Disa ingin memberi kejutan berupa kehamilan yang telah lama dinanti-nanti, tetapi dia malah mendapatkan kejutan lebih dulu dari Cakra. Cakra membawa pulang Risa yang sedang hamil anaknya.
Dari pada menerima Cakra, yang jelas-jelas sudah mengkhianatinya, dan harus menerima Risa sebagai madunya, Disa memilih pergi dengan membawa anak Cakra yang dia sembunyikan.
"Jangan menyesal setelah aku pergi."
***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jalur Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Demi mengurus kedua cucunya yang baru lahir, Rahmi menutup warungnya sementara waktu. Tidak tahu entah sampai kapan, sebab Disa masih kerepotan mengurus Zhafran dan Alyssa tanpa bantuan Rahmi. Mengurus satu bayi saja kerepotan, apalagi dua. Ditambah lagi Disa belum puluh benar pasca operasi.
Kendati begitu, kehadiran si kembar di rumah benar-benar membuat ramai. Yang biasanya sepi karena cuma ada Disa dan Rahmi, kini di rumah itu ada Zhafran dan Alyssa yang memeriahkan rumah dengan rengekan dan tangisan mereka.
Zhafran sih yang sering rewel, menangis kencang, sedangkan Alyssa, adiknya, cenderung anteng.
Lelah, kurang tidur, tenaga terkuras habis, semua sudah Disa rasakan riwehnya menjadi ibu baru, namun ia tetap senang. Kehadiran si kembar bagaikan pelangi di tengah badai hidupnya.
Alyssa sedang tertidur lelap sementara sang kakak, Zhafran, masih menyusu pada salah satu payudara ibunya, ketika Disa mendengar suara yang sangat familiar di depan rumahnya.
"Wah, warungnya belum buka ya, Bu?" celetuk pria itu, Rayyan.
"Belum, Mas Rayyan, masih kerepotan ngurus si kembar soalnya."
"Aduhh, padahal aku kangen ayam bakarnya, Bu."
"Nanti ya kalau udah buka, ibu juga belum tau mau buka warung kapan. repot soalnya."
"Ngomong-ngomong, si kembar lagi ngapain, Buk?"
"Tidur kayaknya, semalam begadang mereka."
Disa mendengkus kecil sambil mendengarkan obrolan Rayyan dengan ibunya yang terdengar hingga ke kamarnya. Kebetulan kamar Disa ada di depan, dekat dengan ruang tamu yang otomatis juga dekat dengan teras.
Alasan saja Rayyan datang menanyakan warung dengan dalih kangen sama ayam bakar buatan ibu, padahal pria itu sengaja datang bertemu dengan Disa. Disa tahu akal bulus cowok itu.
Zhafran sudah melepaskan puting Disa, lalu Disa meletakkan Zhafran ke dalam box bayi berukuran lebar, tepat di samping Alyssa.
Ia keluar dari kamar, menuju teras rumahnya.
"Hai!" sapa Rayyan riang begitu melihat Disa, wanita yang ia cintai. Cowok itu duduk santai di teras rumah Disa.
"Ibu masuk dulu ya," ujar ibu sambil membawa ember kosong. Ibu baru saja selesai menjemur baju-bajunya si kembar.
"Ada apa datang ke sini?" tanya Disa, mendudukkan dirinya di kursi yang ada di sebelah Rayyan. Tak ada bangku lain, di teras ini hanya ada dua kursi rotan.
"Emang harus ada tujuannya kalau mau ke sini?" sahut Rayyan, menaikkan sebelah alisnya.
"Iya dong, mana tau kamu mau maling, misalnya." Disa mengerling cowok itu.
Si cowok terkekeh rendah. "Kalau mau maling ya gak mungkin lah terang-terangan gini, harusnya aku datang diam-diam. Lagian, apa juga yang mau aku ambil?"
"Mana aku tau. Di dalam banyak barang berharga, tv, kulkas, motor....."
"Satu-satunya yang paling berharga di rumah ini, itu ya kamu, Adisa. Boleh aku culik kamu?"
Disa memutar bola matanya malas. Bisa saja pejantan satu ini. Memang paling ahli kalau dalam urusan membuat Disa berdebar.
"Gimana?"
Atas pertanyaan aneh itu, Disa menautkan kedua alisnya. "Gimana apanya?"
