lakukan pada orang itu?"
Udara di lorong itu seolah tersedot habis. Vellora membalikkan badannya sepenuhnya. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, menatap tajam ke arah mata Leo yang memancarkan ketakutan tersembunyi.
"Soal itu..." Vellora memicingkan matanya, suaranya berubah menjadi sangat dingin dan menusuk. "Jika aku tahu siapa orang yang merenggut nyawa mereka, entahlah. Aku pasti akan sangat membencinya sampai ke dasar tulangku."
"Apa... apa kamu akan membunuh orang itu?" desak Leo, suaranya nyaris terdengar seperti bisikan parau.
Vellora terdiam cukup lama, menimbang-nimbang perasaannya. "Emmm... soal itu, aku tidak akan pernah sudi mengotori tanganku sendiri untuk membunuhnya," ujar Vellora, nada suaranya sangat tenang namun mematikan. Ia kemudian berbalik kembali, mengangkat tangannya perlahan tanpa melihat ke belakang. "Tapi yang pasti... aku tidak akan pernah membiarkan dia hidup tenang dan bebas begitu saja di dunia ini."
Langkah kaki Vellora perlahan menghilang di ujung lorong yang gelap, meninggalkan Leo berdiri sendirian di teras.
Di bawah temaram cahaya bulan, tubuh Leo terasa membeku bagaikan mayat. Perkataan gadis itu terus bergaung di kepalanya layaknya lonceng kematian. Sebuah kengerian yang sesungguhnya kini merayap naik dan mencengkeram erat jantungnya.
Jika suatu hari nanti Vellora menyadari kebenaran yang paling mengerikan—bahwa pria yang selama belasan tahun membesarkannya, melindunginya, dan menjadi tempatnya bersandar, adalah iblis yang sama yang telah membantai habis keluarganya malam itu... apa yang akan terjadi pada keluarga kecil yang dengan susah payah ia bangun ini? Leo memejamkan matanya, ditelan bulat-bulat oleh bayangan dosa masa lalunya yang tak akan pernah bisa ia hapus.