Dikhianati dan dibunuh oleh rekan seperjuangannya sendiri, Dinda, Komandan Pertama Barat yang legendaris, justru mendapat kesempatan kedua setelah jiwanya berpindah ke tubuh Ana Pramudia, gadis lemah yang dibunuh oleh saudara tirinya sendiri.
Kini, dengan jiwa seorang jenderal tangguh dan kekuatan mistis yang masih tersisa, Ana siap membalas dendam, merebut kembali harga dirinya, dan mengguncang Kekaisaran. Namun, di tengah intrik dan musuh yang mengincarnya, kemunculan Tuan Muda Adrian yang terus mengikutinya justru menambah misteri.
Akankah Ana berhasil menaklukkan dunia barunya, dan apa sebenarnya tujuan Adrian mendekatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusriani Yusuf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemunculan nyonya Lin
Genggaman tangan Adrian terasa hangat namun mengunci begitu kuat di jemari Ana. Di bawah terpaan lampu kristal aula yang megah, keheningan yang mencekam kembali merayap, melumpuhkan seluruh kata di tenggorokan Nyonya Aditama dan Bimo Pramudia. Kartu undangan berlapis emas di tangan Nyonya Aditama kini bergetar hebat, sebelum akhirnya merosot jatuh ke lantai marmer, memperlihatkan cetakan nama Adrian dan Ana yang berkilau.
Jesika yang berdiri di belakang ibunya mendadak merasa bumi yang dipijaknya runtuh. Semua skenario licik yang telah ia susun rapi bersama ibunya untuk membuat Ana merangkak menjadi bahan tertawaan kota, hancur lebur hanya dalam hitungan detik. Napasnya tercekat, dadanya terasa sesak oleh kombinasi rasa cemburu, panik, dan tidak percaya. Ana bukan lagi gembel Kelas F yang bisa dia injak-injak, melainkan calon permaisuri dari penguasa ekonomi tertinggi Kekaisaran!
Nyonya Aditama, yang harga dirinya terlanjur terluka parah di depan para kolega militer dan pejabat Kamar Dagang, mendadak menegakkan punggungnya. Rasa terkejutnya sesaat berubah menjadi kilatan amarah yang tidak terkendali. Keanggunan bangsawan yang biasanya ia pamerkan kini lenyap, digantikan oleh keputusasaan untuk mempertahankan sisa-sisa wibawa keluarganya.
Dengan senyum kecut yang dipaksakan dan suara yang sengaja ditinggikan agar terdengar oleh para tamu di sekitarnya, Nyonya Aditama mencibir dengan nada menghina. "Tuan Muda Adrian Sanjaya, jangan salahkan saya kalau saya bertindak lancang malam ini. Biarpun Anda, Tuan Muda dari Grup Angkasa yang terhormat, bersikeras ingin menikahi Ana Pramudia... jangan harap keluarga anda akan tinggal diam!"
Nyonya Aditama melangkah maju, menunjuk Ana dengan ujung jarinya yang dihiasi cincin permata.
"Saya, sebagai keluarga Aditama di lingkaran ini, belum pasti mau menerima gadis liar ini sebagai menantu saya! Pria mana yang sangar dan waras yang bisa mengatur perempuan tidak bermoral yang berpakaian seperti gembel dan berandalan sekolah seperti dia? Keluarga kami memiliki standar tinggi, dan dia tidak akan pernah pantas menginjakkan kaki di kediaman kami, sekalipun Anda pasang badan untuknya!"
Suasana di aula perjamuan mendadak membeku. Bisik-bisik para tamu langsung terhenti. Kalimat lancang Nyonya Aditama yang secara terang-terangan menantang keputusan Tuan Muda Sanjaya dinilai sebagai tindakan cari mati.
Ana yang mendengar hinaan itu tidak berkedip sedikit pun. Jiwa Dinda sang Panglima Perang di dalam dirinya justru merasa geli melihat keberanian kosong wanita di depannya. Sudut bibir tomboinya perlahan terangkat miring, membentuk senyuman dingin yang teramat tajam.
Namun, Adrian sama sekali tidak membiarkan aura mengancamnya luntur. Sepasang matanya menyipit tajam, memancarkan kilatan emosi yang sangat dingin dan berbahaya. Cengkeramannya pada bahu Ana semakin protektif.
"Anda pikir opini Anda memiliki nilai di gedung ini, Nyonya Aditama?" desis Adrian, suaranya baritonnya yang rendah bergaung penuh intimidasi yang mutlak di dalam ruangan yang sunyi itu. "Aku tidak sedang meminta izin dari keluarga Anda. Aku sedang mengumumkan sebuah fakta."
Adrian kemudian menoleh ke arah barisan pilar marmer besar di sudut ruangan yang tertutup dekorasi bunga raksasa. Sebuah senyuman miring penuh teka-teki muncul di wajah tampan Adrian.
"Lagipula, untuk urusan restu dan penerimaan menantu kurasa orang yang paling punya hak bicara di sini bukan Anda," kata Adrian dengan nada meremehkan. Pria itu menaikkan suaranya sedikit, mengarahkannya langsung ke balik pilar. "Ma, keluar sekarang. Nggak usah pura-pura jadi tiang dekorasi lagi. Tugas Mama sudah tiba."
Detik itu juga, beberapa tamu di dekat pilar langsung menoleh. Dari balik bayangan bunga-bunga mahal, sesosok wanita paruh baya dengan pakaian elegan berbalut gaun sutra hitam mewah perlahan melangkah keluar. Ia buru-buru melepas kacamata hitam besar dan topi lebarnya, lalu melemparkannya begitu saja ke pelukan Alex yang sejak tadi mengikutinya dengan wajah pasrah.
