NovelToon NovelToon
Adik Sahabatku Tergila-Gila Padaku

Adik Sahabatku Tergila-Gila Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Crazy Rich/Konglomerat / Teen
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Moora Lunatia

Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh, Naya yang hancur melarikan diri ke bar untuk menenggelamkan kesedihannya sebelum akhirnya memutuskan menginap di rumah Nessa.
Dalam keadaan setengah sadar, Naya masuk ke rumah Nessa dan menemukan Kafka yang baru pulang dari luar negeri, tetapi karena gelap dan pengaruh alkohol ia mengira pria itu adalah "jasa hiburan" yang sengaja dipesan Nessa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Bunyi klik dari kunci pintu kayu yang diputar terdengar bagaikan ledakan meriam di telinga Naya.

Di dalam ruang kerja yang kedap suara itu, oksigen seolah tersedot habis. Kafka berdiri mematung di ambang pintu, tangannya baru saja terlepas dari gerendel kunci. Kemeja putihnya yang lengannya digulung asal-asalan menampilkan urat-urat kokoh yang kini menegang keras. Tidak ada sisa-sisa senyum hangat atau tatapan memuja yang selalu ia berikan pada Naya setiap pagi. Yang ada hanyalah raut wajah sedingin bongkahan es dan tatapan predator yang rahasia tergelapnya baru saja diseret ke bawah terik matahari.

Kafka melangkah maju. Sepatu pantofelnya mengetuk lantai kayu dengan ritme lambat, berat, dan mematikan. Setiap langkah pria itu menguarkan aroma cedarwood dan mint yang mendadak terasa jauh lebih pekat dan mengintimidasi.

Naya masih terduduk kaku di kursi kerja kebesaran Kafka. Buku sketsa kulit itu tergeletak terbuka di atas meja di antara mereka, memamerkan nota pembelian dari Cartier dan tulisan tangan Kafka yang dipenuhi obsesi, keputusasaan, dan janji kehancuran.

Kafka berhenti tepat di seberang meja. Mata legamnya menatap wajah Naya yang basah oleh air mata, lalu beralih menatap buku sketsa tersebut. Rahang pria itu mengeras sedemikian rupa hingga otot-otot di lehernya bermunculan.

"Kau seharusnya tidak melihat itu," suara Kafka mengalun sangat rendah, menyerupai geraman serak yang bergetar dari dasar tenggorokannya.

Naya menelan ludah, bibirnya bergetar hebat. "K-Kaf..."

"Aku berniat mengubur buku itu selamanya," potong Kafka mutlak. Pria itu meletakkan kedua telapak tangannya yang besar menapak kuat di atas meja kerja, mencondongkan tubuhnya ke depan hingga bayangannya menutupi Naya sepenuhnya. "Aku berencana menyembunyikan sisi monster ini darimu sampai kau benar-benar terikat padaku dan tidak punya jalan keluar."

Mata kelam Kafka menembus tepat ke dalam jiwa Naya. Tidak ada sedikit pun penyesalan di sana. Yang ada hanyalah kepemilikan yang absolut dan membuta.

"Sekarang kau tahu, Naya," desis Kafka, mengabaikan panggilan sopan 'Kak' yang biasa ia gunakan. "Kau tahu bahwa aku bukan sekadar pria kebetulan yang datang sebagai pahlawan kesiangan. Aku adalah pria yang sudah mengincarmu sejak kau masih menjadi milik orang lain. Aku yang menunggumu hancur agar aku bisa menyeretmu ke dalam wilayahku. Dan cincin yang kau pakai itu..."

Tatapan Kafka jatuh pada kilauan berlian di jari manis Naya. "...adalah belenggu yang sudah kusiapkan sejak tiga tahun yang lalu."

Kafka menarik napas dalam-dalam, dadanya naik-turun dengan cepat. Di balik topeng intimidasinya, Naya bisa melihat secercah ketakutan yang berusaha disembunyikan pria itu—ketakutan bahwa Naya akan menganggapnya gila, ketakutan bahwa Naya akan lari meninggalkannya setelah melihat betapa gelap obsesinya.