"Gimana ... Jawaban kamu tentang pertanyaan aku di rumah sakit waktu itu?"
Oh—sial. Disa belum memikirkan jawaban atas pertanyaan itu. Ia terlalu repot dengan kehadiran si kembar, hingga tak ada waktu memikirkan yang lainnya.
"Ray, kamu tau aku baru aja cerai belum ada setahun. Aku belum siap...."
Rayyan mendengarkan dengan tampang serius, dengan senyum kecil terukir di bibirnya. "Aku nggak keberatan harus nunggu berapa lama pun. Kamu butuh waktu berapa lama? Satu tahun? Dua—jangan! Kelamaan. Satu tahun, cukup? Okay?"
Disa memejam, menarik napas rendah, bukan itu maksud Disa... "Ray, coba kamu pikirkan lagi niat kamu buat nikahin aku. Aku ... Janda, Ray. Kalau kamu milih aku, kamu nggak akan ngerasain .... " Disa menggeleng, tak sanggup menyebut kata itu. "Karena jelas aku udah gak perawan. Kamu bakal kecewa."
Rayyan terkekeh kecil, sudah ia duga ini akan menjadi permasalahan di antara hubungan mereka—status Disa. "Perawan atau enggak perawan rasanya sama, kan? Bentukannya sama, kan? Apa yang harus aku kecewain?"
"Sekarang kamu bisa bilang gitu, suatu saat pemikiran kamu pasti berubah kalau kita jadi menikah," sergah Disa. "Carilah perempuan lain, Ray. Yang cocok kalau disandingkan sama kamu, bukan aku. Aku banyak kekurangannya, kamu nggak akan bahagia kalau sama aku."
Rayyan mengalihkan tatapannya, menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, terdiam, cukup lama. Rupanya segala usahanya kemarin belum cukup membuat Disa yakin. Belum cukup membuat Disa percaya diri.
Apa lagi? Rayyan harus melakukan apa lagi untuk meyakinkan wanita keras kepala ini?
Cowok itu lalu bangkit, Disa pikir Rayyan akan pulang. Ucapannya yang seharusnya cukup menyakitkan itu akan membuat pria itu sadar. Namun, bukannya hengkang dari hadapan Disa, Rayyan malah semakin menantang.
Ia jongkok, di hadapan Disa. Meraih tangan Disa untuk ia genggam, mendongak untuk bertemu tatap dengan mata Disa.
Tidak menyerah juga rupanya.....
"Apa semua yang udah aku lakuin ke kamu belum cukup untuk membuat kamu percaya, Dis? Kamu masih ngeraguin aku?" suara Rayyan rendah, namun penuh keseriusan, ketegasan.
Disa terdiam, menunduk.
"Kamu harus tau, Dis, satu-satunya perempuan yang aku tempatkan di hati ... paling dalam ... itu cuma ada satu. Kamu, Adisa. Aku nggak peduli apa status kamu sekarang, aku cuma mau hidup bareng sama kamu, bahagia bareng sama wanita yang aku cinta."
"Ray....." tatapan Disa sayu.
"Jangan pernah ngerasa kamu nggak cocok buat aku, karena aku maunya sama kamu. Aku nyamannya sama kamu. Aku juga banyak kekurangannya, kamu pikir cuma kamu aja yang punya kekurangan? Aku akan terima ... Semua kelebihan dan kekurangan kamu, Disa."
Disa sampai tidak bisa berkata-kata. Ia hanya menangkup pipi Rayyan dengan tangannya. Pria ini.... Apa sih yang dia lihat dari Disa? Hingga pancaran matanya begitu memuja, seolah tidak ada objek lain yang ia damba, yang ia inginkan, yang ia sayang ... Selain Disa.
Tak peduli seberapa jauh Disa berlari menghindar, Rayyan akan selalu mengejar selagi ada kesempatan. Dulu dia sudah kalah, kalah dari Cakra. Kini, ia tidak akan lagi membiarkan dirinya kalah.
"I love you .... So much." Rayyan membawa telapak tangan Disa yang menyentuh pipinya untuk ia kecup. Matanya memejam."Marry me, please. I want you...."
...****************...
Yang nungguin part Risa, nanti sore atau malam aku update lagi 😊
.semoga Andre mengakui anak nya