NovelToon NovelToon
TAWANAN SANG RAJA MAFIA

TAWANAN SANG RAJA MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Nikahmuda
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Demi menyelamatkan sang ayah dari siksaan maut seorang mafia kejam, Aisyah gadis bercadar, Hafizah bermata biru blasteran menyerahkan diri sebagai tawanan abadi. Syaratnya gila: pria berdarah dingin itu harus masuk Islam dan menikahinya.
Pernikahan tanpa cinta pun dimulai. Alih-alih menjadi ratu, hidup Aisyah berubah menjadi neraka ketika suaminya sengaja membawa wanita malam ke hadapannya setiap hari untuk menghancurkan mentalnya.
Di tengah ketakutan yang mencekam dan air mata yang tak pernah kering, Aisyah hanya bersandar pada sujud malamnya.
Mampukah kelembutan ayat-ayat suci meluluhkan hati seorang psikopat tanpa Tuhan, atau justru Aisyah yang akan hancur lebur di sarang iblis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Neraka di Istana Perbukitan dan Darah yang Membasahi Marmer

Suara hantaman pintu kamar utama yang jebol bergema nyaring, memecah keheningan lantai dua istana yang megah. Dua orang pria bertubuh kekar dengan atribut The Black Serpent melangkah masuk dengan beringas, membawa senjata laras pendek di tangan mereka.

Di sudut ruangan, Aisyah Humaira berdiri dengan punggung merapat ke dinding kaca balkon. Jantungnya berdegup kencang seolah hendak melompat keluar dari rongga dadanya. Meskipun rasa takut sempat melumpuhkan sekujur tubuhnya, keyakinan dan keimanan yang kokoh membuatnya menolak untuk menyerah begitu saja pada keadaan. Di balik kain cadar hitam yang basah oleh air mata, ia terus melafalkan ayat-ayat perlindungan dalam hati.

"Ketemu! Gadis itu ada di sini!" teriak salah satu penyusup dengan seringai keji, mengangkat senjatanya ke arah Aisyah. "Jangan bergerak, atau peluru ini menembus kepalamu!"

Aisyah menarik napas panjang, mencoba menguasai diri. Ketika salah satu dari mereka melangkah maju dan mengulurkan tangan kasar untuk mencengkeram pergelangan tangannya, Aisyah menggunakan sisa keberaniannya. Ia menyentakkan tangannya sekuat tenaga, lalu menyemburkan cairan parfum semprot beralkohol tinggi yang selalu ia simpan di dalam saku abayanya langsung ke arah mata sang penyerang.

Argh! Sialan! Mataku perih! teriak pria itu kesakitan, memegangi wajahnya sambil mengumpat kotor.

Penyusup kedua yang melihat temannya kesakitan langsung mengamuk. Ia mengayunkan popor senjatanya ke udara. Namun sebelum benda tumpul itu menghantam tubuh Aisyah, suara deru mesin mobil yang meraung liar di halaman luar mendadak memecah malam, disusul oleh suara dentuman keras pintu gerbang utama yang dihantam dari luar.

Di halaman depan istana, sebuah SUV hitam meluncur masuk dengan kecepatan brutal, langsung menabrak salah satu mobil musuh hingga terpental menabrak pilar air mancur.

Sebelum mobil berhenti sempurna, pintu kemudi terbuka dengan kasar. Kenzie Al-Ghazali melompat keluar bagaikan singa yang baru saja lepas dari kandangnya. Wajahnya pucat pasi, matanya memerah menahan amarah yang membara hingga ke ubun-ubun. Di belakangnya, Vito bersama pasukan elit pengawal istana turun serentak, langsung memberondongkan tembakan balasan ke arah para penjaga bayaran The Black Serpent yang berjaga di lantai bawah.

"Habisi semuanya! Jangan biarkan satupun dari mereka bernyawa keluar dari halaman ini!" geram Kenzie dengan suara berat yang menggelegar, penuh ancaman kematian.

Tanpa menunggu komando kedua, Kenzie berlari kencang menerobos pintu utama istana yang sudah porak-poranda. Ia tidak peduli pada luka gores di tangannya atau pecahan kaca yang berserakan. Yang ada di dalam pikirannya saat itu hanya satu: keselamatan Aisyah.

