NovelToon NovelToon
Dokter Yang Mengatur Takdir

Dokter Yang Mengatur Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / CEO / Mafia
Popularitas:325
Nilai: 5
Nama Author: Nvlin888

Alya adalah perawat muda paling berdedikasi di rumah sakit terbesar di negeri ini, RS Prawira Husada. Namun diam-diam pemilik sekaligus dokter Rumah Sakit tersebut, dr. Raze, telah mengawasi setiap langkahnya selama dua tahun terakhir. Promosi yang ia dapatkan secara tiba-tiba, apartemen "murah" yang kebetulan aman, bahkan tunangannya sendiri, semua sudah diatur, disingkirkan, atau dipertahankan sesuai kehendak Raze. Saat pertunangan Alya diumumkan, topeng dr. Raze runtuh. Dalam semalam, Alya "hilang" dari hidupnya sendiri. Dikurung di rumah yang megah, dipaksa menikah, dan dipaksa mengerti bahwa cinta pria ini tak pernah tahu batas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nvlin888, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejujuran yang Terlambat Setengah Jalan

Alya terjaga sepanjang malam, duduk di tepi kasurnya menatap pintu, menyusun dan menghapus ulang kalimat yang akan dia katakan begitu Bayu datang. Tapi setiap kalimat yang dia susun selalu terasa terlalu kecil untuk menampung besarnya apa yang harus dia akui. Jam sembilan lewat, dia menyeduh kopi yang tidak pernah dia minum, hanya menggenggamnya untuk merasakan kehangatan yang menjalar ke telapak tangannya, satu-satunya hal yang bisa dia kendalikan pagi itu.

Bayu datang jam sepuluh pagi. Wajahnya kurang tidur, matanya bengkak seperti seseorang yang menghabiskan semalaman menatap langit-langit kamar penginapan tanpa benar-benar memejamkan mata. Dia duduk di kursi satu-satunya di kamar kos Alya. Tidak menyentuhnya sama sekali. Tangannya terlipat di pangkuan seolah sengaja menjaga jarak yang tidak pernah ada di antara mereka sebelumnya.

"Aku dengerin," katanya singkat. Matanya menatap lurus ke arah Alya yang duduk di tepi kasur. Jarak di antara mereka terasa seperti jurang yang jauh lebih lebar daripada ukuran kamar sesungguhnya.

Alya menarik napas dalam, tangannya meremas ujung selimut, mencoba menyusun kalimat yang sudah dia latih semalaman tapi tetap terasa tidak cukup begitu harus benar-benar diucapkan.

"Dr. Raze, ternyata dia udah lama merhatiin aku, dari sebelum aku sadar," Alya memulai, suaranya bergetar. "Awalnya aku pikir itu cuma perhatian atasan biasa. Terus dia mulai... deket. Ngomong hal-hal yang nggak seharusnya diomongin atasan ke bawahannya. Dan aku... aku nggak nolak sepenuhnya, Kak. Itu yang paling nyakitin buat aku akuin."

"Sejauh mana?" tanya Bayu dengan suaranya yang datar. Bahkan terlalu datar untuk terdengar tenang yang sesungguhnya.

"Kita udah... ciuman. Dua kali," Jawab Alya. Tenggorokannya tercekat mengucapkan kalimat itu keras-keras untuk pertama kalinya. "Aku nggak pernah niat ngkhianatin kamu, Bay. Tapi semuanya terjadi begitu cepat, dan aku nggak tahu gimana cara berhentiin, karena dia... dia nggak pernah berhenti, dan aku..."

"Dan kamu nggak sepenuhnya pengen dia berhenti," Bayu menyelesaikan kalimat itu untuknya. Suaranya pecah di ujung, dan untuk pertama kalinya sejak dia datang, matanya berkaca-kaca.

Alya tidak bisa membantah itu. Diam yang mengikutinya lebih menyakitkan daripada teriakan apa pun.

"Kapan itu terjadi?" Bayu bertanya lagi. Kali ini suaranya lebih pelan, seolah setiap detail baru adalah luka baru yang harus dia terima satu per satu. "Yang pertama."

"Malam kamu masih di kota sebelah. Dia jemput aku pulang kerja," Alya menjawab, tidak sanggup lagi menyembunyikan apa pun. "Yang kedua, di kantornya, waktu dia ngajak aku lihat perusahaannya."

