Bima Aditya, seorang dokter magang yang diremehkan dan dicampakkan kekasihnya demi pria kaya, tiba-tiba mendapatkan keajaiban setelah mengalami kecelakaan tragis. Ia membangkitkan Sistem Medis Super yang memberinya kemampuan bedah tingkat dewa, mata-X, dan pengetahuan medis puluhan tahun, dengan syarat ia harus terus menyelamatkan nyawa pasien di lapangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Ketegangan di ruang IGD VIP itu terasa sangat mencekik.
Semua pasang mata menatap Bima dengan pandangan tidak percaya.
Seorang dokter magang menantang diagnosis jajaran dokter spesialis paling senior di rumah sakit.
Direktur Wira menatap Bima dengan rahang mengeras.
"Bima, kamu sadar dengan apa yang kamu katakan?"
"Ini bukan pasien biasa yang bisa kamu jadikan kelinci percobaan."
"Jika tebakanmu salah, karirmu bukan hanya hancur, kamu bisa dipenjara seumur hidup."
Bima mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar monitor detak jantung.
"Saya sangat sadar, Direktur Wira."
"Tapi jika Anda tidak mengizinkan saya bertindak sekarang, Tuan Besar Pratama tidak akan selamat dalam sepuluh menit ke depan."
Tit... Tit... Tit...
Suara monitor pendeteksi detak jantung berbunyi semakin lemah dan lambat.
Pasien tua di atas ranjang itu kembali memuntahkan darah segar yang kini berwarna kehitaman.
Kiara menjerit histeris melihat kakeknya semakin kritis.
"Lakukan sesuatu!"
"Kalian semua dokter hebat, kenapa hanya diam saja?!" tangis Kiara dengan marah.
Dokter Surya menelan ludahnya yang terasa kasar.
Dia sama sekali tidak punya ide untuk menangani kondisi seburuk ini.
"Direktur, kita tidak boleh membiarkan bocah gila ini merusak reputasi rumah sakit!" ucap Dokter Surya mencoba mempertahankan egonya.
"Lebih baik kita berikan rujukan darurat ke rumah sakit pusat sekarang juga!"
Direktur Wira memutar bola matanya mendengar saran pengecut Dokter Surya.
Merujuk pasien dalam kondisi sekarat sama saja dengan membunuhnya di jalan.
Direktur Wira akhirnya menggebrak meja instrumen di dekatnya.
"Suster, siapkan set endoskopi gastrointestinal sekarang juga!"
"Beri jalan untuk Dokter Bima!" perintah Direktur Wira dengan suara lantang.
Dokter Surya membelalakkan matanya terkejut.
"Direktur! Anda mempercayai omong kosongnya?!"
"Diam, Surya!" bentak Direktur Wira.
"Apa kamu punya solusi yang lebih baik dari ini?"
Dokter Surya langsung terdiam kaku dan menundukkan wajahnya.
Para perawat segera bergerak cepat membawa mesin endoskopi berukuran besar ke samping ranjang.
Sebuah layar monitor beresolusi tinggi dihidupkan.
Bima segera memakai sarung tangan medis yang baru dan mengambil selang endoskopi.
Ujung selang itu dilengkapi dengan kamera kecil dan alat penjepit mikro.
"Buka mulut pasien dan pasang pelindung gigi," instruksi Bima dengan nada dingin.
Seorang perawat dengan sigap memasangkan alat pelindung di mulut pasien.
Bima memegang selang itu dengan mantap.
"Saya akan memasukkan kameranya sekarang."
Sluup.
Selang kecil itu perlahan masuk ke dalam kerongkongan Tuan Besar Pratama.
Semua dokter di ruangan itu menahan napas sambil menatap layar monitor.
Gambar di layar menunjukkan dinding kerongkongan yang merah dan meradang.
"Lihat? Tidak ada apa-apa," cibir Dokter Surya dari belakang.
"Itu hanya peradangan biasa akibat asam lambung akut."
Bima tidak mempedulikan ocehan Dokter Surya.