Kenzie menaiki tangga marmer menuju lantai dua dengan lompatan dua-tiga anak tangga sekaligus. Di ambang pintu kamar utama yang jebol, ia melihat seorang penyusup bertubuh besar sedang berusaha menarik paksa tangan istrinya.

Melihat pemandangan itu, kendali akal sehat Kenzie seketika putus.

"Lepaskan tangan kotor itu dari istriku!" bentak Kenzie menggelegar.

Penyusup itu terperanjat dan berbalik kencang, namun terlambat. Kenzie menerjangnya bagaikan badai, menghantamkan tinju mautnya tepat di rahang sang musuh hingga pria bertubuh kekar itu tersungkur muntah darah dan tak sadarkan diri seketika. Penyusup kedua yang mencoba mengangkat senjata langsung dilumpuhkan oleh tembakan presisi dari Vito yang menyusul di belakang.

Suasana di kamar utama mendadak sunyi senyap, menyisakan deru napas Kenzie yang memburu kencang.

Kenzie segera berbalik. Pandangannya langsung tertuju pada sosok wanita berbalut abaya hitam yang berdiri gemetar di dekat sudut kamar. Dengan langkah cepat namun penuh kehati-hati, Kenzie mendekati Aisyah, lalu merengkuh tubuh istrinya yang rapuh ke dalam dekapannya yang hangat dan erat.

"Aisyah..." bisik Kenzie dengan suara bergetar hebat, mendekap kepala istrinya ke dadanya. "Kamu tidak apa-apa? Ya Allah... maafkan aku... maafkan aku terlambat datang..."

Aisyah yang sejak tadi menahan ketegangan akhirnya pecah tangisnya di pelukan sang suami. Ia mencengkeram erat kain kemeja Kenzie, membenamkan wajahnya di dada bidang pria itu.

"Mas... aku takut..." lirih Aisyah terisak pelan. "Aku takut kehilanganmu..."

Kenzie menciumi puncak kepala Aisyah yang tertutup khimar berulang kali, menyalurkan seluruh kehangatan dan rasa aman yang tersisa. "Ssstt... sudah, semuanya sudah aman. Tidak ada yang boleh menyentuhmu selagi aku bernapas. Aku di sini, Aisyah. Aku di sini."

Tiga puluh menit kemudian, situasi di dalam istana berhasil dikendalikan sepenuhnya. Pasukan Vito berhasil melumpuhkan seluruh penyusup, sementara sebagian dari mereka dibawa untuk interogasi lebih lanjut mengenai markas besar Valeria.

Di ruang tamu utama lantai bawah yang sebagian abunya dibersihkan, Kenzie duduk bersanding dengan Aisyah di atas sofa beludru. Meskipun keadaan sudah terkendali, Kenzie sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya dari jemari dingin sang istri.

Aisyah, yang kini kembali mengenakan cadar hitamnya untuk menutupi wajah setelah sempat terbuka karena kekacauan tadi, menatap suaminya dengan penuh kelembutan. Ia tahu badai malam ini membuktikan satu hal: betapa besar cinta dan pengorbanan yang dimiliki Kenzie untuk melindunginya.

Kenzie menoleh, menatap lekat-lekat sepasang mata jernih istrinya di balik cadar. Pria itu mengangkat tangannya, mengusap lembut kain cadar yang basah oleh air mata Aisyah.

"Mulai hari ini," ucap Kenzie dengan suara berat namun penuh ketegasan mutlak, "kita tidak akan tinggal diam lagi menunggu mereka datang menyerang. Aku akan pastikan akar dari semua ancaman ini dihancurkan sampai tuntas, agar tidak ada lagi yang berani mengusik kedamaian kita."

Aisyah mengangguk pelan, merespons perkataan suaminya dengan genggaman tangan yang semakin erat. "Apapun keputusanmu, Mas... aku akan selalu mendukungmu dan berdiri di sisimu, dalam suka maupun duka."

Malam yang tadinya terasa seperti neraka berdarah di istana perbukitan itu perlahan mereda, digantikan oleh kehangatan dua jiwa yang semakin menyatu dalam ikatan iman dan cinta yang teruji oleh badai kehidupan.

1
ika mummy
beneran ceritan nya keren... aku syuuukkka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!