Season pertama mengisahkan kejatuhan tragis klan mafia termasyhur, Valenti, akibat pengkhianatan terencana pada malam penyerahan takhta kepemimpinan. Leo Valenti, pewaris tunggal yang dituduh membunuh ayahnya sendiri, diburu oleh gabungan faksi rival dan terlempar ke titik terendah setelah terluka parah. Di tengah keputusasaan, Leo bersimpangan jalan dengan Elena, seorang peretas dan pemilik jaringan informasi independen yang memiliki masa lalu kelam dengan pelaku kudeta tersebut. Mereka sepakat membentuk aliansi rahasia yang dingin dan saling memanfaatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PETA KEKUATAN MUSUH
Cahaya matahari pagi yang pucat menembus masuk melalui celah-celah beton lantai lima belas yang tidak berdinding. Hujan telah reda, menyisakan udara dingin dan aroma aspal basah yang terbawa angin. Leo terbangun dengan posisi yang sama seperti semalam, bersandar pada dinding beton di atas kasur busa yang kotor.
Ia mengerjap beberapa kali, menyesuaikan matanya dengan cahaya pagi. Rasa sakit di bahunya kini telah menyusut menjadi denyutan tumpul, berkat jahitan baru dan antibiotik dosis tinggi yang diberikan Elena. Leo menoleh dan mendapati gadis peretas itu sudah bangun, atau lebih tepatnya, mungkin tidak tidur sama sekali.
Elena duduk bersila di depan meja kayu reyot. Tablet hitamnya menyala terang, memancarkan berbagai macam grafik, foto, dan deretan angka yang terus bergerak. Di sebelahnya terdapat sebuah buku catatan kecil berjaket kulit sintetis yang penuh dengan coretan tinta hitam.
"Kau punya kebiasaan buruk tidak pernah tidur," tegur Leo dengan suara parau seraya memaksakan diri untuk berdiri. Tulang-tulangnya bergemeretak protes.
"Tidur membuatmu lengah, dan orang lengah biasanya mati ditembak dalam tidurnya," jawab Elena tanpa menoleh dari layar tabletnya. Jari telunjuknya menggeser sebuah foto pria paruh baya bertubuh tambun ke sudut layar. "Lagipula, aku harus menyusun ulang struktur organisasi klan Valenti yang baru. Marco bergerak lebih cepat dari yang kuduga."
Leo berjalan mendekat, menyeret kursi plastik usang lalu duduk di seberang Elena. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan untuk melihat layar tablet tersebut.
Di tengah layar, terpampang foto Marco dengan label "Don Sementara" berwarna merah. Di bawahnya, terdapat jaring-jaring garis yang menghubungkan foto Marco dengan lusinan wajah lain yang sangat Leo kenali.
"Dia sudah merombak struktur pimpinan distrik?" Leo bertanya, matanya menyipit marah melihat beberapa wajah loyalis ayahnya digantikan oleh wajah-wajah baru yang lebih muda dan brutal.
"Bukan cuma merombak, Pangeran. Dia melakukan pembersihan," Elena mengetuk layar dua kali, memperbesar sebuah area di grafik tersebut. "Tadi malam, sementara kita sibuk merangkak di selokan, algojo Marco mendatangi rumah tiga kapten tua yang menolak bersumpah setia padanya. Mereka bertiga ditemukan tewas bunuh diri... setidaknya itu yang akan dikatakan laporan polisi besok pagi."
Leo mengepalkan tangan kirinya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Tiga kapten itu adalah teman seperjuangan ayahnya. Mereka adalah pria-pria tua yang menjunjung tinggi kehormatan klan lebih dari sekadar uang. Kematian mereka adalah pesan terbuka dari Marco untuk seluruh anggota klan: tunduk atau mati.
"Si brengsek itu..." desis Leo, suaranya bergetar menahan amarah yang meluap-luap. "Dia menyingkirkan semua orang yang bisa mempertanyakan otoritasnya sebelum Dewan Tetua sempat campur tangan."
