Niat mau bercerai setelah selesai Kkn, eh pas Kkn mereka malah buat dede bayi. Apakah mereka akan jadi bercerai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon isd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bermalam di hutan
Arsen tiba-tiba menghentikan langkahnya. Langkahnya yang sejak tadi tenang mendadak terhenti. Ia mengamati keadaan di sekeliling dengan dahi berkerut.
Sebuah pohon besar di sisi kiri, akar yang menjalar hingga ke jalan setapak, serta batu besar yang berada beberapa meter di depan…
Semuanya terasa tidak asing. Terlalu familiar.
“Kenapa?” tanya Keira yang masih berada di punggungnya. Nada suaranya mulai terdengar cemas.
Arsen tidak langsung menjawab. Tatapannya kembali menyapu seluruh area di sekitar mereka, memastikan apa yang ia lihat bukan sekadar perasaan.
“Kita sudah melewati tempat ini dua kali…” gumamnya. “Jangan-jangan kita salah jalan.”
Tubuh Keira seketika menegang.
“Mas!”
Panggilan itu keluar begitu saja dari mulutnya. Sebuah panggilan yang jarang sekali ia gunakan, apalagi ketika ada orang lain di sekitar mereka.
Arsen sedikit menoleh. Untuk sesaat, keduanya terdiam.
“Kamu tadi memanggilku apa?” tanya Arsen pelan.
Keira langsung tersadar dengan ucapannya sendiri.
“Aku… itu….”
“Fokus dulu,” potong Arsen cepat.
Meski begitu, sudut bibirnya sempat terangkat tipis sebelum kembali memasang wajah serius.
“Kita cari jalan keluar dulu.”
Keira ikut memperhatikan keadaan di sekitar mereka.
Kini hutan itu terasa jauh lebih menyeramkan. Cahaya yang masuk dari sela-sela pepohonan semakin redup. Suara burung yang sebelumnya terdengar pun hampir tidak ada lagi.
Yang tersisa hanyalah suara angin dan gesekan dedaunan.
“Kita benar-benar tersesat?” tanya Keira dengan suara bergetar.
Arsen kemudian menurunkannya dari punggung secara perlahan.
“Kamu masih bisa berdiri?”
Keira mengangguk kecil. Meskipun begitu, wajahnya masih menunjukkan ketakutan.
Arsen merogoh saku dan mengeluarkan ponselnya. Ia mencoba memeriksa jaringan, berharap masih ada sedikit sinyal untuk menghubungi rombongan.
Namun, tidak ada satu pun bar sinyal. “Tidak ada jaringan,” gumamnya.
Wajah Keira semakin panik. “Terus bagaimana? Kita balik saja!”
“Kita sudah melewati jalan itu sebelumnya,” jawab Arsen tenang. “Kalau kita kembali sembarangan, kita bisa saja malah berputar lagi.”
Meski terdengar tenang, dalam hati Arsen mulai meningkatkan kewaspadaannya.
Keira memeluk tubuhnya sendiri. Wajahnya semakin pucat.
“Aku nggak suka tempat seperti ini…”
Arsen menatapnya beberapa saat. Ia bisa melihat dengan jelas bahwa Keira bukan sekadar merasa tidak nyaman. Gadis itu benar-benar ketakutan.
Arsen mengembuskan napas perlahan. “Dengar.”
Nada suaranya kali ini jauh lebih lembut.
“Kita nggak akan kenapa-kenapa. Jadi, tenang.”
Keira mengangkat wajah dan menatapnya. Untuk pertama kalinya sejak mereka masuk ke hutan, suara Arsen terdengar benar-benar menenangkan.
“Tapi…” suara Keira mengecil. “Aku takut.”
Arsen terdiam sejenak. Kemudian, tanpa banyak bicara, ia meraih pergelangan tangan Keira dan menggenggamnya erat.
Gerakan itu terjadi begitu saja, seolah merupakan refleks. Keira sempat terkejut ketika merasakan tangan Arsen menggenggamnya. Namun, ia tidak menarik tangannya.
“Dekat denganku,” ujar Arsen. “Jangan sampai kamu menjauh.”
Jantung Keira berdetak lebih cepat. Dan kali ini, ia tidak yakin apakah detak itu hanya disebabkan oleh rasa takut.
“Iya…” jawabnya lirih.
Arsen mulai kembali melangkah, tetapi kali ini jauh lebih hati-hati. Tangannya tetap menggenggam tangan Keira sementara matanya terus mengamati keadaan sekitar.
