"Salah satu kakinya diamputasi setelah ditabrak sebuah mobil 8 tahun silam. Sayangnya, mobil itu kabur, CCTV rusak." Kenan tersenyum getir, seolah hal itu sudah biasa terjadi jika pelakunya orang-orang berduit. "Ada saksi yang mengatakan jika yang menabrak Ilona adalah mobil sport warna merah, tapi..." Ia kembali terkekeh. "Beberapa hari kemudian, kesaksiannya berubah. Entahlah."
Mendengar itu, tubuh Elang seketika mengalami tremor. Jantungnya berdebar kencang, dan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.
Semoga saja ini hanya kebetulan. 8 tahun yang lalu, Elang menabrak seseorang saat dini hari, sepulang dari party kelulusan SMA bersama teman-temannya. Kondisinya setengah mabuk saat itu. Karena takut, di tambah kondisi jalanan yang sepi, ia langsung kabur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Habis magrib, Elang baru meninggalkan rumah Ilona, ibunya sudah pulang sekitar 30 menit yang lalu. Hujan belum sepenuhnya reda, masih meninggalkan gerimis yang entah kapan akan benar-benar berhenti. Jalanan basah, wiper terus bergerak, menyeka air pada kaca depan mobil agar tidak mengganggu pandangan.
Sepanjang perjalanan, ia senyum-senyum sendiri, sesekali menyentuh bibir yang mengingatkan pada momen yang bikin jantung berdebar. Hampir sepanjang hari, ia menghabiskan waktu bersama Ilona. Gadis itu memasak untuknya, bersikap manis, dan...mereka berciuman.
Tin Tin Tin
Bunyi klakson kendaraan di belakang saling bersahutan, gara-gara Elang yang melamun, tak sadar jika traffic light sudah menyala hijau.
"Dasar, gak sabaran banget."
Elang kembali menjalankan mobilnya ke arah rumah. Saat melewati belokan rumah Alisya, ia seketika teringat gadis itu. Alisya, apa kabarnya dia sekarang? Terakhir yang ia dengar, dia datang ke kafe Kenan.
Hari ini, saat belum resmi putus dengan Alisya, ia telah menghabiskan seharian bersama wanita lain, bahkan sampai ciuman. Muncul rasa bersalah di dadanya. Ia selingkuh, ia mengkhianati Alisya.
Putar balik. Itu yang dilakukan Elang. Ia putuskan ke rumah Alisya malam ini juga. Semua harus segera diakhiri.
"Ada Mas Elang di depan, Non." Bi Ari memberi tahu Alisya yang ada di kamar.
"Elang." Senyum Alisya mengembang. Ia sangat merindukan laki-laki itu setelah hampir sebulan tidak bertemu maupun bertukar kabar via telepon. "Suruh tunggu bentar, Bi." Ia mengganti baju, merapikan rambut, memoles bedak dan lipstik, dan tak lupa menyemprot parfum.
Dengan langkah ringan dan penuh semangat, Alisya menuruni tangga. Namun langkahnya tiba-tiba berhenti di dekat ruang tamu. Dua hari lagi, batas akhir masa break antara mereka. Jangan-jangan, Elang datang untuk...
Ia diam-diam menatap Elang dari balik tembok. Laki-laki itu masih terlihat sama, masih seperti Elang yang membuat ia jatuh cinta pada pandangan pertama saat bertemu di acara perkumpulan mahasiswa di Jerman. Tapi...laki-laki yang masih terlihat sama itu, sepertinya hatinya sudah tidak sama lagi. Sudah bukan dia yang mengisi hatinya. Ia meremat rok, menahan rasa sesak di dada yang membuat nafasnya terasa tercekat. Satu bulan ini terasa berat tanpa Elang, dan selanjutnya, ia tak bisa membayangkan jika sampai mereka berakhir. Semoga saja, Elang datang bukan untuk mengakhiri semuanya.
"Alisya." Elang berdiri melihat Alisya keluar. Wanita itu seperti biasanya, selalu terlihat cantik.
Alisya melangkah pelan, dengan gerakan sedikit hati-hati, duduk di sofa yang berbeda dengan Elang. "Kenapa gak bilang kalau mau kesini?" Ia memperhatikan baju Elang yang sedikit basah.
"Orang tua kamu gak ada di rumah?" Tadi Elang sudah diberi tahu ART soal itu.