"Itu langkah yang logis untuk seorang pengkhianat," Elena membalik halaman buku catatannya. "Sekarang, mari kita petakan kekuatan musuhmu. Kau harus tahu apa yang akan kita hadapi sebelum kita mulai menyerang."
Elena meletakkan tabletnya di tengah meja agar Leo bisa melihatnya dengan jelas.
"Marco membagi kekuatannya menjadi tiga pilar utama," Elena menunjuk ke tiga kelompok foto di bawah wajah Marco. "Pilar pertama: Keamanan dan Eksekusi. Ini dipimpin oleh Bruno, pria besar yang kemarin kita temui di pabrik. Dia mengendalikan sekitar dua ratus preman bersenjata, algojo lepas, dan tukang pukul jalanan. Mereka mungkin tidak pintar, tapi mereka banyak dan brutal."
"Bruno adalah anjing pelacak Marco," Leo mengangguk paham. "Dulu dia cuma tukang tagih utang kelas teri sebelum Marco mengangkatnya. Kalau kita bisa memotong kaki tangannya, Marco akan kehilangan pelindung fisiknya di jalanan."
"Tepat," Elena menggeser layar ke kelompok foto kedua. "Pilar kedua: Logistik dan Persenjataan. Ini dikelola oleh seorang pria bernama Silvio. Dia yang mengatur penyelundupan senjata dari pelabuhan dan menyuap petugas bea cukai. Tanpa Silvio, pasukan Bruno cuma sekumpulan preman bermodal tongkat bisbol."
"Silvio..." Leo menggumamkan nama itu dengan nada jijik. "Dia sepupu jauh Marco. Penakut tapi pandai memutar uang. Dia tidak pernah turun ke lapangan."
"Dan pilar ketiga," Elena menunjuk ke sebuah foto pria berkacamata yang mengenakan setelan jas mahal. "Pilar paling penting. Uang. Ini dikendalikan oleh Vincenzo, akuntan utama yang dulu bekerja untuk ayahmu. Dia sekarang bertugas mencuci uang kotor Marco melalui kasino, klub malam, dan perusahaan konstruksi palsu."
"Vincenzo mengkhianati ayahku?" Leo membelalakkan matanya, tidak percaya. Vincenzo adalah pria yang selalu hadir di setiap acara makan malam keluarganya. "Ayahku yang menyekolahkan anak-anaknya ke luar negeri!"
"Kesetiaan punya harga, Leo. Dan Marco sepertinya menawar lebih tinggi," ucap Elena dingin, sama sekali tidak bersimpati pada drama pengkhianatan klan Valenti. "Vincenzo adalah jantung ekonomi operasi Marco. Preman butuh digaji, polisi butuh disuap, dan politisi butuh sumbangan kampanye. Semua aliran dana itu melewati tangan Vincenzo."
Leo bersandar ke kursinya, menarik napas panjang. Gambaran yang ditunjukkan Elena sangat jelas dan mengerikan. Marco telah membungkus seluruh kota ini dalam jaring laba-labanya hanya dalam waktu dua puluh empat jam.
"Jadi, kau mau menyerang yang mana dulu?" tanya Leo, menatap Elena. "Kalau kita menyerang Bruno, kita memancing perang terbuka di jalanan. Kalau kita mengincar Silvio, kita harus berurusan dengan polisi pelabuhan yang sudah dibelinya."
"Kita tidak akan menyerang keduanya," Elena tersenyum miring, sebuah senyum yang membuat Leo tahu bahwa gadis itu sudah merencanakan sesuatu yang jauh lebih mematikan. "Kita akan menyerang dompetnya."
Elena mengetuk foto Vincenzo, lalu menggeser layar untuk menampilkan sebuah denah bangunan yang sangat familiar bagi Leo.
"Target pertama kita adalah Kasino Golden Palace," ucap Elena dengan nada final. "Itu adalah sumber uang tunai harian terbesar milik Marco. Setiap malam, kasino itu menghasilkan ratusan ribu dolar uang bersih yang tidak tercatat oleh pajak. Uang itu digunakan untuk membayar gaji harian algojo Bruno dan biaya operasional polisi korup."
