NovelToon NovelToon
RODA DUA Dan RAHASIA BIRU

RODA DUA Dan RAHASIA BIRU

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Zildiawan

Gavin Dewantara adalah pewaris tunggal Dewantara Group, salah satu keluarga old money terpandang di negeri ini. Bosan dengan kepalsuan kelas atas dan kekangan keluarganya, Gavin memilih kuliah di universitas negeri di luar kota, tinggal di kosan sederhana, dan menyembunyikan identitas aslinya. Di kampus, ia dikenal sebagai mahasiswa teknik yang slengean, ugal-ugalan, hobi naik motor tua, dan sering terlibat perkelahian jalanan menggunakan teknik bela diri praktis yang ia pelajari dari jalanan. Meski terlihat berandalan, Gavin memiliki prinsip hidup yang kokoh dan kesetiaan tanpa batas kepada teman-temannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 Pertanyaan yang Menggantung

Sinar matahari pagi yang tipis mulai menerobos masuk melalui celah-celah ventilasi kamar nomor 2B. Burung-burung gereja bercicit di atas atap seng tempat jemuran, menandakan rutinitas Kos Bu Broto yang baru telah dimulai. Namun, di dalam kamar Gavin, waktu seolah berjalan lebih lambat. Aroma obat merah, alkohol pembersih luka, dan sisa kehangatan malam masih tertinggal di udara yang pengap.

Kirana Putri terduduk lemas di lantai semen, bersandar pada kaki kasur busa milik Gavin. Matanya terasa sangat berat setelah terjaga hampir sepanjang malam; pertama karena merawat Rian di klinik, lalu dilanjutkan dengan membersihkan dan membalut luka sayatan di lengan Gavin hingga fajar menyingsing. Di atas kasur tipis itu, Gavin tertidur telentang dengan napas yang teratur. Wajah slengeannya tampak lebih damai saat tidur, terbebas dari topeng ugal-ugalan atau ekspresi dingin mematikan yang ia tunjukkan di gudang kontainer beberapa jam lalu. Perban putih membungkus rapi lengan kiri atasnya, menyembunyikan luka robek akibat sabetan pisau Tyson.

Kirana menghela napas panjang, mencoba meregangkan otot-otot lehernya yang kaku. Ia berniat merapikan peralatan medis yang masih tercecer di lantai semen sebelum anak kos lain terbangun dan mulai menaruh curiga. Saat ia mengumpulkan sisa-sisa kapas dan perban bekas ke dekat tumpukan buku, matanya menangkap ransel kanvas lusuh milik Gavin yang tergeletak di pojok ruangan dekat pintu.

Tas ransel berwarna hijau pudar itu berada dalam posisi setengah terbuka, tampaknya akibat dilempar begitu saja oleh Gavin saat ia pulang dengan kondisi setengah sadar tadi malam. Beberapa barang di dalamnya mencuat keluar. Karena berniat baik agar barang-barang berharga Gavin tidak berantakan, Kirana menggeser tubuhnya mendekati tas tersebut. Ia memungut sebuah dompet lipat berbahan jins lecek, beberapa lembar kertas coretan kalkulus, dan sebuah kunci pas motor yang ikut terjatuh.

Namun, ketika Kirana mendorong bagian bawah tas untuk merapikan posisinya, sebuah benda bermaterial keras dan berat meluncur keluar dari kantong rahasia bagian dalam ransel yang resletingnya sudah rusak. Benda itu jatuh ke atas lantai semen dengan bunyi KLING yang pelan namun berbobot.

Kirana menunduk untuk mengambilnya. Detik berikutnya, seluruh gerakan tubuh Kirana membeku seketika.

Benda yang kini berada di atas telapak tangan kanan Kirana adalah sebuah jam tangan mekanik. Pelindung kacanya terbuat dari safir biru murni yang memancarkan kilau sangat jernih di bawah temaram sinar matahari pagi. Bingkainya terbuat dari material logam yang sangat halus, berat, dan dingin saat menyentuh kulit—logam yang disadari Kirana bukan besi biasa atau baja murah, melainkan emas putih murni. Di balik kaca safir tersebut, deretan angka romawi berdesain klasik berpadu dengan jarum kronograf yang bergerak dengan sapuan mekanik yang sangat halus tanpa suara detikan kasar. Di bagian bawah dial biru safir tersebut, tertulis sebuah nama dengan font emas kecil yang sangat elegan: Patek Philippe, Geneve.

