NovelToon NovelToon
Pembalasan Raden Roro: Kubuat Suamiku Jadi Gembel

Pembalasan Raden Roro: Kubuat Suamiku Jadi Gembel

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Romansa pedesaan
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

~DALAM TAHAP REVISI~

Raras hanya ingin pernikahannya berjalan tenang. Ia sembunyikan nama besar keluarganya, meninggalkan kemewahan di Yogyakarta, dan memilih hidup sederhana bersama Danang, pedagang yang sedang naik daun.

Hingga suatu malam Raras melihat pesan mesra di ponsel suaminya. Danang berselingkuh.

Yang lebih menyakitkan, keluarga Danang justru merendahkan Raras. Mereka menganggap Raras perempuan tanpa masa depan. Bagi mereka Danang pantas mendapat wanita lebih cantik, lebih bergengsi, dan menguntungkan.

Raras tidak menangis. Ia hanya berkemas dan pulang ke Yogyakarta.

Di balik pintu dalem keluarganya, kehidupan yang selama ini ia sembunyikan akhirnya terbuka. Ternyata tanah, sawah, kebun, gudang, dan jaringan perdagangan milik keluarga Raras selama ini yang diam diam menopang kesuksesan bisnis Danang dari belakang.

Raras tidak menghancurkan mantan suaminya. Ia hanya berhenti menopang. Satu per satu bisnis Danang runtuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 — Orang-Orang yang Dulu Membantunya

Pak Wiryo tidak mempersilakan Danang duduk di kursi tamu.

Ia menunjuk bale bambu di bawah pohon belimbing yang daunnya bergoyang pelan, di halaman rumah yang menghadap hamparan sawah di selatan Bantul. Jagung pipil dijemur di atas tikar, sementara seorang perempuan tua membolak-baliknya dengan sapu lidi tanpa mengangkat muka.

"Ing mriki mawon, Mas. Langkung sae." (Di sini saja, Mas. Lebih baik.)

Danang duduk bersila. Lututnya yang kaku berderak. Ia sudah tiga jam di jalan dari pasar, dua kali berganti ojek, dan tak sempat memikirkan kalimat pembuka. Sepanjang perjalanan, ia hanya memandangi sawah yang berlalu dan menghitung dalam hati siapa saja yang pernah mengangguk kepadanya selama tiga tahun terakhir, serta apakah anggukan itu ditujukan kepadanya atau kepada nama di belakangnya.

Ia hanya tahu apa yang ingin ia tanyakan.

"Pak Wiryo, nuwun sewu. Tenggang tiga puluh hari itu, sejak awal, dari siapa?"

Pak Wiryo tidak langsung menjawab. Istrinya meletakkan dua gelas teh di bale, lalu mundur tanpa suara.

"Sanes saking Panjenengan, Mas," katanya akhirnya. "Lan sanes saking kulo." (Bukan dari Anda, Mas. Dan bukan dari saya.)

"Dari siapa?"

"Saking asma dalem." (Dari nama dalem.)

Danang mendengar kata itu seperti menerima pukulan yang sudah ia tunggu sejak semalam. Ia tak lagi terkejut. Yang tersisa hanya rasa lelah, sampai ke tulang.

"Dalem Pramesti."

"Inggih." Pak Wiryo menunduk sedikit, seperti menyebut nama orang tua yang tidak berada di tempat. "Kulo mboten abdi dalem, Mas. Kulo mitra. Tegal kulo namung sakmenika." Ia melambaikan tangan ke hamparan sawah di belakangnya. Tidak luas, tetapi tertata rapi. "Nanging ingkang ngrimati supados gabah kulo dipun tampi pasar, ingkang ndamel pembeli pitados, niku dalem. Sakderengipun kulo, bapak kulo. Sakderengipun bapak kulo, simbah." (Tetapi yang menjaga supaya gabah saya diterima pasar, yang membuat pembeli percaya, itu dalem. Sebelum saya, bapak saya. Sebelum bapak saya, kakek.)

"Pak Sastro? Bu Warsih?"

"Sami, Mas. Kulo, Pak Sastro, Bu Warsih. Tiyang tiga niku mitra dalem saking jaman Eyang." (Sama, Mas. Saya, Pak Sastro, Bu Warsih. Kami bertiga mitra dalem sejak zaman Eyang.)

Danang menunduk. Tiga nama itu telah ia pegang bertahun-tahun, tercatat di bagian terpenting dalam kepalanya. Tiga orang yang ia kira berhasil ia raih lewat keramahan dan ketepatan waktu. Ia tak pernah bertanya mengapa mereka tidak pernah menawar harga kepadanya atau mengapa tenggang yang mereka berikan tidak pernah mundur sehari pun.