"Kasino Golden Palace," Leo mengusap dagunya, mengingat kembali tata letak tempat itu. "Tempat itu dikelola langsung oleh tangan kanan Vincenzo. Keamanannya bukan main-main. Ada lusinan kamera pengawas, detektor logam di setiap pintu, dan penjaga bersenjata lengkap di ruang hitung."
"Aku tahu," sahut Elena santai. "Itulah kenapa kita tidak akan masuk lewat pintu depan sambil menodongkan senjata seperti perampok bank amatiran. Kita akan membuat mereka menyerahkan uangnya sendiri tanpa mereka sadari."
"Bagaimana caranya?" Leo menaikkan sebelah alisnya, merasa skeptis. "Kau pikir mereka akan memberikan brankasnya begitu saja padamu?"
"Tidak kepadaku. Tapi kepada mesin," Elena menunjuk tabletnya sendiri. "Aku sudah meretas sistem keamanan luar mereka sejak tadi malam. Aku bisa mematikan kamera dan sensor alarm selama tiga menit. Tapi masalahnya, brankas utama di ruang hitung menggunakan kunci kombinasi mekanis ganda yang tidak terhubung ke jaringan. Aku tidak bisa membukanya dari sini."
"Dan di situlah peranku," Leo mulai memahami arah pembicaraan ini.
"Tepat," Elena mengangguk. "Aku butuh kau masuk ke dalam sana, melewati penjaga, dan membuka brankas itu. Kau tahu tata letak tempat itu. Kau tahu cara kerja brankas mekanis mafia. Yang perlu kau lakukan hanyalah mengambil semua uang tunai di sana, dan keluar sebelum sistem keamanannya kembali online."
"Kau gila," Leo menggeleng pelan, meski ada sebersit rasa kagum di matanya. "Aku buronan nomor satu di kota ini. Wajahku ada di setiap berita. Begitu aku melangkah masuk ke lobi kasino, seratus pistol akan mengarah ke kepalaku."
"Itu kalau kau masuk sebagai Leo Valenti," Elena menutup tabletnya dan menatap pria di depannya dengan tatapan menilai. "Tapi kau tidak akan masuk sebagai pangeran mafia yang sedang buron. Kau akan masuk sebagai orang lain."
"Maksudmu menyamar?"
"Aku punya kenalan seorang pemalsu dokumen kelas kakap di distrik ini. Dia bisa membuatkan paspor, kartu identitas, dan bahkan mengubah struktur wajahmu dengan sedikit trik prostetik silikon," Elena menjelaskan rencananya dengan lancar. "Kita akan membuatmu menjadi pria kaya dari luar kota yang gemar berjudi kelas kakap. Kau akan duduk di meja VIP, menarik perhatian mereka, lalu mencari alasan untuk menyelinap ke ruang hitung."
Leo terdiam. Rencana itu terdengar luar biasa nekat, seperti skenario film aksi yang ditulis oleh orang mabuk. Satu kesalahan kecil saja, dan ia akan mati konyol di tengah meja baccarat.
Namun, ketika ia melihat kembali grafik organisasi Marco di layar tablet yang kini sudah redup, amarah kembali menguasai logika sehatnya. Marco duduk di kursi ayahnya, menikmati uang yang dibangun oleh klan Valenti selama puluhan tahun, sementara dirinya harus bersembunyi di lantai beton yang berdebu.
"Baiklah," ucap Leo akhirnya, suaranya berat dan penuh tekad. "Kita rampok kasino sialan itu. Kita buat Marco menyadari bahwa malam perayaan suksesinya adalah malam terakhir dia bisa tidur nyenyak."
"Pilihan yang tepat," Elena tersenyum puas. "Sekarang, bersiaplah. Begitu matahari terbenam, kita akan menemui temanku si pembuat wajah palsu. Perang ini akan segera menjadi sangat mahal bagi Marco."