Ia sesekali melihat ke arah langit yang tertutup rimbunnya pepohonan, mencoba mengikuti posisi matahari yang masih terlihat samar di balik dedaunan untuk menentukan arah.
Sementara Keira terus berjalan di sampingnya, tidak lagi berani melepaskan genggaman tangan Arsen.
Baru beberapa langkah mereka berjalan, tiba-tiba terdengar suara ranting patah dari balik semak-semak.
Krek. Keira langsung merapat ke sisi Arsen.
“Itu suara apa?!” bisiknya panik.
Arsen seketika menjadi waspada. Ia bahkan sedikit menarik Keira ke belakang tubuhnya, seolah ingin melindunginya.
“Diam dulu,” bisiknya.
Mereka terdiam. Beberapa saat kemudian, suara itu kembali terdengar.
Krek… krek…
Napas Keira semakin tidak beraturan. Tanpa sadar, tangannya mencengkeram bagian belakang baju Arsen.
“Mas…” panggilnya lirih.
Arsen menoleh sedikit, tetapi pandangannya tetap tertuju pada semak-semak di depan.
“Aku di sini,” jawabnya pelan.
Entah kenapa, kalimat sederhana itu membuat ketakutan Keira sedikit mereda.
Mereka menunggu dengan tegang. Beberapa detik kemudian, dari balik semak-semak muncul seekor kambing kecil yang berjalan santai, sama sekali tidak peduli dengan dua manusia yang sejak tadi ketakutan.
Keira mengembuskan napas panjang. “Ya ampun… aku kira apa.”
Arsen mengusap wajahnya perlahan. Rasa lega bercampur malu karena mereka ternyata hanya dibuat panik oleh seekor kambing.
“Kita terlalu tegang,” gumamnya.
Keira menatap kambing yang semakin menjauh, lalu tanpa sadar terkekeh kecil. Rasa takut yang bercampur lega membuatnya sulit menahan tawa.
Namun setelah itu, keduanya kembali terdiam. Keadaan hutan tidak berubah. Tetap sunyi.
Tetap sepi. Dan yang paling membuat mereka cemas, mereka masih belum menemukan jalan keluar.
Kali ini Keira tidak lagi menjaga jarak dari Arsen.
Ia tetap berdiri di dekat pria itu, bahkan tangannya masih menggenggam ujung pakaian Arsen.
Untuk pertama kalinya, di tengah ketakutan yang menyelimuti dirinya, Keira justru merasa tidak ingin berada jauh dari Arsen.
Waktu terus berjalan. Langit yang sebelumnya masih terang perlahan berubah menjadi jingga keabu-abuan. Sinar matahari semakin lemah, tertutup oleh rimbunnya pepohonan.
Udara pun mulai terasa lebih dingin. Hutan yang sejak tadi sunyi kini terasa semakin senyap.
Arsen akhirnya menghentikan langkahnya.
“Kita istirahat dulu. Aku juga sudah capek.”
Keira yang sejak tadi berjalan di belakangnya langsung menatap Arsen dengan wajah cemas.
“Aku takut…” ucapnya lirih. “Bagaimana kalau sampai malam tidak ada yang datang mencari kita?”
Arsen menarik napas dalam-dalam, berusaha mempertahankan ketenangannya.
“Kamu tenang saja. Mereka pasti sudah sadar kalau kita tidak ada di rombongan. Mereka pasti akan mencari kita.”
Meski berkata demikian, sebenarnya Arsen sendiri mulai merasakan kekhawatiran yang sama.
Ia kemudian mencari beberapa daun berukuran besar dan lebar di sekitar mereka. Setelah mendapatkannya, ia menyusun daun-daun tersebut di atas tanah agar bisa digunakan sebagai alas untuk duduk.
“Duduk dulu.”
Keira menurut tanpa banyak bicara. Ia duduk di atas daun tersebut, tetapi matanya masih terus bergerak mengamati keadaan di sekeliling dengan gelisah.
Beberapa menit berlalu tanpa percakapan. Hanya suara angin dan dedaunan yang menemani mereka.
“Aku haus…” ucap Keira tiba-tiba dengan suara pelan.
Arsen menoleh kepadanya. Ternyata ia pun merasakan hal yang sama. Tenggorokannya sudah terasa kering setelah berjalan cukup jauh sejak tadi.
Arsen mengusap wajahnya sebentar, lalu berdiri.
“Sabar, ya.”
Ia mulai memperhatikan lingkungan sekitar, mencari sesuatu yang mungkin bisa membantu mereka.