"Jadi selama aku susah payah nyelesain masalah proyek buat masa depan kita," ucap Bayu. Suaranya bergetar menahan sesuatu yang jauh lebih besar dari amarah biasa, "kamu di sini, ciuman sama bosmu."

"Kak, aku tahu ini nggak ada alasannya yang cukup—"

"Nggak ada," dia memotong, tegas. "Nggak ada alasan yang cukup buat ini, Alya. Tapi aku tetap pengen ngerti. Bukan buat maafin sekarang. Cuma buat ngerti."

"Lima tahun, Alya," Bayu akhirnya berkata, berdiri, berjalan ke jendela. Punggungnya menghadap ke arahnya seolah tidak sanggup lagi menatap wajahnya langsung. "Lima tahun aku nunggu kamu selesai kuliah. Nunggu kamu mapan kerja. Nabung diam-diam buat mahar. Dan sekarang, di saat semuanya harusnya udah tinggal selangkah lagi..."

"Aku tahu aku salah, Kak—"

"Aku nggak butuh kamu bilang kamu salah," dia memotong. Suaranya lebih keras dari sebelumnya, meski masih menahan diri untuk tidak sepenuhnya meledak. "Aku butuh tahu, apa yang sebenarnya kamu rasain ke dia."

Pertanyaan itu jatuh telak, dan Alya butuh waktu lama sebelum akhirnya berbisik. Jujur untuk pertama kalinya tanpa berusaha melembutkan kenyataannya. "Aku nggak tahu, Kak. Itu yang paling jujur bisa aku bilang. Aku nggak tahu apa yang aku rasain ke dia, dan itu yang bikin aku takut setengah mati."

Bayu berbalik, matanya basah tapi tidak jatuh, rahangnya mengeras menahan sesuatu yang jauh lebih besar dari amarah. "Aku pikir kita bakal nikah, punya anak, tua bareng. Sekarang aku bahkan nggak yakin kamu tahu, siapa yang beneran kamu mau."

"Kak—"

"Aku butuh waktu," katanya, memotong sebelum Alya sempat melanjutkan. Suaranya kembali tenang meski matanya masih menyimpan luka yang segar. "Bukan putus. Belum. Tapi aku nggak bisa lanjutin rencana nikah kita kayak nggak terjadi apa-apa. Aku pulang ke rumah orang tuaku dulu. Kasih kita berdua waktu buat mikir, apa yang sebenarnya kita mau."

Dia mengambil jaketnya, melangkah ke pintu, lalu berhenti sebentar, tidak menoleh. "Aku masih sayang kamu, Alya. Itu yang bikin ini semua lebih sakit daripada kalau aku udah nggak peduli sama sekali."

"Kak, tunggu—" Alya berdiri, tangannya terulur meski jaraknya masih terlalu jauh untuk benar-benar menahannya.

"Jangan," katanya, pelan, akhirnya menoleh sedikit, cukup untuk memperlihatkan matanya yang basah. "Kalau kamu tahan aku sekarang, aku takut aku bakal maafin kamu cuma karena aku kangen, bukan karena aku beneran udah bisa percaya lagi. Kita berdua sama-sama butuh waktu. Aku sama kamu."

Pintu tertutup pelan di belakangnya, jauh lebih pelan daripada yang seharusnya. Cocok dengan besarnya keretakan yang baru saja terjadi di dalamnya. Alya duduk sendirian di kamarnya. Cincin sederhana masih melingkar di jari manisnya, terasa lebih berat daripada kapan pun sejak hari pertama dia menerimanya.

Wulan menemukannya di kantin sore itu. Matanya sembap, piring makan siangnya nyaris tidak tersentuh, dan tanpa banyak bertanya, Wulan duduk di depannya, mendorong gelas air miliknya sendiri ke arah Alya.

"Aku nggak akan bilang 'aku bilang juga apa'," Wulan berkata, nadanya datar seperti biasa, tapi ada kelembutan yang jarang dia tunjukkan di baliknya. "Tapi kalau kamu mau menumpahkan semua emosimu, kalo kamu butuh orang untuk hanya sekedar mendengarkan keluh kesahmu, ada aku Alya. Jadi jangan merasa sendiri."

Alya, yang sudah menahan diri sejak pagi, akhirnya membiarkan air matanya jatuh, dan Wulan tanpa berkata apa-apa lagi, menggeser kursinya lebih dekat. Membiarkan Alya menyandarkan kepalanya di bahunya sebentar, satu tangan menepuk punggungnya pelan dengan ritme yang, entah kenapa, terasa lebih menenangkan daripada kata-kata penghiburan mana pun.

