Satu malam, Syafiya (21) salah masuk ke kamar Zeffan (32)—kakak angkatnya sendiri. Malam terlarang itu mengubah segalanya.
Zeffan yang terbiasa dingin kini terobsesi menjadikan Syafiya wanita simpanannya. Padahal, Zeffan sudah memiliki istri anggun, Valerie (28), dan bayi berusia satu tahun.
Syafiya terjepit di antara utang budi pada Mommy Marlina dan cengkeraman obsesi Zeffan. Bisakah ia kabur, atau justru makin tenggelam dalam dosa terlarang ini?
"Kamu yang masuk ke kamarku malam itu, Syafiya. Jadi jangan mimpi bisa lepas dariku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batas Kesabaran
"Masuk ke kamarmu kembali, Valerie! Berikan Elvano kepada Mommy!" perintah Zeffan dengan suara rendah yang amat menekan, tak memberikan ruang sedikit pun untuk dibantah.
"N-nggak... Nggak mau, Mas!" histeris Valerie seraya makin mempererat pelukannya pada Elvano. "Elvano anakku! Kamu nggak berhak memisahkan aku dari anakku sendiri!"
"Valerie, berikan Elvano!" bentak Marlina yang sudah berdiri usai membantu Syafiya bangun. Wajah ibu mertuanya itu sangat dingin dan penuh amarah. "Kamu sedang emosi dan tidak stabil! Jangan sampai anakmu jadi korban karena kelakuan gilamu itu!"
"Mommy jangan ikut campur!" teriak Valerie dengan napas memburu. "Mommy sama Mas Zeffan cuma mau menyingkirkan aku, kan?! Kalian mau membuat aku terlihat seperti ibu yang gila supaya bisa mengusirku dari rumah ini!"
"Cukup, Valerie!" Zeffan melangkah maju satu tapak, menyambar lengan Valerie dengan gerakan cepat dan tegas, lalu menarik Elvano dari dekapan istrinya secara perlahan namun memaksa.
Elvano yang ketakutan menangis semakin kencang, sebelum akhirnya diserahkan Zeffan ke pelukan Marlina.
"Bawa Elvano ke atas, Mom. Ajak Syafiya sekalian," ucap Zeffan tanpa mengalihkan tatapan matanya dari Valerie.
"S-Syafiya nggak apa-apa, Mom..." cicit Syafiya pelan, memegangi sikunya yang memar akibat dorongan Valerie tadi. Matanya yang sembap menatap Valerie penuh penyesalan. "Kak Valerie... tolong tenangkan diri Kakak..."
"Tutup mulutmu, Syafiya!" desis Valerie tajam dari lantai, menatap Syafiya dengan pendar kebencian yang amat pekat. "Jangan sok suci di depanku!"
"Masuk ke kamar, Valerie," potong Zeffan, mencengkeram pergelangan tangan istrinya dan menariknya berdiri secara kasar. "Atau kamu mau aku yang menyeretmu ke atas dan langsung menelpon Papamu detik ini juga untuk mengabarkan bahwa perusahaannya resmi hancur?"
Ancaman itu bagaikan petir yang membungkam mulut Valerie seketika. Tubuhnya mendadak lemas, dan amarahnya mendadak berganti menjadi ketakutan yang mencekik.
"M-Mas... jangan, Mas..." rintih Valerie dengan bibir gemetar, air matanya menetes lagi. "Aku mohon... jangan hancurkan Papa..."
"Kalau begitu naik," pangkas Zeffan dingin, menghempaskan tangan Valerie. "Naik ke kamar, dan tunggu aku di sana."
Valerie memilih mengalah. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun lagi, ia membalikkan dirinya dengan tubuh gemetar hebat dan melangkah gontai menuju tangga, meratapi kehancuran harga diri dan nasib keluarganya yang kini sepenuhnya berada di genggaman Zeffan.
"Dan kamu Syafiya, ikut Mommy ke kamar," tegas Marlina seraya menggendong Elvano yang isakannya mulai mereda, menoleh ke arah anak angkatnya dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
Syafiya yang masih mengelus sikunya yang memar mengangguk pelan. "I-iya, Mom..."
Zeffan memperhatikan kedua wanita itu dari bawah. Pandangannya sempat mengunci Syafiya sejenak—memberikan isyarat terselubung agar gadis itu tidak membocorkan apa pun pada Marlina—sebelum akhirnya Zeffan berbalik dan melangkah dingin menyusul Valerie ke lantai atas.
Di dalam kamar Marlina, Syafiya duduk perlahan di tepi tempat tidur sementara Marlina menidurkan Elvano di dalam boks bayi. Suasana kamar mendadak hening, hanya terdengar deru napas Syafiya yang masih belum stabil.
Marlina berjalan mendekati Syafiya, lalu duduk di sampingnya dan meraih siku Syafiya dengan sangat hati-hati.
"Sakit sekali, Nak? Coba Mommy lihat," ucap Marlina dengan suara melunak, matanya memancarkan rasa iba yang mendalam saat melihat memar kemerahan di kulit mulus Syafiya.
"Nggak apa-apa, Mom... Cuma memar sedikit," cicit Syafiya menunduk, menahan rasa panas di matanya. "Syafiya yang minta maaf, Mom... Gara-gara Syafiya, Kak Valerie sama Kak Zeffan jadi bertengkar hebat begini..."
"Kenapa kamu yang minta maaf, Syafiya?!" potong Marlina tegas, memegang kedua bahu anak angkatnya. "Kamu tidak salah apa-apa! Kamu lihat sendiri kan, Valerie itu yang bermasalah! Dia berhubungan dengan pria lain di belakang Zeffan, tapi malah kamu yang dijadikan tumbal atas kelakuannya!"
"Tapi Kak Valerie berpikir kalau Syafiya yang bikin Kak Zeffan makin dingin sama dia, Mom..." air mata Syafiya kembali menetes, membasahi tangannya yang meremas kain roknya sendiri. "Syafiya merasa... mungkin memang lebih baik Syafiya pindah dari rumah ini supaya Kak Valerie tidak tertekan lagi..."
"Jangan pernah bicara begitu lagi!" bentak Marlina pelan namun penuh penekanan, mengusap air mata di pipi Syafiya dengan lembut. "Rumah ini rumahmu juga, Syafiya! Mommy dan Daddy yang membawa kamu ke sini, dan tidak ada seorang pun—termasuk Valerie—yang berhak mengusirmu atau membuatmu merasa jadi benalu!"
Syafiya terdiam, dadanya dihantam rasa bersalah yang semakin pekat. Kasih sayang tulus dari Marlina terasa bagaikan sembilu, mengingat rahasia terlarang antara dirinya dan Zeffan yang disimpan rapat-rapat di belakang ibu angkatnya itu.
"Mommy tidak akan membiarkan Valerie bersikap sewenang-wenang lagi sama kamu," lanjut Marlina dengan pendar amarah di matanya. "Nanti malam, setelah Daddy pulang, Mommy sendiri yang akan minta Zeffan memberi ketegasan soal kelakuan istrinya itu!"
lanjut kayaknya bakalan seru ini tetap 💪🫰