NovelToon NovelToon
Jin Nyasar Di Desa Kertajaya

Jin Nyasar Di Desa Kertajaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Komedi
Popularitas:737
Nilai: 5
Nama Author: My Chubby

Tiga pemuda bokek di Desa Kertajaya nekat mencari cara mendapatkan uang. Alih-alih menemukan keberuntungan, mereka justru selalu terjebak dalam masalah kocak yang bikin hidup mereka semakin kacau. Tanpa mereka sadari, petualangan aneh yang lebih besar sudah menunggu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemunculan Zahmira

BAB 5

Pusaran partikel debu berkelebat cepat di sudut ruangan, memancarkan cahaya putih keperakan yang menerangi seisi ruang tengah bangunan tua tersebut.

Bau melati dan dupa menguar pekat, mendesak keluar bau debu dan kayu lapuk yang sejak tadi menyengat hidung. Suhu di dalam ruangan mendadak turun beberapa derajat, membuat udara di sekitar mereka terasa dingin secara tidak wajar. Bulu kuduk Raka, Bayu, dan Dimas kontan berdiri serentak.

Raka, Bayu, dan Dimas terpaku di tempat. Tidak ada yang berani bersuara, bahkan untuk sekadar menelan ludah pun kerongkongan mereka terasa kering. Bayu bahkan sempat menahan napas begitu lama hingga wajahnya berubah sedikit kemerahan, sementara Dimas berpegangan pada sudut meja kayu tua di dekatnya untuk menjaga keseimbangan kakinya yang mendadak lemas.

Dengung halus mirip getaran lonceng perak bergema sekali lagi di udara, bergetar di dalam dada mereka dan menciptakan getaran aneh yang membuat suasana terasa semakin mencekam.

Lalu

CLING!

Kilatan cahaya menyilaukan meledak tanpa suara. Pusaran debu itu lenyap seketika, digantikan oleh berdirinya seorang perempuan berbusana megah yang muncul begitu saja dari udara kosong.

Raka mengerjap-ngerjapkan matanya berulang kali, mencoba meyakinkan diri bahwa penglihatannya tidak salah dan iya tidak sedang bermimpi buruk di siang bolong.

Di hadapan mereka, berdiri seorang perempuan bergaun panjang ungu tua bergaya bangsawan Timur Tengah dengan sulaman benang emas berkilauan di tepi kainnya. Lengan gaunnya panjang menjuntai, dihiasi perhiasan emas antik yang melingkar di pergelangan tangan serta leher jenjangnya. Di atas rambut hitamnya yang terurai indah, bertengger sebuah hiasan kepala keemasan berukir rumit yang memancarkan kilau mewah, membuat siapa pun yang melihatnya langsung paham bahwa perempuan itu bukanlah manusia biasa dari dunia mereka.

Wajahnya sempurna, dengan sorot mata tajam, hidung mancung bangsawan, dan ekspresi wajah yang jelas memperlihatkan rasa terganggu yang teramat sangat.

Perempuan itu Zahmira Al-Qadira menatap tajam ke arah tiga pemuda di depannya dengan tatapan penuh ketidak percayaan dan kemarahan tertahan.

Tangannya terulur sedikit, seolah bersiap melontarkan kutukan apa pun yang ada di dalam kepalanya.

Suasana hening sejenak, diisi oleh deru napas mereka yang tertahan, sebelum Bayu akhirnya lepas kendali dan merusak ketegangan ruangan.

"M-makhluk halus..." bisik Bayu gemetar, tubuhnya merinding hebat sambil mencengkeram lengan Dimas erat-erat hingga nyaris membuat temannya itu ikut tersungkur. "Dim, cubit aku, Dim! Ini kita lagi mimpi di siang bolong atau aku salah makan gorengan kemarin?"

"Bukan makhluk halus, bego," bisik Dimas dengan suara sama paniknya, matanya melotot lebar menatap sosok di depan mereka tanpa berkedip. "Itu... model iklan sirup edisi spesial lebaran yang nyasar ke rumah kosong!"

Raka tidak ikut berkomentar. Otaknya macet total. Kehadiran perempuan bergaun ungu dengan kilauan emas di ruangan kumuh itu benar-benar merusak seluruh hukum akal sehat yang dimilikinya. Seluruh teori tentang mencari besi rongsokan demi membayar uang kos mendadak terasa sangat konyol dibandingkan kenyataan bahwa mereka kini sedang berhadapan langsung dengan makhluk dari dunia lain.

Zahmira mendengus pelan, melipat kedua tangannya di dada dengan anggun namun penuh ancaman. Suaranya jernih dan menusuk langsung ke gendang telinga.

