Enam tahun lalu, Kenzo Roman De Luca kehilangan seorang wanita yang tak pernah berhasil ia lupakan. Yang tak pernah ia ketahui, wanita itu pergi membawa dua kehidupan yang tumbuh menjadi anak-anak genius.
Takdir mempertemukan mereka kembali.
Namun, sebelum Kenzo mengetahui kebenarannya, seorang bocah laki-laki yang tak sengaja bertemu dengannya dengan berani menawari sesuatu padanya.
"Asal Anda siap menikah dengan Mommy kami. Maka saya siap bekerja sama dengan Anda," ujar Mateo enteng.
Kenzo terpaku, dia tak tahu anak yang sedang memohon kepadanya itu adalah putranya sendiri. Akankah, Kenzo setuju atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 09
Wajah Maya seketika berubah lega saat melihat Tara akhirnya tiba di gedung sekuritas. Tanpa membuang waktu, ia berlari kecil menghampiri wanita itu.
"Tara, cepat hentikan Mateo sebelum Tuan Kenzo benar-benar marah," bisiknya panik.
Tara mengangguk singkat, tanpa sempat bertanya lebih jauh, ia segera berjalan menghampiri kedua anaknya.
"Sayang, apa yang kalian lakukan di sini?" tanyanya lembut. "Kenapa pulang sekolah nggak nunggu Bibi Maya? Bibi Maya begitu cemas saat tau kalian nggak di sekolah."
Sejak datang, Tara sama sekali belum mengalihkan pandangannya ke arah Kenzo. Seluruh perhatiannya tertuju pada Mateo dan saudara kembarnya.
Mateo justru tersenyum lebar.
"Mommy, kami menemukan suami untuk Mommy dan Daddy untuk kami," ucapnya polos sambil mengangkat telunjuk ke arah Kenzo.
Kalimat itu membuat Tara memejamkan kedua matanya sejenak. Dia menarik napas panjang, berusaha mengumpulkan ketenangan sebelum menghadapi situasi yang sama sekali tidak dia duga. Perlahan, Tara membalikkan tubuhnya dan saat itu juga tatapan mereka akhirnya bertemu.
Di hadapannya berdiri Kenzo dengan postur tegap. Wajah pria itu tetap dingin, datar, dan sulit ditebak. Sepasang matanya menatap Tara tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Maya hanya bisa menggigit bibir bawahnya dengan gelisah. Dia berharap tidak terjadi kesalahpahaman yang lebih besar, sementara Mateo dan saudara kembarnya justru menatap kedua orang dewasa itu dengan penuh harapan, seolah yakin mereka baru saja mempertemukan dua orang yang memang ditakdirkan bersama.
Beberapa saat kemudian, keheningan itu dipecahkan oleh dering ponsel Kenzo. Pria itu melirik layar, lalu mengangkat panggilan.
"Iya," singkatnya begitu dia menekan tombol terima.
[Maaf mengganggu, Tuan,] suara Digo terdengar dari seberang. [Dokter Almond baru saja berkata pada saya. Beliau bilang hasil pemeriksaannya kemungkinan keluar dalam tiga atau sampai lima hari kedepan.]
Kenzo hanya berdehem pelan.
"Baik."
Tanpa mengatakan apa pun lagi, ia mengakhiri panggilan. Pandangannya kembali tertuju pada Tara yang kini berdiri di depan kedua anak kembar itu. Entah mengapa, melihat wajah wanita itu membuat sepotong ingatan dari malam beberapa tahun lalu kembali memenuhi benaknya. Seperti saat dia melihatnya di kantor pagi tadi.
Wanita yang menyusup ke mobilnya. Wanita yang menghilang begitu saja sebelum dirinya tahu apa tujuan wanita itu pada enam tahun lalu. Kemudian, tatapannya beralih kepada si kembar.
Semakin lama ia memperhatikan, semakin banyak kemiripan yang tidak bisa diabaikan. Bentuk mata, garis rahang yang masih samar, hingga ekspresi saat mereka mengerucutkan bibir, dada Kenzo terasa sesak. Seketika sebuah keyakinan muncul di benaknya.
Anak-anak itu bukanlah benih Kenzi, saudara kembarnya, melainkan benihnya sendiri. Kedua tangannya mengepal kuat di sisi tubuh. Rahangnya mengeras, sementara tatapannya tidak lepas dari Mateo dan saudara kembarnya. Ia sendiri tidak mampu menjelaskan perasaan yang sedang berkecamuk.
Lega, karena akhirnya menemukan jawaban yang selama ini ia cari atau marah, karena wanita yang menyusup ke mobilnya pada malam itu ternyata memilih menghilang dan membesarkan kedua anaknya, seorang diri tanpa pernah memberitahunya sedikit pun. Padahal, mereka adalah pewaris keluarga De Luca.
Mateo melambaikan tangannya, lalu menatap Kenzo dengan wajah penuh harap.
"Tuan, lihatlah. Ini mommy kami." Mateo menunjuk jari telunjuk ke arah Tara yang kali ini berdiri di depan mereka.