"Mereka ada di Magelang, mengunjungi Kak Dena." Alisya meremat pinggiran sofa, perasaannya makin tidak enak saat Elang menanyakan soal orang tuanya. Tatapannya tertuju pada jemari Elang. Cincin pertunangan mereka, sudah tidak ada lagi disana.
"Permisi Mas Elang, silakan." Bi Ari menyajikan satu botol air mineral dan setoples camilan ke atas meja. Ia sudah kenal dengan Elang, sudah terbiasa kesini, tahu jika cowok itu tak mau minuman manis, lebih suka air putih.
"Makasih, Bi." Elang mengambil air mineral, membuka tutupnya lalu meneguknya hingga setengah botol.
"Mau ngobrol disini, di luar, atau belakang?"
"Disini saja, di luar masih gerimis. Kamu paling gak bisa kena air hujankan." Elang meletakkan kembali botol ke atas meja.
Alisya tersenyum kecut. Elang masih hafal kebiasaannya, masih ingat semua tentangnya, tapi perasaan, entah masih seperti dulu atau tidak.
"Sya." Elang menatap Alisya yang terlihat gelisah. "Aku...mau minta ma_"
"Enggak, aku gak mau!" Potong Alisya cepat sambil menggeleng. Matanya berkaca-kaca. "Udah sejauh ini, Lang," suaranya tercekat.
"Tapi akan semakin sakit jika lebih jauh lagi."
"Itu hanya menurut kamu." Alisya bangkit, berpindah duduk di sebelah Elang. "Aku gak bisa tanpa kamu, Lang." Ia menggenggam erat kedua tangan Elang, menatap matanya.
"Kamu pasti bisa, Sya. Kamu berhak mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dari aku."
Alisya menggeleng cepat, air matanya mulai luruh. "Apa salahku, Lang? Apa salahku hingga kamu setega ini sama aku?"
Elang menggeleng cepat, menarik tangan dari genggaman Alisya, menyeka air mata gadis itu. "Kamu gak ada salah, aku yang salah, Sya."
"Kalau memang begitu, aku maafin kesalahan kamu. Kita kembali kayak dulu lagi. Aku gak mau putus."
Elang menunduk, membuang nafas berat. Ia semakin merasa bersalah.
"Wanita itu, apa kelebihan dia dariku, kenapa kamu lebih memilih dia? Kita udah bersama lama, ini gak adil jika kamu ninggalin aku untuk orang baru. Aku gak terima, Lang. Katakan Lang, apa kelebihan dia sehingga kamu lebih milih dia daripada aku?"
"Gak ada, Sya." Elang menatap mata Alisya, memegang kedua bahunya. "Jangan pernah berfikir seperti itu. Kamu wanita yang hebat, wanita baik, wanita yang bisa mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik daripada aku. Tidak ada kekurangan di diri kamu, hanya saja, kita memang gak bisa bersama. Lupain aku, Sya."
"Enggak, aku gak bisa. Kita udah lama, Lang. Kita juga udah terlalu jauh." Ia menunjukkan cincin tunangan di jarinya. "Kita bahkan sudah tunangan."
Elang mengusap wajah dengan kedua telapak tangan. Ini memang berat untuk Alisya, tapi memaksakan diri melanjutkan hubungan ini, malah akan lebih menyakitinya nanti. Alisya berhak mendapatkan laki-laki yang tulus mencintainya, yang semua perhatian, waktu, dan prioritasnya, hanyalah dia.
"Maafin aku, Sya. Aku gak bisa melanjutkan hubungan kita." Ia tertunduk dalam.
"Kamu jahat, Lang." Alisya memukuli bahu dan dada Elang. "Kamu bilang akan selalu mencintaiku, ada untukku, menjagaku, tapi kamu ingkar janji."
"Kadang kalanya, sesuatu berjalan tak seperti yang kita mau. Sekali lagi, aku minta maaf." Elang bangkit dari duduknya. "Saat orang tuamu sudah datang nanti, aku akan kesini untuk meminta maaf pada mereka dan mengakhiri semua ini."
Alisya tidak menjawab apapun, ia menutup wajah dengan kedua telapak tangan, menangis sesenggukan.
"Maaf jika telah menyakitimu, tapi ini yang terbaik untuk kita berdua. Kamu pasti akan segera mendapatkan gantiku, yang jauh lebih baik. Aku pergi dulu."
klo pun elang hrus dipenjara semoga hub elang dan ilona bisa membaik
Pinter kamu Lang, ngedeketin Ilona biar dia jatuh cinta sama kamu padahal kamu sendiri entah mencintai Ilona secara tulus atau karena rasa iba, entahlah.🙄