Tatapannya berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya. Sampai akhirnya, matanya berhenti pada sebuah pohon yang menjulang cukup tinggi di hadapan mereka.
Kelapa.
Arsen mendekati pohon tersebut untuk memastikan. Beberapa buah kelapa masih terlihat menggantung di bagian atas.
“Untung…” gumamnya lega. Ia kemudian menoleh kepada Keira.
“Kamu tunggu di sini.”
Keira mengerutkan kening. “Kamu mau melakukan apa?”
Arsen tidak menjelaskan panjang lebar. Ia segera melepas jam tangan dari pergelangan tangannya dan meletakkannya di atas daun yang tadi dijadikan alas.
Setelah itu, ia langsung mulai memanjat pohon kelapa.
Keira spontan berdiri. “Eh! Kamu serius mau manjat?!”
Namun Arsen sudah berada beberapa meter dari tanah.
“Hati-hati!” teriak Keira cemas.
Arsen tidak menjawab. Kedua tangannya mencengkeram batang pohon dengan kuat, sementara kakinya mencari pijakan yang aman sebelum kembali bergerak ke atas.
Keira hanya bisa berdiri di bawah sambil menggigit bibir.
Jantungnya berdegup kencang. Jangan sampai jatuh… jangan sampai jatuh…
Beberapa saat kemudian, Arsen berhasil mencapai bagian atas pohon. Ia menahan tubuhnya dengan satu tangan, lalu berusaha menjatuhkan buah kelapa yang sudah cukup matang.
“Menjauh sedikit!” teriaknya dari atas.
Keira segera mundur beberapa langkah.
Buk!
Satu buah kelapa jatuh menghantam tanah. Tidak lama kemudian, buah lainnya ikut menyusul.
Buk!
Setelah memastikan sudah mendapatkan cukup kelapa, Arsen mulai turun perlahan. Ia bergerak hati-hati hingga akhirnya kedua kakinya kembali menyentuh tanah.
Napasnya terdengar sedikit berat. Keira langsung menghampirinya.
“Kamu nggak apa-apa?”
Arsen mengangguk singkat. “Nggak. Ambil itu.”
Keira segera mengambil salah satu buah kelapa yang tergeletak di tanah.
“Tapi… ini dibukanya bagaimana?”
Arsen tidak menjawab. Ia mengambil sebuah batu yang cukup besar, kemudian menghantam bagian atas kelapa tersebut beberapa kali.
Tok! Tok! Tok!
Setelah beberapa pukulan, kulit kelapa itu akhirnya retak dan terbuka sedikit.
Arsen menyerahkannya kepada Keira.
“Minum.”
Keira menerimanya. Tangannya masih sedikit gemetar, tetapi rasa haus membuatnya langsung meneguk air kelapa tersebut.
Air kelapa yang dingin dan segar terasa begitu melegakan tenggorokannya.
“Enak…” gumamnya puas.
Arsen kemudian mengambil kelapa yang satunya. Ia membukanya dengan cara yang sama sebelum ikut meminum airnya secukupnya.
Untuk beberapa saat, mereka hanya duduk dalam diam.
Di tengah hutan yang semakin gelap dan keadaan yang masih tidak pasti, setidaknya rasa haus mereka sedikit teratasi.
Keira kemudian menatap Arsen.
“Kamu sebenarnya kenapa sih selalu merasa harus kuat?”
Arsen menoleh. “Maksudmu?”
“Kamu juga capek, kan?” Keira menunjuk kelapa yang baru saja dibukanya. “Tapi masih saja memaksakan diri. Tadi bahkan sampai manjat pohon segala.”
Arsen terdiam sejenak. Kemudian ia menjawab dengan suara rendah.
“Kalau aku nggak kuat, siapa lagi?”
Keira langsung terdiam. Kalimat sederhana itu membuatnya tidak tahu harus menjawab apa.
Angin malam mulai berembus di antara pepohonan. Cahaya yang tersisa semakin menghilang hingga hutan perlahan diselimuti kegelapan.
Tanpa sadar, Keira bergeser sedikit mendekati Arsen. Kali ini Arsen tidak menjauh ataupun memintanya menjaga jarak.
Keduanya hanya duduk berdampingan dalam keheningan.
Rasa lelah yang sejak tadi ditahan mulai terasa semakin berat. Setelah meminum air kelapa, tubuh Keira memang terasa lebih nyaman, tetapi rasa kantuk justru mulai menyerangnya.
Ia menguap beberapa kali. Kelopak matanya perlahan terasa berat hingga pandangannya mulai sayu.
....
jangan lupa like, komen guys