Aria Utama, seorang arsitek bertangan dingin, mendadak terjebak dalam pusaran konflik dua pria paling dominan di kota. Di satu sisi ada Adrian Mahardika, CEO dingin dari Mahardika Group yang menawarkan perlindungan, kestabilan, dan cinta yang tenang. Di sisi lain ada Dante Vance, pemimpin sindikat kejahatan paling tak tersentuh yang siap menghancurkan dunia demi mendapatkan Aria. Saat rahasia masa lalu terkuak, Aria harus memilih antara kepastian yang aman atau gairah yang mematikan di tengah pertumpahan darah dan perebutan kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aletaia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Sang Ratu Kegelapan
Gema sirene dan hiruk-pikuk pelabuhan telah menghilang di balik bukit, digantikan oleh sunyinya perbukitan tempat mansion terisolasi milik Dante Vance berdiri. Seminggu telah berlalu sejak peristiwa mencekam di Pelabuhan Tanjung Priok. Janji Dante terbukti ditepati; seluruh kargo Mahardika Group dibebaskan, tuntutan hukum dicabut, dan proyek menara berlanjut. Namun, harga yang harus dibayar Aria adalah kebebasannya sendiri.
Malam ini, suasana di dalam mansion megah itu tampak sangat berbeda. Ruang makan utama yang biasanya bernuansa dingin dan temaram kini dipenuhi oleh pendar lampu kristal hangat. Di atas meja kayu solid yang luas, terhidang berbagai santapan mewah.
Aria duduk di salah satu ujung meja, mengenakan gaun sutra berwarna hitam elegan dengan gaun berpotongan simpel yang anggun. Di jemari tangan kirinya, kini tidak hanya melingkar cincin ular naga perak, tetapi juga sebuah cincin pernikahan berlian hitam bermata tunggal yang amat langka—tanda resmi bahwa ia kini adalah istri sah sang Raja Mafia.
Dante melangkah masuk, melepaskan jas mewahnya dan menyerahkannya pada pelayan. Pria itu mengenakan kemeja hitam yang dibiarkan terbuka di dua kancing teratasnya. Ketika matanya mengunci sosok Aria, kilatan dingin yang biasanya menghiasi mata abu-abunya perlahan luluh.
Dante mengambil tempat duduk tepat di samping Aria, bukan di ujung meja yang jauh. Tangannya yang besar dan hangat terangkat, mengelus lembut jemari tangan kiri Aria yang terpasang cincin pernikahan mereka.
"Kau tampak sangat cantik malam ini, istriku," bisik Dante dengan suara baritonnya yang berat, serak, dan hangat.
Aria tidak menarik tangannya. Selama seminggu tinggal di sini sebagai nyonya rumah, Aria mulai menyaksikan sisi lain dari Dante Vance—sisi manusiawi yang tersembunyi rapat di balik topeng kejam sang penguasa Black Viper. Dante bukan lagi pria yang membentaknya atau memaksanya dengan senjata. Pria itu melindunginya dengan kelembutan yang amat posesif, memenuhi seluruh kebutuhannya, dan memperlakukannya seperti seorang ratu yang paling dihormati oleh seluruh anak buahnya.
"Dante..." panggil Aria pelan, menatap lurus ke dalam manik mata abu-abu di hadapannya. "Kenapa kau melakukan semua ini? Kau bisa saja menjadikan aku tawanan atau simpanan tanpa harus mengikat dirimu lewat pernikahan resmi."
Dante menghentikan usapan jemarinya, menatap Aria dengan intensitas emosional yang teramat dalam dan jujur.
"Di duniaku, Aria... seorang wanita yang menjadi tawanan akan selalu menjadi sasaran empuk para musuhku," ujar Dante dengan nada suara yang beresonansi tegas. "Tapi seorang istri dari Dante Vance... dia adalah penguasa kedua di Black Viper. Tidak ada satu pun manusia di kota ini yang berani menyentuhmu tanpa menghadapi kematian di tanganku."
Dante berdiri, mengulurkan tangannya pada Aria. "Ayo, ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu."
Aria menyambut uluran tangan hangat itu. Dante membawanya menyusuri lorong rahasia di lantai bawah tanah mansion, melewati pintu besi tebal bernomor sandi khusus.
Ketika pintu rahasia itu terbuka, mata Aria membelalak tak percaya.
Di balik pintu itu bukanlah gudang senjata atau tumpukan uang seperti yang dibayangkan Aria, melainkan sebuah studio seni raksasa berarsitektur modern. Dinding-dinding ruangan itu dipenuhi oleh puluhan sketsa arsitektur, maket miniatur gedung-gedung indah, dan yang paling mengejutkan... ratusan lukisan lukis dan sketsa wajah Aria. Sketsa-sketsa itu mengabadikan setiap ekspresi Aria—mulai dari saat ia tersenyum di studio arsitekturnya, saat ia memandang hujan, hingga saat pertama kali ia menyelamatkan nyawa Dante di gang gelap malam itu.
"Kau... sudah mengawasiku sejauh ini?" bisik Aria dengan dada berdebar kencang.
Dante melangkah mendekat dari belakang, melingkarkan kedua lengan kokohnya di pinggang Aria dan menyandarkan dagunya di bahu wanita itu. Bau aroma mahal tobacco dan minyak wangi maskulinnya menyelimuti indra penciuman Aria.
"Malam saat kau menyelamatkan nyawaku, aku tidak hanya melihat seorang wanita yang berani," bisik Dante rapat di telinga Aria, suaranya dipenuhi gairah dan kepemilikan yang mendalam. "Aku melihat satu-satunya jiwa yang mampu memadamkan api dendam di dalam dadaku. Aku menggambar semua ini untuk mengingatkanku... bahwa masih ada keindahan di dunia yang kotor ini."
Desiran hangat dan sensasi sengatan listrik merayap di sekujur tubuh Aria. Rasa takut dan benci yang dulu menyelimuti pikirannya terhadap sang Raja Mafia kini telah terkikis perlahan, berganti dengan getaran gairah dan ikatan emosional yang tak mampu lagi ia sangfari. Aria menyandarkan kepalanya ke dada bidang Dante, membiarkan dirinya tenggelam dalam dekapan hangat pria yang kini menjadi suaminya.
Namun, di saat benih cinta dan kedamaian baru mulai tumbuh di antara Aria dan Dante di dalam mansion tersebut... bayangan bahaya yang jauh lebih besar sedang mengintai mereka berdua dari luar.