Terlahir kembali usai tewas disiksa, Aira bertekad membalas dendam pada Azka dan keluarganya. Ia bangkit merebut tahta, menggagalkan pengkhianatan, dan membuka hati untuk paman Azka, Rizky.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: BISIKAN DI BALIK PINTU TERKUNCI
Langkah kaki Aira yang teratur di atas anak tangga kayu jati terdengar bagaikan dentang lonceng kematian bagi ketenangan keluarga Gunawan. Di belakangnya, Paman Rizky menyusul dengan langkah tegap dan berat. Langkah seorang predator yang baru saja menandai wilayah kekuasaannya. Setiap pijakannya memancarkan dominasi yang begitu dingin dan mematikan, menyapu bersih sisa-sisa keberanian orang-orang di lantai bawah.
Begitu melangkah ke area lorong lantai dua yang remang-remang—jauh dari jangkauan pandangan mata dan telinga keluarga Gunawan—Aira mendadak menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kayu mahoni kamar utama. Suasana koridor yang sunyi membuat detak jantung dan embusan napas mereka terasa saling memburu.
Aira membalikkan badan dengan gerakan perlahan. Ia menyandarkan punggung mulusnya ke daun pintu yang dingin, menatap lurus ke dalam manik mata Rizky yang hitam legam. Di dalam iris mata pria matang itu, tersimpan gairah pekat yang belum sepenuhnya padam, bercampur dengan kobaran amarah yang berbahaya.
"Paman terlalu berani," bisik Aira. Senyuman tipis nan memikat terukir di sudut bibirnya yang merah merekah. "Tangan Paman di pinggangku tadi... hampir saja membuat jantung Ayah Azka melompat keluar dari dadanya."
Bukannya mundur, Rizky justru mengikis habis sisa jarak di antara mereka. Pria tegap itu maju satu langkah besar, mengurung tubuh Aira sepenuhnya di antara pintu keras dan dada lapangnya yang kokoh bagaikan dinding batu. Satu tangan besarnya terangkat menghantam pintu di samping kepala Aira dengan ketukan pelan yang mengintimidasi, sementara tangan lainnya kembali mendarat cengkeramannya di pinggang Aira.
Kali ini, Rizky menarik tubuh wanita itu begitu kuat hingga tak menyisakan celah udara sedikit pun di antara mereka.
"Aku hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi hakku, Aira," suara Rizky terdengar begitu berat, serak, dan berbahaya. Bisikannya mendarat tepat di leher jenjang Aira, menyebarkan embusan napas hangat yang seketika membuat bulu kuduk wanita itu meremang. "Dan aku tidak akan pernah membiarkan pria mana pun—bahkan keponakanku yang tidak berguna itu—berani menyentuh, membentak, apalagi merendahkan wanitaku di depan umum."
Aira terkekeh pelan. Ada sensasi mendebarkan yang membakar dadanya. Ia mengangkat jemari lentiknya, mengelus perlahan dada tegap Rizky yang terbalut kemeja hitam buatan penjahit Italia. "Wanitamu? Paman harus ingat satu hal... secara hukum, di atas kertas aku ini masih istri sah dari Azka."
"Kertas itu cuma sampah yang bisa kubakar kapan saja aku mau, Aira. Dan pernikahan lelucon ini bisa kubantai sampai hancur tanpa sisa," balas Rizky dingin tanpa keraguan. Jemari besarnya menyelip ke belakang tengkuk Aira, meremas pelan lalu mendongakkan wajah cantik itu agar menatap lurus ke matanya yang mematikan. "Azka itu terlalu idiot untuk menyadari mutiara bernilai puluhan triliun yang sedang ada di genggamannya. Dia malah sibuk memeluk sampah tak berharga seperti Rani."
"Biarkan saja dia buta," gumam Aira, mata indahnya berkilat memancarkan intrik licik yang amat tajam. "Semakin Azka terbuai dan tenggelam dalam air mata buaya Rani, semakin mudah bagi kita untuk menusuknya dari belakang. Kita akan menguras seluruh haknya dan menghancurkan posisinya di klan Gunawan sampai dia merangkak di telapak kaki kita. Bukankah itu rencana manis kita sejak awal?"