"Manusia," ucap Zahmira dingin, menatap Raka setajam silet. "Berani sekali kalian menginjakkan kaki di tempat istirahatku dan mengusik ketenanganku? Siapa kalian? Pencuri, atau sekumpulan pemuda bodoh yang salah alamat?"

Raka menelan ludahnya. Kakinya terasa lemas seperti agar-agar, namun ia berusaha keras membuka mulut untuk membela diri di hadapan sang putri gaib.

"K-kami..." Raka tergagap, mengangkat tangan kanannya dengan gestur memohon damai. "Kami bukan pencuri, Mbak... Eh, Ratu... Maksud saya, Mbak dari alam mana ya? Kami ke sini cuma mau nyari rongsokan besi tua."

Mendengar kata "besi tua", alis Zahmira semakin terangkat tinggi. Sorot matanya menyiratkan kejengkelan yang mendalam, seolah ia baru saja mendengar penghinaan paling keji di muka bumi.

"Besi tua?!" suara Zahmira meninggi, memecah kesunyian rumah tua tersebut. "Kalian berani masuk ke tempat istirahat seorang putri bangsa jin demi mencari sampah besi berkarat?!"

Bayu menatap Raka. Raka menatap Dimas. Dimas malah menatap pintu kayu di belakang mereka, mempertimbangkan kemungkinan untuk melompat keluar lewat jendela.

Jin.

Jadi perempuan di depan mereka benar-benar jin. Dan mereka bertiga tadi nekat masuk ke rumah kosong ini cuma karena ingin mencari besi rongsokan demi membayar sewa kos kepada Bu Ratna.

Bayu langsung memejamkan mata rapat-rapat, merapatkan kedua telapak tangan di depan dada dengan gaya orang hendak shalat jenazah. "Innalillahi wainna ilaihi rajiun... Duh Gusti Allah, lindungi hamba dari jin penunggu rumah kosong... Ampuni dosa-dosa saya yang suka ambil gorengan dua tapi ngakunya satu di warung Pak Jaya..."

Dimas bergeser perlahan ke belakang punggung Raka, wajahnya pucat pasi sambil terus memandangi ujung gaun ungu Zahmira yang berkilauan. "Rak... dia bilang apa tadi? Jin? Wah, gawat. Urusan kita sama Bu Ratna saja belum beres, sekarang malah nyangkut sama bangsawan gaib."

Zahmira menghela napas panjang, memutar bola matanya jengah melihat tingkah tiga pemuda di depannya yang tampak jauh lebih menyedihkan daripada sekadar pengemis jalanan.

"Dengar ya," kata Zahmira dengan nada meremehkan, mengibaskan sebelah tangannya yang dihiasi gelang emas. "Aku tidak punya waktu meladeni kebodohan kalian. Pergi dari sini sebelum kuubah kaus kalian jadi daun singkong rebus!"

"Eh, jangan, Ratu Jin!" protes Bayu cepat, membuka matanya karena panik luar biasa mendengar ancaman tersebut. "Kaus ini baru dibeli waktu ada bazar kemerdekaan kemarin! Jangan dijadikan sayur bening, kasihan lambung saya yang belum pernah makan daun singkong mentah!"

Raka menarik napas dalam-dalam, berusaha mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya di tengah situasi yang sama sekali tidak masuk akal ini. Hidup mereka sudah cukup rumit dengan ancaman Bu Ratna dan dompet kosong melompong. Ditambah kehadiran putri jin pencinta gaun ungu ini, situasi mereka benar-benar berada di luar batas nalar manusia normal.

"Tunggu sebentar, Mbak Zahmira," potong Raka dengan suara bergetar namun berusaha ditegaskan agar terdengar rasional. "Kami benar-benar tidak punya niat jahat sama sekali. Kami lagi bokek, butuh uang buat bayar sewa kos, dan sumpah demi apapun, kami tadinya tidak tahu kalau ruangan ini dipakai mangkal sama jin."

Zahmira menatap Raka lekat-lekat, alisnya bertaut heran. Alih-alih langsung mengamuk atau melontarkan kutukan maut, ekspresi perempuan itu berubah sedikit bingung.

"Bokek?" ulang Zahmira melafalkan kata asing itu dengan nada kebingungan yang kentara. "Apa itu bokek? Apakah itu bentuk kutukan ekonomi yang melanda bangsa kalian di dunia fana ini?"

Raka saling berpandangan dengan Bayu dan Dimas. Tiga pemuda itu mendadak merasa iba di tengah rasa takut mereka. Ternyata seorang putri jin bangsawan dari alam gaib pun bisa kebingungan menghadapi istilah anak kos zaman sekarang.

1
falea sezi
lanjut🤣 q kirim bunga
Putri Pinrang: Baik terimah kasih sudah koment😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!