Melisa Monaco memalsukan tahun lahirnya demi mendaftar pekerjaan dengan gaji lebih tinggi, tapi tidak sepenuhnya membaca kontrak. Ternyata isi kontrak adalah persetujuan pernikahan. Ia terpaksa tetap menjalaninya sebab jika mundur sepihak maka harus membayar denda yang jumlahnya sangat besar.
Sejak pernikahan digelar, hidupnya berubah tiga ratus enam puluh derajat. Ia yang muak direndahkan, nekat berusaha merebut hati Dharma Panjalu dan membuktikan pada seluruh keluarga bahwa ia bukan perempuan yang layak direndahkan.
Dalam perjalanan membuktikan diri, ia mengalami banyak kejadian buruk. Tanpa disangka kejadian buruk yang dialaminya justru membantu keluarga itu menguak penyebab kematian istri Dharma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosella Nona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanda Tangan Kontrak
“Nama kamu unik, Melisa Monaco? Apa karena kamu pernah tinggal di sana atau orang tuamu berasal dari sana?”
Melisa mengembuskan napas lega. Ternyata itu yang ditanyakan Bu Inggit, bikin deg-degan saja.
“Bukan, Bu. Saya tidak pernah tinggal di sana, dan ibu saya asli pribumi, orang Indonesia.” Melisa tahu, pasti itu ditanyakan karena wajahnya tidak ada bule-bulenya sama sekali. Sudah banyak orang yang pernah menanyakan itu padanya sebelum ini.
Ia melanjutkan makannya.
“Baik, saya cocok sama kamu, Mel.”
Yes, akhirnya sesi pertanyaan-pertanyaan selesai. Ini jelas berarti ia diterima, kan? Melisa sudah tidak sabar memeluk nominal gaji itu.
Bu Inggit menyerahkan dokumen padanya.
“Ini kontrak kerjanya. Silakan dibaca-baca dulu, kalau ada yang tidak jelas boleh ditanyakan. Kalau ada yang tidak cocok boleh dinegosiasikan ya, Mel. Lalu kalau kamu tidak setuju dengan kontrak ini, kamu boleh mundur.” Senyuman di wajah Bu Inggit begitu cantik dan bersahaja begitu mengatakan kalimat panjang itu pada Melisa. Ia jadi tersanjung, kalau majikannya seluwes dan seramah ini siapa coba yang tidak betah bekerja di bawah arahannya.
Melisa langsung ingin membubuhkan tanda tangan pada materai yang ditempel di halaman belakang tentang persetujuan kedua belah pihak, tapi itu mungkin akan membuatnya kelihatan murahan, kurang berkelas, jadi Melisa coba membacanya sedikit-sedikit.
Isinya seperti aturan pekerjaan rumahan pada umumnya, Melisa melewatkan beberapa halaman selanjutnya dan langsung menuju halaman paling belakang. Ia mengambil pulpen dalam tasnya, lalu menorehkan tanda tangan sambil tersenyum. “Sudah, Bu. Saya setuju dengan semua poinnya.”
“Serius?” Bu Inggit sampai berdiri saat menanyakan itu.
Lah, kenapa drama banget ya.
“Serius, Bu. Semoga saya betah bekerja sama dengan ibu dan ibu betah juga dengan hasil kerja saya.” Melisa coba menjawab agak panjang agar adegan ini tidak terlalu akward.
“Kamu beneran sudah baca semuanya, kan?”
Melisa mengangguk. Sebentar, apakah ada poin aneh-aneh di dalam dokumen itu sampai Bu Inggit dua kali bertanya padanya tentang ini. Melisa hendak meraih dokumen yang ia letakkan di depan Bu Inggit tadi untuk dibaca ulang, tetapi Bu Inggit malah memeluknya sambil berterimakasih.
Ia coba meraih dokumen itu pelan-pelan dari balik pelukan, tapi Maya sudah lebih dulu mengambilnya dan memfoto tiap halaman, terutama yang bertanda tangan.
“Hah? Dapat asisten rumah tangga yang cocok saja kenapa harus sampai sedrama ini sih? Jangan-jangan ada yang ga beres sama dua manusia ini,” batin Melisa. Ia mengutuk dirinya yang kurang hati-hati dan malah tumbuh rasa curiga justru setelah menyatakan persetujuan penuh.
“Kalau begitu kapan kamu ada waktu untuk fitting baju? Besok sibuk, ga?”
Melisa terlihat berpikir sebentar. “Besok bisanya jam empat sore begini, Bu. Pagi sampai siang masih kerja.”
