NovelToon NovelToon
Langgur: Peti Emas Di Bawah Pohon Keramat Revan

Langgur: Peti Emas Di Bawah Pohon Keramat Revan

Status: tamat
Genre:Horor / Penyelamat / Reinkarnasi / Tamat
Popularitas:152
Nilai: 5
Nama Author: Una Lam

Desa Langgur gempar. Tanah yang sudah basah, sumur berubah air merah, dan galian di bawah pohon mangga menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ditemukan.

Ara tidak tahu, di bawah rumahnya ada tambang, di bawah pohon keramat Revan ada peti emas berdarah yang dijaga arwah leluhur.

Sejak peti itu dibuka, teror datang. Rumah Ara dibakar, sidang adat di kota, dan Langgur harus merdeka dari kutukan.

Pohon Revan yang tidak mau mati itu menuntut tumbal.

Apa isi peti emas di bawah akar itu? Dan kenapa bayi Revani bisa melihat Revan?

Kisah horor thriller tanah Maluku yang bikin merinding dari Bab 1 sampai Bab 35 Tamat!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Lam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 Pohon Yang Berdarah

Matahari sudah terbit penuh di Langgur, jam delapan pagi. Tapi halaman belakang rumah Ara tidak seperti pagi biasanya. Tidak ada suara ayam berkokok, tidak ada anak-anak yang bermain bola. Semua warga masih berkumpul di halaman belakang, menatap pohon mangga raksasa yang terluka parah di tengah puing-puing resort.

Batang pohon yang kemarin besarnya sebesar rumah, sekarang menghitam hangus di bagian bawah karena dibakar bensin oleh anak buah Dion semalam. Dari dalam kulit batang yang hangus itu, darah merah kental masih menetes pelan, satu tetes setiap lima detik, jatuh ke tanah dan langsung diserap tanah yang retak-retak. Bau anyir dan bau kayu terbakar bercampur menjadi bau aneh yang membuat mual.

Daun-daunnya yang kemarin rontok semua, sekarang tidak tumbuh lagi. Ranting-rantingnya kering dan patah. Buah mangga hitam yang berasap juga sudah tidak ada, hanya tinggal tangkai-tangkainya yang kering.

Pohon keramat itu sekarat.

Ara duduk bersandar di batang pohon itu, jaket hitam Revan yang berlumuran darah pohon masih dia pakai. Semalaman dia tidak tidur menjaga pohon itu setelah Dion diikat oleh Pak RT dan dibawa ke balai desa untuk diamankan. Mama Ino duduk di sampingnya dengan wajah cemas, memegang ember berisi air sumur yang jernih.

"Minum, Pohon. Minum biar sembuh," kata Mama Ino pelan sambil menyiramkan air sumur itu ke akar-akar merah yang terlihat lemas di permukaan tanah.

Tapi air itu tidak diserap. Air itu hanya menggenang di atas tanah yang retak, tidak masuk ke dalam.

Pak RT Unus datang dengan membawa daun-daun obat tradisional Kei yang ditumbuk. Daun itu berwarna hijau tua dan baunya menyengat. "Ini daun gatal yang biasa dipakai untuk obati luka bakar. Coba kita tempelkan ke batang yang hangus."

Pak RT mencoba menempelkan tumbukan daun itu ke batang pohon yang berdarah. Saat daun itu menyentuh darah pohon, darah itu mendesis seperti air yang kena besi panas, dan daun itu langsung menghitam dan gosong, seperti terbakar.

Semua warga terkejut mundur.

"Tidak bisa diobati dengan obat manusia biasa," kata Pak RT dengan suara pelan dan sedih. "Lukanya bukan luka manusia. Lukanya luka tanah."

Jali yang dari tadi diam, tiba-tiba berkata, "Ara, coba panggil Revan lagi. Mungkin Revan tahu cara obatinya."

Ara menggeleng pelan. "Aku sudah panggil dari tadi malam, Jali. Aku sudah teriak-teriak panggil namanya. Dia tidak keluar lagi. Kayaknya dia juga terluka karena pohonnya dibakar. Dia bilang kemarin pohon ini rumahnya."

Suasana menjadi hening dan sedih. Warga mulai berbisik-bisik, ada yang bilang pohon itu akan mati dan kalau pohon itu mati, emas di bawahnya akan hilang dan Langgur akan kering lagi seperti dulu. Ada yang bilang arwah penjaga tanah sudah pergi dan tidak akan kembali lagi.

Di tengah keheningan itu, dari arah jalan depan, terdengar suara langkah kaki pelan. Bapak Simon datang, dengan baju yang masih kotor dan wajah yang masih memar karena dipukul anak buah Dion semalam. Di tangannya dia membawa cangkul dan karung goni.

Semua warga langsung menatap Bapak Simon dengan tatapan marah, masih ingat pengkhianatannya menjual tanah adat.

Bapak Simon tidak peduli tatapan marah itu. Dia berjalan langsung ke depan pohon mangga raksasa yang berdarah dan bersujud di tanah, mencium tanah yang berlumuran darah pohon.

"Maafkan saya... maafkan saya, Nenek Moyang... maafkan saya, Revan..." kata Bapak Simon sambil menangis keras, air matanya bercampur dengan darah pohon di tanah. "Saya yang salah. Saya jual tanah kita demi uang. Saya diam waktu sumur diracuni. Saya pantas dihukum. Ambil nyawa saya saja, jangan ambil pohon ini. Pohon ini yang jaga kita semua."