"Saya selalu bayar tepat waktu, Pak." Suaranya terdengar defensif, dan ia benci mendengarnya. "Saya nggak pernah telat satu kali pun."

"Leres, Mas." Pak Wiryo mengangguk sungguh-sungguh. "Niku kedah kulo aturaken. Panjenengan mboten nate telat. Panjenengan nyambut damel keras. Mboten wonten ingkang saged ngalani niku." (Benar, Mas. Itu harus saya katakan. Anda tidak pernah telat. Anda bekerja keras. Tidak ada yang bisa menyangkal itu.)

Kalimat itu seharusnya menenangkan. Namun, Danang justru merasa dadanya sesak mendengarnya. Pak Wiryo tidak mengasihaninya, juga tidak menghakiminya. Ia hanya meletakkan fakta di atas bale, satu per satu, seperti menjejerkan butir jagung untuk dihitung.

"Tapi saya nggak minta, Pak," kata Danang. "Saya nggak pernah minta tenggang. Mereka yang memberi."

"Leres. Mboten wonten tiyang ingkang nyuwun, Mas." Pak Wiryo mengangkat gelasnya. "Lan Ndoro Putri mboten nate ngandika awon ngengingi Panjenengan, nopo mawon. Mboten ing ngajeng kulo, mboten ing wingking kulo." (Benar. Tidak ada yang meminta, Mas. Dan Ndoro Putri tidak pernah berbicara buruk tentang Anda, apa pun. Tidak di depan saya, tidak di belakang saya.)

Danang menatap gelas tehnya. Ia merasakan sesuatu bergeser di bawah tulang dadanya, perlahan, seperti bidang tanah yang bergeser setelah hujan.

"Berarti saya cuma berdiri di atas kerja orang lain."

"Mboten, Mas." Pak Wiryo menggeleng pelan. "Panjenengan ingkang mlampah. Namung margine sampun dipun resiki dening tiyang sanes." (Anda yang berjalan. Hanya jalannya sudah dibersihkan orang lain.)

Danang mengusap wajahnya. Telapak tangannya basah.

"Pak, kalau saya bayar tunai. Harga berapa pun. Karung yang bertanda, yang kualitasnya sama, apa Bapak masih mau jual?"

"Barang kulo, kulo adol, Mas. Mboten wonten ingkang nglarang." Pak Wiryo menyesap tehnya. "Nanging cap niku sanes kagungan kulo. Cap niku jaminan saking dalem. Lan jaminan kangge Panjenengan sampun badhe rampung." (Barang saya, saya jual, Mas. Tidak ada yang melarang. Tapi cap itu bukan milik saya. Cap itu jaminan dari dalem. Dan jaminan untuk Anda akan segera berakhir.)

"Kapan?"

"Tanggal kalih dasa." Ia mengangkat jari-jarinya, menghitung pelan. "Kirang langkung enem dinten malih."

Enam hari. Danang membayangkan karung-karung di Wates, empat ratus dua puluh karung yang disusun rapi oleh orang-orang yang tidak punya kewajiban terhadapnya. Itulah stok bercap terakhir yang ia miliki.

"Kalau saya minta diperpanjang, Pak?"

"Kulo mboten pareng matur, Mas." Pak Wiryo menatapnya lurus, tanpa permusuhan. "Nanging ingkang nyuwun, kedah nyuwun wonten ing meja. Mboten wonten ing telpon." (Saya tidak diperbolehkan bicara, Mas. Tapi yang meminta harus meminta di meja. Bukan di telepon.)

Danang teringat ucapan Raras kemarin. Saya tidak tahu apa-apa, Mas. Saya hanya kenal Mas.

"Dia yang bilang begitu."

"Mboten, Mas. Niku kulo piyambak." Pak Wiryo tersenyum tipis, untuk pertama kalinya. "Tiyang Jawi mboten gemar ngomong lewat kabel." (Orang Jawa tidak suka bicara lewat kabel.)

Danang hampir tertawa. Tawa itu patah di tenggorokannya. Yang keluar hanya embusan napas pendek.

Ia berdiri, lalu membungkuk dalam-dalam.

"Matur nuwun, Pak. Saya tahu Bapak sudah bicara lebih dari yang boleh."

"Kulo namung nyebut kasunyatan, Mas." (Saya hanya menyebut kenyataan.) Pak Wiryo ikut berdiri. "Mugi rahayu."

Istri Pak Wiryo menyusulnya sampai ke regol, membawa bungkusan daun pisang yang masih hangat. Jagung rebus, sebanyak yang bisa dipegang dengan dua tangan.

"Kangge ing margi, Mas." (Untuk di jalan, Mas.) Perempuan itu tidak menatapnya langsung. Ia hanya menyerahkan bungkusan itu dengan kedua tangan, seperti kepada tamu yang dimuliakan. Danang menerimanya dengan membungkuk sedalam tadi, tetapi tak mampu mengucapkan apa pun selain terima kasih.