"Jika kau merasa jijik, jika kau takut pada pria yang berdiri di hadapanmu ini..." suara Kafka mendadak pecah di ujung kalimat, memancarkan kerentanan yang luar biasa menyakitkan. "Katakan sekarang. Karena setelah pintu ini kubuka, aku bersumpah tidak akan pernah melepaskanmu lagi."

Alih-alih mundur atau menjerit ketakutan, air mata Naya justru mengalir semakin deras. Ia memandang pria yang sedang mencondongkan tubuhnya di atas meja ini. Pria yang memiliki kekuasaan, uang, dan dunia di genggamannya, namun justru hancur lebur hanya karena menahan perasaannya sendirian selama bertahun-tahun demi melihat Naya bahagia.

Naya tidak melihat seorang monster. Ia melihat seorang pria yang mencintainya dengan sangat, sangat luar biasa.

Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Naya bangkit dari kursi. Ia tidak berlari menuju pintu. Ia melangkah maju, memutari meja kerja yang lebar itu, hingga ia berdiri tepat di hadapan Kafka.

Kafka membeku. Napas pria itu tertahan saat Naya mengangkat kedua tangannya, menyentuh rahang Kafka yang kaku, lalu mengusapnya dengan kelembutan yang membuat pertahanan Kafka nyaris runtuh detik itu juga.

"Kamu pikir aku menangis karena aku takut?" bisik Naya, suaranya parau karena isakan. Ibu jarinya membelai lembut rahang Kafka. "Aku menangis karena aku membayangkan betapa sakitnya kamu menyimpannya sendirian, Kaf. Tiga tahun... kamu pergi ke London membawa luka yang aku buat, dan kamu kembali membawakan dunia untukku."

Mata Kafka melebar, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Naya..."

"Aku tidak butuh pahlawan berbaju zirah, Kafka," Naya berjinjit, menyatukan keningnya dengan kening pria itu. Deru napas mereka menyatu. "Aku butuh kamu. Dengan semua sisi gelapmu, obsesimu, dan keposesifanmu. Aku milikmu. Dan aku tidak akan pergi ke mana-mana."

Erangan rendah yang dipenuhi kelegaan dan hasrat yang tak terbendung lolos dari tenggorokan Kafka. Pria itu langsung merengkuh pinggang Naya dengan kedua lengannya yang kuat, mengangkat tubuh wanita itu dari lantai, dan mendudukkannya dengan sekali sentakan ke atas meja kerja, menyingkirkan buku sketsa dan dokumen-dokumen yang berserakan.

Sebelum Naya sempat memprotes, Kafka sudah meraup bibirnya dalam ciuman yang memabukkan dan menghancurkan akal sehat. Ciuman itu tidak lagi lembut atau menahan diri; itu adalah sebuah klaim yang liar, putus asa, dan sarat akan kepemilikan. Kafka menyesap bibir Naya, membelai punggungnya, dan menarik wanita itu semakin merapat hingga tidak ada lagi jarak yang tersisa di antara mereka.

Naya memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam sensasi hangat dan aroma cedarwood yang mengelilinginya, meremas kemeja Kafka, dan membalas ciuman pria itu dengan seluruh cinta yang kini bersemi sempurna di hatinya. Di dalam ruang kerja yang terkunci itu, semua rahasia masa lalu akhirnya melebur menjadi kepastian masa depan.

Enam hari kemudian.

Waktu berlalu bagaikan kedipan mata. Hari ini adalah H-1 sebelum sumpah suci itu diucapkan. Sesuai tradisi dan permintaan keras dari Nyonya Besar Adiraja, Kafka dan Naya tidak diizinkan bertemu selama dua puluh empat jam penuh. Pingitan.

Naya dan keluarganya ditempatkan di sebuah Presidential Suite di hotel bintang lima tempat acara pernikahan akan dilangsungkan besok pagi. Sepanjang hari, Naya menjalani perawatan tubuh, lulur, dan serangkaian ritual kecantikan yang diawasi langsung oleh ibu Kafka.

Malam harinya, setelah Pak Haris dan Bu Tari kembali ke kamar mereka yang terletak di lantai yang sama, Naya tertinggal sendirian di dalam suite mewahnya. Nessa berjanji akan datang menginap untuk menemaninya, namun sahabatnya itu sedang terjebak gladi bersih terakhir di ballroom lantai bawah.