"Mommy cantik, berkelas, dan seorang pengacara," ucapnya dengan bangga. "Tuan tidak perlu takut. Mommy cuma butuh seseorang yang bisa menjaganya. Soal uang, mommy wanita pekerja keras. Jadi, Tuan tidak usah khawatir ... mommyku tidak matre." Ucapan polos itu membuat Tara sontak melongo.
Pipi wanita itu memanas karena malu. Dia tidak menyangka anaknya akan mempromosikannya seperti sedang menawarkan calon istri kepada orang asing. Yang lebih mengejutkan, semua yang dikatakan Mateo terdengar begitu jelas dan akurat. Maya menahan tawa sambil menutup mulutnya.
Sementara itu, sejak pertemuan mereka, sudut bibir Kenzo terangkat membentuk senyum tipis. Sangat samar, tetapi cukup untuk mengubah wajah dinginnya sesaat. Tatapannya kemudian beralih kepada Tara.
"Adik kecil," katanya tenang sambil kembali menatap Mateo. "Boleh saya berbicara dengan mommy kalian sebentar?"
Kalimat itu membuat jantung Tara berdetak lebih cepat. Dia langsung menelan ludah.
'Habis sudah...' batinnya panik. 'Beliau pasti ingin mengadukan kelakuan Mateo. Jangan-jangan aku benar-benar akan dipecat sebelum bekerja,'
Di sisi lain, Mateo justru mengangguk antusias.
"Tentu, Tuan!"
Ia lalu menoleh kepada Maya.
"Bibi Maya, ayo kita ke ruangan sekuritas. Aku masih mau memeriksa sahamku yang lain. Kita harus membahas semuanya."
Maya berkedip beberapa kali.
"Kamu ... masih punya saham lain?"
"Iya, masih banyak yang harus dicek."
Alisya yang sejak tadi berdiri di samping kakaknya langsung menggenggam tangan Mateo.
"Aku ikut, Kak."
"Baik," sahut Mateo mantap.
Maya mengembuskan napas pelan, lalu menggandeng kedua bocah itu menuju ruang sekuritas. Sebelum pergi, ia sempat melirik Tara dengan tatapan penuh arti, seolah memberi semangat. Tak lama kemudian, hanya Kenzo dan Tara yang tersisa di area lobi.
Suasana mendadak terasa jauh lebih sunyi. Tara berdiri kaku dengan kedua tangan saling menggenggam di depan tubuhnya, sementara Kenzo menatapnya tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun. Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan kepada wanita yang berdiri di hadapannya.
Suasana di antara mereka berubah sunyi setelah Maya membawa Mateo dan Alisya pergi. Kenzo tetap berdiri dengan kedua tangan di dalam saku celananya. Tatapannya lurus mengarah kepada Tara yang sejak tadi tampak gelisah.
"Apa ada yang ingin kamu jelaskan?" tanyanya tenang.
Tubuh Tara seketika menegang. Jantungnya berdegup semakin cepat. Hanya berdiri di hadapan pria itu saja sudah cukup membuatnya gugup. Rasanya, ia ingin bumi terbuka dan menelannya saat itu juga, begitu susah payah, Tara menundukkan kepala.
"Saya ... minta maaf atas kejadian barusan, Tuan. Saya benar-benar tidak menyangka Mateo akan melakukan hal seperti itu." Ia mengembuskan napas pelan. "Saya mohon jangan menyalahkan mereka. Itu semua murni ulah anak-anak."
Kenzo menggeleng pelan, "bukan itu maksud saya."
Tara perlahan mengangkat kepalanya. Tatapan mata Kenzo kini jauh lebih tajam daripada sebelumnya.
"Bisakah Anda menjelaskan kepada saya, kenapa Mateo sangat mirip dengan saya?"
"Hah?" Mata Tara membulat, napasnya tercekat. Tanpa sadar, ia kembali menatap wajah Kenzo, kali ini dengan saksama. Pertanyaan itu membuat sebuah kenangan yang telah lama terkubur kembali berputar di kepalanya.
Malam enam tahun yang lalu, sebuah Bar dia tak sengaja masuk ke mobil seseorang. Mobil itu milik seorang pria yang wajahnya tidak pernah berhasil ia lihat dengan jelas. Semua potongan ingatan itu kembali bermunculan. Namun, wajah pria pada malam itu tetap samar di benaknya.
Berbeda dengan Kenzo, sejak pertama melihat Tara, ia langsung mengenali wanita itu. Wajah yang selama enam tahun tidak pernah benar-benar hilang dari ingatannya. Tatapan mereka bertemu, perlahan, Kenzo melangkah mendekat. Jarak di antara keduanya kini hanya beberapa langkah.
Kenzo menatap wanita itu dengan lekat, dengan suara rendah, nyaris seperti bisikan yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua, Kenzo memanggil, "Tata..."
Panggilan itu membuat seluruh tubuh Tara membeku.
diumumkan begitu aja
anugerah apa bencana yaaa?😱🤣🤣🤣
Kenzo nih tipe orang yg GK suka basa basi muter muter,, cus pokoknya lgsg beres ya kan 🤭
Setuju,,... pengumuman pernikahanmu harus segera d sebar luaskan ....,, biar ga ad yg berani godain mommy Tara 😅