Dialah Nyonya Lin, istri dari Jenderal Polisi tertinggi sekaligus pemilik sah kekuasaan di balik dinasti Grup Angkasa.
"Aduh, Adrian! Kamu ini kebiasaan banget deh merusak kesenangan Mama!" gerutu Nyonya Lin sambil merapikan tatanan rambut sanggulnya yang sempat sedikit miring.
Meninggalkan posisinya, wajah Nyonya Aditama yang tadinya memerah penuh amarah seketika berubah menjadi putih. Rahangnya jatuh, dan tubuhnya mendadak kaku seperti patung. Kolega bisnis di sekitar mereka langsung membungkuk hormat dengan sangat dalam, menyadari posisi wanita yang baru saja datang ini adalah kasta tertinggi dari segala kasta elite di ibu kota.
Nyonya Lin tidak memedulikan tatapan syok orang-orang. Dengan langkah anggun yang memancarkan wibawa mutlak, ia berjalan cepat memotong kerumunan, langsung menghampiri tempat Ana berdiri.
Begitu sampai di depan Ana, seluruh gurat formalitas di wajah Nyonya Lin instan lenyap, digantikan oleh binar mata yang sangat ceria dan penuh kekaguman. Tanpa ragu-ragu dan tanpa permisi, Nyonya Lin langsung menyambar kedua tangan Ana, menggenggamnya erat-erat dengan wajah berseri-seri.
"Ya ampun! Jadi ini calon menantuku yang cantik dan badass itu?!" seru Nyonya Lin heboh, suaranya memenuhi seluruh sudut aula. Ia menatap potongan rambut pendek cepak Ana, pakaian celana pendeknya, hingga sepatu botnya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan kepuasan seratus persen.
"Luar biasa! Adrian beneran pintar cari istri! Penampilanmu ini tegas banget, kayak perwira garis depan! Mama suka banget, seratus persen setuju dengan pertunangan ini!"
Ana sempat tertegun sedetik. Jiwa Panglima Dinda di dalam dirinya yang terbiasa menghadapi musuh kejam di medan perang, mendadak merasa sedikit kewalahan menghadapi antusiasme gila dari ibu Adrian ini. "Eh... Nyonya Lin..."
"Jangan panggil Nyonya Lin, panggil Mama saja, Sayang!" potong Nyonya Lin cepat sambil menepuk-nepuk punggung tangan Ana dengan penuh kasih sayang.
Setelah memberikan sambutan hangat pada Ana, Nyonya Lin perlahan membalikkan tubuhnya menghadap Nyonya Aditama. Dalam sekejap mata, senyum ramah di wajah Nyonya Besar Sanjaya itu hilang total, digantikan oleh tatapan mata yang teramat dingin, angkuh, dan penuh penghinaan yang sanggup meruntuhkan nyali siapa pun.
"Nyonya Aditama," sapa Nyonya Lin, suaranya berubah menjadi sangat menekan dan sarat akan otoritas mutlak. "Kudengar tadi Anda bilang belum pasti mau menerima cucu Jenderal Jaya ini sebagai menantu? Dan Anda mempertanyakan siapa pria yang berani menikahinya?"
Nyonya Lin maju satu langkah, memangkas jarak hingga Nyonya Aditama refleks mundur setengah langkah karena ketakutan yang teramat sangat.
"Biar kuperjelas satu hal di depan mukamu yang sombong itu," desis Nyonya Lin tanpa ampun.
"Anak tunggal saya, Adrian Sanjaya, yang memohon-mohon dan mengejar gadis ini demi bisa menjadikannya permaisuri di keluarga kami! Kami, keluarga Sanjaya, yang mengemis agar Ana Pramudia sudi menerima cincin pertunangan ini!"
Nyonya Lin menjentikkan jarinya ke udara dengan anggun. "Luki! Hubungi divisi keuangan pusat sekarang juga. Mulai detik ini, bekukan seluruh aset modal, batalkan semua izin proyek institut, dan tarik seluruh investasi Grup Angkasa dari bisnis keluarga Aditama tanpa sisa! Aku mau melihat, sampai mana batas kesombongan menantu pilihanmu itu saat besok pagi keluargamu resmi dinyatakan bangkrut dan terdepak ke jalanan!"
"N-Nyonya Lin maafkan saya saya tidak bermaksud." Nyonya Aditama langsung berlutut di atas lantai marmer, air matanya menetes instan karena menahan rasa takut dan malu yang luar biasa. Seluruh dunia kemegahan keluarga Aditama hancur lebur hanya karena satu kalimat dari ibu Adrian.
Aksa Aditama yang berdiri di samping ibunya hanya bisa gemetar ketakutan tanpa berani mengeluarkan suara, sementara Jesika dan Dewi Pramudia langsung mundur menjauh, berpura-pura tidak terlibat agar tidak ikut terseret ke dalam kehancuran tersebut.
Kakek Pramudia yang duduk di kursi rodanya tertawa sangat puas, mengetukkan tongkatnya kembali ke lantai semen aula. "Bagus! Luar biasa! Malam ini panggung sandiwara kalian benar-benar sudah bubar!"
Jenderal Arya yang berdiri di panggung atas juga ikut tersenyum tipis, memberikan hormat formal terakhirnya kepada Ana sebelum menyerahkan map divisi militer khusus. Panggung perjamuan yang dikira keluarga Pramudia akan menghancurkan Ana, kini resmi ditutup dengan kemenangan mutlak bagi sang monster baru Kekaisaran.