Naya berdiri di balkon kamarnya, mengenakan jubah mandi sutra berwarna putih tulang. Angin malam Jakarta meniup perlahan rambut panjangnya yang tergerai bebas. Cahaya lampu kota membentang layaknya lautan bintang emas di bawah sana.

Ia memandangi cincin berlian di jari manisnya. Besok. Besok pagi, statusnya akan berubah selamanya. Ia akan menjadi Nyonya Kafka Adiraja. Rasa gugup, antusias, dan kebahagiaan bercampur aduk membuat perutnya seolah dipenuhi ribuan kupu-kupu yang beterbangan.

Tok. Tok.

Suara ketukan pelan di pintu kaca balkon membuat Naya terlonjak kaget.

Ia menoleh ke arah sumber suara. Di balik tirai tipis yang berkibar, sesosok bayangan tinggi dan tegap berdiri di area balkon yang sedikit gelap. Jantung Naya seketika berpacu liar. Kamar ini berada di lantai dua puluh! Bagaimana bisa ada orang di balkon luar?!

Namun, saat bayangan itu melangkah maju menembus cahaya lampu dari dalam kamar, aroma kayu dan mint yang sangat khas langsung menyapu indera penciuman Naya, menghentikan kepanikannya.

Kafka berdiri di sana.

Pria itu mengenakan setelan serba hitam—kaus kerah turtle-neck dan celana kain gelap yang membuatnya menyatu dengan malam. Rambutnya sedikit berantakan tertiup angin ketinggian. Ia tersenyum miring, sebuah senyum yang luar biasa tampan dan berbahaya.

"Kafka?!" desis Naya panik, segera menggeser pintu kaca dan menarik pria itu masuk ke dalam kamarnya, lalu menutup gorden rapat-rapat. "Kamu gila ya?! Kamu manjat dari mana?! Kalau ibumu atau satpam hotel lihat gimana?! Kita lagi dipingit!"

Kafka tertawa pelan, tawa bariton yang bergetar di dadanya. Pria itu dengan santai memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Aku menyogok manajer hotel untuk memberiku kunci akses balkon dari kamar suite di sebelahnya. Tidak ada yang akan melihatku, Sayang."

"Tapi ini pamali, Kaf! Kita nggak boleh ketemu sampai besok ijab kabul!" Naya memukul dada bidang pria itu dengan gemas, wajahnya memerah karena campuran antara marah dan rindu yang tidak bisa ia pungkiri.

Kafka tidak menghindar. Ia justru meraih tangan Naya yang memukulnya, lalu membawanya ke bibirnya, mengecup lembut telapak tangan wanita itu. Matanya menatap Naya dengan intensitas yang membuat lutut Naya mendadak lemas.

"Aku tidak peduli dengan tradisi, Kak Naya," bisik Kafka, melangkah maju hingga Naya harus memundurkan kakinya dan punggungnya menyentuh dinding kamar. "Aku tidak bisa tidur. Membayangkanmu berada di gedung yang sama denganku tapi aku tidak bisa menyentuhmu selama dua puluh empat jam adalah sebuah siksaan."

Hawa panas dari tubuh Kafka menjalar menembus jubah sutra yang dikenakan Naya. Pria itu mengangkat sebelah tangannya, menopang tubuhnya di dinding tepat di sebelah kepala Naya, mengurung calon istrinya dengan tatapan yang sangat memuja.

"Kau cantik sekali malam ini," gumam Kafka serak, ibu jarinya membelai lembut rahang Naya. "Tapi aku tidak datang ke sini hanya untuk merusak tradisi pingitan."

Naya menelan ludah, menatap mata legam pria itu. "L-lalu... kamu ke sini mau apa?"

Alih-alih menjawab dengan ciuman yang memabukkan seperti biasa, Kafka perlahan merogoh saku celananya. Pria itu mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna merah marun, lalu membukanya tepat di hadapan wajah Naya.

Napas Naya seolah terhenti detik itu juga. Matanya membelalak lebar, menatap isi di dalam kotak tersebut, sementara seluruh sistem logikanya menolak mempercayai apa yang baru saja disodorkan Kafka di malam sebelum pernikahan mereka.

1
none name
up ka
Hk Hk
lanjut thorrrr, semangat
Hk Hk
bagus ceritane Thorrr😍
none name
up kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!