Melisa pikir ini rencana fitting baju seragam pegawai seperti di rumah orang-orang kaya biasanya. Ia lihat di konten rakyat elit biasanya asisten rumah tangga punya seragam khusus, pengasuh anak-anak, supir pribadi, dan pegawai lainnya punya seragam khusus sesuai jenis pekerjaan yang mereka kerjakan.
Mbak Maya yang membersamai Bu Inggit ke sini juga memakai atasan putih dan jas hitam mirip blazer, sepertinya selera bosnya bagus. Seragam saja dibuat semodis itu.
“Aduh, Mel. Kamu segera menghadap bos kamu untuk mengajukan resign, deh. Atau perlu saya temani? Biar asalan resign-nya ga kaleng-kaleng.” Bu Inggit sepertinya terlalu semangat, setelah mengatakan itu ia meneguk habis segelas minuman matcha murni di depannya.
“Tidak perlu, Bu. Saya bisa sendiri.” Apa-apaan pamit resign saja sampai harus mengajak majikan baru, mana biar alasannya ga kaleng-kaleng lagi, kan cuma a er te, apa hebatnya coba, yang ada ia malah terlihat sok iyes dan akan berujung ditertawakan nanti.
“Ya sudah kalau begitu. Ayo, kita habiskan dulu makanannya. Nanti pulangnya saya antar. Iya kan, May?”
“Siap, Bu.” Maya begitu santai berinteraksi dengan majikannya, mulutnya masih penuh dengan makanan tapi berani berbicara dengan majikannya sambil tertawa-tawa. Melisa jadi sedikit meredakan rasa curiganya, sepertinya Bu Inggit benar-benar orang baik.
Baiklah, kalau ada yang aneh-aneh ia bisa mundur dari pekerjaan ini nanti. Yang penting sekarang dinikmati dulu makanannya, agar kenyang sebelum pulang. Lumayan, besok pagi ia bisa tidak perlu sarapan saat akan berangkat bekerja.
Tanpa Melisa duga, ternyata saat pulang Bu Inggit memesankan beberapa porsi makanan untuk Melisa bawa pulang. Saat menyebutkan alamatnya tadi, Bu Inggit sempat bertanya ada berapa temannya di kos, ternyata untuk dipesankan makanan juga. Kalau sudah begini sih ini beneran sultan kaya raya yang baik hati seperti di film-film.
“Sebetulnya tidak perlu repot-repot begini, Bu. Toh, saya tidak terlalu akrab dengan anak kos yang lain. Ini pasti banyak sekali tagihannya.” Melisa menerimanya dengan senang hati, tapi juga tidak enak sendiri merepotkan begini di hari pertama bertemu. Mana diantar pulang juga, kan dobel enaknya.
“Tidak apa-apa. Itung-itung itu tasyakuran juga buat teman-temanmu, kan sebentar lagi kamu sudah tidak tinggal di sini. Sekalian jamuan untuk berpamitan.”
“Tasyakuran dan jamuan untuk berpamitan itu kan tanggung jawab saya, Bu. Kenapa Ibu yang malah repot begini.”
“Kamu ini, ini bukan apa-apa, sayang. Sebentar lagi kita akan jadi keluarga. Tidak perlu sungkan-sungkan begini.”
Melisa menggaruk bagian belakang kepalanya meskipun tidak gatal karena tidak tahu lagi harus bagaimana dan mengatakan apa. Baru kali ini bertemu majikan yang seloyal ini, bahkan menganggap para pekerjanya seperti keluarga sendiri sampai dipanggil sayang. Apa ini jawaban dari Tuhan untuk doanya yang menginginkan kekayaan itu? Pasti iya. Nanti saat tinggal di rumah Bu Inggit otomatis ia ikut menikmati Sebagian fasilitas premium di sana, itu sama saja dengan mencicipi kehidupan orang kaya, kan?
Melisa tidak bisa menyembunyikan kebahagiaanya, begitu masuk ke dalam kos ia langsung membagi-bagikan makanan mewah tadi ke seluruh penghuni kos sampai lupa menyisakan untuk dirinya sendiri.
“Tumben banget, Mel.”
“Iya, nih. Calon majikan aku kayaknya sultan deh.”
“Wah, lumayan tuh, kalau punya anak bujang bisa lah digaet juga.”
Nah, itu juga salah satu ide yang sempat muncul di benak Melisa, tapi ia tidak berani. Ia merasa tidak cukup layak untuk itu, posisi sebagai asisten rumah tangga saja sudah sangat lebih dari cukup saat ini.