Sebagai mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang sering mempelajari studi kasus tentang pasar barang mewah (luxury goods marketing) dan pergerakan saham korporasi global, Kirana langsung merasakan darahnya berdesir hebat. Jantungnya berdegup kencang hingga ia bisa mendengarnya sendiri di dalam keheningan kamar.

Ini bukan sekadar jam tangan gaya-gayaan milik anak muda. Ini adalah Patek Philippe Grand Complications, sebuah mahakarya horologi yang produksinya sangat dibatasi di dunia. Kirana mengingat jurnal ekonomi yang ia baca bulan lalu tentang instrumen investasi kaum elit: jam tangan dengan tipe seperti ini memiliki nilai pasar yang setara dengan tiga unit rumah mewah di kawasan real estate paling elite di Jakarta, atau setara dengan seluruh biaya operasional universitas mereka selama beberapa tahun ke depan.

Kirana menatap jam tangan miliaran rupiah itu, lalu perlahan mengalihkan pandangannya ke arah kasur busa tipis di lantai. Di sana, pemilik jam tangan mewah tersebut sedang tidur pulas hanya beralaskan tikar pandan robek, mengenakan kaos oblong hitam murah yang sudah bolong di bagian ketiaknya, dan tinggal di sebuah kamar kos berukuran tiga kali tiga meter yang harga sewanya hanya lima ratus ribu rupiah per bulan.

Kontradiksi ini begitu ekstrem hingga membuat kepala Kirana pening. Rasa bingung, terkejut, dan berbagai spekulasi liar langsung berkecamuk di dalam otaknya. Siapa sebenarnya cowok ini? pikir Kirana dengan tangan yang mulai gemetar memegang jam tersebut. Anak pejabat koruptor? Buronan internasional? Atau...

KRETEK.

Suara gesekan tubuh di atas kasur busa memotong aliran pikiran Kirana. Gavin mengeliat perlahan, membuka mata kanannya yang tidak lebam, lalu mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan diri dengan cahaya pagi. Rasa perih di sudut bibirnya langsung menyengat saat ia mencoba menguap. Ia menoleh ke samping dan menemukan Kirana sedang bersimpuh di lantai dengan wajah pucat, kedua tangannya memegang sesuatu yang sangat ia kenali.

Gavin langsung terkesiap. Seluruh rasa kantuk dan pening di kepalanya lenyap seketika. Dengan gerakan refleks yang cepat meskipun membuat lengan kirinya yang diperban menjerit kesakitan, Gavin melompat duduk dan menyambar jam tangan itu dari cengkeraman tangan Kirana. Ia memasukkannya kembali ke dalam kantong ranselnya dengan gerakan yang sangat gugup dan terburu-buru.

"E-eh... Bos Kirana. Belum pulang ke kamar sebelah?" tanya Gavin, mencoba membangun kembali benteng pertahanan slengeannya meskipun suaranya terdengar agak bergetar dan canggung. Ia memaksakan sebuah tawa renyah yang terdengar sangat tidak natural. "Wah, lu nemu mainan gue ya? Bagus kan? Kelihatan kayak asli."

Kirana tidak bergeming. Ia tetap duduk bersimpuh, menatap lurus tepat ke dalam manik mata Gavin dengan pandangan yang sangat tajam, serius, dan menuntut penjelasan jujur. Atmosfer di dalam kamar berubah menjadi sangat menekan dalam hitungan detik.

"Jangan bohong lagi sama aku, Gavin," ucap Kirana dengan suara yang sangat pelan, rendah, namun penuh dengan penekanan yang mutlak. "Aku bukan anak bodoh yang bisa kamu bohongi dengan alasan tutorial YouTube India atau barang KW Mangga Dua. Aku tahu persis benda apa yang baru saja aku pegang. Itu Patek Philippe asli. Logamnya emas putih murni, dan pergerakan jarum mekaniknya gak bisa dipalsukan oleh pabrik KW mana pun di dunia ini."