Dia terus mendorong selang itu masuk melewati lambung dan menuju usus dua belas jari.
"Sistem, arahkan ke koordinat parasitnya," batin Bima.
[Tiga sentimeter ke depan, di persimpangan saluran empedu.]
Bima menggerakkan tuas pengontrol di tangannya dengan sangat presisi.
Kamera endoskopi berbelok tajam dan menyalakan lampu sorot kecilnya.
Tiba-tiba, pemandangan di layar monitor berubah drastis.
Semua orang di ruangan itu tersentak mundur secara bersamaan.
"Astaga! Apa itu?!" teriak Dokter Hendra dengan wajah pucat pasi.
Bahkan Kiara yang tadinya menangis sampai menutup mulutnya karena ngeri.
Di layar monitor, terlihat jelas sebuah gumpalan daging berwarna kehitaman menempel kuat di dinding usus.
Gumpalan itu memiliki tentakel-tentakel kecil yang menusuk masuk ke dalam pembuluh darah.
Yang lebih mengerikan, makhluk itu terlihat berdenyut dan mengeluarkan cairan kuning kehijauan.
"Itu... itu benar-benar parasit!" gagap Dokter Surya dengan keringat dingin mengucur deras di wajahnya.
"Tapi dari mana asalnya parasit sebesar dan semengerikan itu?"
"Toxocara canis biasa tidak pernah memiliki ukuran dan bentuk seperti ini!"
Bima tetap fokus pada pergerakan tangannya.
"Seperti yang saya bilang, ini adalah parasit yang bermutasi."
"Cairan kuning itu adalah neurotoksin yang memicu kejang dan pendarahan lambung."
"Kita harus mengangkatnya sekarang sebelum racunnya menyebar ke jantung."
Bima menekan tombol pada alat pengontrol endoskopi.
Srak.
Sebuah penjepit mikro dari bahan titanium keluar dari ujung selang kamera.
"Dokter Bima, hati-hati!" peringat Dokter Hendra dengan cemas.
"Jika penjepit itu melukai dinding ususnya, pendarahannya akan semakin parah."
Bima tidak menjawab.
Matanya menatap layar dengan fokus tingkat dewa.
Berkat Bantuan Anatomi Tingkat Lanjut, Bima bisa membedakan mana jaringan usus dan mana jaringan parasit.
Capit!
Penjepit mikro itu mencengkeram tepat di pangkal tubuh parasit tersebut.
Makhluk menjijikkan di layar itu langsung bereaksi dan menggeliat hebat.
Tubuh Tuan Besar Pratama ikut mengejang sesaat.
"Tahan bahunya!" perintah Bima cepat.
Dua orang perawat langsung menekan bahu pasien agar tidak banyak bergerak.
Dengan gerakan tangan yang sangat halus namun bertenaga, Bima menarik tuas penjepit.
Krek.
Suara robekan kecil terdengar dari dalam alat endoskopi.
Tentakel parasit itu berhasil dicabut paksa dari dinding usus tanpa melukai pembuluh darah utama.
"Cepat tarik keluar!" seru Direktur Wira yang ikut tegang.
Bima menarik selang endoskopi itu secara perlahan dan berhati-hati.
Dia tidak ingin parasit itu terlepas di tengah jalan dan menyumbat saluran napas pasien.
Sluup.
Selang endoskopi akhirnya keluar sepenuhnya dari mulut Tuan Besar Pratama.
Di ujung selang itu, seekor parasit hitam seukuran ibu jari orang dewasa masih menggeliat-geliat ganas.
Bau busuk dan amis langsung menyengat memenuhi seisi ruangan.
"Bawa wadah spesimen kaca, cepat!" teriak Bima.
Seorang perawat berlari membawa tabung kaca kecil.
Bima memasukkan parasit itu ke dalam tabung dan menutupnya rapat-rapat.
Begitu parasit itu dikeluarkan, tubuh Tuan Besar Pratama langsung berhenti mengejang.