"Aku ngerasa kayak orang paling jahat sedunia, Lan," Alya berbisik di sela isakannya. "Bayu nggak pernah salah apa-apa. Dia selalu baik, selalu setia, dan aku balesnya kayak gini."

"Kamu bukan orang jahat, Al. Kamu cuma manusia yang bingung," Wulan berkata, suaranya lebih lembut dari biasanya. "Yang jahat itu orang yang sengaja bikin kamu bingung buat keuntungan dia sendiri. Dan kita berdua tahu, itu bukan kamu."

"Bayu minta waktu," Alya akhirnya berbisik, suaranya serak. "Bukan putus. Tapi rasanya kayak putus."

"Kadang jarak itu perlu, buat liat mana yang beneran kamu mau pertahanin," Wulan berkata, pelan. "Cuma jangan biarin orang lain yang nentuin jarak itu buat kamu. Kamu yang harus milih, Al. Bukan dia yang di lantai dua puluh dua, bukan juga Bayu. Kamu."

Kalimat itu menempel lebih dalam daripada yang Wulan mungkin sadari, Alya mengangguk pelan, meski dia sendiri tidak sepenuhnya yakin bagaimana caranya benar-benar memilih ketika satu pihak sudah lama mengatur setiap papan caturnya tanpa dia sadari.

Malam itu, mobil hitam yang sudah dia kenali betul berhenti di depan kosnya. Bahkan tanpa dia memberi tahu ke mana pun bahwa hari ini adalah hari terburuk dalam lima tahun terakhir hidupnya.

"Bagaimana kamu tahu aku butuh ini?" Alya bertanya, begitu Raze keluar dari mobil membawa dua kotak makanan hangat. Matanya menatapnya dengan kekhawatiran yang tidak lagi berusaha dia sembunyikan.

"Aku tahu semua hal tentang harimu, Alya," katanya, jujur, tanpa nada menyombongkan diri, hanya kepastian dingin yang sudah lama menjadi bagian dari dirinya. "Termasuk fakta bahwa kamu belum makan sejak pagi."

Mereka duduk di anak tangga kos. Satu-satunya tempat yang cukup pribadi tanpa harus masuk ke kamar, dan Raze membuka kotak makanan itu. Menyuapkan sesendok bubur hangat ke mulut Alya sebelum dia sempat menolak.

"Aku bukan anak kecil, Raze," Alya berkata, meski dia menerima suapan itu, merasakan kehangatan yang menjalar bukan hanya dari makanan, melainkan dari perhatian yang, meski salah tempat dan salah waktu, terasa begitu tulus.

"Aku tahu," katanya, menyuapkan sesendok lagi, matanya tidak pernah lepas dari wajahnya. "Tapi izinkan aku melakukan ini. Ini satu-satunya cara aku tahu untuk menunjukkan aku peduli. Tanpa harus mengucapkan kalimat yang mungkin belum siap kamu dengar malam ini."

"Kalimat apa?" Alya bertanya, meski dia menduga jawabannya, meski dia belum siap mendengarnya diucapkan lantang.

"Belum," katanya, singkat, menghindari pertanyaan itu dengan menyuapkan sesendok lagi. Alya membiarkannya, terlalu lelah untuk mendesak lebih jauh malam itu.

Alya menghabiskan buburnya dalam diam. Setelah selesai, Raze menarik tangannya, menautkan jemarinya, ibu jarinya mengusap punggung tangannya dengan gerakan lambat yang sudah begitu dia kenali. Kepalanya, tanpa sepenuhnya dia sadari, jatuh bersandar ke bahu Raze. Pria itu hanya diam. Membiarkan berat kepala sang pujaannya bertumpu di sana. Satu tangan naik mengusap rambutnya perlahan, gerakan yang lebih menenangkan daripada kata-kata apa pun yang bisa dia ucapkan malam itu.

"Dia minta waktu," Alya berbisik, tidak yakin kenapa dia merasa perlu memberi tahu Raze secara langsung.

"Aku tahu," katanya. Ada sesuatu di matanya yang tidak sepenuhnya bisa dia sembunyikan. Terlihat seperti kelegaan yang segera dia tutupi dengan ekspresi yang lebih hati-hati. "Aku turut prihatin kamu harus melewati ini."