Bapak Simon membuka karung goni yang dia bawa. Di dalamnya ada uang gepokan lima puluh juta rupiah yang masih diikat karet, uang hasil menjual tanah adat ke PT. MALUKU EMAS SEJAHTERA. Uang itu masih baru dan berbau kertas.

"Saya kembalikan! Saya kembalikan semua uang haram ini! Saya tidak mau lagi!" teriak Bapak Simon sambil melemparkan gepokan uang itu ke dalam lubang retakan tanah di sekitar akar pohon. Uang itu langsung diserap tanah dan hilang dalam sekejap, seperti ditelan.

Setelah uang itu hilang ditelan tanah, kejadian aneh terjadi. Darah yang menetes dari batang pohon yang hangus, yang tadinya menetes setiap lima detik, sekarang menetes lebih cepat, setiap dua detik. Tanah yang retak-retak di sekitar akar juga perlahan menutup sedikit demi sedikit.

Pohon itu merespon permintaan maaf Bapak Simon.

Mama Ino yang melihat itu langsung berbisik ke Ara, "Pohonnya butuh ketulusan, bukan air. Butuh pengakuan dosa."

Ara mengerti. Dia berdiri dan berjalan ke depan pohon, menatap batang pohon yang berdarah itu.

"Revan, kalau kamu dengar aku... aku tahu kamu sakit... pohon rumahmu sakit... tapi kami semua di sini sayang sama kamu... kami jaga kamu... jangan pergi dulu ya... sembuh dulu..." kata Ara dengan suara pelan sambil menempelkan tangannya yang kecil ke batang pohon yang berdarah dan panas.

Saat tangan Ara menyentuh batang pohon yang berdarah itu, darah pohon itu tidak membuat tangannya gosong seperti daun obat tadi. Darah itu hangat, seperti darah manusia. Dan dari dalam batang pohon, terdengar suara detak jantung pelan, duk... duk... duk... sangat pelan, seperti jantung orang yang sekarat.

Ara menempelkan telinganya ke batang pohon. Detak jantung itu semakin jelas.

Itu detak jantung Revan.

Revan masih hidup di dalam pohon, tapi lemah.

Tiba-tiba, dari dalam saku jaket hitam Revan yang dipakai Ara, keluar cahaya kecil berwarna putih. Cahaya itu melayang keluar dari saku jaket dan masuk ke dalam batang pohon yang berdarah.

Cahaya itu adalah secarik kertas kecil yang kemarin Ara temukan di atas jaket Revan, kertas yang bertuliskan Jaga tanah kita, Ara. Aku sudah tenang sekarang. Kertas itu ternyata masih ada di saku jaket, dan sekarang kertas itu menyala dan masuk ke dalam pohon.

Saat kertas itu masuk ke dalam batang pohon, seluruh batang pohon yang hangus hitam itu bergetar pelan. Getah hitam yang keluar berhenti, digantikan dengan getah bening yang wangi seperti madu. Darah merah yang menetes juga berhenti, lukanya menutup perlahan seperti luka manusia yang sembuh sendiri.

Dari dalam tanah, akar-akar merah yang lemas tadi, perlahan berdiri tegak lagi dan masuk kembali ke dalam tanah dengan kuat.

Di atas ranting-ranting yang kering, muncul tunas-tunas kecil berwarna hijau muda, sangat banyak, tumbuh dengan cepat.

Pohon mangga raksasa itu sembuh.

Semua warga bersorak dengan gembira. Ibu-ibu menangis haru, bapak-bapak bertepuk tangan.

Bapak Simon yang masih bersujud di tanah, mengangkat kepalanya dan melihat pohon itu bertunas lagi, dia menangis semakin keras, tapi kali ini tangis bahagia.

Di atas pohon yang sudah bertunas hijau itu, siluet Revan muncul lagi, tapi kali ini dia terlihat sehat, tidak terbakar lagi. Dia tersenyum ke arah Ara dan mengacungkan jempol.

"Aku sembuh karena kamu, Ra. Karena ketulusan kalian. Jaga terus ya," kata Revan dengan suara pelan yang hanya Ara dengar, lalu menghilang lagi masuk ke dalam daun-daun muda yang baru tumbuh.

Ara tersenyum sambil menangis. Pohon keramat mereka selamat.

Tapi dari arah balai desa, tiba-tiba terdengar teriakan keras. Edo berlari terengah-engah ke halaman belakang dengan wajah panik.

"Ara! Pak RT! Gawat! Dion kabur! Dia lepas ikatannya dan curi motor Pak Karim! Dia kabur ke arah kota! Dia teriak mau balik lagi bawa polisi dan tentara yang lebih banyak!"

Semua warga yang tadinya bersorak gembira, langsung terdiam lagi.

Perang belum selesai. Dion kabur dan pasti akan kembali dengan pasukan yang lebih besar.

Dan pohon keramat mereka baru saja sembuh, masih lemah, belum siap untuk perang besar lagi.

Ara mengepalkan tangannya yang masih berlumuran darah pohon yang sudah mengering.

"Kita harus siapin jebakan sebelum dia balik," kata Ara dengan suara tegas, seperti seorang pemimpin perang kecil.

Di bawah pohon mangga raksasa yang baru sembuh, Langgur bersiap untuk perang terakhir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!