Gavin menelan ludah. Ia menggaruk leher belakangnya yang tidak gatal, pandangannya dialihkan ke arah jendela kamar, menghindari tatapan selidik Kirana yang seolah bisa menembus isi kepalanya. "Aduh, Ran. Lu terlalu banyak nonton drama Korea kayaknya. Itu cuma jam tangan replika tingkat tinggi yang gue beli dari temen jalanan di Jakarta—"

"Gavin Dewantara!" potong Kirana, suaranya sedikit meninggi namun segera ia tahan agar tidak terdengar ke luar kamar. Matanya mulai berkaca-kaca karena kombinasi rasa lelah dan rasa frustrasi akibat terus-menerus dihadapkan pada misteri cowok di depannya. "Kemarin kamu nyelesaiin rumus kalkulus tingkat master dalam lima menit. Tadi malam kamu ngehancurin belasan preman terminal sendirian pakai teknik bela diri yang gak mungkin dipelajari di jalanan biasa. Dan sekarang... ada jam tangan seharga miliaran rupiah di dalam tas kanvas kamu yang bolong. Siapa kamu sebenarnya, Gav? Kenapa orang selevel kamu mau hidup luntang-lantung di kosan gembel kayak gini dan ngebahayain nyawa buat anak-anak perantauan kayak kami?"

Mendengar rentetan kalimat Kirana, Gavin akhirnya menghentikan seluruh usahanya untuk memotong pembicaraan. Bahunya yang tegap tampak sedikit merosot. Ia menyandarkan kembali punggungnya pada dinding kamar yang lembap, lalu mengembuskan napas panjang yang terdengar sangat berat dan melelahkan. Topeng ugal-ugalan dan cengiran konyolnya runtuh sepenuhnya, menyisakan ekspresi seorang pria yang lelah menanggung beban identitasnya.

Keheningan kembali merayap di antara mereka selama beberapa menit. Hanya ada suara desis kipas angin dinding tua yang berputar lambat di sudut kamar. Gavin menatap kedua telapak tangannya sendiri yang dipenuhi bekas luka memar, lalu perlahan mengalihkan pandangannya kembali ke arah Kirana.

"Kalau gue cerita yang sebenarnya... apa lu bakal tetep ngeliat gue sebagai Gavin yang biasa utang kopi di warkop Cak Min, Ran?" tanya Gavin dengan nada suara yang sangat tenang, dingin, namun dipenuhi rasa cemas yang jujur—sebuah ketakutan bahwa hubungan tulus yang ia bangun di sini akan berubah setelah rahasianya terbongkar.

Kirana menatap mata Gavin, melihat kilatan kerapuhan yang sangat jarang ditunjukkan oleh cowok berandalan tersebut. Kirana perlahan mengangguk, melembutkan sorot matanya. "Aku selalu menilai orang dari apa yang mereka lakukan buat orang lain, Gav. Bukan dari apa yang tertulis di dompet mereka. Tadi malam kamu udah ngebuktiin siapa diri kamu yang sebenarnya di depan aku dan Rian."

Gavin tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang kali ini terasa sangat melegakan di wajahnya. Ia membetulkan posisi duduknya, lalu berbisik pelan. "Oke. Tapi janji sama gue, jangan pernah ceritain ini ke Rian atau anak-anak kosan dulu. Gue belum siap ngeliat mereka canggung di depan gue."

Gavin mengambil napas dalam-dalam, bersiap membuka gerbang rahasia besarnya kepada satu-satunya gadis yang berhasil meruntuhkan seluruh pertahanannya di kota perantauan ini. Pertanyaan yang selama ini menggantung di udara akhirnya mulai menemukan jawabannya di bawah sinar matahari pagi Kos Bu Broto.

1
Mey-mey89
lanjut
Azmi Zildiawan: Terima kasih sudah membaca
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!