"Kamu nggak kelihatan prihatin," Alya berkata, menatapnya tajam, menangkap kejujuran yang gagal disembunyikan itu.

Raze tidak membantahnya. "Aku prihatin kamu sakit karena ini," katanya, jujur, memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Aku tidak akan berpura-pura prihatin celah ini terbuka. Aku sudah menunggu celah ini lebih lama daripada yang pantas kuakui."

"Itu kejam, Raze."

"Aku memang kejam," katanya, tanpa penyesalan, tangannya terangkat mengusap air mata yang baru saja jatuh di pipi Alya tanpa dia sadari. "Tapi aku tidak pernah kejam padamu, dan aku tidak akan pernah. Semua kekejaman yang aku punya, aku simpan untuk apa pun yang berdiri di antara kita. Itu janji yang bisa aku berikan malam ini."

"Kamu tadi mau bilang sesuatu," Alya berkata pelan, mengingat jeda yang dia tinggalkan sebelumnya. "Kalimat yang belum siap aku denger."

Raze diam sejenak, matanya menatap dalam-dalam, seolah menimbang apakah malam ini adalah waktu yang tepat. "Belum," katanya lagi, lebih lembut kali ini. "Bukan karena aku takut mengatakannya. Tapi karena aku ingin kamu mendengarnya di saat kamu benar-benar siap menerimanya, bukan di saat hatimu masih penuh oleh orang lain."

Dia mencondongkan tubuhnya, mengecup dahinya lama. Jauh lebih lembut daripada ciuman yang pernah mereka bagi sebelumnya, seolah malam ini bukan waktunya untuk hasrat, melainkan untuk sesuatu yang lebih dalam, lebih rapuh, yang keduanya tidak sepenuhnya siap beri nama.

Setelah mobil itu pergi, Alya duduk sendirian di anak tangga beberapa menit lebih lama, memandangi cincin di jari manisnya di bawah cahaya lampu jalan yang temaram. Mencoba menimbang berat dua perasaan yang sama-sama nyata tapi menuntut arah yang berlawanan. Kesetiaan pada janji lima tahun, dan sesuatu yang baru, yang belum sepenuhnya dia pahami, tapi terlalu kuat untuk terus dia sangkal.

Di lantai dua puluh dua, malam itu, buku bersampul kulit hitam itu terbuka dengan tulisan yang lebih tenang dari biasanya. Seolah tangan yang menulisnya akhirnya bisa bernapas lega untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu.

Pria itu meminta waktu. Bukan untuk mengakhiri sepenuhnya, tapi cukup untuk membuka pintu yang aku butuhkan.

Aku membawakannya makanan malam ini. Hal sesederhana itu, dan dia membiarkanku menyuapinya seperti anak kecil. Aku tidak pernah merasa sekuat ini hanya karena melakukan sesuatu yang begitu sepele.

Aku hampir mengucapkannya malam ini. Tiga kata yang selama ini kusimpan rapat, bahkan dari halaman-halaman buku ini. Aku menahannya, bukan karena ragu, tapi karena aku ingin dia mendengarnya tanpa bayang-bayang pria lain di matanya. Aku bisa menunggu. Aku selalu bisa menunggu, sampai saatnya tiba.

Aku berjanji tidak akan pernah kejam padanya. Aku bermaksud menepatinya, selama dia tidak memaksaku memilih antara janji itu dan keinginanku untuk memilikinya sepenuhnya.

•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈ℒᵒᵛᵉ ᵧₒᵤ .•ᰔᩚ•┈┈┈•┈┈┈•┈┈

Ada kejujuran yang datang tepat waktu untuk menyelamatkan sesuatu, dan ada kejujuran yang datang terlalu terlambat, hanya cukup untuk menunjukkan reruntuhan yang sudah lama terbentuk sebelum kata-kata sempat menyusulnya. Dan yang paling menyedihkan adalah menyadari, keduanya sering terdengar sama persis saat diucapkan.

1
falea sezi
mending putus ma bayu klo lu uda gk ada rasa jangan php trs jangan Terima raze dlu soalnya kayak gk beres ini si rezek🤣
Nvlin888: tenangkan dirimu kaa 🤣🤣
total 1 replies
falea sezi
alya uda kayak lacur gampangan🤣🤣🤣 sebel liat cwek gatel gini serakah
falea sezi
serakah amat ini cwek😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!