Ia menelepon Sastro dan Warsih dari pinggir jalan di tepi sawah sambil menunggu ojek. Dua percakapan pendek, hampir sama persis. Sopan, tenang, jujur. Pak Sastro berkata, "Kulo mitra dalem sak jaman Eyang." Bu Warsih berkata dengan suara bergetar, "Nduk Raras niku nate nyengkuyung kulo wektu bapakipun sakit." (Nduk Raras itu pernah menopang saya waktu suami sakit.) Danang mengucapkan terima kasih berkali-kali, lalu menutup telepon sebelum suaranya pecah.

Tiga dari tiga, dan tak satu pun bohong.

Ia menunduk memandangi bungkusan di pangkuannya. Ia belum makan sejak kemarin, dan baru menyadarinya ketika uap hangat menyentuh wajahnya. Ia membuka daun pisang itu dan makan di pinggir pematang, pelan-pelan, sambil mengingat satu kalimat sederhana dari telepon kemarin. Makan dulu, Mas. Manis jagung itu membuat matanya panas. Ia menunduk sampai rasa panas itu mereda.

Ponselnya bergetar. Nama Bapak muncul di layar.

Ia tidak mengangkat pada dering pertama. Baru pada dering ketiga ia menekan tombol hijau dan menegakkan punggung, meski tak ada yang melihat.

"Nggih, Pak."

"Nang." Surya terdengar tenang, tetapi bukan ketenangan yang menenangkan. "Hartono barusan telepon Bapak. Langsung, tidak lewat anak buahnya."

Danang menutup mata.

"Dia bilang besok kamu diminta bawa contoh karung bertanda. Bapak nggak tahu apa maksudnya. Bapak nggak pernah dengar soal tanda." Jeda panjang. "Bapak tahu kamu di Yogya. Bapak tahu kamu nggak bilang. Bapak nggak mau tanya sekarang."

"Pak, saya bisa jelaskan..."

"Jelaskan nanti malam. Di rumah, bukan lewat telepon." Suara Surya merendah. "Dan Nang. Kalau jawabanmu panjang, Bapak minta kamu pikirkan dulu bagaimana mengucapkannya, supaya Ibumu tidak sempat mendengar kata yang salah."

Sambungan terputus. Danang berdiri di tepi pematang dengan ponsel masih menempel di telinga, memandang hamparan padi hijau yang bergoyang. Di kejauhan, seekor bangau terbang rendah.

Ia belum tahu bagaimana menjelaskan kepada ayah yang membangun usaha dari nol bahwa ia pernah berjalan di atas jalan yang sudah dibersihkan istrinya.

1
Nurlaila Hidayah
Dia lah yg telah membersihkan jalan untuk ku mempermudah usahaku tnpa adanya hambatan, tapi dengan tidak tahu malu dan tidak tahu diri nya, diri ini berani untuk menduakan dan menceraikan demi wanita lain. padahal dia yg telah membantu usahaku
Sri Widiyarti
lanjut thor semangat up-nya
Erchapram: Mohon sabar menunggu ya Kak, karena aku sedang revisi mulai bab 1. Terima kasih supportnya 🙏
total 1 replies
Sri Widiyarti
Danang kesuksesanmu ternyata bantuan istri yang kau ceraikan demi perempuan lain..
Erchapram
Yang sudah baca sampai bab ini, boleh gak sih aku minta bintang limanya 🙏 Makasih banyak sebelumnya.
Sri Widiyarti
lanjut thor jangan lama2 🙏
Erchapram: Iya, Kak. Terima kasih supportnya 🙏
total 1 replies
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
Raras udh mulai bergerak ,,
Baek chanhun
next thort 💪💪
Muft Smoker
baruuu ini ad cerita byk pake bahasa daerah ,, cerita ny bagus kak ,,
lanjuut
Muft Smoker
hai kak ,, mampir aq ,,
Baek chanhun
thank, saran nya di terimah, yg bab tarakhir itu flasback ya.
🙏💪
Erchapram: Terima kasih kembali Kak dan iya, itu flashback.
total 1 replies
Baek chanhun
senang banget ada bahasa daerah, tapi, kalo ada artinya lebih bagus lagi, gua orang luar jawa ng ngerti apa.yg.di omongin, 🙏🙏
Erchapram: Sudah aku revisi Kak, bisa dibaca ulang. Terima kasih.😍
total 2 replies
Soraya
lanjut thor
Soraya
hadir thor lanjut
Baek chanhun
lanjutkan thort. 💪💪
Erchapram: Baik... terima kasih supportnya.
total 1 replies
Ma Em
mampir Thor , buat Danang menyesal karena sdh menduakan Raras .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!