Rizky menyunggingkan senyum gelap yang teramat tampan namun menyembunyikan bahaya mematikan. Pria itu menundukkan kepalanya, lalu menghantam bibir Aira dengan ciuman yang dalam, menuntut, dan penuh gairah keliaran. Ciuman itu bukan sekadar perwujudan hasrat, melainkan sebuah klaim kepemilikan mutlak dan janji kehancuran bagi siapa saja yang berani mengusik mereka. Aira melingkarkan kedua lengannya di leher kokoh Rizky, membalas ciuman memabukkan itu dengan kehangatan beracun yang mengikat mereka semakin erat dalam pusaran dosa dan dendam.
Sementara itu, di lantai bawah, atmosfer ruang tamu utama telah berubah menjadi neraka kecil yang mendidih.
Azka berdiri kaku di tengah ruangan dengan kedua tangan tergepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih dan bergetar hebat. Amarah yang menyumbat tenggorokannya membuat napas pria itu memburu kasar bagaikan banteng terluka. Wajahnya merah padam menahan malu yang membakar sampai ke tulang. Bayangan bagaimana Paman Rizky mengelus pinggang istrinya dengan santai, serta tatapan penuh hinaan yang dilemparkan Aira padanya, terus berputar-putar di kepalanya bagaikan kaset rusak.
"Mas... tangan Rani sakit sekali..." ringis Rani memecah keheningan. Suaranya dibuat semelempai mungkin sembari memegangi pergelangan tangannya, berusaha menarik perhatian Azka agar kembali mengasihaninya.
Namun kali ini, sihir manipulasi Rani tidak bekerja seperti biasanya. Rasa malu dan terancam yang teramat sangat membuat Azka kehilangan kesabaran. Dengan kasar, ia menghentakkan tangannya, menepis pegangan Rani hingga wanita itu tersentak kaget.
"Bisa diam tidak, Rani?! Kamu tidak lihat situasi kita sedang di ujung tanduk?!" bentak Azka dengan nada tinggi yang memantul di dinding ruangan.
"Azka!" jerit Tante Mia histeris, melangkah maju karena terkejut melihat putranya membentak wanita kesayangannya. "Kenapa kamu malah melampiaskan amarahmu pada Rani?! Rani itu korban di sini! Yang biadab itu Aira dan pamanmu yang sudah gila itu!"
"CUKUP, MIA!"
Sebuah teriakan keras dari Ayah Azka memotong histeria istrinya. Pria tua itu berdiri pincang, memegangi dadanya yang naik-turun menahan sesak. Pelipisnya berdenyut-denyut hebat, menyadari bahaya nyata yang sedang mengintai masa depan keluarga mereka.
"Rizky tidak pernah main-main dengan ucapannya!" bentak Ayah Azka dengan suara gemetar oleh rasa takut yang tertahan. "Jika besok pagi dia memotong sirkulasi modal dan mencabut pengaruhnya dari divisi bisnis utama yang dipegang Azka, perusahaan kita akan hancur dalam hitungan hari! Kita bisa jatuh miskin dan menjadi lelucon di seluruh negeri!"
Ruang tamu itu mendadak hening mencengkeram. Kata 'bangkrut' dan 'miskin' bergema bagaikan eksekusi mati bagi Tante Mia dan Rani yang langsung terdiam membisu dengan wajah pucat pasi.
Ayah Azka melangkah mendekati putranya, menatap Azka dengan pandangan menajam yang penuh keputusasaan dan kejahatan.
"Dengar baik-baik, Azka. Pamanmu itu sedang mencoba memprovokasi dan menginjak-injak harga dirimu agar kamu melepaskan Aira," bisik Ayah Azka dengan nada penuh konspirasi yang dingin. "Tapi jangan pernah jatuh ke dalam perangkapnya! Bagaimanapun caranya, Aira adalah istri sahmu di mata hukum dan publik! Kamu harus mencari cara untuk menundukkan Aira, mengontrolnya, dan menguncinya rapat-rapat!"
Azka perlahan mendongak. Di balik kemarahan yang membakar dadanya, sebuah senyuman culas dan licik mulai terukir di wajahnya.
"Benar..." gumam Azka, matanya berkilat penuh dendam yang gelap. "Aira adalah milikku secara hukum. Kalau Paman Rizky begitu terobsesi dan sangat menginginkan wanita itu... maka aku akan menjadikan Aira sebagai umpan terbaik untuk menghancurkan Paman sampai tak tersisa!"